Kayana menatap Jaden yang baru saja turun dari kendaraannya seraya tersenyum lebar. Setelah menutup pintu, lelaki itu kemudian berjalan ke arahnya, lalu berdiri dihadapannya, dengan wajah yang masih tampak begitu sumringah, terlihat penuh dengan kebahagiaan. “Kamu membawa kabar baik?” Tanya Kayana. Jaden mengangguk, kemudian merentangkan tangan lalu memeluknya dengan erat. “Terima kasih banyak Kay. Tidak hanya lima tahun, tapi sampai tujuh tahun. Papa membantuku.” Senyuman Kayana terbentuk, kedua tangannya terulur mengelus punggung Jaden beberapa saat sebelum mengurai pelukan itu kemudian memindai wajah Jaden yang masih tampak begitu bahagia. Menyelami wajah tampan itu, berusaha membacanya lebih jauh lagi. Akan tetapi berapa kali pun ia melakukannya, tidak ada yang men

