"Mas lembur, ya. Jam segini baru pulang? Aku nunggu dari tadi lho mau nanya penting." Kayla mengekori kakaknya yang belum lima menit membuka pintu ruang depan. Kayla mudah mengambek, juga mudah memaafkan lelaki menyebalkan yang harus diakui kakak. Andai diberi satu permintaan pasti Kayla akan meminta berganti kakak, boleh ditukar sama mas-mas ganteng di kasir supermarket. "Tanya apa? Mas capek banget," keluh Elvan sambil melonggarkan dasi selagi melangkah cepat ingin buru-buru mandi lalu tidur. Bibir Kayla mengerut. "Sebentar aja ini soal mbak Nesya." Elvan berhenti, nama yang disebut adiknya berhasil mengingatkan Elvan pada perempuan yang seharian berusaha dienyahkan dari kepala. "Udah enggak perlu dibahas." Bukan Kayla namanya kalau menurut dan membiarkan sang kakak istirahat denga

