Mencari Peluang

1126 Kata
Saat jam istirahat kantor, Nesya menerima ajakan lunch bersama Glen di restoran. Nesya suntuk di rumah, dia merasa perlu hiburan daripada mendengar ceramah panjang sang mama tentang anak teman-temannya yang akan menikah. "Malu Mama kalo ditanya, masa mau bilang batal." Fernita memandang gemas selagi menyuruhnya ikut mencuci piring. Nesya tidak mau mendebat yang pasti akan kalah, dia hanya mendengarkan, sesekali mengangguk tadi. Sekarang Nesya sudah duduk bersama laki-laki berkacamata, menghadap ke steak daging dengan warna cokelat matang sempurna. Nesya memotong dengan pikiran melalang buana, menebak kemungkinan Elvan sibuk pada pekerjaan sampai lupa makan siang. Biasanya ia akan rewel mengingatkan atau memberi kejutan datang ke kantornya mengajak lunch bersama. Oke, Nesya menggeleng. Dia harus sadar kalau Elvan tidak membutuhkannya lagi. Mungkin di tempat kerjanya banyak pwre akan beelom mengganti posisinya. Sejak dulu, Nesya tahu beberapa teman kantor Elvan sering memberi perhatian lebih seperti memberi makanan, berusaha tampil cantik menarik perhatiannya, atau memancing dengan pesan-pesan tidak penting. Bagaimana Nesya tahu? Karena Elvan selalu menunjukkan chat yang terkesan menggodanya serta tidak keberatan Nesya membalas pesannya. "Nes?" Glen menatap perempuan di depannya dengan kening berkerut. "Kamu mikirin apa?" Nesya mengangkat wajah, kemudian menggeleng. "Kamu tidak bisa bohong, sejak tadi kamu melamun terus. Masih memikirkan laki-laki bermulut pedas itu?" tanya Glen masih ingat kata-kata menusuk Elvan yang dirasa kurang pantas diucapkan pada perempuan, apalagi calon sendiri. Nesya hanya menjawab dengan ringisan, lalu memotong daging dengan salah tingkah. Glen berdehem, menatap perempuan cantik yang mengenakan blus merah marun, rambut ikalnya yang panjang dibiarkan tergerai. Semua laki-laki akan sependapat kalau Nesya cukup memukau, tidak sulit mendapatkan pria lebih baik daripada mantannya kemarin. Nesya menaikkan alis ketika menyadari Glen terus menatapnya, seolah bertanya 'Kenapa?' "Saya tahu kamu masih patah hati, saya tidak bermaksud mencari peluang, tapi kalo boleh saya ingin lebih dekat sama kamu." Nesya mengernyit, patah hati membuat kinerja otaknya menurun dan belum mencerna ucapan Glen. Glen berdehem. "Saya merasa sedikit tenang setelah bertemu kamu, sebelumnya hati saya tidak terkontrol karena dikhianati pacar yang saya cintai sekaligus sahabat sendiri." Perempuan itu terkesiap, dia menatap laki-laki di depannya dengan iba. "Jadi Miranda ...." "Itu udah berlalu, saya merasa bersyukur bertemu kamu, sekalipun keadaan begini saat kamu sedang ada masalah." Glen menatap perempuan cantik di depannya dengan sungguh-sungguh. "Maaf, lupakan ucapan saya jangan dianggap beban." Nesya menelan ludah pahit. Kenapa tidak dari dulu, saat dirinya belum cinta setengah mati pada Elvan Adhitama, dan masih kagum-kagumnya dengan pesona seorang Glen. Melihat Nesya yang seakan tak nyaman, Glen menggenggam tangan perempuan di depannya. "Saya hanya mau kamu tau, banyak laki-laki yang lebih menghargai kamu. Kamu itu cantik, baik, menyenangkan." "Berapa perempuan yang Mas Glen rayu begini." Perempuan itu terkekeh mencairkan suasana. Dia mengamati tampilan Glen, pakaian rapi, berkharisma, wajah tampan. Tipe laki-laki yang mudah mendapatkan perempuan mana saja. "Cuma sama kamu." Nesya mengangkat alis. "Masa? Dulu aja aku ditolak, enggak pernah tuh ada balasan surat cintanya." Senyum Glen terbit, dia tidak tahu kenapa perempuan di depannya bisa membuat nyaman dalam waktu singkat atau tanpa sadar sejak dulu sudah tertarik pada Nesya. Dia memang merasa bodoh setia pada Miranda, melakukan apa saja demi menjaga hati sang pacar termasuk memberi jarak dengan perempuan lain. Semua demi Miranda, gadis yang dicintai sialnya memilih sahabat sendiri. Hubungan bersama Miranda hancur dan persahabatan dengan teman kuliahnya pun ikut hancur. "Udah, ayo saya antar balik." Glen masih ingin bicara bersama Nesya, tetapi waktunya terbatas saat melirik jam tangan. "Enggak usah, Mas. Aku bisa naik taksi lagipula nanti mama akan mengomel sama Mas." "Saya tidak apa-apa." Nesya mengernyit. "Saya antar kamu sampai rumah dan tidak masalah dimarahi mama kamu, lagian saya juga kangen diomeli mama-mama," ujar Glen teringat mamanya yang lama tidak mengobrol bersama, atau mengomel setiap dia melakukan kesalahan. Mamanya sudah hidup dengan dunianya sendiri. *** "Nes, kamu enggak merasa utang penjelasan sama Mama. Lagian laki-laki begitu dipilih, mana sopan santunnya mengantar tidak menemui Mama." Tadi Nesya mendesak Glen cepat pulang beralasan mamanya sedang tidur siang, padahal lagi di dapur membuat puding. Nesya membujuk Glen agar pergi mengingat jam istirahat sudah habis. Sekalipun bos tidak boleh seenaknya menghilang. "Aku yang minta, Ma." Nesya meletakkan tas ke meja, dia berjalan ke dispenser mengambil air minum seraya menatap sang mama yang baru melepas apron. Fernita mengerutkan keningnya. "Kenapa?" "Karena aku tahu Mama enggak akan memperlakukan Mas Glen semanis ... ehm Mas Elvan," ujar Nesya sedikit malas menyebut nama mantan. Bukan alergi atau gatal-gatal, dia hanya malas bayangan sang mantan hadir lagi cuma disebut nama seperti mantra ampuh. Fernita merapikan rambut ikalnya yang diikat, dia bergerak mendekati sang anak. "Mama enggak suka aja sama laki-laki yang tidak tahu diri mendekati calon istri orang. Kalau suka hak dia, anak Mama memang cantik, tapi seharusnya nggak perlu sampai merenggangkan hubungan kamu sama Elvan. Dia ganteng, kok, bisa cari gadis lain." "Ma, aku udah bilang berkali-kali Mas Glen enggak pernah merusak hubungan aku, masa harus ulangi terus." Nesya berdecak, dia putus asa harus memberi penjelasan seperti apa supaya mamanya berhenti melibatkan Glen. Mamanya menghela napas berat. "Oke, Mama enggak menyalahkan Glen. Tapi kamu yang salah, namanya udah punya calon harus tahan godaan apalagi dari laki-laki high class kayak Glen yang genteng, karirnya kelihatan bagus. Tapi kamu ingat tiga tahun aja masih sering berantem, gimana sama pria yang baru dekat dan belum paham semua sikap minus kamu." Nesya diam. Dia enggan menjawab karena membenarkan ucapan sang mama. Selama ini Elvan memang menerima sisi buruknya. Pria itu tidak akan protes kalau Nesya mengeluh panjang lebar soal lelahnya menghadapi klien, sekalipun tidak banyak menjawab setidaknya Elvan bisa menjadi pendengar yang baik. Elvan juga tidak keberatan kalau melihat dia menghirup capuccino di cangkir tanpa menyesap. Kadang Nesya juga sangat menyebalkan meminta Elvan menghabiskan makanan yang dibeli lewat aplikasi dan ujungnya hanya makan sedikit takut gendut. "Nes, Mama yakin kamu nggak semudah itu melupakan Elvan. Kalo ada yang tidak suka, ya diperbaiki, bukan mengganti orangnya. Kamu mau sama siapa aja pasti ada ketidakcocokan dan tugasnya kita saling menerima kekurangan." Nesya mengigit bibir bawahnya, lagi-lagi ucapan sang mama seakan menamparnya. Tapi, dia sudah mencoba menerima keegoisan Elvan tiga tahun dan selalu mengalah. Dia akan meminta maaf setiap bertengkar, sekalipun yang memulai Elvan. Nesya sudah cukup sakit bertahan pada pria dominan yang menganggap dirinya pajangan tidak diizinkan berpendapat atau menegur setiap Elvan Adhitama membuat kesalahan. Perhatian Nesya teralih oleh suara dering ponsel di tas, ia merogohnya serta melihat 2 panggilan tidak terjawab dari Almira dan pesan-pesan dari perempuan itu memberi semangat. Pasti Riki sudah menceritakan kalau dia seperti orang tidak waras di trotoar jalan. Lalu, ada satu pesan masuk dari pria yang tadi menjadi topik pembicaraan dengan sang mama. Glen : Saya senang melihat kamu tersenyum. Saya tahu kamu perempuan kuat, jangan larut dalam kesedihan. Nesya tersenyum tipis tidak menyangka pria yang dulu selalu mengabaikannya, tiba-tiba hadir menjadi penghibur di masa-masa terberatnya kehilangan Elvan sekaligus pernikahannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN