BAB 1 Anting yang Tidak Pernah Menjadi Milikku
"Mommy, Daddy pulang!"
Suara riang Nabila menggema di ruang keluarga. Kinara yang sedang menyusun piring makan malam segera mengangkat kepala. Senyum kecil menghiasi bibirnya saat melihat putrinya berlari menuju pintu utama. Sudah hampir pukul delapan malam.Damar pulang lebih lambat dari biasanya.
Beberapa detik kemudian pintu terbuka.Seorang pria tinggi dengan setelan jas abu-abu masuk sambil membawa tas kerja di tangan kirinya. Wajah tampan yang selalu membuat banyak wanita menoleh itu terlihat lelah, namun begitu melihat putrinya, senyuman hangat langsung muncul di bibirnya.
"Putri Daddy belum tidur ya ternyata, " ucap Damar.
Nabila terkekeh sebelum melompat ke pelukan ayahnya.
"Kan Nabila mau makan malam bareng Daddy. Daddy juga udah janji sama Nabila pulang cepat, makanya Nabila tungguin."
Damar mengacak rambut putrinya.
"Iya-iya ini daddy sudah pulang."
Kinara memperhatikan pemandangan itu sambil tersenyum.
Delapan tahun pernikahan dan sampai hari ini, pemandangan tersebut masih menjadi hal favoritnya. Damar selalu menjadi ayah yang baik, suami yang baik sekaligus pria yang bertanggung jawab.Bahkan teman-temannya sering iri padanya. Mereka selalu berkata bahwa Kinara sangat beruntung memiliki wajah cantik, pintar, suami yang tampan,mapan dan sangat menyayanginya.
"Capek?" tanya Kinara ketika Damar mendekat.
Damar langsung mencium keningnya.
"Sangat. Hari ini lumayan berat, karena beberapa kali meeting dengan klien," terang Damar.
"Aku susah buatin sup favoritmu."
Mata pria itu berbinar.
"Kau memang yang terbaik," puji nya pada istrinya.
Kalimat sederhana itu membuat hati Kinara hangat.
Selama bertahun-tahun, ia hidup untuk keluarga ini dan ia tidak pernah menyesal.
Dulu, ketika ia memutuskan berhenti bekerja setelah Nabila lahir, banyak orang yang menganggap keputusan itu bodoh dan sangat disayangkan.
Kinara adalah wanita dengan karier cemerlang. Pendapatannya bahkan pernah lebih tinggi dari Damar. Ia memiliki masa depan yang menjanjikan, namun ia memilih meninggalkan semuanya. Karena baginya, keluarga adalah prioritas utama dan selama ini penghasilan Damar sudah lebih dari cukup untuk keperluan dirinya dan juga rumah tangga.
---
Mereka makan malam bersama. Damar bercerita tentang kesibukannya di kantor. Nabila bercerita tentang kegiatannya di sekolah dan Kinara mendengarkan sambil sesekali tertawa. Malam itu tampak sempurna. Seperti malam-malam lainnya. Tidak ada yang aneh dan tidak ada pertanda bahwa hidupnya akan berubah setelah malam ini.
---
Setelah Nabila tidur, Kinara membawa setumpuk pakaian menuju ruang cuci. Biasanya ada asisten rumah tangga yang mengurus semuanya, namun malam ini ART mereka izin pulang kampung karena suaminya sakit. Kinara akhirnya memutuskan untuk melakukannya sendiri. Ia mulai memeriksa kantong pakaian sebelum memasukkannya ke mesin cuci. Ia mengeluarkan dompet, kotak kartu nama, struk restoran, hal-hal biasa yang selalu ada di saku pakaian suaminya. Sampai tangannya menyentuh sesuatu yang keras di saku dalam jas Damar.
Kinara mengernyit.
"Apa ini?"
Ia mengeluarkan benda kecil tersebut, lalu menegang. Sebuah anting berlian. Benda itu sangat cantik, sangat mahal dan jelas itu bukan miliknya. Jantung Kinara berdegup pelan. Matanya menatap benda itu cukup lama. Mungkin milik klien atau rekan kerja yang tidak sengaja tersangkut. Pikirannya langsung mencari berbagai alasan. Karena pilihan terakhir terasa terlalu mengerikan untuk dipikirkan. Damar tidak mungkin selingkuh.
Tidak mungkin.
Selama delapan tahun pernikahan mereka, pria itu tidak pernah memberikan alasan untuk dicurigai. Damar selalu mengabari di mana ia berada, apa saja kegiatannya di luar rumah. Damar juga selalu pulang ke rumah. Dia pria yang perhatian, romantis dan tidak pernah bersikap kasar dari dulu sampai sekarang delapan tahun pernikahan mereka. Tidak ada perubahan sama sekali dalam sikap Damar.
Jadi kenapa ada anting perempuan di sakunya?
Kinara menggenggam benda itu erat. Mungkin memang tidak ada apa-apa. Ia tidak boleh langsung berpikir buruk.
Tidak boleh.
Meskipun ia berusaha mengulang kalimat itu untuk meyakinkan dirinya, keraguan kecil tetap muncul di hatinya.
---
Malam itu Kinara tidak langsung tidur. Ia duduk di sisi ranjang sambil memperhatikan suaminya yang sudah terlelap.
Damar terlihat damai. Wajahnya bahkan tampak lebih muda ketika tidur. Pria itu selalu tampan. Bahkan setelah bertahun-tahun berlalu. Kinara masih sering merasa berdebar ketika melihatnya. Lucu, setelah delapan tahun menikah, ia masih mencintai suaminya seperti wanita yang sedang jatuh cinta pertama kali. Perlahan ia membuka telapak tangannya. Anting itu masih berada di sana. Berkilau terkena cahaya lampu tidur. Kinara menggigit bibir.
Haruskah ia bertanya?
Atau membiarkannya?
Ia tidak ingin menjadi istri yang suka menuduh dan tidak ingin merusak suasana rumah hanya karena sebuah anting. Namun rasa penasaran itu terus mengganggunya. Akhirnya ia menyimpan benda tersebut di laci meja.
---
Pagi harinya, Damar sudah duduk di meja makan ketika Kinara turun. Pria itu tampak segar dan rapi seperti biasa.
"Kamu mau minum dibuatin kopi?" tanya Kinara.
"Iya boleh, " jawab Damar.
Kinara menuangkan kopi sambil memperhatikan wajah suaminya. Tidak ada yang berbeda dan tidak nampak tanda-tanda kebohongan di wajah suaminya. Damar tetap Damar yang selama ini ia kenal.
"Sayang."
"Hm?"
"Aku menemukan sesuatu di jasmu semalam saat beres-beres."
Damar mengangkat kepala.
"Menemukan apa?"
Kinara mengambil anting dari saku apron lalu meletakkannya di meja. Wajah Damar terlihat sedikit terkejut. Hanya sepersekian detik, namun Kinara menangkapnya.
"Ini."
Damar menatap anting tersebut, lalu menghela napas pendek.
"Oh."
"Oh?"
"Mungkin milik salah satu klien yang aku temui kemarin."
Jawabannya terlalu cepat dan terdengar cukup janggal. Kinara berusaha tersenyum.
"Klien?"
"Iya. Kamu tau kan kemarin aku sibuk banget karena meeting dengan beberapa klien dan investor. "
"Terus antingnya tiba-tiba aja gitu masuk ke saku pakaian kamu? "
Damar tertawa kecil.
"Bisa jadi kan, aku aja nggak tau kenapa anting itu bisa disitu, " jawab Damar.
Kinara terdiam dan masih menganalisa ucapan suaminya.
Damar langsung menggenggam tangan Kinara.
"Kau curiga padaku?"
Nada suaranya lembut, tidak marah dan tidak defensif persis seperti biasanya.
Kinara justru merasa bersalah.
"Tidak."
"Kinara."
Damar mencium punggung tangannya.
"Aku tidak akan melakukan hal yang bisa menghancurkan keluarga kita. Kamu tahu aku sangat mencintaimu."
Hati Kinara langsung melunak. Ia merasa konyol. Mungkin ia memang terlalu banyak berpikir dan benar itu hanya kebetulan.
"Maaf ya, kalau pertanyaanku tadi seolah-olah mencurigai mu, " ucap Kinara.
Damar tersenyum.
"Tidak apa-apa."
Setelah itu mereka kembali sarapan seperti biasa, namun entah kenapa Kinara tetap merasa ada sesuatu yang janggal di antara mereka. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
---
Dua minggu berlalu, kehidupan kembali normal atau setidaknya begitu yang Kinara pikirkan. Sampai malam itu, ketika ia sedang merapikan ruang kerja Damar. Sebuah notifikasi muncul di layar tablet suaminya. Biasanya Kinara tidak pernah memeriksa barang pribadi Damar. Mereka saling percaya, namun pesan itu muncul begitu saja dan matanya tidak sengaja membacanya.
"Aku merindukanmu." Kinara terdiam.
Pesan tersebut hanya muncul beberapa detik sebelum menghilang karena layar terkunci kembali, tapi ia sudah sempat melihatnya.
Tangannya mulai dingin.
Merindukanmu? Siapa? Teman? Rekan kerja? Atau...tidak,tidak. Ia tidak boleh langsung berasumsi.
Tapi anting itu langsung terlintas di pikirannya. Dua kejadian yang tampaknya tidak berhubungan mulai membentuk sebuah pola.
Malam itu Damar sedang mandi. Kinara duduk di ruang kerja sambil menatap tablet tersebut. Ia tahu password suaminya. Karena selama ini tidak pernah ada rahasia di antara mereka, namun jarinya tidak bergerak untuk membukanya. Ia merasa bersalah, sangat bersalah. Jika ia membuka tablet itu, berarti ia tidak mempercayai suaminya.
Bukankah itu salah?
Bukankah pernikahan dibangun atas kepercayaan?
Namun bagaimana jika memang ada sesuatu yang disembunyikan?
Bagaimana jika selama ini ia hanya terlalu naif?
Air mata mulai menggenang di sudut matanya.
Kinara membenci perasaan ini. Perasaan curiga,takut dan juga perasaan kehilangan kendali.
Pada akhirnya ia berdiri. Tidak jadi membuka tablet tersebut. Ia memilih pergi karena ia masih ingin percaya. Masih ingin mempertahankan keyakinannya bahwa keluarga mereka baik-baik saja. Bahwa semua ini hanya kesalahpahaman dan Damar masih pria yang sama seperti delapan tahun lalu.
---
Tanpa disadari Kinara, di saat yang sama. Di sebuah apartemen mewah di pusat kota. Seorang wanita sedang tersenyum sambil menatap foto keluarga Kinara yang terpajang di layar ponselnya. Foto yang diam-diam ia ambil beberapa hari lalu. Wanita itu menyentuh wajah Damar di layar. Lalu tersenyum tipis. Senyuman penuh kemenangan.
"Sebentar lagi."
Bisiknya pelan.
"Sebentar lagi kau akan kembali menjadi milikku."