Tidak Ada Harapan

1190 Kata
"Nes?" Perempuan itu masih menekuri keyboard sibuk membuat proposal pernikahan melampirkan desain set pelaminan, undangan, dan segala macamnya untuk klien barusan. Dia hanya bergumam dengan jari-jari masih terus mengetik. "Hem." "Konsep kamu sini pakai aja buat klien, tadi aku habis ketemu anak pejabat dia minta aneh-aneh semua serba laut. Jadi aku pikir pas banget," ujar Almira yang tahu persis konsep impian si perempuan gagal nikah. Gerakan tangan Nesya terhenti langsung memberi delikan lebar. "Lainnya aja, deh. Aku mau pakai buat pernikahan sendiri." Almira merapikan berkas-berkas di meja serta menjepit dengan paperclip. "Memang kamu jadi nikah, katanya mau batal." "Terus maksud kamu aku mau single seumur hidup." Almira mengangguk-angguk. Dia lanjut membaca email yang masuk dengan kening berkerut, lalu berdecak sebal. "Kamu mau balikan?" tanyanya sambil mengetik balasan. "Ini orang komplain mulu. Udah neror ke email, telepon kantor, untung enggak ke pribadi bisa gila aku." Nesya mengangkat bahu, semenjak malam itu batas kesabarannya pada Elvan sudah habis. Padahal sebelumnya dia tidak keberatan menjadi apa saja kemauan Elvan. Mungkin dia sudah lelah dan hubungan bersama calon suami tidak bisa dikatakan sehat. Lalu, Nesya berusaha konsentrasi dengan pekerjaan. "Siapa memang?" "Bu Kumala apa saja diprotes rewel banget ini untuk kedua kali, jangan sampai anak ketiga pakai jasa kita udah tobat, deh," cerocos Almira dengan sebal. "Kamu lagi tahu kita lagi sibuk banget habis ketemu klien bukannya langsung balik ke kantor malah jalan sama mantan pujaan hati," sindir Almira masih dongkol. "Tuh tim Riki repot hari ini ada pernikahan di ballroom hotel. Kamu harusnya ketemu tiga klien." Nesya hanya bisa meringis tidak mengelak sudah bersikap seenaknya demi melupakan bayangan Elvan, benar-benar patah hati terparah memengaruhi akal waras. Perempuan itu hanya menggumamkan maaf berkali-kali. Tak berselang lama telepon di meja Almira berdering membuat gadis yang sore ini masih cantik dibalut blazer merah marun dan rambut dicepol menegakkan posisi duduk. Dia hanya mengangguk seraya memijat kening mendengar suara orang di seberang. "Bunga asli, oke," ucap Almira dengan tangan menyambar note serta mencatatnya. Setelah sambungan telepon terputus Almira membuang napas lelah. Semenjak Bella cuti melahirkan, mereka sedikit keteteran menangani banyak klien. "Lihat, kan? Kita lagi sibuk jadi tolong balik menjadi Nesya yang profesional. Berhenti melow kalo batal udah keputusan kamu. Kalo menyiksa diri sendiri kenapa enggak mengalah aja, sih?" tanyanya gemas. Bella merupakan desainer yang pernah bekerja di New York berhasil dibawa Riki melejitkan nama Bilqis Wedding. Gaun-gaun designnya selalu menyenangkan hati klien. Sementara Riki sendiri fotografer sejak kuliah dan terbukti hasil jepretannya memuaskan. Tidak heran Mutiara Bilqis dipadati klien yang mempercayakan hari istimewanya, mereka tinggal duduk manis semua diurus Wedding Organizer mulai dari desain, booking tempat, katering, dan segala urusan pernikahan. Almira masih mengomel mendengar teleponnya terus berbunyi, mulutnya sudah berbusa meladeni kemauan macam-macam klien yang kadang aneh-aneh. "Ck ... kenapa ke aku semua?" Nesya tidak menanggapi sibuk menyelesaikan pekerjaan agar kelar dan bisa cepat pulang untuk rebahan cantik di kasur empuk. Elvan : Apa kamu ada waktu? Perempuan itu mendelik begitu mengecek notifikasi pesan yang masuk. Nesya memutar bola mata ke atas berpikir kosakata paling pas agar tidak terlihat berminat bertemu mantan, padahal, sih, dia juga merindukan laki-laki beralis tebal yang masih dicintainya. Nesya : Iya? Elvan : Bisa ketemu, di kantor?. Nesya mengernyit. Elvan : Aku tahu kamu sibuk. Jadi aku akan menemui sepulang kerja di kantor. Nesya terdiam mengigit bibir bawahnya, menimbang-nimbang akan menemui Elvan yang berpotensi melemahkan lagi hatinya. Dia takut luluh mendengar kalimat laki-laki itu seperti yang sudah-sudah. Dia melirik ke jari manis yang kemarin-kemarin ada cincin potongan sederhana dengan berlian di tengah, Nesya baru saja melepas tadi malam. Elvan : Kamu tidak mau, Aku lakukan buat Mama agar tenang. Mama kepikiran sama kamu. Lagi, hati Nesya terluka menerima fakta kalau Elvan tidak pernah sedalam itu menginginkannya. Dia masih mau menghubungi hanya demi sang mama, bukan semata-mata inisiatif sendiri. Nesya : Oke. *** Gadis yang mengenakan blazer krem keluar dari gedung kantor, setelah Elvan mengatakan sudah di parkiran, gadis itu mengabaikan ajakan Almira ikut ke mobilnya. "Aku udah dijemput," ujar Nesya sambil menyisir rambut ikalnya dengan jari, dia merapikan pakaian yang pasti sudah kusut. Almira menyipitkan. "Sama kak Glen lagi, udah berapa kali aku---" Kalimat gadis itu terjeda melihat mobil metalik mendekat, yang sangat dikenalnya milik Elvan Adhitama. "Kenapa enggak bilang, aku jadi enggak perlu emosi." "Kamu enggak nanya, ya, udah duluan." "Oke, cepat baikan, ya. Aku enggak setuju kalian pisah." Nesya tidak menjawab atau mengaminkan ucapan sobatnya. Dia sudah membatalkan semua vendor untuk persiapan nikahnya, jadi memang tidak berniat kembali pada pria paling egois sedunia. "Kamu mau mampir ke mana, kafe dekat sini atau langsung ke rumah?" Nesya menghela napas, melihat laki-laki yang mengenakan kemeja dengan lengan sebatas siku tampak santai seolah mereka tidak dalam masalah besar. "Kafe saja aku enggak mau di rumah mama akan ikut campur." Elvan mengangguk. Tumben mau jemput harus dihentak sama kenyataan pahit baru mau peka. Hening. Tidak ada obrolan karena Nesya malas mencari bahan pembicaraan. Hanya terdengar suara deru mesin dari kendaraan lain dan alunan bervolume rendah di tip mobil yang mempu membawanya ke kenangan masa-masa bersama Elvan. Lagu Beautiful in white samar terdengar, itu merupakan favoritnya. Oke, mungkin Elvan lupa. Perempuan itu berusaha menguatkan diri. Tidak memakan waktu lama untuk tiba di kafe bernuansa hitam putih dengan bangku-bangku besi. Dia mengikuti langkah Elvan memasuki ruangan luas disambut aroma kopi dan cake. Mereka duduk di meja nomor 15, saling berhadapan usai memesan secangkir capuccino dan segelas milkshake. "Mungkin kita enggak bisa duduk berhadapan gini lagi, jadi gunakan kesempatan dengan baik," ujar Nesya mengingatkan. Elvan mengusap dagu, dia mengangguk-angguk tanpa memberi penolakan. "Iya, aku tahu. Aku ke sini karena masih menghargai mama yang meminta agar meminta maaf sudah melukai anak orang." Kalimat itu membuat Nesya meremas ujung blazer dan kesulitan menelan ludah sendiri. Dia berusaha tenang dan terlihat baik-baik saja. "Aku juga minta maaf," ujarnya sambil tersenyum, lalu obrolan terjeda oleh kedatangan waitres yang mengantar minuman. Nesya menahan diri tidak mengulurkan tangan menggapai cangkir Elvan, sekalipun ingin melakukannya. Elvan melirik ke cangkir dengan aroma kopi kesukaan mantan. "Kamu boleh menghirup---" "Enggak perlu," potong Nesya membuat laki-laki di depannya mengangguk. "Kamu jauh-jauh menjemput cuma mau bilang maaf, padahal bisa lewat telepon." Tolong kenapa debaran jantung masih berisik? Elvan menegakkan posisi duduk. "Aku tahu kamu keras kepala jadi---" "Eh, enggak salah kamu juga egois!" Elvan membuang napas kasar, menyesap capuccino sebentar lalu menatap perempuan yang selalu memukau sekalipun rambut sedikit berantakan dan rautnya tampak lelah. "Oke, kita jadian baik-baik. Aku enggak mau terkesan musuhan. Kita bisa mengakhiri baik-baik dan melanjutkan hidup masing-masing." Elvan menjeda kalimatnya, menunggu reaksi Nesya yang tidak berniat menyanggah. "Mungkin kita memang tidak cocok." Nesya pura-pura tersenyum, mengaduk milkshake stoberi dengan sedotan sebelum menyesap pelan, merasakan pahit di lidah hanya mendengar kalimat sang mantan. "Ya, kamu benar. Kita enggak cocok bodoh banget bisa tiga tahun." Dia tertawa getir. "Kita masih bisa berteman." Nesya menghadapkan telapak tangan ke depan. "Aku rasa lebih baik menganggap tidak pernah kenal. Sori, aku harus pulang dan makasih sudah menyempatkan waktu di sela-sela kesibukan untuk bertemu aku." Perempuan itu pergi, mengabaikan panggilan pria yang masih dicintainya. Bayangan kalau laki-laki itu sama-sama terluka ternyata salah besar. Dia berjalan cepat menuju taksi, untung selalu mengenakan flat shoes daripada memilih sepatu hak tinggi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN