AKU MENERIMAMU

1062 Kata
Tiga hari telah berlalu. Ghibran belum mendapat kabar dari Bilqis sama sekali. Meski begitu, Ghibran takkan memupuskan harapan pada Sang Illahi. Hanya saja, “Kau ini bagaimana, Ghibran? Mama kan, sudah mengatakan kepadamu untuk datang ke kencan buta, yang sudah Mama aturkan? Lantas, mengapa kau tak datang lagi? Apa kau suka sekali membuat Mama merasa sungkan? Tentu, Mama juga merasa kesal sekarang,” Karina mencerca sang putra dengan beragam protesan. “Lihatlah! Tante Indri menjadi marah pada Mama, gara-gara kau tidak datang menjumpai putrinya,” Karina melanjutkan ucapan. Menunjukkan pesan singkat dari sosok teman wanita di seberang. Sementara itu, Ghibran nampak terdiam. Ia tidak membuka suara sama sekali. Pandangan pada manik mata, hanya terus berfokus pada layar ponsel yang berada di atas meja kerja. Doa dan pengharapan tak henti ia panjatkan di dalam hati. Dan, “Ghibran!” Karina menghentak. Sesaat usai menyadari jika sang putra enggan mendengarkan semua ocehan yang ia lontarkan. Barulah, “Ma, Mama tenanglah. Ghibran berjanji akan memperkenalkan calon istri kepada Mama. Hanya saja, ijinkan Ghibran untuk memilih wanita itu sendiri.” Karina terdiam. Ia mencoba mendengar setiap kalimat demi kalimat yang diutarakan oleh sang putra. Kali itu, Karina merasa Ghibran bersungguh-sungguh. Sepertinya, dia sudah memiliki calon yang ia pilih sendiri. Syukurlah. Pada akhirnya, Karina memilih mengalah. Mencoba untuk memberi waktu pada sang putra tercinta. Namun, tentu hal tersebut tak serta merta Karina lakukan begitu saja. Jika, pada tenggat waktu yang sudah ia tekankan, Ghibran tak kunjung membawa calon istri. Maka, Ahmad dan Karina takkan segan-segan untuk melengserkan Ghibran dari jabatan seorang CEO Perusahaan. ****** Sementara itu, di dalam sebuah rumah berdinding putih. Setiap sudut ruangan dipenuhi dengan nuansa yang sejuk dan bersih. Tak lupa, menampakkan gambaran seorang wanita muslimah, yang sedang menimang-nimang pikiran di dalam kepala. Sudah beberapa hari belakangan, Bilqis menjalankan sholat sunnah istikoroh. Ia terus memanjatkan doa dan petunjuk pada Sang Pencipta. Dan, subhanallah. Gambaran Ghibran selalu muncul di dalam benak si wanita. Bahkan, hampir di setiap malam terakhir, pria berparas tampan dan berbadan tegap itu, selalu muncul di dalam alam mimpi. Bilqis merasa senang. Akhirnya, apa yang ia semogakan telah dikabulkan oleh Allah SWT. Sehingga, ia berniat memberi jawaban kepada Ghibran. Bilqis meraih tas jinjing yang ia letakkan di atas meja. Lalu, mengeluarkan dompet dan mengambil secarik kertas dari dalam ruang penyimpanan. Nama Ghibran Hadid Faruqi, seketika membuat bibir wanita tersebut tertarik ke arah atas; membentuk sudut hingga menampakkan gurat senyum di wajah. Tak lupa, dengan tambahan rasa berdebar. Ia bergumam. Haruskah aku menghubungi pria itu, sekarang? Kalimat basmalah terlantun. Dengan segenap jiwa dan raga, ia pasrahkan pada keputusan yang hendak ia lontarkan. Dan, Tut.. tut.. *081-231-557-xxx* Tut.. Pada dering ketiga, suara seorang pria terdengar ke dalam gendang telinga. “Halo, selamat malam.” “Selamat malam, Mas Ghibran.” Mas-Mas Ghibran? Pria tersebut tergagap. Belum pernah, ia dipanggil oleh seorang wanita dengan suara teduh seperti demikian. Apakah Bilqis yang sedang meneleponku, sekarang? Ghibran bergumam senang. Memastikan layar ponsel, yang sedang menunjukkan panggilan terhubung dengan sosok di seberang. “Ini Bilqis, Mas.” DEG! DEG! DEG! Tiba-tiba, jantung Ghibran berdebar kencang. Sembari berusaha menetralkan irama jantung, Ghibran menyerukan puji syukur