Dokter David bisa kusebut seperti cenayang, bagaimana tidak, sosok bertubuh tinggi tegap dan mata elang itu berdiri di depan toko saat aku menggendong Elsa untuk pulang kerja. Dengan mantel hitam dan syal senada, dia tersenyum ke arahku seraya mengacungkan dua gelas latte yang kuyakin dia dapatkan di cafe seberang jalan. Kukira dia akan mengunjungiku di akhir pekan seperti yang dikatakan di telepon, namun kenyataannya dia begitu tidak sabar untuk berkunjung ke apartemenku.
Akhirnya aku memutuskan untuk mengajaknya makan bersama di sebuah restoran yang berada tak jauh dari toko Liv. Meskipun dia menolak dengan cara halus, aku memaksanya karena hari ini aku mendapat gaji pertamaku. Meski tidak banyak, ingin rasanya berbagi apalagi dengan tetangga satu apartemen. Lelaki itu akhirnya mengiyakan sambil berjanji untuk menraktirku lain waktu.
"Aku senang jika memiliki tetangga seorang dokter seperti dirimu, David," ucapku sambil memberikan s**u botol kepada Elsa di pangkuanku.
Dia tertawa. Entah mengapa aku suka cara dia tersenyum dengan mata yang begitu berbeda ketika dia hanya diam. Aku akui Dokter David lebih tampan jika tersenyum seperti ini.
"Ya, aku juga. Pertemuan yang tidak terduga, Emilia. Apa kau berasal dari kota ini?"
Aku menggeleng. Sebelum mengucapkan kalimat seorang pelayan mengantarkan pesanan kami. Setelah mengucapkan terima kasih kepada pelayan itu aku menatap Dokter David dan berkata,
"Aku dari Kentucky, di sini hanya ingin mencari sesuatu yang baru," kataku. "New York selalu memiliki kejutan."
Alis tebal lelaki itu naik sebelah. "Seperti kehidupanmu dengan Samuel Jhonson?"
Aku terdiam menatap sendu makananku. "Ya, itu termasuk."
"Maafkan aku, Emilia," kata Dokter David seraya menyentuh tangan kiriku dengan ekspresi bersalah. "Harusnya aku tidak menyinggung hal itu."
Menggeleng keras sambil tersenyum dengan hati yang pedih. "Tidak, tidak masalah. Semua orang tahu apa yang terjadi pada kami, David. Aku tidak apa-apa. Sekarang ceritakan tentang dirimu." Kulahap makananku sambil menatapnya.
Dokter David menelan makananya lalu berkata, "Aku ... bukan siapa-siapa selain dokter anak yang sedang mengejar impian untuk melanjutkan studi."
"Kekasih?"
Lelaki itu menggeleng sambil tersenyum. "Tidak. Aku baru putus dengannya bulan lalu."
"Oh, maafkan aku."
"Tidak masalah, lagipula aku lebih suka seperti ini, tidak terikat dengan siapa pun, dan tidak perlu repot untuk mengurusi seorang wanita."
Kunaikkan sebelah alis menatapnya dengan tak percaya. "Tanpa wanita kau takkan ada di dunia ini, Dok."
"Aku tahu, tapi mereka yang membuatku tidak memahami karakter mereka. Atau mungkin aku yang belum siap menerima orang lain dalam hidupku termasuk mereka yang memaksaku untuk berubah sesuai keinginan mereka." Dokter itu meneguk minuman wine dengan sekali teguk.
"Itu bukan cinta jika seseorang berusaha mengubah orang lain, David. Yang kutahu, cinta itu menerima semua perbedaan baik dan buruk pasangan. Cinta yang sesungguhnya, kau bisa menerima sisi paling kelam dari pasanganmu dan kau tidak lari darinya."
Iris mata Dokter David menatapku lekat sambil mengangguk. "Kau benar, Em. Sayangnya tidak banyak orang yang bisa menerima akan hal itu. Manusia selalu menuntut pasangannya sempurna, itu yang kutahu."
"Jika seperti itu, maka dia sedang mengajarkanmu bahwa cinta tidak selalu tentang surga."
#####
Perbincangan dengan Dokter David cukup menyenangkan, dia lelaki yang cukup baik sejauh ini dan memiliki pandangan yang sangat realistis tentang sebuah hubungan. Tidak kusangka meski dia memiliki wajah tampan, karir mapan, dan kehidupan mandiri, ternyata dia sering ditinggal pergi kekasihnya. Jika seperti ini aku jadi teringat dengan Gilbert.
Kubuka ponsel saat kami memasuki lift menuju kamar apartemen masing-masing, seharian ini Gilbert tidak memberiku kabar sama sekali. Biasanya dia akan mengirimiku pesan sekadar memberi tahu di mana lokasi dia mengejar berita atau memberitahu bahwa dia akan sibuk. Bahkan pesanku tadi pagi pun hanya dibaca tanpa dibalas olehnya. Jam terakhir dia online sekitar sepuluh menit lalu. Kuketik pesan untuknya untuk sekadar menanyakan di mana dia dan pulang jam berapa.
"Sepertinya kau sedang gelisah, ada apa?" tanya Dokter David seolah tahu yang kupikirkan.
"Tidak, hanya saja aku sedang menunggu temanku, biasanya dia akan mengabariku jika sibuk."
Lelaki itu terdiam sejenak lalu berkata, "Apa dia pria waktu itu? Yang menatapku seperti orang asing?"
Aku tertawa. "Astaga, Gilbert tidak bermaksud seperti itu, David. Maafkan aku."
Kami berdua keluar dari lift di lantai duabelas, Dokter David mengekoriku dari belakang membuatku menghentikan langkah.
"Kau tidak ke kamarmu?" tanyaku.
"Aku hanya ingin mengantarmu hingga sampai di depan pintu kamarmu, Em."
"Kau terlalu baik, David, terima kasih." Aku melangkah hingga ke sudut lorong apartemen ini dan berhenti ketika berada di depan kamar dengan nomor 1025. "Ini kamarku, kau bisa berkunjung kapan saja."
Lelaki itu mengulurkan tangan kanannya, aku menjabatnya dengan erat. Rasa hangat tubuhnya menjalari tubuhku, apalagi saat menatap wajah itu tersenyum begitu manis dan menghinoptisku.
"Baiklah, sampai jumpa akhir pekan, Em."
"Sampai jumpa, selamat malam."
Menatap punggung lelaki itu hingga ditelan lift yang membawanya ke lantai paling atas gedung ini. Kugigit bibir bawahku dengan pipi yang bersemu malu. Aku sungguh tak sabar dengan kunjungannya di akhir pekan.
####
Hingga menjelang pergantian hari, Gilbert tidak kunjung membalas pesanku. Dia kembali hilang tanpa sebuah kabar meski telah kucoba menelepon dirinya. Terakhir dia online di whatsappnya sekitar tiga jam lalu atau tepatnya setelah aku mengirim pesan kepadanya. Sambil menguap, aku membaringkan diri di atas sofa ruang tamu menunggu dirinya seperti orang gila. Sejenak aku bangkit lalu masuk ke dalam kamarnya yang tidak dikunci.
Aku naik ke atas kasurnya dan menarik selimut hingga sebatas hidung. Aroma tubuh Gilbert yang memabukkan memang menjadi candu baru semenjak perceraianku dengan Sam. Dan baru sadar pula tidak banyak ornamen di kamar ini selain lemari baju, rak buku, dan sebuah gitar yang tergeletak di sisi kiri kamar. Kuubah posisiku ke kanan melihat foto kami berdua saat aku masih bekerja di stasiun TV. Kami duduk berdampingan dengan menopang dagu, namun mata Gilbert memandangku dengan senyum khasnya yang berlesung pipit. Aku masih ingat di mana foto itu diambil, di cafetaria setelah jam makan siang. Banyak rekan kerja di stasiun yang mengatakan bahwa kami cocok menjadi sepasang kekasih.
"Mengapa kau tidak menjalin hubungan dengan Gilbert? Bukankah dia cukup menarik untukmu?" tanya seniorku sambil mengerlingkan mata ketika Gilbert sedang diskusi dengan timnya untuk meliput berita.
"Ayolah, aku sudah memiliki kekasih, Sir," kataku sambil terkekeh. "Kami hanya dekat sebagai teman."
Seniorku itu membisikiku seraya berkata, "Menurut pengalamanku, teman dekat takkan selamanya menjadi teman dekat. Persahabatan di antara laki-laki dan perempuan takkan bertahan lama, Em. Kebanyakan berakhir menjadi cinta atau justru menjadi duka."
"Kenapa?"
"Kau akan tahu jawabannya suatu saat nanti."
Jika mengingat ucapan seniorku waktu itu, rasanya sekarang perlahan-lahan aku tahu apa yang dimaksud. Dan rasanya aku berada di antara keduanya, berakhir cinta atau duka. Kadang pula aku membenarkan perkataan Gilbert, bahwa hubungan yang kami jalani saat ini hanya salah satu cara untuk melupakan dan melepaskan masa lalu. Terdengar kejam namun itulah kenyataan sekarang. Lalu terbersit bayangan Dokter David, aku tersenyum tipis, tapi aku juga tidak terlalu banyak berharap lagi. Aku takut salah mengartikan arti pertemuan kami.
Perlahan aku terlelap, terbuai dalam mimpi dan penantian Gilbert yang tak kunjung pulang. Namun, dalam mimpiku, aku merasakan ada seseorang yang memelukku dari belakang. Mengucapkan kata manis yang membuatku tersipu malu dirundung asmara. Pelukan hangat yang membuatku semakin nyaman dan semaking tenggelam dalam mimpi indah. Aku tidak ingin bangun dari semua ini, aku cukup lelah menerima hujatan dan tekanan dari banyak orang.
Ah, andaikan hidup itu indah layaknya mimpi....