Bab 16

1206 Kata
Hingga pukul enam pagi saat kudegar Elsa menangis,  pada akhirnya aku tidak bisa memejamkan mata. Sentuhan Gilbert masih begitu terasa, bahkan saat aku bercermin,  jejak yang dia tinggalkan masih Setia di sana. Rasa pusing yang mulai datang, membuatku terpaksa minum kopi beberapa gelas.  Lelaki itu sungguh membuatku bingung dengan apa yang dilakukannya. Memandikan Elsa,  membersihkan kamar,  hingga menyiapkan makanan,  semuanya kulakukan sambil menahan pusing. Sempat berpikir, jika sebaiknya kubatalkan saja perjanjian dengan David.  Tapi, tidak enak hati karena semalam aku sempat kesal dengannya. Pintu di ketuk, aku tergopoh-gopoh meraih daun pintu dan membukanya. Sosok tinggi besar David tersenyum begitu ceria. Dia membawa sebuah boneka kecil dan sebuah bingkisan.  Aku tersenyum sambil mengucapkan terima kasih dan menyilakan dokter itu masuk. "Maaf jika datang terlalu pagi,  aku hanya ingin menghabiskan 24 jam ini bersamamu." Kalimat manis yang dilontarkan David membuatku tersipu malu. "Apa kau sudah sarapan?" tanyaku. Dia menggeleng. "Aku ingin sarapan bersama denganmu dan Elsa. Kua terlihat sedikit buruk." Aku menggeleng. "Hanya sedang mengalami insomnia." "Sebaiknya kau beristirahat dulu, Em, aku--" "Jangan, Dave!" seruku menahan dirinya pergi. "Aku baik-baik saja, oke." Dia mengangguk sambil tersenyum tipi. " Di mana Elsa?" "Di kamarnya." Kutunjukkan kamar Elsa. Dokter David begitu antusias menyapa anakku yang disambut dengan tawa lebar gadis kecilku. David menggendong tubuh Elsa lalu berkata, "Aku merasa dia tambah berat." Aku tertawa. "Ya,  dia tumbuh besar." Lalu kuputuskan untuk membuat sarapan dengan bahan yang ada di kulkas. Untung saja persediaan makanan masih ada sampai besok pagi meski sekarang isi kulkas hanya sebatas keju, telur, s**u kotak, dan sirup maple. "Apa yang akan kau masak?" "Mungkin griddle cakes dengan sirup maple. atau Sandwich dengan telur dan keju?" Lelaki itu mendekatiku sambil menggendong Elsa. Dia melihat bahan makanan di atas pantry sambil berpikir sejenak. "Kurasa membuat griddle cakes lebih enak, aku merindukan masakan itu saat mengunjungi rumah nenek dua tahun lalu." "Kenapa kau tidak membuatnya sendiri?" ucapku mengambil tepung dan menimbangnya. David melangkah dan menaruh tubuh Elsa di atas kursi bayi yang tidak jauh dari dapur. Dia berikan boneka yang dibelikannya untuk anakku. Elsa terlihat senang, menatap David dengan mata bulatnya yang begitu bersinar.  "Sejujurnya aku tidak bisa memasak," ucapnya sambil terkekeh. "Jika kau melihat apartemenku, tentu kau terkejut dengan banyaknya stok makanan instan di sana." "Itu tidak sehat untukmu, Dok," kataku seraya mencampurkan tepung, baking soda, dan garam ke mangkuk besar. "Sekarang, tolong bantu aku masak. Ambilkan mangkuk itu." Aku menunjuk sebuah mangkuk berukuran sedang berwarna merah. David menurut dan memberikannya padaku. "Nah, sekarang tuang s**u, aku sudah mengukurnya tadi." David pun menuangkan s**u ke dalam mangkuk merah. "Lalu?" "Ambil baking powder di rak bumbu,  aku mau memanaskan teflon." David tidak bergerak bahkan setelah selesai aku mengambil teflon dan butter. Dia hanya berdiri terpaku dengan wajah bingung. Aku menatapnya lalu tertawa terbahak-bahak lupa jika lelaki itu tidak tahu sama sekali.  "Apa kau serius?" tanyaku mengejeknya.  "Oh, ayolah, bahkan aku tidak bisa membedakan baking soda dan baking powder," belanya. Akhirnya kuambil baking powder dan menambahkannya sedikit di atas s**u itu. Setelah selesai aku mencampur tepung dan s**u dan mengaduknya pelan. Butter sudah meleleh, kutuangkan sedikit adonan itu lalu berkata, "Kau harus bisa menjaga dirimu sendiri, David. Aku dulu juga sepertimu sebelum kuliah, tidak bisa masak sama sekali. Aku bersyukur, selama tinggal bersama sahabatku, kami berdua belajar memasak dan mengurus diri sendiri." "Aku iri padamu," ujar David. "Aku bantu membalik adonannya," pintanya. Kuberikan spatula kepada lelaki itu dan mengambil piring. "Untuk apa kau iri? Hidupmu pasti lebih menyenangkan dan lebih beruntung daripada aku, David." Tangan besar David mengangkat griddle cakes yang sudah matang lalu menaruhnya di atas piring. Dia menatapku penuh arti sambil menjawab, "Tidak, tidak apa-apa." ##### Usai sarapan dan menyuapi Elsa dengan smoothie pisang dan madu, David mengajakku bermain truth or dare, permainan gila yang sudah tidak pernah kulakukan semenjak lulus kuliah. Sambil duduk di sofa dan memangku Elsa, kami melakukan gerakan batu gunting kertas. Aku mengeluarkan batu, dan David mengeluarkan gunting. Aku tertawa menang sambil menciumi anakku gemas. "Truth or dare," kataku sambil menahan tawa. "Dare!" Aku berdiri dan melangkah menuju kulkas. Kulihat ada dua paprika merah, aku tersenyum lalu mengambilnya. Kuberikan kepada David yang melihatku dengan mulut menganga. "Makan paprika ini tanpa minum air," pintaku.  "Kau gila," ucapnya. "Karena kau kalah dan memilih dare," ejekku. Dengan ragu-ragu, dia menatapku sambil mengerjapkan mata seolah memohon untuk membatalkan apa yang dia ucapkan. Aku terkikik sambil menjulurkan lidah, Elsa pun berteriak kegirangan sambil mengoceh. David mencomot paprika merah itu dengan sekali gigitan besar. Aku yakin beberapa saat kemudian bibirnya akan terbakar karena rasa pedas.  "Sudah mulai terasa?" tanyaku seraya mengerlingkan sebelah mata. "Tidak." Dia menghabiskan paprika itu dengan cepat, namun kulihat kedua pipi yang mulai dihiasi janggut tipis nampak kemerahan. Keringat  pun mulai bermunculan di dahinya. Mulutnya membuka menutup seperti ikan yang kehabisan air.  Melihat itu, aku tidak bisa menahan tawaku. David nampak kesal tapi aku tidak peduli. Dia menyruhku untuk bermain lagi. Lagi-lagi dia kalah saat mengeluarkan kertas dan aku gunting.  "Truth!" ucapnya sebelum aku mengeluarkan kalimat. "Who is your first crush?" "Maggie, perempuan manis di sekolah tingkat pertama." Kami pun bermain lagi. Dan kali ini aku yang kalah, David bersorak seperti menang undian.  "Truth or dare." "Dare." "Kenapa tidak memilih truth?"  tanyanya sambil merengut. Aku menggeleng sambil menahan tawa mencoba menerka tantangan apa yang akan diberikan oleh David. "Kiss me." Aku menganga.  "Kiss me, itu tantanganmu." "Kau mencuri kesempatan," ucapku. "Selama itu ada, mengapa tidak?" Aku ragu-ragu, bahkan dalam kepalaku yang kubayangkan justru bibir Gilbert. Kudekatkan wajahku ke arah wajah Gilbert, dia sedikit menjauh.  "Hey...." rutukku kesal. Dia tertawa seakan ingin menggodaku. Aku pun menaruh Elsa di atas karpet dan memberinya mainan lalu kuhampiri David dan menangkup wajahnya. Seketika itu pula dia mengatupkan bibirnya begitu rapat membentuk sebuah garis lurus. "Kau menggodaku!" Lelaki itu menggeleng, tidak mau kalah, kukecup bibirnya. Namun, dia menarik tubuhku semakin dekat hingga hampir terjatuh.  "Itu bukan ciuman," katanya dengan lirih. "Yang penting aku sudah melakukannya." "Baiklah, sekarang, truth or dare? biar kita seimbang." "Truth." "Siapa yang paling membuatmu berkesan hingga terkadang dirimu begitu menjadi gila hanya dengan memikirkannya, Em?" Mendengar kalimat itu, mendadak bayangan dua orang datang di dalam kepalaku. Kenangan bersama Sam yang indah dengan segala pengkhianatannya lalu berganti dengan Gilbert namun pada akhirnya mereka berdua sama-sama meninggalkanku. Aku bergerak mundur, membuat David memandangku dengan sejuta pertanyaan.  Menunduk seraya memandangi kuku jariku sendiri, Sam dan Gilbert, dua lelaki yang sangat berarti dan sama-sama membuat gila. Mereka menempati posisi yang berbeda. Aku mencintai mereka namun mereka mencampakkanku. Kutatap David dengan senyum getir seraya berkata, "Sam dan Gilbert." Kedua alis David terangkat. "Sam mantan suamimu? Gilbert temanmu itu?" Aku mengangguk. "Mereka membuatku gila tapi mereka pula yang menggoreskan luka." David terdiam menatapku lekat. "Move on, Em." "Ya, aku sedang melakukannya. Sedangkan dirimu, apakah kau juga memiliki kenangan bersama mantanmu?" Lelaki itu terdiam sejenak sebelum akhirnya mengulum senyum tipis. Suana mendadak menjadi melankolis, kami sama-sama diam. David meraih tanganku dan digenggamnya erat. "Mantan sudah kulupakan, karena aku tidak ingin melihat belakang lagi, Emilia." "Lalu?" "Jika kita sama-sama pernah terluka, mengapa kita tak sama-sama saling mengobati?" Aku mengerutkan keningku tidak memahami ke mana arah pembicaraan David. Namun, dari tatapan mata lelaki itu, dia seolah sedang menunjukkan keseriusan. Dia menangkup wajahku dan perlahan bibirnya menyapu bibirku. Bulu kudukku meremang dengan degup jantung yang berpacu tak karuan menikmati sentuhannya yang begitu sensual. Bahkan ketika tangan kanannya menekan tengkuk leherku. Tiba-tiba Elsa menangis histeris membuatku mendorong tubuh David, kami berdua salah tingkah. Kugendong tubuh anakku tanpa memandang David untuk menetralkan kembali detak jantungku. David pun sama, dia berdehem sambil merapikan rambutnya.  "Maafkan aku," ucapnya dengan nada bersalah. "Kita hanya terbawa suasana, aku harus mengganti popok Elsa," pamitku melangkah pergi memasuki kamar anakku.  Kenapa dia menggodaku seperti itu? Jangan terbuai dulu, Emilia.... jangan sampai kau terluka lagi....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN