Keputusan Egois

1202 Kata
Sarapan pagi ini tidak terdengar obrolan hangat seperti biasa. Adiyasa sibuk melahap roti lapis berisi daging dan sayuran, sedangkan mamanya fokus mengoleskan selai cokelat favorit. Semua diam. Nesya mengamati keduanya bergantian dengan tatapan heran. Nesya mengumpat dalam hati menebak kalau Elvan sudah mengadu, padahal ia sedang mencari waktu paling tepat. Sekalipun semalam otaknya tidak bisa berpikir gara-gara sibuk menangis. “Ma, Pa. Kalau mau marah, Nesya siap, kok.” Perempuan itu pura-pura tenang sambil menggigit roti gandum. Fernita meletakkan roti ke piring. Beralih memandang anaknya serius. “Mama nggak tahu apa masalah kalian. Semalam mamanya Elvan telepon mengatakan kalian batal menikah, apa nggak ada jalan lain?” Dasar anak mami! “Ini sudah keputusan Nesya, Ma.” Dia tersenyum pahit. Padahal semalam menangis sampai mata bengkak. Beruntung bisa diselamatkan dengan concealer. “Papa nggak setuju! Ini melibatkan dua keluarga, kalian jangan main ambil keputusan sendiri!” Nada bicara sang papa terdengar meninggi. Suasana meja makan berubah menegang. Karina, adiknya yang masih berseragam putih abu-abu sok sibuk melahap sarapan. Sesekali menyimak obrolan orang dewasa di meja makan. “Pa, tolong hargai keputusan Nesya," cicitnya meminta pengertian. Adiyasa memasang ekspresi galak. Sebagai kepala keluarga, seharusnya sang anak melibatkan dirinya mengambil keputusan besar. Bukan main-main, Nesya membatalkan pernikahan yang sudah dirancang matang. “Mama setuju sama Papa, ini bukan keputusan kalian berdua saja. Apa nggak bisa dibicarakan baik-baik?” tanya Fernita lembut. Berharap anaknya akan melunak. Selera makan Nesya lenyap. Orang-orang akan menilai serupa. Seakan-akan kesalahan Elvan bisa dimaklumi. Dia telanjur lelah, bukan sekali dua kali bertengkar dan adu mulut. Hampir setiap hari sampai kepalanya mau meledak. “Ma, Pa. Nesya nggak bisa menikah dengan orang egois. Tolong Mama dan Papa mengerti.” Dia mencoba membujuk. Nesya melirik ke arah Karina yang sejak tadi diam merasa tidak nyaman. Dia meneguk air minum sebelum meraih tasnya untuk buru-buru berangkat. “Ma, Pa, Karina berangkat, ya?” Adiyasa dan Fernita menoleh bersama. Memandang satu lagi anak gadisnya. Seperti biasa, Karina mencium punggung tangan Adiyasa dan Fernita bergantian. “Iya, hati-hati, Sayang,” ujar Fernita lembut. “Nggak ikut Papa?” tanya Adiyasa pada putrinya yang terbiasa naik angkutan umum bersama teman-temannya. Padahal Fernita melarang berkali-kali, dasar anaknya keras kepala. “Nggak, Karina sudah ditunggu teman-teman,” jawabnya sebelum melesat keluar, meninggalkan aroma citrus dari parfum kesukaannya masih tersisa selagi orangnya menjauh. Nesya merapal doa dalam hati serta menghirup oksigen dalam-dalam. Berharap mama dan papanya tidak melanjutkan sesi wawancara selepas kepergian Karina. “Pa, Ma. Nesya berangkat dulu, ya. Harus ketemu klien pagi ini,” pamitnya bermaksud menghindar. Pertengkaran dengan Elvan sudah membuat kepala pusing. Jadi, dia tidak ingin mendengar ocehan mama dan papanya di pagi yang cerah. Nesya siap melakukan aktivitas normal setelah status barunya sebagai single high class. Ia tidak ingin terlalu lama bersedih gara-gara Elvan dan akan membuktikan bisa bahagia tanpanya. “Nanti dulu, Mama belum selesai bicara sama kamu, lho.” Fernita mulai merengut. Nesya meringis. “Bisa nanti-nanti, Ma.” “Papa harap kamu bisa menyelesaikan masalah secara dewasa!” tegas Adiyasa mengingatkan. “Umur kamu sudah bukan anak kecil lagi," sindirnya mengingatkan kalau usia Nesya sudah 24 tahun, terpaut lima tahun dengan Elvan. Seharusnya usia matang untuk memikirkan pernikahan. “Semua persiapan nikah udah dipesan, 'kan? Gara-gara masalah sepele kalian bubar. Bertengkar itu biasa, Mama dan Papa juga sering begitu,” bujuk Fernita berharap sang anak memikirkan ulang. “Ma, Pa, Nesya akan cancel ke semua vendor,” balasnya tetap pada pendirian. Fernita mengusap-usap dadanya, kemudian mengurut pelipis dramatis. Kehabisan kata-kata membujuk Nesya kekeuh batal menikah. Adiyasa geram mendengar kalimat Nesya. Namun, sebelum keduanya menyahut. Perempuan itu meraih tas warna pastel di samping dan pura-pura melirik pergelangan tangan. “Nesya udah telat banget, Ma, Pa.” *** Di ruangan bercat gelap dengan dua jendela besar. Elvan mendesah kesal tidak menemukan notifikasi chat masuk dari Nesya di smartphone-nya Perempuan itu serius ingin mengakhiri hubungan. Selesai meeting. Elvan duduk dengan pikiran kacau, rambut berkali-kali disapu ke belakang, dasi sudah tersampir di bahu. Dia masih tidak percaya kata-kata pisah akan diucapkan salah satu dari mereka. Akan tetapi, ia enggan meminta maaf mengingat hubungannya penuh perdebatan akhir-akhir ini. Nesya dinilai sulit diatur membuat ia berpikir ulang mempertahankan Nesya. "Kenapa kamu keras kepala banget, Nes!" geramnya penuh emosi. Elvan emosi mengingat sikap seenaknya Nesya membatalkan pernikahan, setelah dia mengusahakan semua demi perempuan itu. Dia terbiasa mendengar ocehan Nesya tanpa repot-repot harus memulai obrolan, dia suka cara ketelitian Nesya mencari baju-baju untuknya, juga suka melihat tingkah aneh pacarnya menghirup aroma kopi tanpa mau mencicipi. "Sial! Ternyata sehari pisah kepala mau pecah rasanya!" geram Elvan selagi mengusap rambut ke belakang dengan tangan. Elvan selalu mengidolakan sosok sang mama yang pintar merawat tanaman, jago membuat kue-kue, segala masakan selalu enak. Terpenting mengurus papanya dengan baik. Elvan selalu memimpikan menikahi wanita seperti sang mama, bukan wanita karir yang sibuk di luar rumah. *** Nesya melangkah cepat memasuki Mike's Coffe. Letaknya cukup jauh dari rumah. Dia segera ke meja yang sudah dipesan kliennya. “Bu Cory?” sapa Nesya ramah pada kliennya. Perempuan itu mengangguk dan Nesya menarik kursi di hadapannya. "Pak Varel belum datang?” tanya Nesya melihat kliennya datang sendirian. Cory melirik pergelangan tangan, kemudian mengalihkan pandangan ke pintu masuk. “Nah itu dia.” “Sorry, ada urusan tadi.” Varel menghampiri dan mengambil posisi duduk di sebelah calonnya. “Baiklah, bisa kita mulai sekarang?” tanya Nesya ingin bergerak cepat karena ada klien lain yang harus ditemui dua jam lagi. Cory mengangguk. “Begini, konsep yang kemarin dipikir-pikir sudah banyak yang memakainya. Kami mau berganti konsep, sekalian mau pindah tempat ke Hotel Megoria.” Nesya ingin mengomel pada kliennya kalau tak mengingat kesopanan dan nama baik. Dia sudah mempersiapkan konsep sebelumnya, memesan gedung, tinggal mengurus jadwal fitting baju. Dan seenaknya kliennya minta diubah total dalam waktu singkat. “Maaf, Bu Cory. Kita sudah sepakat di hotel Haliman dengan konsep sebelumnya. Tidak bisa seenaknya pindah.” Nesya menahan emosinya dan berusaha semanis mungkin. Cory mencebik. “Nggak bisa begitu, kita sudah bayar mahal. Apa kita salah memilih WO yang tidak profesional?” “Turuti saja kemauan calon istri saya, masalah biaya tambahan tidak masalah,” timpal Varel enteng. Nesya hanya bisa mengepalkan tangannya di bawah meja. Dia menghirup oksigen dalam-dalam untuk menstabilkan emosi, kemudian menyesap jus jeruk di gelas berharap bisa meredam amarah yang sudah melambung tinggi. Kliennya pikir mudah mengubah konsep dan lokasi dalam waktu dua bulan? Padahal undangan sudah dicetak dengan lokasi awal. Sekarang Nesya harus memutar otak menghadapi klien model begini. “Maaf, Pak, Bu. Tidak bisa ganti dalam waktu singkat. Bisa saja lokasi sudah full booked.” Nesya menjelaskan dengan tenang. Cory mendesah kesal. “Tau begitu kita ganti WO saja.” “Sayang.” Varel berusaha menenangkan emosi calon istrinya. Sekarang Nesya menatap iri pada perempuan menyebalkan yang justru memiliki calon suami seperfect Varel. Tampan, sabar, dan mapan tipe idaman semua keturunan kaum Hawa di bumi. “Kita ganti Wo saja, aku tuh nggak mau konsep seperti itu.” Corry merengut, kekeuh berganti konsep dan lokasi. Nesya menghela napas. “Silakan kalau Anda akan berganti WO.” Setelah mengatakan itu, Corry marah dan menarik calon suaminya pergi. Nesya mengembuskan napas lega. Dia sudah cukup pusing, lebih baik kehilangan satu klein daripada kepalanya makin berasap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN