Nesya mematung melihat petugas catering yang terus bolak-balik me-refill makanan, dia hanya berdiri di sisi meja prasmanan menggenggam gelas berkaki dengan perasaan campur aduk.
Seharusnya dia tidak datang sendirian ke pernikahan teman SMA-nya, terlihat menyedihkan memisahkan diri dari kerumunan orang-orang yang pasti akan bertanya soal rencananya bersama Elvan. Teman-temannya sudah mengetahui dia akan menikah, tapi belum mengetahui sudah dibatalkan.
"Nes, ya ampun dicari-cari juga taunya di sini." Almira berdecak lega, perempuan itu terlihat memesona dibalut dress hitam selutut dipadu heels senada dengan rambut tergerai. Wajahnya djpulas make up warna natural yang terlihat memukau.
Nesya tersenyum tipis seraya meneguk lagi cocktail di tangannya.
"Udah ketemu Sandra belum?"
"Baru aja tadi, sebelum kamu datang. Ehm ... sama siapa?" tanyanya celingukan melihat Nesya sendirian.
Acara pernikahan berlangsung di ballroom hotel mewah dengan tamu undangan fantastis, dekorasi ruangan didominasi putih yang terkesan hangat, membuat Nesya berandai-andai pernikahannya tidak batal pasti akan tersenyum bahagia seperti Sandra .
"Sama Riki, dia lagi ngobrol tadi ketemu teman-teman lama." Almira menyesap minumannya dan mengamati ekspresi sendu di wajah sahabatnya. "Are you okay?"
"Ya?" Nesya mengernyit. "Memang kenapa? Udah biasa juga datang ke nikahan."
Almira mengangguk-angguk lalu menepuk bahu iba. "Pasti tidak mudah, ya?"
Kemudian Almira menyapa teman-teman, mengobrol antusias dengan mata berbinar, sedangkan Nesya hanya sesekali menanggapi. Dia terlalu malas atau moodnya sedang tidak baik, daripada merusak suasana perempuan itu memutuskan menepi ke ballroom.
"Nes?" Seseorang menyapa dari arah belakang, membuat Nesya menolah lalu tersenyum melihat laki-laki yang mengenakan jas krem. "Kamu kenapa di sini?"
"Bosan di dalam ramai." Nesya berusaha terlihat baik-baik saja. "Kakak sendiri?"
"Sama," ujarnya dengan lembut. "Kamu pasti tidak nyaman di dalam, gimana kalau saya antar pulang?"
Nesya menjawab dengan ringisan, tadi siang Glen juga mengajak menghadiri pernikahan Sandra bersama karena kebetulan juga diundang. Namun, Nesya menolak beralasan akan dijemput Almira, padahal, sih, tidak.
"Enggak perlu dipaksakan kalau hati kamu belum membaik." Tangan Glen terulur menyentuh pundaknya, hanya sebentar, kemudian ditarik mundur memahami batasan.
Glen benar, dia terlalu memaksakan diri. Selama bekerja saja belum terjun langsung mengurus jalannya pernikahan mengingat kondisinya belum siap, dia hanya bertugas menemui klien serta mengurus persiapan . Masalah di lapangan dibebankan ke Riki atau Almira.
Nesya tidak menolak saat Glen mengajak ke mobil, dia hanya mengirim pesan pada Almira dan menitip salam untuk Sandra.
***
Elvan menyesal melewati rumah mantan hanya berharap bisa melihatnya dari jauh, kepalanya berasap justru menemukan mobil laki-laki lain memasuki halaman rumah Nesya.
"Sial! Ternyata sejauh itu hubungan kalian!" Dia mendecih seraya memukul setir melihat perempuan yang setengah mati dirindukan keluar dari mobil pria lain, apalagi mengenakan dress cantik.
Setelah Nesya memutuskan mencancel semua vendor, dia berjanji tidak akan mengemis cinta pada perempuan itu. Elvan tidak akan memaksanya bertahan, lebih baik memilih jalan masing-masing. Namun, Elvan tidak mengelak masih merindukan masa-masa bersama Nesya.
Bukan urusannya memang, kalau Nesya secepat itu menggantikan posisinya atau memang dia hanya setia sendirian. Hubungan mereka sudah berakhir, dan cemburu hanya akan membuat kepalanya makin berdenyut.
Elvan melanjutkan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan Jakarta sebelum terjebak kemacetan. Pikirannya sudah bercabang ke mana-mana, mengingat Nesya yang sudah tertawa bersama pria lain membuat Elvan merasa bodoh masih merindukan sang mantan. Dia tidak pernah mentoleransi pengkhianatan, alasan dia memutuskan berhenti mempertahankan Nesya berada di sisinya.
Setibanya di rumah, Elvan ingin cepat mandi demi mendinginkan kepala. Dan kalau bisa menghindari sang mama yang pasti akan menyapa di ruang tengah.
Tapi, ia hanya melihat adiknya yang masih kuliah semester awal sedang duduk di sofa memanjang menempelkan ponsel ke telinga dengan cekikikan, membuat Elvan mengernyit tidak melihat keberadaan sang mama.
"Mas?" Kayla menoleh, mengakhiri panggilan telepon dengan pacarnya. "Kirain enggak pulang juga, sekalian aja aku dibiarkan sendiri."
"Ya?" Elvan mengernyit.
Kayla berdecak, melipat lengan dan memasang ekspresi cemberut. "Mama menginap di rumah oma mau menenangkan diri. Mas malu-maluin keluarga aja udah mau nikah segala batal."
"Sama papa juga?"
Kayla mengangguk. "Iya, dan kalo mereka malas balik ke rumah semua salahnya Mas."
"Kamu anak kecil enggak tau apa-apa." Elvan mengibaskan tangan, kemudian melangkah menuju kamar. Tidak ada waktu meladeni adiknya yang disaat tertentu seringkali menyebalkan.
Elvan menghela napas kesal usai membuka pintu kamar, mengingat lagi senyuman Nesya pada laki-laki yang berhasil membuat perempuan itu berubah.
"Sial!" umpatanya selagi melirik ke meja sebelah ranjang, bahkan dia lupa menurunkan foto perempuan cantik yang sedang tersenyum manis dengan rambut tergerai indah. "Gila, dia udah move on. Aku masih aja mikirin terus."
Elvan menggeleng seraya melangkah lunglai ke walk in closet, melepaskan kancing kemeja dengan pikiran terus terpusat pada senyuman Nesya.
"Mas!" Suara gedoran pintu terdengar dari luar kamarnya, membuat Elvan mengerang kesal dan malas-malasan bergerak ke ambang pintu sambil mengancing lagi kemejanya.
"Apasih?"
Kayla langsung meraih tangan sang kakak begitu pintu terbuka. "Mas antar ke luar, yuk, lotion yang biasa aku pakai habis lupa belum beli."
Elvan berdecak. "Besoklah, Mas mau mandi."
"Mas tau, kan, aku enggak bisa tidur kalau belum pakai lotion. Mas mandi nanti-nanti aja, udah cakep kok enggak malu-maluin kayak gini keluar." Kayla merajuk dengan memasang ekspresi sok manis.
Dosa tidak kalau Elvan mau melempar adiknya dari lantai dua?
Elvan mendengus sebal. "Orang lain baru enggak bisa tidur tanpa lotion anti nyamuk, lah kamu."
"Cepet deh, Mas. Jangan banyak protes, ya." Kayla sudah menarik paksa kakaknya keluar kamar, menuruni anak tangga, dan melewati ruang tengah. Keyla baru menyengir lebar saat memasuki mobil.
Dengan terpaksa Elvan melajukan mobil ke supermarket yang cukup jauh dengan sengenap lelah yang melanda. Lotion yang biasa dipakai Kayla tidak ada di supermarket terdekat, membuat Elvan harus banyak-banyak istigfar untung sayang. Satu yang diherankan, kenapa dia tidak bisa mengalah pada perempuan yang dicintai sedangkan pada adiknya sering mengalah?
"Tunggu sebentar, ya. Apa Mas ikut turun siapa tahu mau beli sesuatu?" tanya Kayla selagi melepas seatbelt.
"Nggak!"
Kayla berdecak. "Enggak ikhlas gitu antar adik sendiri, nyebelin banget sih, Mas. Pantas aja mbak Nesya ogah nikah sama Mas."
Elvan sudah menatap tajam adinya, apa perlu mulutnya dilakban agar tidak asal bicara?
Perempuan itu hanya menyengir lebar, tidak ada perasaan takut secuil pun. Anak manja kesayangan papanya itu selalu mencari perlindungan kalau Elvan sudah marah-marah dengan sikap sang adik.
"Jangan ditinggal, ya, Mas. Awas aja loh," ujar Kayla sebelum turun.
"Bawel banget!"
Elvan mengedarkan pandangan ke luar selagi menunggu di mobil, lalu terkesiap melihat wanita cantik dibalut blus merah marun, perempuan yang bertahun-tahun tidak diketahui kabarnya, kini ada di depannya sedang merogoh tas mencari kunci mobil.
Elvan hanya mengamati gerakannya sampai berjalan ke mobil, belum berniat muncul sekadar bertanya kabar seakan-akan tidak terjadi apa-apa di masa lalu.
"Mas?" Kayla memasuki mobil dan menyipitkan mata melihat sang kakak fokus ke depan. "Lihat apa di luar?"
"Bukan apa-apa," ujarnya saat menoleh ke adiknya. "Udah, kan?"
Kayla mengangguk tapi masih celingukan ke luar, dia tidak melihat apa-apa kecuali mobil merah yang melewatinya.