Kayana mengurut dahinya yang mendadak pening. Seharian ini mood-nya hancur, sangat berantakkan, beruntunglah ia bisa mengendalikan diri saat di kelas. Akan tetapi ketika kembali ke kantor dan hanya berdiam seorang diri, overthinking-nya semakin menjadi-jadi, rasa bersalahnya pun semakin membesar. Ia menyesal berkata seperti itu pada Jaden. Secara emosi sesuatu dalam dirinya berkata ia tidak perlu merasa bersalah dan menyesal, toh semua memang kesalahan Jaden yang begitu kekanak-kanakan. Salah Jaden yang tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri dan bertindak terlalu jauh tanpa berpikir panjang. Tapi secara nalurinya, Kayana tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Ia sudah keterlaluan, ia sudah sangat kelewat batas. Jaden pasti terluka, lelaki itu pasti sakit hati oleh set

