Rencana Pindah

1017 Kata
Satu mangkuk sup tandas setelah keadaan hatinya membaik dan sadar kalau perutnya membutuhkan perhatian. Suci sangat pengertian menghangatkan sup ayam bercampur wortel untuk tamunya, sekalian membuatkan teh hangat. "Makasih, ya?" ujar Nesya menggeser mangkuk kosong, lalu memeluk teh hangat di cangkir besar dengan telapak tangan. Dia melirik perempuan cantik yang masih menunggu kelar makan, meminjamkan baju ganti, dan mendengar semua curhatnya. "Aku udah merepotkan banget, habis ini aku langsung pulang," cicitnya merasa tak enak setelah menaruh cangkir ke meja. Suci tersenyum, lalu melirik Riki yang baru menarik kursi untuk duduk. "Kami enggak merasa direpotkan, justru senang kamu mau mampir." Kemudian ia melirik ke jam dinding sudah pukulan sepuluh lewat. "Mending kamu menginap saja di sini, udah malam juga." "Enggak usah, aku bisa naik taksi." Nesya meringis merasa terlalu banyak merepotkan. Padahal ia tidak pernah mengakrabkan diri dengan Suci setahun ini. Hanya sesekali bertemu di acara-acara tertentu kalau dibawa Riki. "Tenang aja aku udah telepon tante Fernita, dia memahami keadaan kamu, kok." Riki ikut berkomentar. "Aku jadi ganggu kalian." Riki mengangguk-angguk. "Ya, aku jadi harus berbagi perhatian Suci. Tapi daripada melihat kamu nangis sendirian di trotoar, apa boleh buat." Dia mengangkat bahu dan mendapat bonus cubitan gemas di lengan dari sang istri. Nesya sudah memasang ekspresi cemberut. "Kalian bikin iri terus." "Makanya buru-buru nikah, kurangin sedikit keras kepala kamu biar---" Ucapannya terhenti melihat Nesya memberi tatapan tajam. "Oke, kamu istirahat saja besok enggak usah berangkat kerja." Perempuan itu menggeleng. "Kasihan Almira kalo aku cuti." "Berangkat juga enggak akan fokus, kemarin aja kamu ketemu satu klien malah kelayaban," sindir Riki membuka perempuan itu meringis. Suci mendorong kursi ke belakang dengan kaki, lalu mengajak Nesya menunju kamar tamu di ujung. "Ayo, aku antar biar bisa istirahat." Setelah keduanya berada di ruangan luas untuk ukuran kamar tamu, Nesya berdecak kagum melihat pemilihan interior yang porsinya pas tertata rapi. Lemari besar ada di pojok, sebelah ada meja rias, hiasan-hiasan dinding menempel pada tembok putih yang menambah cantik ruangan. "Aku tuh benar-benar merepotkan, ya?" "Berkali kali dalam semalam bilang merepotkan, sekali lagi dapat payung cantik, loh," kekehnya sambil memeluk selimut tebal yang baru saja diambil dari lemari. Nesya tertawa, lalu menerima selimut hitam motif polkadot yang diberikan Suci dan melihat perempuan itu duduk di tepi ranjang. "Gimana perasaan kamu, udah lebih tenang?" Perempuan itu menaruh selimut di atas tumpukan bantal, lalu mengambil posisi duduk di sebelah Suci. "Jauh lebih baik berkat kamu, ternyata Riki beruntung banget, ya." "Laki-laki yang memiliki kamu juga beruntung, Nes," balas Suci dengan sungguh-sungguh. Nesya tersenyum pahit, sayangnya Elvan Adhitama tidak menganggap dirinya beruntung. Melihat raut perempuan di depannya berubah sendu, Suci merasa salah bicara. "Ehm ... kamu kayaknya harus istirahat. Kalo butuh apa-apa jangan sungkan." Nesya mengangguk-angguk menatap Suci dengan kagum, mungkin laki-laki sebaik Riki sudah ditakdirkan bersama perempuan sebaik Suci. Lagi-lagi rasa iri menyergap, membuat dadanya nyeri mengingat orang yang masih dicintainya. *** "Kamu ini malah menginap di rumah pengantin baru, enggak tahu diri banget, Nes." Fernita geleng-geleng selagi memotong-motong buah apel untuk anaknya yang baru pulang naik taksi. Rumah terlihat sepi karena papanya sudah pagi-pagi ke kantor, sedangkan Karina berangkat sekolah. Nesya mencomot potongan buah di piring. "Mereka bukan pengantin baru, Ma. Udah satu tahun," ujarnya mengingatkan takut mamanya pikun. Fernita berdecak. "Satu tahun itu baru. Kamu kayak anak kecil banget mau menginap enggak mikir dulu, mending di rumah Almira masih masuk akal." Mulut Nesya sibuk mengunyah buah apel, mengabaikan sebentar omelan sang mama karena perut harus masuk prioritas pertama. Padahal di rumah Suci sudah disuguhi masakan lezat yang membuatnya ingin makan dua piring, tetapi dia cukup tahu diri. "Kamu beneran milih laki-laki berkacamata kemarin, siapa namanya lupa?" Mamanya menatap penuh selidik. kenapa nyambung ke sana, ya? Mata sipit Nesya berusaha melebar semampunya, lalu menggeleng pelan. Diraihnya segelas air mineral agar kepalanya bisa berpikir jernih menjawab tuduhan sang mama. Kemudian Nesya melipat lengan di meja, menatap mamanya lurus-lurus. "Mama berapa kali aku bilang mas Glen bukan siapa-siapa." Fernita terlihat santai mengangkat bahu, sedangkan tangannya sibuk mengupas buah apel. Nesya melirik ke piring yang penuh potongan buah apel sampai berwarna kecokelatan tidak segera dimakan. Setelah menaruh pisau di meja, Fernita balik menatap anaknya. "Mama pernah muda kalau kamu lupa, Nes. Sekarang bukan siapa-siapa, enggak tahu nanti. Mama aja dulu ragu pas mau nikah sama papa kamu karena mendadak laris banyak yang dekati." Nesya mengernyit heran. Fernita berdehem. "Kamu tahu berapa yang mepet pas Mama mau nikah, lebih dari sepuluh. Kamu cuma satu aja oleng." Kalau berada di uji nyali pasti Nesya sudah lembaikan tangan ke kamera. Dia tidak sanggup menghadapi sang mama hobi melebarkan topik ke mana-mana. "Ma, ini enggak ada hubungannya sama mas Glen, kenapa, sih?" Nesya mencebik dan melahap buah apel yang sudah kecokelatan dengan rakus. Fernita masih tidak percaya. "Yakin? Dulu hubungan kamu baik-baik aja sebelum ada Glen-glen itu!" Nesya diam, merasa percuma akan menjawab endingnya dipojokkan. Lebih baik menghabiskan buah apel yang memenuhi piring, berpikir positif agar mengurangi kegalauan, serta menjaga hatinya tetap waras. Memang seharusnya dalam situasi begini diam menjadi solusi agar tidak memancing perdebatan panjang. Mamanya sedang memijat kening seolah pusing memikirkan tingkah anak sulungnya, dia tidak sedikitpun ikut mencicipi buah apel yang sudah dipotong kecil-kecil. "Ma?" panggil Nesya setelah diam tiga menit untuk berpikir keras sambil mengunyah buah. Dia menimbang-nimbang akan pindah dari rumah mengingat usianya bertambah dan perlu privasi. "Kenapa?" Nesya menarik napas dalam. "Ehm ... kayaknya aku mulai berpikir buat pindah. Aku rasa udah saatnya mandiri." "Karena Mama ikut campur masalah kamu sama Elvan jadi ngambek mau pindah?" Fernita terkesan tidak terima. "Enggak perlu cari alasan biar mandiri." Nesya mengernyit, dia memang ingin ada privasi, tetapi bukan ngambek sama mamanya. "Enggak gitu, apaan Mama jadi ke mana-mana." "Dari dulu kamu enggak pernah ada niatan pindah, baru sekarang aja pas ada masalah gini. Mama curiga kamu ada maksud lain, contohnya bisa bebas ketemu Glen!" tuduh Fernita dengan dongkol. Akhirnya ia melahap potongan buah apel yang tepinya sudah kecokelatan. Apa lagi? Nesya masih melongo, bingung menghadapi sang mama. "Jadi benar kamu sengaja pindah biar---" "Enggak, Ma. Ya ampun." Nesya kehabisan cara meyakinkan mamanya. Oke, katanya perempuan selalu benar, jadi wanita yang sudah jadi ibu-ibu akan akan lebih selalu merasa benar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN