Siang tadi, Jerry segera berpamitan pulang. Padahal, Ghibran menawarkan untuk makan siang bersama. Namun, sepertinya pria itu tak enak hati pada sosok Bilqis. Bibirnya terlanjur berkata sembarangan. “Kau yakin ingin segera pulang?” Ghibran bertanya. Masih dengan suasana kikuk di dalam ruang olahraga. Bilqis terdiam. Bersindekap. Mengalihkan pandangan dengan menatap seluruh penjuru ruang olahraga di sana. “Tentu, Sinta sudah meneleponku,” tangkis Jerry. Bibirnya kembali berkelit. Matanya berkedip. Meringis saat melihat ponsel yang tak menunjukkan tanda-tanda Sinta menghubungi. Tentu, karena itu semua hanya sekedar alasan Jerry saja. “Ya sudah, kau berhati-hatilah di jalan,” Ghibran berucap. Mengantar Jerry hingga keluar ruangan. Menepuk keras punggung belakang sahabatnya. “Lain kali ka

