Part 13 : Kecemburuan Jaden

1833 Kata
  Kayana mengulum bibir, berusaha menyembunyikan rasa ingin tersenyumnya ketika melihat wajah kusut Jaden yang menyambutnya di ruang tamu.   “Nunggu lama Jay? Maaf ya aku ada kelas tambahan dan lupa mengabarimu.” Ujar Kayana seraya melepaskan sepatunya di ruang tamu itu.   Bukannya menjawab Jaden justru mendelik memberikan tatapan tajam padanya. Tapi lagi-lagi Kayana abaikan. “Tunggu aja di ruang makan aja ya sama anak-anak? Aku mau bersih-bersih dulu. Capek dan gerah juga.” Ujar Kayana seraya berdiri.   “Sudah kukatakan dia menyukaimu kan?”   Kayana menghentikan langkah tepat di samping Jaden yang masih duduk. Kayana menundukkan kepala, menatap Jaden yang menatapnya dengan mata memerah, menahan marah.   “Berani sekali dia menyatakan perasaannya padamu. Dia pikir dia siapa?” Jaden mengalihkan pandangan dengan rahang mengatup dan kedua tangan yang terkepal sempurna.   Kayana mengelus lembut kepala Jaden. Merapihkan surai hitam legam itu sesaat sebelum berujar. “Jay.”   “Jauhi dia! Aku tidak suka kamu dekat dengan orang itu!”   “Hei Jaden. Lihat aku.”   Jaden menghembuskan napas kemudian mendongak menatapnya.   “Kita tidak akan pernah bisa mengendalikan perasaan seseorang terhadap kita. Suka, benci, termasuk cinta. Kita tidak bisa mengaturnya. Perasaan mereka hanya milik mereka sendiri, mereka berhak menyukai dan membenci siapapun.”   “Tapi aku tidak suka dia menyukaimu Kay. Aku tidak suka dia bisa seberani itu menyatakan perasaannya padamu! Aku tidak suka. Aku membenci itu!” Jaden menggeram kecil. “Hanya aku yang berhak mencintaimu dan hanya aku yang berhak berada di dekatmu! Hanya aku Kayana. Akan selalu begitu! Selamanya.”   Kayana tidak memberi tanggapan apapun. Ia hanya mengelus surai itu selama beberapa saat lalu mengelus rahang keras itu dan mengelusnya dengan lembut menggunakan ibu jari. Setelahnya Kayana menunduk, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Jaden.   “Cemburu hm? Cie ada yang cemburu.”   Jaden mengalihkan pandangan ke arah lain dengan wajah yang sudah semerah tomat, antara malu dan marah menjadi satu.   “Jaden begini. Kamu harus mengerti bahwa kita tidak akan pernah bisa mengendalikan perasaan semua orang yang ada di sekitar kita. Termasuk perasaan Mr. Farrel terhadapku. Tapi yang terpenting di sini adalah aku kan? Yang penting aku tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya dan tidak berniat membalas perasaan itu.” Kayana tersenyum saat merasakan rahang Jaden mulai melembut kembali.   Kayana kemudian bangkit, berdiri tegak kembali di depan Jaden. Membuat lelaki itu mendongak, menatapnya. “Kalau memang aku tertarik pada Mr. Farrel sudah dari dulu aku dekat dengannya lebih dari teman, karena ya... sebenarnya ini bukan pertama kalinya dia mengajakku berbicara, dulu juga pernah beberapa kali tapi aku bisa menghindar. Sayangnya hari ini ternyata dia cukup keras kepala dengan menungguku. Jadi ya... begitu.”   “Tapi kamu benar-benar tidak berniat membuka peluang untuknya bukan?”   Kekehan kecil keluar dari mulut Kayana, dengan kepala mengusak kepala Jaden gemas. “Kalau aku berniat, sudah kulakukan sejak dulu.”   “Gak bohong?”   “Buat apa aku bohong coba?”   Bibir Jaden masih melengkung ke bawah. “Kok malah cemberut.”   Jaden menghembuskan napas panjang kemudian merentangkan kedua tangan. “Hm kalau begitu, boleh peluk gak?” pintar Jaden dengan tatapan memohon.   “Sebentar aja. Cuma lima detik.” Pinta Jaden lagi.   Kayana tersenyum lagi kemudian merentangkan tangannya. “Sini.”   Segera, Jaden memeluknya. Kedua tangan kokoh itu bahkan melingkar erat dengan kepala yang terbenam dipermukaan perutnya. Sementara kedua tangannya mengelus lembut kepala Jaden, berusaha menenangkan perasaat khawatir yang menimpa lelaki itu.   “Lima, empat, tiga, dua....”   “Lima detik lagi.” ujar Jaden seraya mengeratkan pelukannya. Kayana hanya bisa terkekeh pelan seraya mengusak kepala lelaki itu lagi, masih mencoba menenangkan Jaden yang masih berada dalam lautan kecemburuan. Hingga aura dingin yang menguar dari lelaki itu perlahan menguap, meskipun tidak sepenuhnya hilang.   Setelah beberapa saat, tepat lima detik setelahnya Jaden kemudian mendongak menatap ke arahnya. “Janji sama aku. Jangan pernah beri kesempatan pada lelaki lain ya? Sampai kapanpun, aku akan mencintaimu dan aku akan setia nunggumu Kay, sampai kamu benar-benar siap. Aku berjanji aku tidak akan berpaling walaupun kamu meminta waktu sedikit lebih lama.”   Kayana menghembuskan napas. Sebesar itukah Jaden mencintainya?   “Janji Kay?”   “Kalau aku janji, apa kau yakin bisa memegang janjimu itu Jay? Karena aku bukan orang yang sembarangan membuat janji. Saat aku sudah berjanji maka aku akan menepatinya.”   “Aku bersumpah akan memegang janjiku Kay. Aku berjanji dengan seluruh jiwa dan ragaku, hanya kamu perempuan yang akan kucintai dan kau yang akan kutunggu. Aku pastikan bukan kamu, aku tidak akan pernah bersama siapapun lagi.”   Mendengar janji dengan tatapan penuh ketulusan d**a Kayana bergetar, desiran hangat pun perlahan merasuki relung hati Kayana.   “Jay....”   Aku janji. Aku akan berusaha menerima kamu dan mungkin... kamu akan menjadi yang terakhir untukku.   “Kay....”   Kayana mengangguk. “Baik Kay. Aku berjanji.”   ***   Kegelisahan yang mendera Jaden tidak sedikitpun menghilang. Sepanjang malam Jaden benar-benar gundah, masih memikirkan Kayana dengan lelaki yang menyatakan perasaan pada Kayana itu. Ia masih khawatir, ia sungguh takut akan kehilangan Kayana.   Sekalipun Kayana sudah berjanji dan ia mempercayai semua ucapan Kayana. Tapi ia tidak mempercayai lelaki itu. Ia tidak yakin dia akan menyerah begitu saja. Dia pasti sedang memikirkan beribu cara lain untuk mendapatkan Kayana.   Jaden tidak bisa membiarkannya. Ia tidak bisa membiarkan seseorang berusaha mendekat dan merebut perhatian Kayana.   Jaden mendengus pelan lalu melirik Pak Hery.   “Pak putar balik. Kita ke The Royal’s School dulu.”   “Tapi Mr. Jaden. Klien kita sudah menunggu.” Ujar Ferdi, sekretarisnya.   “Tidak ada bantahan. Geser pertemuan selama satu jam.”   Sekretarisnya itu menghela napas panjang kemudian mengangguk kecil. “Baik Mr. Jaden.”   Sungguh Jaden tidak bisa tenang sebelum menemui lelaki itu. Bagaimanapun setidaknya ia harus memberikan peringatan pada lelaki itu dan menunjukkan kekuasaannya. Ia harus membuat semuanya jelas, lelaki itu harus tahu bahwa Kayana adalah miliknya dan tidak akan ada satu orang pun yang bisa memiliki Kayana selain dirinya.   Tidak membutuhkan waktu lama kendaraan itu sudah memasuki pelataran parkir sekolah. Jaden kemudian keluar dari kendaraannya tanpa menunggu di bukakan, setelah itu ia melangkahkan kaki dengan langkah lebar menuju ruang kantor, tanpa memedulikan kepala sekolah yang mengejarnya di belakang.   Tok tok tok!   Jaden kemudian masuk setelahnya, membuat semua orang yang ada di ruangan itu terperangah, terkejut melihat kedatangan sang pemilik sekolah. Semua orang menyapa. Tapi tentu Jaden abaikan. Mereka tidak penting, ia tidak memedulikan siapapun selain satu orang yang duduk di salah satu sudut ruangan. Jaden kemudian mendekat ke arah lelaki itu.   “Selamat pagi Mr. Jaden. Ada yang dapat saya bantu?”   Jaden tidak langsung menjawab, iris matanya tertarik pada sebuah tas yang berada tepat di samping meja kerja lelaki itu. Seketika rahang Jaden mengatup saat mengenali tas tersebut, tas milik Kayana.   “Ikut aku. Ada yang harus kukatakan.”   “Maaf sebelumnya, ada keperluan apa Mr. Jaden?”   “Ikut saja.”   Lelaki itu, Farrel. Tidak banyak membantah. Setelah itu dia bangkit kemudian mengikuti langkahnya menuju taman belakang sekolah.   “Langsung saja Mr. Jaden. Tiga puluh menit lagi kebetulan saya ada kelas.”   Jaden mendengus kecil. Menahan letupan amarahnya saat melihat paras lelaki itu. “Saya pun malas berbasa-basi dengan anda Mr. Farrel.”   “So?”   “Jauhi Kayana.”   Seketika kedua laki-laki itu berpandangan, saling menghunuskan tatapan setajam pedang. Rahang Jaden mengatup, amarahnya semakin tersulut saat melihat lelaki itu yang justru menatapnya dengan berani.   “Anda bukan siapapun Mr. Jaden. Anda hanya kebetulan pernah jadi murid Miss Kayana saja. Jadi seharusnya bukan saya yang harus menjauhi Miss Kayana. Tapi anda. Selain itu seharusnya anda sadar hubungan kalian tidak pantas berkembang lebih jauh lagi. Miss Kayana lebih pantas denganku. Lelaki yang sudah matang segalanya, terlebih secara usia dan secara mental.”   “Siapa kau yang berani menilai hubungan kami tidak pantas? Tidak ada seorang pun yang berhak menilai hubungan kami. Pantas, tidak pantas. Bukan urusanmu! Yang harus anda tahu adalah cinta bukan tentang usia. Bukan juga tentang status masa lalu. Cinta adalah urusan hati dan keyakinan! Dan kau harus tahu. Aku mencintai Kayana, Kayana pun lebih memilih memberikan kesempatan padaku daripada untukmu! Jadi sebaiknya kau menyingkir sebelum aku menyingkirkanmu!“   Farrel terkekeh kecil. “Cinta bukan tentang usia katamu? Begini saja.” Farrel mendekat ke arah Jaden. “Sekalipun sekarang Miss Kayana mengatakan memberimu kesempatan. Memang Miss Kayana mau dengan lelaki sepertimu? Arogan, egois, terlalu emosional. Aku rasa tidak. Boleh saja sekarang dia mengatakan itu padamu. Besok? Satu minggu yang akan datang? Satu bulan? Satu tahun? Siapa yang akan bertahan lama dengan lelaki bertempramen buruk sepertimu Mr. Jaden?”   Farrel tersenyum lebar kemudian melanjutkan kalimat pelan dan tajamnya. “Aku bahkan tidak yakin, Miss Kayana benar-benar memberimu kesempatan. Bagaimana jika sebenarnya dia hanya sungkan padamu? Hanya tidak ingin posisi di sini terganggu?” Farrel menyeringai. “Berpikir lagi dengan cerdas Mr. Jaden.”   “b******k!”   “Jaden!!!!”   Kayana tanpa diduga berlari ke arah mereka, kemudian mencengkram lengan Jaden yang sedang mencengkram kerah baju Farrel “Lepaskan! Jaden apa-apaan ini?”   “Lepas atau aku tidak akan pernah mau menemuimu lagi Jaden!”   Jaden mendengus seraya menghempaskan tubuh lelaki itu. Wajahnya berpaling sesaat sebelum menatap ke arah Farrel lagi yang kini justru tersenyum lebar, bahkan lelaki itu menyeringai tipis seraya berujar tanpa suara/   I win.   Sialan!   “Mr. Farrel maaf, dan sekarang silahkan tinggalkan kami.”   Raut wajah Farrel berubah, selaras dengan tatapan lelaki itu ketika menatap Kayana. “Kamu yakin Miss? Biar aku yang mengatasi dan mengusirnya.”   “Tidak perlu, aku yang akan mengatasinya sendiri. Pergilah.”   Kayana menarik napas panjang sebelum kemudian mendongak menatap Jaden yang menghindari tatapannya. Lelaki itu berkacak pinggang, memandang ke arah lain dengan napas memburu.                                                                                                                               Kayana menghembuskan napas pelan. Berusaha menekan emosinya sendiri. “Jay look at me!”   Jaden masih menghindarinya.   “Jaden!”   “Aku hanya ingin memberinya peringatan! Aku hanya ingin menegaskan padanya kalau kamu hanya milikku Kayana. Hanya itu.”   “Untuk apa Jay? Untuk apa kamu melakukan itu?” Tanya Kayana dengan tenang. “Tanpa kamu memberitahunya pun aku sudah katakan padanya pagi tadi. Aku sudah mengatakan padanya kalau aku memiliki seseorang yang sedang kutunggu.”   Jaden terkesiap, ia kemudian menoleh ke arah Kayana. “K—kamu serius?”   “Tapi melihat tingkahmu ini membuatku malas, membuatku menyesal mengatakan hal itu padanya. kamu sangat kekanak-kanakan Jay! Benar-benar memalukan! Tidak bisakah kau lebih menahan emosimu? Aku sudah berjanji padamu kau pun sudah. Sudahlah.”   Kayana menepis tangan Jaden. “Aku lelah, aku baru saja keluar dari kelas dan harus masuk ke kelas lagi.”   “Kay... maaf. Kayana.”   “Pergi Jay. Aku tidak mau melihat wajahmu dulu.”   “Kay. Please.”   “Aku bilang pergi sekarang juga.” Kayana mendongak menatap Jaden. “Atau kamu tidak ingin melihatku selamanya?”   Jaden menggeleng cepat. “Tidak. tentu tidak Kay. Maafkan aku. aku tahu aku salah.”   “Pergi.”   “Maafkan aku dulu Kay. Please.”   Kayana menghembuskan napas. “Baiklah, aku saja yang pergi.”   “Jangan menemuiku lagi.” Ujar Kayana kemudian beranjak pergi mengabaikan Jaden yang mematung di tempatnya.   Jaden menatap punggung Kayana lamat. Tanpa menyadari pertengkaran mereka di awasi seseorang dengan kamera di tangan.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN