Bab 13

838 Kata
Suara musik The weeknd dengan aroma daging yang begitu menggoda indera penciuman, membuatku membuka mata sembari mengerjap untuk menyeimbangkan sinar matahri yang masuk. Menggaruk rambut sambil menguap, aku melangkah keluar kamar dengan malas. Namun, sayup-sayup aku mendengar ocehan anakku dengan mainan kesukaannya yang bisa bernyanyi 'little stars'. Seketika itu pula tubuhku membeku, Gilbert berdiri di sana sedang sibuk dengan alat-alat dapur dengan telanjang d**a yang kini menjadi kebiasaanya. Dia berbalik dan tersenyum lebar ketika melihatku. Lelaki itu menaruh daging yang sudah masak di atas piring lalu melenggok begitu seksinya membuat sesuatu dalam diriku ingin membawanya kembali ke kasur.Perutnya yang terpahat sempurna dengan bulir keringat membuat tanganku gatal ingin membersihkan tubuh itu. Aku menggeleng keras membuang jauh-jauh pikiran kotor itu. Harusnya aku menyerbu pertanyaan kepadanya bukan memikirkan sesuatu yang lain. "Apa kau kemarin tidur di kasurku?" ucapku dengan kesal saat dia berdiri di hadapanku. Gilbert tertawa sambil mengacak rambut cokelatnya yang justru membuat lelaki itu semakin terlihat begitu panas.  "Kau mengelak seperti itu karena merindukanku, huh?" sindirnya membuat jantungku berdebar begitu kencang. Dia menarik diriku ke dalam rengkuhannya, aku menjerit karena malu dan mukaku yang masih berantakan.  Untuk beberapa saat kami berdua berpelukan tanpa mengeluarkan suara kecuali suara Elsa yang masih asyik dengan mainannya dan lagu The Weeknd yang masih mengalun lembut. Aku mendengar detak jantung Gilbert yang berdebar-debar serta aroma tubuhnya yang bercampur dengan asap masakan. Deretan pertanyaan yang ingin kuajukan padanya menguap begitu saja.  "Aku ...." Suara Gilbert tertahan. Aku mendongak memandang dirinya dengan alis berkerut. "Maaf jika aku membuatmu bimbang, Em. Harusnya tidak seperti ini akhirnya." Kerutan di dahiku semakin dalam, aku tidak tahu apa yang sedang dia bicarakan. Pelukan Gilbert merenggang, kali ini kedua tangan besarnya meraih wajahku. Dia mengunci diriku dalam biji mata biru itu.  "Apa yang kau bicarakan?" tanyaku.  Degup jantungku merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi. Aku tidak ingin menebaknya walau kurasa mungkin itu yang menyebabkan Gilbert sering menghilang tanpa kabar dan pulang malam. "Aku kembali pada Laura." Suaranya lirih namun begitu keras dan menghantam gendang telingaku. Kutampik kedua tangannya dan bergerak mundur. Meski mulutnya masih berbicara namun yang ada di otakku hanyalah suara dengung yang tiba-tiba membuat kepalaku begitu sakit. Laura ... sisi mana yang dilihat Gilbert hingga begitu buta memilih kembali setelah dikhianati? "Em...." Satu tamparan keras mendarat di wajahnya. Dia terpaku memegangi pipi kanannya yang sedikit memerah. Aku hancur. Bukan karena Gilbert tidak memilihku melainkan mengapa dia harus memilih wanita ular seperti Laura? Mengapa? Aku rela Gilbert memilih wanita lain, bahkan jika Paula menginginkan Gilbert, akan kuberikan. Laura? Sungguh guna-guna apa yang sedang dia gunakan sekarang hingga membuat lelaki yang selalu menolak berkomitmen kini tunduk dan takluk kepadanya. "Pergilah," lirihku dengan mata memerah menahan tangis. "Em...." "Pergilah!" pekikku membuat Elsa terkejut lalu menangis histeris.  "Em.... aku ti--" Aku menghindari dirinya dengan menggendong anakku yang masih menjerit ketakutan. Gilbert mengejarku namun aku menatapnya tajam dengan isak tangis. "Itu yang membuatmu menolak berkomitmen dengan wanita lain selain Laura? Bahkan kau melampiaskan perasaanmu yang tidak terbalaskan kepadaku dan Cecilia? Berapa wanita yang kau jadikan pelampiasan, hah!" Gilbert terdiam berusaha meraih diriku namun aku menghindar.  "Tolong, Em, dengarkan aku dulu." "Dengarkan apa lagi? Semua sudah jelas, Gilbert. Aku hanyalah penghalangmu dengan Laura, kan? Jika kau ingin kembali mengapa tak kau jelaskan dari awal bahwa hatimu memang untuknya? Untuk apa kau berpura-pura sakit hati setelah apa yang dia lakukan padamu, Gilbert?" Dadaku begitu sesak. Ah, harusnya aku tidak secepat ini menaruh hati pada temanku sendiri. Dan entah mengapa mimpi buruk ini datang terlalu cepat ketika aku masih membutuhkan obat untuk mengobati lukaku. Teringat ucapan seniorku, dan kini semuanya menjadi mungkin.  Tidak ada persahabatan antara lelaki dan perempuan yang tidak melibatkan perasaan. Pilihannya hanya satu, kau terluka atau kau bahagia.  ### Apartemen menjadi begitu hening dan terasa sangat berbeda ketika Gilbert benar-benar pergi untuk kembali ke apartemennya sendiri. Dia sengaja tidak membawa kembali beberapa barangnya, melainkan hanya ransel berisi pakaian saja. Sebelum dia meninggalkanku tadi, dia meminta maaf kembali.  Paula dan Liv turut menyesal dengan apa yang terjadi padaku. Liv juga tidak bisa mencampuri kehidupan pribadi Gilbert karena mereka sama-sama dewasa dan bisa memutuskan mana yang terbaik. Kudengar beberapa kali Paula mengumpat. Dia berpendapat sama denganku. Laura sama sekali tidak cocok dengan Gilbert. Namun cinta dan masa lalu telah membutakan hati Gilbert yang memaksanya kembali kepada wanita medusa itu. "Laura adalah cinta pertamanya, Em. Kita juga tidak bisa menyalahkan hal itu," ucap Liv saat kami duduk di mengitari meja bundar di toko yang sedang sepi. "Cinta pertama tapi dia harus punya logika, Liv. Dia tahu bahwa dia dikhianati, sekali seseorang berkhianat maka dia akan melakukan itu lagi, kan? Itu watak Laura. Dia tidak pernah jujur," kata Paula dengan emosi. "Kukira kau tidak mencintainya, Em. Maafkan aku," sahut Liv menatapku dengan raut wajah sedih. Aku menggeleng sambil tersenyum nanar.  "Bukankah ada si Dokter David?" kini Paula yang nampak antusias. "Kita berjanji kan untuk membuat Gilbert cemburu padamu?" Aku menganggukkan kepala. "Tapi, rasanya aku jahat jika melakukan hal itu kepada David." "Tidak. Kau bisa alihkan pikiranmu kepada David, perlahan-lahan kau akan melupakan Gilbert. Buat dia menyesal telah meninggalkanmu, Em." "Itu ... boleh juga," sahut Liv. "Apapun yang terbaik untukmu, Em. Kau masih muda, banyak pria yang menantimu, Sayangku." "Baiklah, sekarang hubungi David, suruh dia jemput kau malam ini," kata Paula sambil mengerlingkan sebelah matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN