"Kondisinya semakin menurun, Mrs. Watson," ucap dokter saat aku baru saja datang ke ruangan ayahku. Ibu nampak begitu terkejut dengan penuturan dokter berkacamatan itu, wajahnya semakin pasrah melihat ventilator kini terpasang untuk menunjang hidup ayah.
Kupeluk erat tubuh ibuku, dia menangis sesenggukan. Dokter itu merasa iba namun semua ini tergantung ayah dan Sang Pencipta. Ah, jika seperti ini rasanya sangat memalukan bagaimana aku jarang mengingat Tuhanku sendiri. Pasti saat ini Tuhan sedang marah padaku dan menghukumku untuk mengambil nyawa ayah.
Padahal ayah sudah menjalani operasi pembedahan otak sebelum aku datang dari New York. Ibu bercerita bahwa perdarahan yang dialami ayah berdasarkan hasil CT-scan dan MRI terlalu luas hampir separuh bagian otak kanan ditambah dengan adanya penyakit darah tinggi yang tidak diketahui olehnya, dokter sudah memberitahu sebelumnya bahwa kemungkinan besar ayah tak kan pulih seperti dulu. Kulihat tubuh ayah yang terbujur lemah dengan perban di kepala setelah dokter itu berpamitan pergi.
Ibuku melepas pelukanku dan melangkah gontai mendekati suami tercintanya itu. Dipegang tangan kiri ayah, wajah ibu benar-benar terlihat begitu lelah. Aku pun bergabung, menggenggam tangan kanan ayah. Air mataku mengalir, ini salahku. Aku yang membuat ayah menderita dengan jalan hidupku. Aku yang membuat ayah terbaring koma dan aku merasa bersalah kepada Tuhan.
"Mom, istirahatlah dulu, biar aku yang menjaga Daddy," ucapku.
Ibuku menggeleng lemah seraya terus memandang wajah ayah yang nampak tertidur lelap. "Aku takkan pergi sedetik pun, sampai malaikat benar-benar ingin menjemputnya."
"Mom ... daddy akan pulih, oke, dia akan bertahan. Aku yakin," kataku meski sebenarnya aku ragu dengan hal ini.
Ibuku tetap teguh pada pendiriannya. Aku pun beranjak dan mencium kening ayahku lalu membisiki dirinya.
"Dad, jika kau mendengarkan suaraku, aku mohon, kembalilah untuk kami. Maaf jika aku tidak bisa menjadi anak baik untukmu, Dad, tapi aku sungguh ingin kau kembali. Aku sayang padamu."
####
Hening. Aku duduk diam di salah satu sudut bangku gereja dan menatap Tuhanku. Sambil menghela napas, aku merasa begitu pengecut, air mataku kembali mengalir deras. Sudah sangat lama aku tidak pernah mengunjungi rumah Tuhan, bahkan mengingat dirinya pun jarang. Aku terlalu terlena dengan dunia yang penuh dengan luka yang ditutupi oleh kebahagiaan sementara. Dan kini, saat aku berada di ambang kehancuran, perceraian, ditinggal Gilbert, menghadapi ayah yang entah akan pulih atau tidak. Hidupku bagai roller coaster, aku yakin ini cara Tuhan untuk membuatku kembali ingat pada-Nya.
Kutundukkan kepala memohon ampun pada Tuhan dan memohon agar ayah disembuhkan. Aku tidak mau kehilangan ayah bahkan dengan cara seperti ini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidup tanpa ayah lagi. Sudah cukup orang tua kandungku membuangku ke panti asuhan, sudah cukup aku menjadi anak terlantar. Tapi, apakah Tuhan masih mau mendengarkan doaku? Doa yang tidak pernah dia dengar dari diriku. Masih pantaskah aku mendapatkan ampunannya setelah apa yang kulakukan?
Tuhan, aku hanya ingin orang tuaku kembali seperti sedia kala.
Tuhan, jika pernikahanku tidak sempurna, buat kehidupan orang tuaku sempurna, aku tahu kehidupan takkan ada yang abadi, tapi aku tidak ingin berpisah dengan ayah dengan cara seperti ini. Bahkan kami tidak bisa mengucapkan selamat tinggal.
Menghapus air mata dengan kedua punggung tangan lalu beranjak untuk menjemput Elsa di penitipan anak. Saat keluar dari gereja, aku melihat sosok mirip dengan Gilbert berdiri di dekat mobilku. Beberapa kali aku harus menggeleng untuk menyadarkan kembali otakku yang mungkin terkena efek dinginnya cuaca. Sosok tinggi itu masih di sana lalu dia menangkap diriku di manik matanya.
Kedua kakiku seketika membeku. Aku tidak bergerak walau aku sudah berusaha untuk melarikan diri darinya. Entah dari mana dia tahu aku berada di sini, dan bagaimana pula dia bisa ke Kentucky di saat dirinya masih bersama Laura. Atau apakah Liv yang memberitahunya?
Lelaki itu mendekat dengan langkah panjangnya dengan kedua tangan yang terbalut dengan sarung tangan hitam. Kedua matanya masih mengunci diriku namun bibirnya menyunggingkan seulas senyum. Kini sosok itu berdiri tepat di hadapanku seraya berkata,
"Em..."
"Apa maumu?" suaraku terdengar bergetar di tengah salju yang turun.
"Aku ingin di sini bersamamu, Em," ucapnya seraya ingin menyentuh pipiku.
Aku berhasil menghindar. "Laura?"
"Dia tahu aku di sini."
Aku bergerak mundur. Laura masih ada di hatinya. Sisi lain dalam diriku mengejek, harusnya aku senang Gilbert ada di sini menemaniku bersama bahkan dia rela jauh-jauh dari New York datang ke Kentucky untuk menemuiku.
Dia menarik lenganku, merengkuh tubuhku. Aku bisa mendengar suara detak jantungnya yang berdetak cepat beriringan degan detak jantungku. Aroma tubuhnya masih sama. Kuhirup dirinya dalam-dalam, menyimpan aroma tubuh ini dalam memori otakku.
"Mengapa kau tak memberitahuku jika ayahmu sakit?" tanyanya.
"Mengapa kau tahu?"
Gilbert melepas pelukannya lalu menangkup wajahku. "Aku memaksa Liv, ada yang tidak beres ketika melihat apartemenmu kosong. Aku juga telah bertanya pada David, justru dia mengira kau bersama Eliza."
Aku terdiam, Eliza memang sempat mengirimiku pesan dan telepon berulang kali tengah malam kemarin. Dia marah-marah karena aku berbohong padanya. Aku merasa bersalah. Aku juga tidak sempat membalas semua pesan spam darinya.
"Dan ...."
Kalimatku tertahan ketika Gilbert mencium keningku dengan begitu lembut. Sentuhan yang kurindukan selama ini. Bahkan rasanya begitu berbeda ketika aku bersama David. Kedua mataku berkaca-kaca sambil tersenyum tipis.
"Kita sebaiknya menjemput Elsa," ucapnya.
Aku mengerutkan kening. "Kau tahu?"
Lelaki itu tertawa renyah menunjukkan deretan giginya dan bibirnya yang merah bagai candu itu kembali menggodaku. Aku menggeleng keras mengusir pikiran kotor dalam kepalaku.
Tapi aku rindu bibir itu.
"Em," panggil Gilbert membuyarkan lamunanku.
Kami berdua akhirnya pergi menjemput Elsa, Gilbert bercerita bahwa dia datang menjemputku setelah menemui ibuku di rumah sakit. Dia bilang bahwa Liv memberitahu segalanya meski harus dipaksa namun sepupunya itu mengancam Gilbert jika dia berbuat aneh-aneh lagi.
Penitipan anak tak jauh dari gereja, kami berjalan sekitar dua kilometer di antara tumpukan salju. Sesekali kami terdiam saling melirik, kali ini dia melirikku dengan tarikan bibir.
"Aku minta maaf atas apa yang kulakukan padamu."
Aku menatapnya sejenak lalu mengangguk.
"Maaf telah melukai dan menghancurkan hubungan kita."
Aku hanya mengangguk tidak dapat mengatakan apapun. Otakku terlalu sulit diajak berpikir tentang hubungan ini.
Gilbert meraih tangan kiriku dan membawanya ke dalam saku mantelnya. "Kita akan menjadi teman, Em, dengan atau tanpa perasaanmu padaku."
"Apa itu artinya kau ingin melukaiku diam-diam?"
"Tidak."
"Lalu mengapa kau kembali pada Laura?"
Diam terdiam cukup lama. Kutarik tanganku yang berada di saku mantelnya namun Gilbert menahan. Ada guratan kesedihan di wajahnya ketika dia menunduk melihat jalanan bersalju. Aku bertanya-tanya ada apa dengan Laura? Bukankah sebelum aku ke sini, mereka berdua terlihat begitu bahagia?
"Laura ..." Gilbert menggantungkan kalimatnya membuatku begitu tak sabar. Jika bisa aku ingin merobek isi kepalanya untuk tahu apa yang sedang dipikirkan lelaki itu. "Dia menderita tumor otak, Em," lirihnya membuat kepalaku serasa dihantam batu.