"Di sana aja, Mas. Enak dekat jendela kaca," ujar Nesya mencari meja yang nyaman untuk menemani Glen minum kopi. Jadi sewaktu Glen meminta ditemani keluar menikmati kopi daripada jenuh di apartemen, Nesya tidak menolak. Lagi pula Nesya memutuskan tidak akan pulang ke rumah sampai kondisi hatinya lebih kebal menghadapi serangan sana sini dari keluarga soal Elvan Adhitama. Nesya memindai ruangan yang didekor seolah berada di pabrik kopi dengan alat-alat terpajang di berbagai tempat, dia suka menghirup aroma kesukaannya saat proses roasting coffe. Seandainya saja menikmati bersama Elvan seperti malam Minggu dulu, mungkin tidak akan merasa semenyedihkan sekarang. Sesaat langkahnya menuju kursi terhenti melihat sosok yang sedang ada di kepala berada di depan mata, sedang duduk berhadapan