pada Sang Pencipta. Lalu, “Alhamdulillah. Akhirnya, kau menghubungiku juga, Bilqis.” Bilqis mulai menyampaikan jawaban, yang sudah lama ingin Ghibran dengar. Satu menit Lima menit Dan, beberapa saat kemudian. “Baiklah, aku akan bersiap untuk berkunjung ke rumahmu, Bilqis. Dengan segenap niat dan tujuan baik, aku akan menjumpai kedua orang tuamu,” Ghibran menyahut tanpa ragu. Pada saat bersamaan. “Nak? Kamu belum tidur?” Suara Desy terdengar dari balik ruang berbeda. “Be-belum, Ummi,” Bilqis menyahut. Lalu, ia berpamitan pada Ghibran. Panggilan berakhir. Ceklek! Daun pintu kamar terbuka. “Ummi hendak pergi ke mana selarut ini?” Bilqis bertanya. Sesaat usai melihat jarum pada jam dinding, yang menunjuk angka delapan malam. “Ummi dan Abi hendak ke rumah Pamanmu.” “Apakah ke rumah Om Indra, Ummi?” “Benar, Nak. Kalau begitu, Ummi pamit ya. Abi pasti sudah menunggu di depan halaman.” Mendengar ijin pamit dari Desy, spontan Bilqis merasa ada kejanggalan. Mengingat, tak ada hal lain yang kerap dibahas oleh kedua orang tua bersama sang paman, kecuali perihal perjodohan. Yah! Beberapa hari belakangan, Desy sering meminta agar Indra menjodohkan Bilqis dengan para pegawai di kantor sang adik ipar. Namun, sama halnya dengan yang Ghibran lakukan, Bilqis selalu menolak untuk diperkenalkan dengan mereka. ****** Di depan halaman rumah. Ruslan telah bersiap dengan kendaraan roda dua. Tak lupa beserta pelindung kepala yang sudah sang paruh baya gunakan. Udara malam yang dingin, terasa begitu menusuk. Bagaimana tidak, beberapa malam ini selalu turun hujan. Bahkan, di lokasi-lokasi tertentu banjir sempat melanda. “Abi-Ummi, apakah harus berkunjung selarut ini? Bagaimana jika esok pagi saja? Ijinkan Bilqis mengantar Abi dan Ummi sebelum berangkat ke butik,” Bilqis menawarkan. Namun, “Tidak apa-apa, Nak. Kami akan berangkat sekarang saja,” Desy menyahut. “Ba-baik Ummi. Ummi dan Abi hati-hati di jalan ya,” Bilqis berpesan sembari mencium tangan Desy dan Ruslan secara bergantian. Kini, pandangan Bilqis sedang menatap lekat kedua orang tua, yang hendak menaiki motor. Beruntung, Pada saat bersamaan, air hujan turun ke bumi. Membuat Bilqis berseru di dalam hati dengan perasaan lega. “Masya Allah, hujan,” Desy berujar. Ruslan mematikan deru kendaraan. Berkata, “Ummi, sebaiknya kita tunda dahulu. Setelah ini, aku akan menghubungi Indra, jika kita belum bisa berkunjung pada malam ini.” Benar saja, hujan deras pada malam itu, benar-benar disertai dengan angin yang berhembus kencang. Sehingga, tak ada alasan bagi Desy dan Ruslan untuk melanjutkan perjalanan. “Kalau begitu, mari kita masuk Ummi-Abi,” Bilqis mengarahkan. Melempar senyum dengan segenap rasa bahagia. Sembari berjalan masuk ke dalam rumah, Desy bergumam pelan. Namun, ucapan pelan dari sang ibunda, terdengar ke dalam telinga. Jadi benar, Ummi dan Abi hendak pergi untuk membicarakan perihal perjodohan? Bilqis membatin. Kemudian, Ruslan terlihat menghubungi sosok Indra di seberang. Pria paruh baya tersebut berkata, jika mereka baru bisa berkunjung pada esok hari. Esok hari? Padahal, Mas Ghibran menginfokan jika ia besok akan ke mari. Bilqis membatin teruntuk kedua kali. Menanggapi pembicaraan Ruslan dengan sang paman melalui sambungan telepon genggam. Sang wanita muslimah berharap, jika hujan yang malam itu turun ke bumi, menandakan jika Ruslan dan Desy takkan bisa menjodohkan ia dengan pria-pria lajang lagi. Insya Allah, aku menerimamu Mas Ghibran. Jadi, semoga kau tak ingkar pada janjimu. Janji untuk menemui Abi dan Ummi pada esok hari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN