Bab 15

638 Kata
Hening.  Hanya suara tarikan napas yang sesekali terdengar di antara kami. Mobil David melaju perlahan melewati jalanan yang mulai sepi, lelaki itu memutar kemudi menuju apartemen kami.  Dari ekor mataku,  dia menoleh dengan bibirnya yang terbuka seakan ingin mengatakan sesuatu. Namun, urung dilakukannya,  dia memilih bungkam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Saat lift membawa kami ke lantai dua belas,  dia masih saja diam. Padahal aku berharap ada kalimat yang dia katakan.  Aku bergerak menjauh,  memilih memojokkan diri di sudut kanan kotak besi ini. "Apa kau marah padaku?" David membuka suara. "Tidak." Dia mendekat dan menarik bahuku untuk berada dalam dekapannya. Aku memandang dirinya dengan mengerutkan alis. "Harusnya kau memberi kabar," ucapku jujur. "Maaf. Aku tidak sempat membuka ponsel karena mendampingi proses kelahiran pasien," katanya. "Menjadi dokter anak tidaklah semudah yang kau pikirkan, Em." Kukatupkan bibir sambil mengangguk mencoba memahami alasannya. Lift berdenting saat berhenti di lantai dua belas. Kami berdua keluar lift, melangkah beriringan dalam suasana diam. "Besok, apa yang ingin kau lakukan?" tanya David. "Kebetulan sesuai janjiku.... " "Minum secangkir teh panas atau menonton televisi seharian sambil makan sepiring nachos pedas," potongku membuatnya tertawa. Dia mengangguk dan berhenti ketika kami berada di depan pintu kamar apartemenku. "Ide Bagus. Sesekali aku ingin mengunjungi tetangga seperti itu. Baiklah,  sampai jumpa besok, Em." Dia mencium keningku membuatku tertegun memandang punggungnya yang semakin jauh. Kubuka pintu kamar apartemen dan menyalakan lampu. Untungnya Elsa tidak terbangun setelah berhasil terlelap di perjalanan. Kurebahkan tubuh anakku di kamarnya.  Setelah selesai,  aku pergi untuk membersihkan diri di kamar mandi. Aku menoleh ke arah kamar Gilbert, pintu itu terbuka sedikit. Seingatku, kamar itu selalu terkunci rapat. Was-was, aku melangkah dengan sangat perlahan sambil mengambil vas bunga di sisi kiriku.  Jika itu pencuri,  mengapa semua barang di sini masih tersusun rapi. Napas yang beradu dengan degup jantungku sendiri. Mengambil ancang-ancang,  kubuka pintu itu dengan kaki. Gelap. Aku pun masuk sambil menyalakan lampu. Lampu menyala bersamaan tubuhku ditarik oleh seseorang dengan kuat. Dia mendorong tubuhku hingga terjatuh di atas kasur. "Gilbert!" seruku saat dia berada di atas tubuhku dengan mencengkeram kedua tanganku erat. Aku berusaha meronta, namun tenaga lelaki itu jauh lebih kuat. Aku menyerah,  memilih pasrah dan memandangi dirinya yang begitu suram.  Jika dia bersama Laura,  mengapa dia tidak terlihat begitu bahagia? "Apa... " Kalimatku pupus ketika dia membungkam bibirku dengan bibirnya membuat vas bunga yang genggang akhirnya jatuh berhamburan ke lantai. Dia seolah meluapkan segala emosi yang teredam kepadaku. Aroma tembakau begitu mendominasi, yang membuat dirinya terasa begitu sensual.  Gilbert mencecap dan meninggalkan jejaknya di leherku, sungguh dia begitu pandai memantik sebuah hasrat yang tadinya redup kini membara.  "Kau membuatku gila, Em," desahnya di antara kecupannya di leherku. Aku tidak sanggup membalas ucapannya,  hanya suara erangan yang tertahan di kerongkongan setiap kali bibirnya menjelajahi tiap inci kulitku. Tangan Gilbert begitu lihai,  melepas satu persatu kain yang menutupi tubuh kami. Aku terbuai dalam pesonanya, matanya begitu membara seakan ingin memuja diriku. Namun,  bayangan Laura yang tiba-tiba datang,  membuatku tersentak kaget.  Kudorong tubuh Gilbert,  membuat lelaki itu mengerutkan alis. "Ini tidak benar," kataku. "Kenapa?" tanyanya. "Aku tahu kau menginginkanku, Emilia." Aku menganga menatapnya tidak percaya. "Kau yang memancingku,  Gilbert. Lagipula untuk apa kau datang ke sini?" Lelaki itu mengacak rambutnya sambil mengenakan kemejanya kembali. Aku pun sama. Gairah itu meredup lagi dengan sebuah kekecewaan.  "Aku... " Aku menunggu dia melanjutkan kalimatnya. Namun yang dia lakukan hanyalah menjilat bibirnya sendiri. Membuatku tidak fokus. Dia tahu bahwa kelemahanku ada bibir sensual itu. "Kau memilih kembali bersamanya," ucapku mengalihkan pandangan. "Kenapa kau datang ke sini? Jangan membuatku bingung." "Aku.... " Gilbert mengusap wajahnya merasa gelisah.  Aku semakin penasaran,  harusnya Laura bisa membahagiakannya, harusnya Laura tidak membiarkan Gilbert mendatangi wanita lain. Dia mendekatiku, aku melangkah mundur hingga dia berhasil menghimpitku di tembok. "Aku tidak suka." Dia mengunci diriku di kedua iris mata birunya yang menggelap. Dia mengulang kalimat itu sebelum akhirnya dia memutuskan pergi. Bahkan tanpa meninggalkan sebuah kecupan manis seperti dulu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN