"Tentang takdir kita tak pernah tau tapi jika kamu adalah takdirku maka atas izin Allah kita akan dapat bertemu lagi."
- Soraya Aisyah Rihadatus Sholihah-
Proses, segala proses yang ku lalui bersamanya berlangsung dengan begitu cepat. Kini hari pernikahan kami tinggal terhitung 7 hari lagi. Aku merasa bahagia dan tak sabar. Tak sabar cinta kami bersatu dalam ikatan yang sah di mata Tuhan. Segala persiapan telah ku siapkan bersamanya. Mulai dari hantaran dan foto shoot prewedding semuanya sudah siap.
Foto shoot prewedding kami cukup dengan tema yang sederhana tanpa adanya sentuhan tangan. Awalnya ia tak mau melakukannya akan tetapi dengan bujukanku akhirnya ia mau melakukannya. H-7 hari menjelang pernikahan, kami persiapkan proses pernikahan dengan sebaik mungkin tanpa adanya hal yang tertinggal satupun. Di adat jawa seorang calon pengantin laki-laki dan perempuan tak boleh bertemu satu sama lain. Hal itu kami lakukan, akan tetapi jika ada urusan yang mendadak maka mau tak mau kami harus bertemu. Seperti sekarang, kami bertemu untuk mencari baju pernikahan. Kami baru sempat mencari baju pernikahan saat ini karena kami sibuk mengantar undangan pernikahan kami. Belom lagi kami masih sibuk mengajar di pondok pesantren yang sama.
Kami pergi ke butik ternama berdua atas permintaan ibuku. Ibu telah mereservasi untuk kami berdua. Butik kenalan ibuku memiliki berbagai koleksi gaun pernikahan. Semuanya adalah rancangan seorang desainer ternama. Kami berdua masuk bersama ke dalam butik. Kami memilih gaun yang sederhana untuknya serta setelan jas yang senada dengan gaunnya.
Saat ku tengah asyik melihat notifikasi ponselku ia memanggilku dan menunjuk pada sebuah gaun yang elegan dan sederhana. Tentu saja gaun itu tertutup.
"Mas ayo liat gaun itu!" Tunjuknya denga semangat dan senyum yang sumringah. Aku tersenyum lembut ke arahnya.
Ku abaikan notifikasi ponselku dan berjalan bersama ke gaun yang ditunjuknya.
"Mas Dani gaun ini bagus, apa boleh aku mencobanya?" Ia bertanya padaku serta meminta izin padaku.
Aku hanya mengangguk kecil, tak ada alasan untuk tidak menyetujuinya bukan? Baju itu cukup indah dan tertutup jadi aku menyetujuinya dengan cepat.
"Cobalah Soraya. Aku tak sabar melihat kecantikanmu memakai gaun itu ya humairaku," ujarku sembari menggoda kecil padanya.
"Hust gak baik gombal-gombal di tempat umum Mas!" Ia memperingatiku sambil bersemu merah wajahnya, sungguh menggemaskan.
"Kenapa gak boleh? 'Kan aku akan menjadi imammu humairaku." Ku dekati wajahnya dan kembali menggodanya. Rasanya puas sekali saat mendapati ia tersenyum malu bahkan salting karena ucapanku.
Ia mendorongku lalu berujar, "Udah ah aku mau mencoba gaunnya!"
Setelah mengatakan hal tersebut ia langsung lari meninggalkanku. Aku tertawa kecil melihat sikap yang benar-benar menggemaskan. Soraya adalah seorang gadis yang tak tahan untuk digoda. Sedikit saja ku berkata manis wajahnya pasti bersemu merah seperti humaira. Melihatnya saja membuatku bahagia tak terkira.
Ku tunggu dia di ruang tunggu, sambil ku mainkan ponselku. Rasanya tidak ada yang menarik sama sekali, hanya beberapa notif dari aplikasi chatting dan sebaginya.
Ting!
Hingga satu notifikasi dari emailku berada di layar ponselku. Menarik seluruh atensiku, tanganku bergerak untuk membuka email tersebut.
Seketika jantungku berpacu lebih cepat, antara percaya dan tidak percaya akan isi email itu, pasalnya email tersebut berisi tentang informasi beasiswa S2 timur tengah. Sungguh ini yang aku inginkan tapi kenapa harus sekarang?
Dear Danial Eka Abdillah. Congratulation you get scholarship for doubel degree in Key University. You must prepare! And we will wait you!
Aku merasa terkejut melihat tawaran ini. Sebelumnya aku memang berencana untuk S2 di timur tengah. Aku sudah mencoba apply beasiswa S2 akan tetapi pengumumannya tak kunjung datang. Aku kira aku tak akan diterima dan ternyata tawaran beasiswa itu datang saat ini. Datang di saat aku ingin menikah dengannya. Entah hal itu membuatku bingung dan kecewa.
Rasa gugup langsung menghampiriku, bagaimana aku bisa memilih antara pendidikanku atau pernikahanku?
"Mas Dani liat ini, apa gaun ini cocok untukku?" Soraya datang padaku dengan gaun yang ia pakai. Sontak aku langsung buru-buru memasukkan ponselku dan melihatnya. Aku tak dapat berkata apa-apa karena fikiranku kalut memikirkan email beasiswa tadi.
Soraya melambaikan tangannya di depan wajahku. "Mas Dani? Gimana mas?"
"Ah iya Soraya, Gaun itu sangat cocok untukmu. Jika kamu ingin memakainya kamu bisa memilihnya. Kalo sudah selesai kita cepat pulang ya," tuturku dengan senyum yang mengembang, berusahalah untuk menutupi kegugupanku.
"Baiklah mas." Soraya menuruti permintaanku, ia segera pergi dan berganti baju.
Aku terdiam sejenak, bagaimana ini aku tak mungkin dapat memberitahu Soraya, dia pasti akan kecewa, tapi jika aku tak memberitahunya bagaimana dengan pendidikanku? Ya Tuhan kenapa harus seperti ini.
Saat soraya sedang berganti baju, aku beranjak dari tempat dudukku dan mencari sang pemilik, ku katakan padanya jika sewa gaun pernikahannya akan diundur. Sang pemilik mengerti perkataanku dan ia menerima permintaanku. Aku mengatakannya secara rahasia tanpa diketahui oleh Soraya. Aku tak ingin membuat Soraya memikirkan hal ini. Biar aku saja yang menyelesaikannya. Aku yakin pasti bisa.
Soraya datang setelah selesai berganti. "Ayo Mas Dani."
"Iya ayo."
Kami keluar dari butik bersama. Di mobil kami saling diam tanpa adanya perbincangan satu sama lain. Aku hanya fokus untuk mengantarkannya pulang. Aku selesai mengantarnya ke rumah. Aku buru-buru untuk pulang. Aku ingin pulang agar aku bisa menenangkan pikiranku.
Sesampai di rumah aku langsung masuk ke dalam kamar. Ibu sempat bertanya tentang diriku yang pergi ke butik kenalannya. Namun semua tak ku gubris. Aku memilih untuk masuk ke dalam kamar. Entah karena apa aku bersikap seperti ini. Ya, semua karena apa lagi jika bukan karena notifikasi beasiswa S2 ku.
Aku merasa pengumuman tersebut datang di waktu yang tak tepat. Dan aku merasa sangat tak suka. Kenapa pengumuman itu datang di saat aku ingin menikah dengannya. Sebenarnya hal apakah yang harus ku dahulukan?
Tuhan berikan aku petunjukmu..
****
Soraya pov
Aku merasa aneh dengan sikap mas Dani akhir-akhir ini. Ia selalu menghindar semenjak hari itu, hari dimana kami pergi ke butik bersama. Aku mencoba berbicara dengannya akan tetapi ia selalu menghindar dariku. Aku bingung serta resah dengan sikapnya. Seharian aku terus menghela nafas. Memikirkan sikap mas Dani membuatku tak fokus dalam mengajar. Fokusku terbagi antara mas Dani dan juga anak-anak didikku.
Lela sahabatku menyadari sikapku yang terus menghela nafas. Ia bertanya padaku. "Mbak soraya kenapa atuh? Dari tadi menghela nafas terus. Ada masalah ya?"
Tebakan Lela memang benar. Tapi aku tak mungkin menceritakan padanya. Lebih baik menyembunyikannya.
"Tak apa kok Lela, Aku hanya lelah saja." Bohong, aku berbohong padanya. Aku tidak lelah, tapi aku merasa tak biasa dengan mas Dani.
"Ya gini kalo mau nikah pasti lelah apalagi nanti kalo nikah duh mbok pasti jauh lebih lelah," serunya membuatku sedikit tertawa dengan ucapan dan dialeknya.
"Belom nanti pas malam pertama pasti jauh lebih lelah," lanjutnya dengan ceplas-ceplos tanpa melihat sekitar tempat.
"Hust Lela gak baik bilang gitu di tempat umum!" Aku memperingatinya, dia yang berbicara tapi aku yang merasa malu.
"Ups lupa Mbak Soraya haha. Mbak Soraya jangan galau dong, Masa belum nikah aja dah lelah gimana kalo nanti haha ...."
"Iya makasih ya Lela untuk semangatnya." Ku sunggingkan senyumku padanya.
"Mbak hebat tau!"
"Hebat apa? Aku biasa aja atuh." Aku menatap bingung ke arahnya, pasalnya aku merasa jika aku hanya orang biasa-biasa saja tak hebat.
"Ya hebat atuh Mbak, jalan Mbak dan Mas Dani tuh mulus banget tanpa adanya rintangan sama sekali."
"Enggak atuh, Semua juga atas izin Allah Lela."
"Sebenarnya tuh mbak soraya, Aku dengar dari cerita orang kalo mau nikah itu pasti ada ujiannya. Entah itu dari orang tua kita, keluarganya atau dari pasangannya." Lela mulai mengatakan hal yang membuatku tak bergeming. Kenapa rasanya hatiku tambah tidak tenang mendengar penuturan dari Lela?
"Terus kalo kita berhasil melewatinya sudah pasti dia adalah takdir kita. Tapi kalo menurutku semua itu tergantung oleh takdir mbak," sambung Lela melanjutkan celotehannya.
Aku mencoba untuk terus tersenyum padanya. "Ujian sebelum menikah itu pasti ada Lela. Jika kita bisa melewatinya maka itu artinya keyakinan kita terhadap pasangan itu kuat serta iman kita tak goyah. Kalo memang kita ga bisa melewatinya berarti kita bukan takdirnya. Begitu juga ujian setelah menikah."
"Kita itu tak pernah tau apakah pasangan kita sekarang itu jodoh yang tuhan kirimkan. Bisa aja tidak jadi hal yang bisa kita lakukan hanya bersandar pada tuhan." Ku berikan sedikit petuah padanya.
Lela mengangguk paham. "MasyaAllah bu nyai sorayaku ...."
"Apa sih Lelaku ...."
"Eh mbak soraya udah tau belum?" Aku menyerngit bingung.
"Tau apa Lela?"
"Kalo Mas Dani dapat tawaran beasiswa S2 di timur tengah. Setelah setahun menunggu pengumuman itu akhirnya pengumuman itu datang."
Rasanya seperti dihantam batu, aku terkejut mendengar kabar yang Lela sampaikan padaku. Tapi aku tak langsung percaya, mungkin saja Lela hanya mencoba untuk menipuku.
"Ah benarkah itu? Aku kok gak tau ya Lela. Kamu tau itu darimana? Dari siapa?" tanyaku mulai mencari tau informasi yang Lela katakan.
"Ya tau lah mbak soraya, Tau dari pak Firman. Masa mbak soraya gak tau?" Lela bertanya dengan curiga.
"Iya Lela, Ah mungkin mas Dani belum mengatakannya. Nanti biar aku tanyakan langsung ke mas Dani. Terima kasih ya Lela atas informasinya."
Setelah mendengar informasi beasiswa s2 mas Dani membuatku terdiam. Kenapa mas Dani tidak memberitahukannya secara langsung? Kenapa rasanya hatiku tidak enak? Dan mungkinkah karena hal ini ia mendiamkanku?
Apa alasan inikah di balik sikap dinginnya?
Tapi kenapa mas Dani tak mengatakannya padaku? Kenapa ia tak jujur?
Aku harus bicara pada mas Dani nanti!
Semua harus ku bicarakan dengannya agar tak terjadi kesalahpahaman..