Nesya menelan spageti di mulut dengan susah payah, rasa makanan yang biasanya berhasil membuatnya semangat menghabiskan satu piring mendadak pahit, tiba-tiba terasa tidak menarik karena selera makannya lenyap. Dia menaruh garpu, lalu menatap pria yang duduk di hadapannya.
"Aku kira kamu akan kasih ide lebih istimewa buat pernikahan sendiri. Bukan konsep aneh begini."
"Aneh?" Nesya mengernyit.
Elvan membuang napas lelah seolah ide yang baru dilihat sangat tidak berkualitas. "Iya, kamu pikir bagusnya di mana? Apa sudah pernah dipakai ke klien kamu? Sekalipun aku yakin sih akan ditolak."
Boleh tidak Nesya sedikit kurang ajar mengguyur laki-laki yang sialnya harus diakui calon suami dengan lemon tea, kalau saja tidak melihat Elvan mengenakan kemeja putih.
"Kok jadi ke mana-mana, ya? Terus buat apa kita diskusi kalo Mas selalu mengabaikan pendapat aku?" Nesya menatap dongkol merasa sia-sia melewati kemacetan panjang dari kantor menuju kafe dekat lokasi kerja calon suami.
Elvan bukan tipe pria pengertian apalagi romantis yang mau repot-repot menjemput ke tempat kerja, seumur-umur Nesya juga belum pernah mendapat sebuket mawar dari pria bernama Elvan Adhitama, yang bodohnya dicintai setengah mati.
Elvan berdecak. "Kamu enggak perlu berlebihan, Nas," ujarnya sebelum menyesap secangkir cappucino favorit. "Aku udah cukup lelah mengurus pernikahan dan rumah baru kita."
Ya ampun lelah dia bilang, otaknya mungkin udah bergeser.
Apa Nesya perlu ingatkan kalau-kalau calon suaminya pikun hampir 80% dia sendiri yang mengurus persiapan pernikahan. Elvan hanya mengoreksi dan meremehkan seperti sekarang.
"Iya, rumah baru Mas mungkin, soalnya aku enggak merasa pendapatnya dihargai." Nesya mengedikkan bahu mengingat diskusi alot soal pemilihan interior, dekorasi dinding, dan perabotnya semua harus mengikuti selera Elvan.
"Nes!"
Kesabaran Nesya sudah menipis membuatnya mulai mempertanyakan keputusannya akan menikah dengan Elvan Adhitama. Hubungan mereka sudah berjalan tiga tahun, tetapi Elvan belum pernah menghargai apa pun pendapatnya.
"Ya udah." Perempuan itu menghela napas lelah, meyakini kalau pembicaraan diteruskan akan memancing perdebatan panjang. "Mungkin kita bicarakan lain kali aja, aku udah capek banget, kayaknya Mas juga perlu istirahat. Sampai ketemu ... ehm Minggu depan."
Nesya sengaja menyindir laki-laki sok sibuk yang akhir-akhir ini menaruhnya di urutan kesekian dari prioritas. Perempuan itu segera bangkit, menyambar tas guess hitam, dan meninggalkan Elvan yang masih terdiam di kursi.
Baru setelah calon istrinya bergegas pergi, Elvan buru-buru mengambil beberapa lembaran merah di dompet. Lalu menyelipkan di bawah cangkir. Elvan harus mengejar Nesya agar masalah tidak berlarut-larut.
"Aku antar kamu pulang." Elvan menyusul perempuan yang sudah melewati pintu keluar dan akan mencari taksi.
"Nggak perlu repot-repot, aku terbiasa ke mana-mana naik taksi!" sindir Nesya seraya menepis kasar tangan pria yang ingin dicekiknya sekarang. Kenapa sih wajahnya tetap ganteng sekalipun penampilan sudah agak berantakan?
"Kamu jangan marah-marah dulu." Suara Elvan terdengar lebih lembut dari biasanya. "Kita bicara di mobil, ya." Kali ini sudah meraih tangan sang pujaan hati, membuat perempuan itu menurut.
Selanjutnya Nesya sudah bersandar pada kursi sebelah pengemudi, membisu di antara suara musik dari tip mobil dan komentar Elvan soal konsep pernikahan di tepi pantai yang menurutnya kurang cocok. Pria itu berusaha mencari kosakata paling halus, sekalipun tetap saja sama-sama menyakitkan.
"Nes?" panggilnya membuat perempuan itu menoleh cepat, melihat Elvan juga memandangnya. "Lagian keluarga belum tentu suka nikah di luar ruangan. Apalagi ada miniatur kapal, jaring-jaring, apalah itu."
Oke, Nesya tidak perlu membuang energi untuk mendebat pria paling egois di muka bumi. Tetap saja Elvan akan menilai rendah konsep yang diam-diam dirancang sejak mengambil keputusan besar menerima Elvan sebagai pacar.
"Apa kamu suka bekerja sebagai Wedding Organizer?"
"Tentu?" Nesya mengerutkan kening. "Apa perlu ditanya?"
Elvan berdehem setelah mobil berhenti karena lampu lalu lintas berubah merah, dia menatap calon istrinya lamat-lamat. "Apa enggak sebaiknya kamu berhenti saja, gajiku sudah cukup untuk kebutuhan kita nantinya."
Mata Nesya melebar mendengar hal yang selama ini belum pernah dibahas. "Berhenti kata Mas?"
"Iya, sebenarnya aku nggak suka wanita karir."
Nesya memasang ekspresi muak mendengar kalimat santai dari calon suaminya yang baru saja melajukan mobil begitu lampu berubah hijau. Belum puas Elvan mengejek idenya, sekarang menuntut berhenti dari pekerjaan. Padahal Nesya yakin bisa membagi waktu dengan baik, bekerja tanpa mengabaikan tugas dan kewajiban sebagai istri.
"Mana bisa begitu, dari awal kita enggak bahas ini. Kenapa tiba-tiba menuntut, sih?"
Elvan berdecak. "Emang apa hebatnya jadi Wedding Organizer?"
Lalu Nesya tertawa sebal. "Oh, ya, aku lupa nggak sehebat Mas yang punya posisi bagus di perusahaan besar. Aku cuma kasih ide-ide yang menurut Mas akan ditolak klien." Dia menyindir dengan dongkol sampai ke ubun-ubun. "Jadi, kayaknya aku bukan kriteria Mas."
Elvan mencengkeram setir mendengar komentar calon istrinya. Dia sudah berusaha meredam amarah, tetapi kayaknya perempuan di sebelah berniat menguji kesabaran.
"Turunkan aku di sini!" pintanya dengan intonasi tinggi.
"Jangan aneh-aneh!"
"Berhenti atau aku lompat!"
Elvan menatap geram serta terpaksa menepikan mobil ke pinggir jalan. "Mau kamu apa? Jangan memancing emosi, bisa?"
Mendengar kalimat laki-laki yang sedang menatap galak, alih-alih merasa takut justru Nesya tertawa lucu. "Mau aku? Enggak salah, ya, harusnya aku yang tanya apa mau Mas. Aku udah capek dianggap boneka Mas yang enggak berhak menyuarakan pendapat apa-apa. Mulai sekarang lupakan pernikahan kita daripada saling menyakiti!"
Setelah mengatakan itu, Nesya keluar dari mobil seraya membanting pintu keras-keras . Dia merasakan setengah dunianya menghilang, sadar hatinya tidak baik-baik saja. Detik itu juga tangisnya luruh menoleh ke mobil metalik bergerak menjauh. Elvan ... laki-laki itu tidak berusaha mengejarnya.
***
Elvan memukul setir dengan emosi selagi mobilnya melaju di jalanan padat kendaraan. Kemudian Elvan memijat kepala yang berdenyut, mengingat wajah lelah Nesya yang selalu memukau di matanya lalu tiba-tiba mengatakan hal mengejutkan.
"Bodoh, kenapa kamu pilih pisah!" geram Elvan.
Pukul sembilan lewat sedikit Elvan sampai di rumah, dia menemukan papanya terkantuk-kantuk menemani sang mama menonton televisi di ruang tengah. Elvan berusaha memelankan langkah agar mamanya yang memiliki pendengaran seperti jangkrik tidak akan sadar anaknya pulang.
"Mas? Baru balik?" tanya Aira, memandang anaknya dengan tatapan menyelidik.
"Iya, Ma."
"Kamu kusut amat, Mas. Lagi ada masalah sama Nesya, ya?" tanya mamanya seperti peramal. Elvan tahu sang mama memiliki jiwa detektif luar biasa yang tidak akan berhenti menyelidiki sebelum menemukan jawaban. "Kalo mau menikah pasti sering ribut, makanya jangan sering-sering ketemu."
Papanya yang masih terlihat menahan kantuk ikut menoleh, menemukan anak sulungnya yang memang menunjukkan raut kacau.
"Enggak usah bahas Nesya, Ma."
Aira mengernyit. "Kenapa, dia kan calon istri kamu Mas."
"Lupakan saja, kami enggak jadi menikah." Elvan malas memberi penjelasan panjang, cukup mamanya tahu agar tidak menggantungkan harapan terlampau tinggi. Lalu dia berjalan ke kamar mengabaikan panggilan Aira yang terlihat emosi.
Elvan rasa mengetahui besok atau sekarang akan sama-sama mengejutkan.
***