Suara alat-alat monitor seakan berlomba-lomba dengan denting jam. Namun sangat berbeda dengan pergerakan d**a ayah yang begitu teratur dengan masker oksigen walau kedua matanya masih Setia terpejam sepanjang waktu. Kugenggam tangan dinginnya yang tertancap selang infus sambil terus memanjatkan doa, bahwa Tuhan akan segera mengabulkan doaku.
Terdengar suara langkah, aku menoleh dan mendapati ibuku berdiri di belakang sambil menggendong anakku yang terlelap. Sebelah tangannya menyentuh pundakku seraya berkata,
"Pulanglah, Em. Kau dua hari tidak tidur sama sekali."
Aku menggeleng lemah, menatap wajah ayah yang tanpa kusadari telah menua. Garis keriput begitu kentara, aku yakin ayah memang memikirkan masalah yang datang kepadaku. Aku bodoh.
"Mom pulang saja bersama Elsa. Momy lebih lelah daripada aku."
"Dan kau membiarkan Elsa sendirian? Dia juga membutuhkanmu, Sayang," kata ibuku. "Pikirkan juga kesehatanmu, Em. Mom juga tidak ingin kau sakit."
Aku terdiam dengan bibir bergetar. Bahkan air mataku sudah mengering menangisi kondisi ayah yang tak kunjung membaik. Aku tahu tubuhku mulai lelah tapi ku tak ingin meninggalkan ayah walau sedetik saja.
Aku terlalu takut.
"Em, setidaknya kau merebahkan dirimu, oke."
Kuanggukan kepala lalu beranjak dan membisiki ayahku tepat di telinga kanannya dan berkata, "Dad, kau bisa sembuh. Kau harus berjuang, demi aku. Elsa... Cucumu membutuhkanmu, Dad." kucium kening ayah dengan sayang lalu berbalik.
Wajah ibuku terlihat begitu sedih dan matanya berkaca-kaca meski bibirnya masih menyunggingkan seulas senyum.
"Mom... "
"Aku yang akan jaga di sini, Em, kau pulanglah," sela ibuku.
Aku ragu namun melihat Elsa yang selalu ikut, membuatku berpikir dua kali. Usia sepertinya juga rentan sakit jika terus-menerus berada di lingkungan rumah sakit meski telah mendapatkan imunisasi. apalagi cuaca tidak menentu. Aku mengangguk lalu memeluk ibuku dengan sayang.
"Everything will be alright."
####
Hingga matahari menyelinap masuk melalui tirai jendela, mataku tidak bisa terpejam sedikit pun. Aku bangkit menyandarkan tubuh ke kepala kasur sambil memijit kepala yang begitu nyeri. Mataku berkunang-kunang bahkan rasanya aku ingin muntah.
Ponselku berdering. Dengan malas kuambil benda itu di sisi kiriku. Nama David muncul. Aku mendecak sambil menolak panggilannya. Beberapa saat, dia menelpon lagi. Aku menolak panggilannya. Namun lelaki itu tidak menyerah, hingga aku memilih menonaktifkan ponsel.
Tapi, jika kumatikan satu-satunya alat komunikasi dengan ibu, aku takkan tahu perkembangan kondisi ayah, kan? Ku hidupkan lagi mesin ponselku dan disambut banyak pesan yang sejak dua hari lalu tak kubalas sama sekali. Hampir semuanya dari David meski beberapa ada dari Liv, Eliza, Paula, dan terakhir dari Gilbert.
Ah, mau apa dia?
David : di mana kau? Mengapa apartemenmu kosong?
David : Jawablah teleponku, please!
David : aku khawatir
Gilbert : Are you fine there?
Satu pesan dari Gilbert mampu menghancurkan dinding pertahananku. Aku menangis sejadi-jadinya, aku sungguh butuh dirinya, bukan orang lain bahkan David sekali pun. Aku rela dia menghancurkan diriku berulang kali, tapi saat ini aku ingin dia di sampingku, memelukku erat dan menenangkan pikiranku. Tapi nyatanya tidak! Dia jauh di sana. Bersama Laura.
So damn stupid
"I love you, Gilbert, and it's really hurt me."
Dadaku begitu sangat sakit seperti dihantam ribuan busur panah. Jujur saja aku tidak suka berada di posisi ini, pertemanan yang berakhir dengan sebuah rasa. Segalanya terasa begitu berbeda, dan bodohnya aku begitu saja tenggelam dalam perasaan yang tidak memihak padaku sepenuhnya.
Ponselku kembali berdering, kali ini dari Eliza. Cepat-cepat kuangkat panggilan dari telepon sahabatku itu sambil menyunggingkan seulas senyuman paksa.
"Iya, Halo, Lizzie," sapaku setelah menjawab panggilanya.
"Hei, Em, bagaimana kabarmu?"
Aku tidak baik
"Aku baik, Lizzie, hanya sedang berlibur di Kentucky," jawabku dengan ceria seakan semuanya baik.
"Oh, benarkah? Ayahmu sudah tidak marah padamu? Aku ikut senang."
"Ya, kami sedang bersenang-senang untuk merayakan natal."
Aku ingin mengutuk diriku sendiri, berbohong kepada Eliza mengatakan bahwa semuanya baik padahal nyatanya tidak. Lalu ada panggilan masuk, kulihat itu Gilbert. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba menelepon membuat rasa gugupku datang.
"Lizzie, ada panggilan lain masuk. Nanti ku telepon dirimu. Sampaikan salamku pada yang lain."
Sebelum Eliza menjawab, kuputuskan sambungan telepon dan beralih pada panggilan Gilbert.
"Em," panggilnya.
Ah, suaranya.... aku rindu.
"Apartemenmu kosong. Kau di mana?"
"Kenapa?" tanyaku.
"Apa kau bersama David?"
"Iya, kenapa?" jawabku bohong.
"Oh, aku ..." ada rasa tak terima dari nada bicaranya. "Liv bilang kau tidak bisa bekerja, kukira...."
"David mengajakku ke luar kota selama beberapa hari."
Kami terdiam sejenak, namun aku bisa mendengar suara umpatan Gilbert. Sedangkan aku sebisa mungkin untuk tidak terdengar seperti orang yang baru saja menangis.
"Aku merindukanmu, Em," ucapnya dengan begitu kaku. "Aku tidak suka dengan kita yang sekarang."
"Karena kau yang membuatnya seperti ini. Sebenarnya apa maumu?"
Tidak ada jawaban dari Gilbert bahkan hingga beberapa menit. Dengan kesal, kuputuskan sambungan telepon. Aku menoleh ke luar jendela melihat sekilas cerminan wajahku yang begitu terlihat mengerikan. Kutarik bibirku, aku harus kuat.