Tahukah kamu, bagaimana rasanya seseorang sedang jatuh cinta? Berbunga-bunga? Sudah pasti, namun sedikit berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Bilqis dan Ghibran. Saling memantapkan hati untuk ke jenjang pernikahan usai berkenalan dalam waktu singkat? Apakah di dalam hati mereka sudah merasakan yang namanya jatuh cinta?
Hanya hati mereka dan Sang Pencipta yang tahu jawabannya.
******
Pagi itu.
Bilqis bersiap-siap lebih awal dari pada hari biasa. Ia bergegas menggunakan busana terbaik. Lalu, memoles wajah dengan sedikit riasan tipis agar terlihat cerah.
Kemudian, Bilqis tak lupa menyampaikan perihal kedatangan Ghibran, yang hendak berkunjung ke rumah kedua orang tuanya pada hari itu.
Ruslan dan Desy terkejut? Tentu! Tentu saja.
“Apakah kau bersungguh-sungguh dengan apa yang kau utarakan, Nak? Apakah Ummi dan Abi tak salah mendengar?” Desy mengkonfirmasi ucapan sang putri.
Selagi, Bilqis terdiam. Ruslan terlihat menenangkan sang istri, yang enggan terlarut dalam harapan palsu. Mengingat, Desy sering kali dibuat kecewa oleh penolakan yang Bilqis tujukan setiap kali seorang pria datang untuk mendekat.
Lalu, benarkah? Hari itu, seorang pria bernama Ghibran benar-benar datang berkunjung ke rumah? Sungguh, Desy tak percaya.
Aku tak sedang bermimpi, bukan?
Pada saat bersamaan.
Suara deru kendaraan terdengar. Tentu, suara itu disebabkan oleh sebuah mobil, yang baru saja menepi di halaman depan kediaman Ruslan.
Dan,
“Alhamdulillah, Abi-Ummi. Sepertinya, Mas Ghibran telah tiba,” Bilqis berujar. Menyembunyikan gurat salah tingkah. Kemudian, bergegas menyambut kedatangan sang tamu dari balik pintu.
Tok-tok!
Ceklek!
Suara ketukan segera dibalas dengan suara daun pintu yang terbuka. Sosok pria berparas tampan, benar-benar menghampiri rumah Ruslan dan Desy. Wanita paruh baya tersebut melongo. Menatap sang suami dengan manik mata berkaca-kaca. Bertanya, “Abi, Ummi tak salah melihat, bukan?”
“Tentu saja. Kalau begitu, mari kita sambut pria itu, Ummi,” Ruslan mengajak. Berjalan bersama menuju ambang pintu yang terbuka.
“Assalamualaikum, Abi-Ummi?” Suara Ghibran terdengar menyapa. Bahkan, pria tersebut memanggil Ruslan dan Desy dengan panggilan Abi dan Ummi tanpa rasa canggung sedikit pun.
“Waalaikumsalam. Apakah kau yang bernama Ghibran?” Ruslan segera menyahut. Melempar pertanyaan.
“Masya Allah, benar, Abi. Perkenalkan, nama saya Ghibran Hadid Faruqi.”
Ruslan memanggutkan dagu. Seketika, kedua paruh baya itu terperangah. Tak lain, saat Ghibran mencium kedua tangan mereka dengan takzim.
“Kalau begitu, mari kita duduk, Nak,” Ruslan mengarahkan.
Sesuai dengan kesepakatan, kedatangan Ghibran menjadi pertemuan pertama untuk menyampaikan niat baik yang ia punya pada Bilqis.
Sementara, Ruslan duduk berhadapan dengan Ghibran. Maka, Desy dan Bilqis terlihat berjalan menuju sisi ruang makan. Bilqis menyiapkan minuman hangat untuk seorang tamu yang datang. Sedangkan, Desy? Sang ibunda Bilqis tersebut, masih terheran-heran.
“Nak? Kau bertemu dengan Ghibran di mana? Mengapa selama ini kau tak pernah bercerita pada Ummi dan Abi? Apakah kalian berpacaran secara diam-diam di belakang kami?”
“Naudzubillah, Ummi. Bilqis tak pernah berniat menjalin hubungan dengan pria sebelum ada ikatan pernikahan. Ummi jangan bertanya sembarangan,” Bilqis menyahut. Sedikit tersinggung.
“Ba-baiklah. Ummi minta maaf. Ummi salah berbicara. Jadi, di mana kalian berjumpa? Sejak kapan kalian berkenalan?”
Bilqis terdiam sejenak. Ia mencoba mengingat hari dan tanggal pada saat Ghibran berkunjung ke butik. Lalu berujar, “Sekitar tiga atau empat hari lalu, Ummi.”
“APA?” Desy memekikkan suara. Tak percaya.
Sang putri melempar senyum. Beralih meninggalkan Desy sembari membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat.
******
Di ruang tamu.
Dua orang pria berbeda usia sedang berbincang perihal banyak hal. Tentu, seputar agama, kedudukan, pendidikan, kekayaan, status sosial sosok Ghibran.
“Silahkan, Abi, Mas Ghibran,” Bilqis meletakkan dua cangkir ke atas meja secara bergantian.
Perbincangan terus berlanjut.
Hingga,
“Jadi, kau berasal dari Jakarta, Nak?” Ruslan bertanya.
Ghibran mengiyakan. Memang, sebelum pindah ke Yogyakarta, Ghibran dan kedua orangtuanya berdomisili di Jakarta. Namun, itu sudah beberapa tahun silam. Tepatnya, sebelum Ghibran lulus dari perkuliahan.
Mendengar hal tersebut, Ruslan menjadi sedikit cemas. Mengingat, pergaulan para muda mudi di Kota Jakarta terbilang bebas. Meski, tak menutup kemungkinan jika hal tersebut juga terjadi di kota-kota lain.
Hanya saja, melihat dan mencermati sosok Ghibran yang sopan, santun dan sholih. Ruslan menjadi sedikit tenang. Setidaknya, Ghibran bukan pria sembarangan. Latar belakang keluarga Ghibran, terbilang berpendidikan. Tentu saja, pria tampan tersebut berasal dari bibit, bebet dan bobot yang cukup baik.
Sehingga,
“Baiklah, jika kalian sudah memutuskan untuk segera melangsungkan pernikahan, dari pada menjalani taaruf berlama-lama, maka Abi memberi persetujuan,” Ruslan berujar.
“Be-benarkah, Abi?” Bilqis bertanya memastikan.
Ghibran memasang telinga lebar-lebar. Mendengar ucapan Ruslan dengan penuh antusias.
Sejatinya, sebelum panggilan telepon antara Bilqis dan Ghibran benar-benar terputus kemarin malam, mereka berdua saling mengutarakan isi hati masing-masing. Jika, baik Ghibran mau pun Bilqis, enggan mendahului perjalanan menuju pernikahan dengan jalan yang bisa menimbulkan fitnah. Sehingga, mereka memantapkan diri dan mengambil kesepakatan bersama untuk segera melangsungkan pernikahan.
Terkesan terburu-buru? Iya, benar. Namun, insya Allah niat baik yang sudah mereka mantapkan atas ijin Allah SWT akan diridhoi dan dilancarkan oleh Sang Pencipta. Setidaknya, itulah yang mereka berdua Yakini bersama-sama.
Masya Allah.
******
Sementara itu, di kediaman Ahmad Faruqi.
Karina dan Ahmad tampak memperbincangkan kembali keputusan yang mereka ambil. Terutama, Karina. Wanita paruh baya tersebut, terlihat menimang ulang perihal niatan sang putra untuk segera datang melamar si wanita pujaan.
Karina tahu, momen tersebut merupakan hal yang cukup langka. Mengingat, selama ini Ghibran tak pernah membawa satu orang wanita ke rumah.
“Tapi, Pa. Setelah Mama pikir ulang, sebaiknya kita jangan terburu-buru. Kita harus menyelidiki garis keturunan wanita itu. Apa lagi, Ghibran berkata jika mereka baru berjumpa selama satu kali. Mama tak tenang sebelum mengetahui bibit, bebet dan bobot wanita tersebut.”
Apa benar wanita itu yang terbaik untuk Ghibran? Apakah wanita itu, wanita dari kalangan sosial yang berada? Apakah wanita itu pantas menjadi pendamping Ghibran yang seorang CEO? Pertanyaan-pertanyaan yang terkesan meragukan itu, terus berkeliling di kepala Karina.
Namun,
Entah mengapa, Ahmad tak memiliki satu pandangan dengan Karina. Bagi Ahmad, Ghibran sudah pasti mampu memilih yang terbaik bagi dirinya sendiri. Maka dari itu, Ahmad segera menyetujui ijin pamit dari Ghibran untuk berkunjung ke rumah sang wanita.
“Mama tenang saja, Ghibran tidak akan salah pilih,” Ahmad berujar.
Karina terdiam. Melampiaskan rasa khawatir dengan menggigit bibir bawah. Sungguh, Ahmad takkan pernah mengubah keputusan saat sudah berkata ‘iya’. Sifat tersebut sama persis dengan yang Ghibran punya. Bapak dan anak tersebut, benar-benar bak pinang di belah dua; sama saja. Karina takkan mampu menyanggah keputusan mereka.
Sehingga,
“Mari kita bersiap diri, Ma,” Ahmad menegaskan ajakan pada Karina.
“Ba-baiklah, Pa. Kalau begitu, Mama akan ke kamar dahulu.”
Saat itu, sang wanita paruh baya menuju kamar. Meraih ponsel di atas meja rias. Menujukan pesan pada sebuah grup obrolan. Mengabarkan hal baik tersebut, pada para teman-teman sosialita.
**Karina : “Ibu-ibu, akhirnya aku akan menikahkan putra sulungku.”