Pukul enam pagi. Ghibran dan Bilqis sedang bersiap-siap untuk pergi. Keduanya baru saja berpamitan pada Ahmad dan Karina. Sementara Ujang, ia baru selesai memasukkan koper kedua majikan muda ke dalam mobil. “Kami berangkat dulu ya, Pa-Ma,” Ghibran berucap. Mencium tangan kedua orang tuanya, bergantian dengan Bilqis. Sepasang suami istri itu tak henti menyunggingkan senyum bahagia. Keduanya bak sejoli yang hendak memadu kasih. Di dalam perjalanan, Ghibran sama sekali tak melepas dekapan. Sedangkan Bilqis masih dipenuhi dengan rasa penasaran. “Sebenarnya kita hendak pergi berbulan madu ke mana, Mas?” Bilqis bertanya. Wanita itu sungguh tak tahu ke mana arah sang suami akan membawanya pergi. Ghibran masih terdiam. Seolah enggan memberi jawaban. “Mas?” Bilqis berseru kembali. Menatap se

