Perempuan itu meminta taksinya berhenti sebelum tiba di rumah. Benar kata orang, pisah dari pria paling dicintai tidak mudah, bahkan sangat menyakitkan. Namun, bertahan akan sama-sama melukai mengingat sifat sang mantan yang tidak pernah mendengar apa pun keinginannya. Sudah cukup tiga tahun menjadi kucing manis yang penurut, Nesya merasa berhak menentukan pilihan hidup termasuk menolak keluar dari pekerjaan demi laki-laki egois.
Nesya mengusap air mata yang menetes dengan punggung tangan. Dia berjalan di trotoar mengabaikan angin malam yang menyentuh kulit, lalu menunduk melihat flatshoes hitam, celana bahan senada dengan blazer. "Aku Wedding Organizer yang gagal mengurus nikahan sendiri," gumamnya dengan tertawa pahit.
"Nes? Kamu ngapain di sini?" panggil suara yang dikenalnya, membuat Nesya menoleh ke belakang menemukan sosok laki-laki mengenakan kemeja denim. "Cepat naik ke mobil, kita bicara dulu." Pria itu menunjuk BMW yang menepi di pinggir.
Mata Nesya bergeser ke mobil yang berhenti, lalu menggeleng pelan. "Makasih, aku mau jalan saja."
"Patah hati enggak gini caranya, mau kayak orang gila jalan sendirian di trotoar sambil nangis. Aku begini karena peduli sama kamu!" Riki menaikkan nada bicaranya, membuat tangis Nesya bertambah deras.
Perempuan itu menghadapkan telapak tangan ke depan. "Kamu enggak ngerti, Ki. Pasti sama aja kayak yang lain bilang aku egois ujungnya didesak balik ke Elvan, enggak ada yang paham aku udah cape."
Riki mengusap wajah, kemudian menyentuh pundak perempuan yang sedang kacau di depannya. "Oke, aku minta maaf enggak seharusnya marah-marah. Kamu perlu teman dan aku siap mendengar semua cerita kamu, bukan memendam sendirian begini."
Nesya hanya menatap Riki, membenarkan ucapan sang fotografer sekaligus pemilik Wedding Organizer tempatnya bekerja, lalu kepalanya mengangguk, membuat Riki bernapas lega seraya menuntun Nesya menuju mobil.
Riki duduk di kursi pengemudi, membiarkan seisi mobil penuh tangis Nesya. Bertahun-tahun mengenal perempuan cantik di sebelah, melewati banyak kebersamaan, belum pernah melihatnya serapuh malam ini. Riki mengamati ekspresi di samping, wajah yang biasa antusias dan semangat menggebu-gebu, sekarang tampak kacau.
"Kamu tahu, Ki. Mas Elvan bilang kami enggak cocok, tiga tahun aku udah berusaha mengalah. Aku tuh kayak ...." Nesya menggantung kalimatnya, dia menghela napas kemudian menangkup wajah dengan kedua tangan. "Aku harus gimana?"
Riki hanya tersenyum belum memberi komentar apa-apa, dia melanjutkan mobil dengan kecepatan sedang, membiarkan perempuan patah hati melampiaskan unek-unek agar lebih tenang.
"Keputusan aku minta pisah salah enggak, sih? Jujur aku muak sama sikap dominan mas Elvan, tapi mengetahui dia enggak berniat memperjuangkan hubungan rasanya sakit banget."
Riki menunggu perempuan di sebelah berhenti bicara, menunggu waktu yang pas memberi tanggapan. Lalu saat tangis Nesya mereda, Riko berkomentar, "Kalo misal Elvan mau berjuang, apa kamu akan mempertimbangkan melanjutkan pernikahan?"
Nesya mengangkat bahu sebelum menghembuskan napas berat. "Aku enggak tahu, udah dicancel juga semua vendor. Cuma gimana, ya, aku mau melihat mas Evan menganggap aku layak ... udahlah cuma bermimpi."
Kening Riki berkerut belum menemukan jalan pikiran perempuan yang harus diakui sahabat. Mungkin dia perlu bantuan Suci, istri tercintanya untuk memecahkan teka-teki rumit dari makhluk beranama perempuan.
Enggak niat balikan tapi minta diperjuangkan gimana, sih?
"Apa enggak dibicarakan baik-baik, masalah vendor yang udah dicancel nanti aku bantu kalo---" Riki berhenti bicara melihat Nesya memberinya tatapan tajam.
"Ini masalahnya hati aku, Ki. Buat apa bertahan sama laki-laki yang enggak anggap kita berharga." Nesya mengalihkan pandangan ke jalanan yang sudah dihafal menuju ke rumah. Lalu menoleh ke Riki. "Jangan antar aku pulang."
Riki mengernyit. "Terus?"
"Bawa ke mana saja terserah."
Riki geleng-geleng menatap tak percaya, sedangkan Nesya memasang ekspresi minta dikasihani. Bahkan, dia tidak peduli kalau besok muncul berita di akun gosip sudah menculik suami orang.
Tapi, Riki menuruti kemauan Nesya berputar arah, membuat Nesya tersenyum tipis sekalipun masih ada sisa-sisa air mata di pipi.
Tak berapa lama Nesya menyipitkan mata. "Ke rumah kamu?"
"Di dalam ada Suci yang mungkin bisa lebih memahami kamu, kalian sama-sama perempuan." Riki membuka seatbelt, kemudian mencabut kunci. "Tenang aja, Suci enak diajak curhat."
"Kamu suka curhat sama Suci?"
Riki berdecak. "Patah hati bisa bikin kinerja otak menurun, ya, baru tahu. Pertanyaan aneh, ya sama siapa lagi orang Suci Istri aku ibaratnya separuh duniaku."
Nesya tersenyum kecut. "Enggak usah pamer, aku tahu kalian berhasil melewati cobaan menjelang pernikahan. Beda sama aku."
Laki-laki itu garuk-garuk kepala. "Ya udahlah turun, Suci udah menyambut di pintu."
Nesya melirik ke luar menemukan perempuan berambut panjang melewati pinggang sudah membuka pintu.
Riki langsung menjelaskan pada istrinya alasan membawa perempuan lain pulang, tak lupa mengecup lembut kening Suci sampai Nesya menatap iri. Mereka memang layak jadi pasangan idola, menikah tanpa pacaran, tapi terlihat paling romantis sesudah halal.
Setelah menyiapkan makanan untuk tamunya yang ditolak dengan alasan kenyang. Suci mengajak Neysa mengobrol di ruang tengah sambil minum secangkir teh.
"Nes, sahabat mas Riki juga sahabatku, kamu bisa cerita apa." Suci menggenggam tangan perempuan cantik di depannya, sedikit-sedikit sudah mendengar cerita soal batalnya pernikahan Nesya dari sang suami.
Nesya belum dekat dengan Suci, tidak seperti pada Almira atau Riki. Tapi, dia perlu seseorang yang bisa memberi saran tanpa memihak. Meluncurlah unek-unek soal keegoisan calon suami juga rasa lelahnya mengalah selama tiga tahun. Suci tidak menyela, hanya sesekali mengusap bahu Nesya ketika perempuan itu sudah menarik napas berat.
"Mungkin kalian harus bicara dari hati ke hati, saling memberi pengertian dan menurunkan ego supaya menemukan jalan keluar," komentar Suci dengan hati-hati.
Andai saja Elvan bisa diajak bicara baik-baik, apa gara-gara frekuensi bertemu yang berkurang efek padatnya pekerjaan dan sibuk mengurus serba-serbi menuju pernikahan. Namun, sekali lagi Elvan bukan tipe laki-laki yang mau mendengar pendapat orang lain. Dia terlalu dominan dan menyebalkan.
"Rasanya terlalu berat dijalani dan aku mengaku kalah." Nesya menghela napas panjang. "Mungkin aku sibuk mencintai sendirian."
Suci tersenyum. "Mungkin aku enggak kenal mas Elvan, tapi kalau mendengar cerita kamu, dia pasti enggak main-main sudah berani mengajak melangkah lebih jauh."
"Iya, sih." Nesya mengangguk-angguk. "Tapi mas Elvan kayak enggak berjuang banget."
"Memang kamu maunya gimana? Pemikiran laki-laki sama perempuan beda, mungkin dengan cara dia melamar kamu sudah menunjukkan kalau dia serius."
Seandainya ucapan Suci benar, tetapi sikap Elvan tidak menunjukkan demikian. Bahkan terlihat tidak keberatan pernikahannya batal, seolah-olah mudah melepaskan.
"Seperti kamu sama Riki, ya?"
Suci mengangguk. "Iya, kami tidak pacaran. Tapi melihat dia datang ke rumah bersama rombongan membuat aku yakin kalau mas Riki serius."
Nesya tersenyum pahit. Elvan dan Riki berbeda jauh, bahkan tiga tahun lamanya ia belum bisa menebak jalan pikiran Elvan. "Aku enggak yakin," ujarnya sambil mengedikkan bahu.
"Udah aku bilang perempuan satu ini keras kepala, Sayang," ujar Riki tiba-tiba muncul sambil mengigit buah pir, dia duduk di sebelah istrinya dan merangkul mesra.
Bibir Nesya mengerucut.
"Jangan gitu, kita harus melihat dari sudut pandang Nesya. Kita enggak apa yang dia jalani."
Nesya tersenyum senang. "Nah, tuh, istri kamu pintar."
"Kalah kalo dikeroyok dua perempuan." Riki tertawa sebelum membagi buah pir untuk sang istri. Dan Nesya semakin iri melihat tatapan saling mendamba, perhatian-perhatian kecil. Nesya hanya bisa meringis memandang interaksi keduanya dan bertanya-tanya dosa besar apa yang pernah dilakukan sampai takdir memberikan laki-laki seegois Elvan, bukan pria pengertian yang bisa menyejukkan hati.
Tiba-tiba Nesya teringat kata-kata Almira kalau jodoh adalah cerminan diri. Apa dia seburuk itu?