Nesya tidak mengatakan apa-apa, berusaha mengunci mulut agar tidak mengucapkan kalimat yang bisa disesali. Dia duduk gelisah di sisi pengemudi, berkali-kali melirik pria di samping yang terlihat kelelahan. Elvan juga menoleh sebentar, merasa suasana aneh saat perempuan yang biasa bercerita sepanjang jalan mendadak kalem. Dia jujur merindukan masa-masa bersama sang mantan, tetapi sisi lainnya mengingatkan kalau perempuan di sebelah milik pria lain. Saat Elvan memijat kening, Nesya refleks bertanya. "Mas mau obat pusing?" Lalu Nesya meringis, seringkali memberi perhatian kecil tanpa disengaja. Melihat respons Elvan hanya menggeleng sekilas, dia benar-benar menyesal masih repot-repot khawatir padahal bukan siapa-siapa. Suasana mobil kembali hening, hanya sesekali terdengar suara klakso

