Bab 17

1240 Kata
Toko roti milik Liv semakin ramai pembeli terutama menjelang hari natal. Kami harus bekerja ekstra terutama bagian dapur, mereka harus membuat kue lebih banyak dari hari biasanya terutama kue kering. Liv pun turun tangan membantu di dapur membuat aroma kue yang begitu menggiurkan memenuhi setiap sudut toko. Dia juga memberlakukan beberapa diskon untuk setiap item roti yang dijual. Paula membawa beberapa kotak kue kering aneka warna dari dapur yang masih hangat ke dalam etalase yang kemudian ditunjuk oleh seorang wanita tua. "Aku pesan lima kota cookies, dua yang biasa, lainnya berikan red velvet, maple bacon, funfetti, dan mistery cookies," ucap wanita itu seraya tersenyum.  Paula mengambil semua pesanannya ke dalam wadah, sedangkan aku meng-inputnya ke dalam komputer.  "Ada tambahan lagi Nyonya?" tanyaku. "Tidak, itu saja cukup." "Baik, semuanya menjadi 20 dollar, Anda mendapat diskon tiga puluh persen dari harga normal." Wanita itu membayar lalu menerima pesanannya setelah mengucapkan terima kasih. Aku terpaku ketika sosok Laura datang dengan setelan baju yang terlihat begitu mahal, di sisi kanannya, Gilbert berdiri menggandeng medusa jadi-jadian itu. Sejenak kami saling memandang sebelum aku tersenyum tipis layaknya tidak pernah mengenal lelaki itu. Aku berpikir, apa tidak ada toko roti lain yang dia kunjungi selain tempat ini? "Jadi, apa yang Anda pesan, Nona?" tanyaku seramah mungkin meski tanganku terkepal begitu erat di bawah meja kasir.  "Seperti biasa," ucapnya. "Kebetulan maccaron yang biasanya Anda pesan sedang dalam proses pembuatan, mungkin ...." Aku melihat jam tangan di tangan kiriku. "sekitar setengah jam lagi. Benar, kan Paula?" Paula menoleh. Dia mengangguk dengan wajah tak suka. "Ya, hari ini banyak yang membeli maccaron, Laura. Jika kau mau bersabar." "Oke, tidak apa." Dia menoleh kepada Gilbert yang terlihat kikuk. "Sayang, kita menunggu  di sini, ya?" Jika bisa, aku ingin mengeluarkan isi lambungku dan melemparkannya kepada mereka. Nada si medusa sungguh dibuat-buat ketika berbicara dengan Gilbert. Lelaki itu mengangguk sambil tersenyum kemudian menatapku sejenak dengan tatapan penuh arti sebelum mereka berdua pindah untuk duduk di sudut toko. Kutarik napas, hanya dengan melihatnya saja tubuhku merinding. Kubuang pikiranku jauh-jauh saat bayangannya menyelinap di apartemenku lusa kemarin. Kugigit bibir bawah melihatnya dari jauh, mereka berdua berbicara sesekali tertawa. Gilbert tersenyum begitu lepas, senyuman yang kurindukan. Namun, dia bukan milikku lagi. Dan selamanya bukan milikku walau dia tahu aku masih mengharapkannya datang tuk memberikan hatinya padaku. Hanya aku. #### Suasana sedikit lengang sekitar pukul dua siang, aku meluruskan kaki yang begitu pegal seraya menikmati kue yang diberikan Liv untuk karyawan. Seraya minum coklat panas, aku membuka ponsel. Banyak pesan dan panggilan tidak terjawab, kebanyakan dari David. Mataku membelalak ketika membaca deretan panggilan tak terjawab itu dari ibu. Rasanya sudah lama tidak mendengar kabarnya, terutama dari ayah.  Kuputuskan untuk menelepon ibu sambil berharap ayahku telah berubah pikiran. Apalagi menjelang natal seperti ini, aku ingin pulang dan aku ingin Elsa mendapatkan kebahagian bersama kakek dan neneknya di Kentucky. Beberapa detik, senyumku mengembang ketika mendengar suara ibu memanggil namaku. "Mom?" "Apa kabarmu, Em?" tanya Ibu. "Aku ... baik," jawabku ragu. "Benarkah?" Aku terdiam, entah harus menceritakan semuanya yang terjadi di kota ini. Semuanya hanya tertahan di kerongkongan, pikiranku mendadak tak bisa berpikir jernih. Perasaanku begitu campur aduk hingga derai air mata yang perlahan menetes membasahi pipi. Aku menengadah sambil menghapus air mataku lalu berkata, "Ya, Mom, bagaimana kabarmu?" tanyaku dengan nada seceria mungkin.    "Kami baik, hanya saja Daddy-mu mendadak sakit, Em. Tadi pagi dia jatuh di kamar mandi dan sekarang dalam perawatan dokter."   "Bagaimana bisa? dad tidak punya riwayat darah tinggi, kan?" Aku mendengar helaan napas ibuku dari seberang. "Mom ..."   "Semenjak kau di New York dan kehidupanmu menjadi kacau, dad menjadi sering marah-marah. Mom memang tidak menyalahkan dirimu sepenuhnya, Emilia. Tapi Dady selalu menganggapmu gadis kecilnya, hingga berita perceraianmu datang, dia begitu menderita."   "Maafkan aku, aku akan pulang, Mom, kumohon biarkan aku menemui dady." Aku merengek, begitu takut jika sesuatu yang buruk menimpa ayahku. Aku tidak peduli jika dia membenciku, tapi aku ingin menemuinya dan mengatakan bahwa aku menyayangi ayahku.    “Pulanglah, anakku, sebesar apapun rasa kecewa dady dia masih tetap menjadi orang tuamu, Emilia. Lagipula aku sangat merindukan Elsa.” Kedua mataku berkaca-kaca. “Ya, aku merindukan kalian, Mom. Aku merindukan pelukanmu.” “Kau yakin tidak terjadi apa-apa di sana?” Aku menggeleng sambil tersenyum tipis berusaha menutup luka batin yang tergores. “Tidak, aku tak apa, percayalah.” “Baiklah, pulanglah secepat mungkin, lagipula mom ingin merayakan malam natal bersamamu dan Elsa.” “Iya, Mom, aku tahu. Aku harus bekerja.” #### Memasuki bandara Manhattan Regional Airport di tengah salju yang turun deras dari hari ke hari, akhirnya aku bisa pulang ke Kentucky atas persetujuan Liv. Sebelumnya, kukatakan pada bosku bahwa jangan sampai David atau Gilbert tahu tentang kepulanganku ke rumah orang tuaku. Bukan karena tak ingin mereka khawatir meskipun itu tidaklah mungkin, hanya saja aku ingin semua orang tidak tahu kepergianku kecuali pegawai toko. Bandara cukup ramai, orang-orang nampak sibuk lalu lalang dengan barang bawaan mereka. Datang dan pergi. Kulihat jadwal penerbanganku satu jam lagi, kugeret koperku dengan Elsa di gendonganku menuju ruang tunggu. Elsa nampak senang melihat banyak orang, sesekali dia mengoceh membuat orang yang berada di dekat kami tersenyum melihat anakku yang menggemaskan. Setelah mendudukkan diri di kursi, kuraih ponsel dan membuka beberapa pesan. David mengirimiku pesan bahwa dia ingin mengajakku untuk menghabiskan cuti tahunanya bersama, aku tersenyum sambil membalas bahwa aku setuju. Lalu kubuka pesan lain, dari Liv. Liv : Hei, kau tahu, aku bertemu Laura dengan lelaki lain. Aku mengerutkan kening, tidak terlalu terkejut. Bahkan setelah diceritakan Gilbert tentang kekecawannya kepada Laura namun nyatanya dia kembali kepada si medusa. Gilbert terlalu banyak makan cinta buta. Emilia : Aku tidak peduli, Liv. Liv : Kau yakin? Aku ada berita lain untukmu. Emilia : Ya, aku yakin. Dan berita apa itu? Liv : Cecilia. Kau pernah mendengarnya dari Paula, kan? Emilia : Kenapa? Liv : Dia ditemukan tewas gantung diri di televisi. Aku terdiam memandang kosong bangku-bangku di depanku. Cecilia? Bahkan aku belum smepat melihat wajah mantan Gilbert yang dicampakkan lelaki itu. Apakah Cecilia tahu bahwa Gilbert kembali kepada Laura dan akhirnya bunuh diri? Ah, jika seperti itu harusnya aku lebih cepat menemukan wanita itu. Perempuan takkan mati hanya karena hatinya dipatahkan oleh lelaki b******n seperti Gilbert. Emilia : Aku sungguh berduka. Liv : Dia gadis baik, Em. Aku sempat marah saat Gilbert memutus sepihak hubungan mereka. Bahkan harusnya dia bersama Gilbert bukan Laura. Emilia : Nyatanya cinta Gilbert kepada Laura lebih besar dari akal sehatnya. Liv : Ya, mungkin. Maaf jika aku membawa berita buruk. Semoga ayahmu segera pulih. Kutaruh kembali ponselku ke dalam tas sambil menghela napas panjang dan mengelus rambut anakku dengan sayang. Sungguh aku begitu menyesal apa yang terjadi pada Cecilia, mungkin saja usianya tidak jauh berbeda bahkan bisa jadi lebih muda. Tapi, aku sungguh penasaran dengan isi surat yang ditinggalkan Cecilia sebelum dia tewas. Apakah benar kematiannya karena Gilbert kembali kepada Laura? Tapi, tahu darimana dia jika kata Paula, Cecilia telah pindah dari New York? Sejenak aku lupa, Laura adalah selebgram sekaligus model majalah kota. Tentu saja banyak orang yang mencari tahu sisi kehidupan si medusa itu. Apalagi i********:, Paula yang selalu penasaran dengannya sellau menstalker akun Laura, dan dia mengumpat ketika wanita itu memposting wajah Gilbert yang tertidur lelap di kamarnya. “Dia b******n, Em. Harusnya Liv mengebiri Gilbert sedari dulu,” gerutu Paula yang didengar oleh Liv saat menulis daftar belanjaan di toko. “Aku? Bahkan anak tunggal seperti dirinya dibebaskan oleh orang tuanya untuk mengencani wanita mana saja, Paula,” ucap Liv. “Tapi, idemu bagus, harusnya aku memotong kelaminnya saat dia lengah.” Suara panggilan dari pusat memberitahukan bahwa america airlines—pesawat yang aku tumpangi akan datang. Beberapa orang beranjak lalu melangkah menuju pintu masuk. Sejenak aku berhenti, memandang belakang meski tidak ada siapapun yang peduli dengan kepergianku menuju Kentucky. Aku tersenyum nanar, lalu mencium Elsa dan menatap mata bulatnya yang begitu mirip dengan Sam. Aku tersenyum dan berkata, “Selamat tinggal New York.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN