Pagi Kay, have a nice day!
Gimana si kuning? Sehat?
Kayana tersenyum tipis saat menerima sebuah pesan dari Jaden ketika baru saja keluar dari si kuning kunyit yang kemarin sore sudah ada di halaman rumahnya lagi.
Pagi Jay.
Seriously? Yang pertanya kamu tanyakan itu si kuning?
Oh perhatian sekali ya anda. –terkirim
Kayana kembali tersenyum setelah mengirimkan pesan itu. Kemudian berjalan ke arah gerbang masuk sekolah dengan sesekali membalas sapaan Guru yang sedang piket dan beberapa siswa yang baru saja datang.
“Selamat pagi Miss Kayana.” Sapa Farrel begitu Kayana sampai di meja kerjanya.
Kayana tersenyum canggung saat Farrel menyapanya, perasaannya sedikit tidak enak terlebih Maya sudah berada di meja kerja tepat di ujung yang berhadapan dengan Kayana. Duduk mengawasinya.
“Pagi Mr. Farrel. Pagi Miss Maya.” Sapa Kayana kemudian mengeluarkan beberapa barang dari dalam tasnya. Bersamaan dengan itu ponselnya kembali berdering, pertanda beberapa pesan masuk.
Oh sepertinya ada yang cemburu.
Baiklah. Aku tidak akan bertanya tentang si kuning lagi.
Daripada ada yang cemburu. Haha
Kayana mendesis kecil.
Siapa yang cemburu?
Dasar tuan percaya diri. –terkirim
Percaya diri itu harus sayang
Kayana tertegun melihat kata sayang di bubble balasan itu.
Oh. Maaf. Tidak sengaja.
Kay maaf, jangan marah.
Aku akan berusaha tidak begitu lagi
Kayana menghembuskan napas.
It’s fine Jay. Jangan di ulang. –terkirim
Aku sungguh minta maaf Kay.
Aku tidak akan membalas pesanmu lagi kalau masih meminta maaf. –terkirim.
Jangan dong.
Kayana tersenyum tipis, membayangkan wajah merajuk Jaden.
Iya. –terkirim
Iya? Cuma iya?
Kayana kembali tersenyum.
Terus? –terkirim
Jangan membuatku ingin kabur dari kantor lalu menemuimu Kay.
Kayana terkekeh kecil. Jaden, selalu saja begitu.
“Wah, asik sekali Miss.” Tegur Farrel.
Kayana menoleh sesaat, hanya memberikan senyuman tipis tanpa berniat membalas ucapan itu. ia kembali berkutat dengan ponselnya.
Bucin sekali anda. –terkirim
Sudah tahu aku bucin.
Jangan mengabaikanku.
Iya. Sudah sana katanya ada meeting. –terkirim
Aku baru berjalan menuju ruang meeting. Kamu sendiri ada kelas pagi kan?
Iya, sebentar lagi bel berbunyi. Kalau begitu sudah dulu ya Jay. –terkirim
Semangat Miss Kay.
Kayana tersenyum melihat emoticon hati di ujung pesan tersebut. Ia menghembuskan napas pelan, menetralisir desiran halus jantungnya yang mulai tidak terkendali.
Semangat juga Jay. –terkirim
Balas Kayana dengan emoticon lengan berotot di ujung pesan tersebut. Kayana menggulir layar ponselnya sesaat, naik dan turun kembali, memindai cepat pesan-pesan tersebut.
Kayana menyadari hubungannya dengan Jaden berkembang terlalu cepat, kedekatan mereka juga terlalu intens untuk ukuran yang baru bertemu kembali beberapa hari lalu. Karena itulah ia tidak ingin terlalu cepat memberi harapan. Ia ingin membiarkan hubungan mereka berjalan perlahan seperti pasangan pada umumnya.
Ya... benar, perlahan. Sebab ia menyadari bahwa lambat laun ia pasti akan luluh dan pada akhirnya mungkin mereka akan menjadi pasangan. Sehingga ia tidak mau hubungan mereka berjalan terlalu cepat dan melewatkan berbagai hal yang seharusnya mereka lewati selayaknya pasangan lain.
“Miss.”
Kayana terjengit, lalu menoleh ke arah Farrel. “Iya Mr. Farel? Kenapa?”
“Pulang sekolah boleh aku meminta waktu sebentar?”
“Hm?” kening Kayana mengerut. “Untuk?”
“Ada yang ingin kusampaikan.”
Kayana tersenyum. “Saya tidak bisa menjanjikannya Mr. Farrel. Lihat saja nanti ya.”
“Kalau begitu saya duluan Mr. Farrel, saya harus segera ke kelas.” Pamit Kayana kemudian beranjak pergi meninggalkan kantor.
Ketika baru saja ia keluar sebuah pesan ia dapatkan. Dari Maya.
Jangan mau. Jangan bertemu dengan Mr. Farrel.
Kayana menghembuskan napas perlahan. Lalu mengetik sesuatu di sana.
Aku pun tidak berniat menemuinya. Jadi Miss Maya tidak perlu khawatir. –terkirim
Setelah memastikan pesan terkirim Kayana kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan kelas. Selama ia bekerja di sini, sungguh tidak pernah satu kali pun ia ingin bermasalah dengan teman sejawatnya, masalah apapun itu. Terlebih masalah laki-laki.
***
Sepanjang meeting Jaden tidak berhenti tersenyum. Apalagi setelah bertukar kabar dengan Kayana. Andai orang-orang bisa melihat kebahagiaannya sampai menembus ke dalam hati, mereka pasti bisa melihat padang bunga bermekaran di dalamnya.
Bahagia. Tentu saja. Jaden sangat bahagia. Sejak bangun tidur sampai detik ini tidak ada sedikitpun cela pada kebahagiaannya. Dadanya bahkan terus berdesir hangat, buncahan kebahagiaan dalam hatinya bahkan terasa begitu penuh, terasa sesak yang menyenangkan.
Harinya benar-benar indah dan terasa lebih indah dengan keberadaan Kayana dalam hidupnya. Meskipun ia tahu tidak akan mudah untuk mendapatkan hati perempuan itu. Akan tetapi ia yakin perlahan, hati Kayana akan luluh. Ia hanya perlu bersabar, menunggu Kayana sampai mengakui perasaannya sendiri, dan selama ia menunggu ia pun akan terus berjuang, ia akan membuktikan diri kalau dirinya memang pantas, dan bukan lagi bocah SMA yang belum dewasa, yang masih bermain-main.
Pemandangan itu tidak luput dari mata Tyas yang terus mempehatikan rona wajah sang putra. Keningnya terkadang mengerut, tatapan matanya pun memicing, berusaha memindai yang terjadi pada putranya itu.
Ada apa dengan Jaden? Pikir Tyas. Hal bahagia apa yang membuat dia tersenyum begitu?
Ini aneh, sangat aneh. Tyas tahu putranya yang satu itu memang sangat ramah, murah senyum dan begitu baik pada semua karyawan, sehingga dia di segani karena kebaikan hatinya itu. Tapi kali ini ada yang aneh. Jaden dengan rona merah di wajahnya tentu menunjukkan beribu ekspresi kebahagiaan. Rona yang juga pertama kali ia lihat, rona dengan kebahagiaan penuh yang tidak bisa ditahan lagi.
Hari ini memang rapat kedua dengan perusahaan pusat, rapat pertengahan tahun untuk membahas progres program kerja tahunan, sehingga Tyas sebagai sekretaris pribadi suaminya tentu ikut rapat mendampingi sang suami yang juga menghadiri rapat tersebut.
Tyas menghembuskan napas kemudian menyikut suaminya.
“Pa lihat Jaden.”
Jatmiko mengerutkan kening setelah menatap putranya itu. “Kenapa?”
“Ada yang aneh.” Ujar Tyas. “Tidak biasanya dia tersenyum lebar begitu Pa. Kira-kira apa yang membuat Jaden bahagia Pa?”
Jatmiko tersenyum tipis seraya mengelus punggung tangan istrinya. “Ini sedang meeting, kita bicarakan ini nanti ya?”
Tyas menghembuskan napas kecewa, tidak puas dengan jawaban sang suami.
Beberapa menit berlalu, beberapa jam pun sudah terlewatkan, akhirnya meeting hari itu selesai. Tyas yang sudah sangat penasaran dengan putranya segera bangkit, hendak mendekati Jaden. Akan tetapi anak laki-lakinya itu lebih dulu mendekatinya, memberinya pelukan dan ciuman di pipi sebelum berujar pelan.
“Jaden tidak bisa berlama-lama di sini Ma, Pa. Ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa Jaden tinggalkan, dan satu jam dari sekarang pun Jaden ada meeting lagi.”
“Loh! Tidak ingin makan siang bersama dulu Jay?”
“Maaf Ma, seperti kataku. Ada beberapa pekerjaan penting.”
“Pekerjaan apa sih?!” rajuk Tyas dengan wajah merengut, tidak terima putranya pergi begitu saja.
Jaden terkekeh kecil seraya mengelus lengannya. “Mama tahu sendiri apa pekerjaan Jaden Ma, tidak perlu Jaden jelaskan ulangkan? Sudah ya Ma. Jaden pergi sekarang. Pak Heri sudah menunggu di bawah. Sampai berjumpa lagi Ma, Pa.”
Tyas dan Jatmiko akhirnya hanya mengangguk kecil lalu membiarkan Jaden pergi begitu saja. Tyas mendesah pelan, menatap kepergian anaknya dengan tatapan penuh tidak rela.
“Pasti ada sesuatu yang anak itu sembunyikan!” desis Tyas. “Kenapa sih? Padahal seharusnya jujur saja.” rajuk Tyas. “Aku yakin dia pasti ada sesuatu. Wajahnya seperti seseorang yang sedang jatuh cinta.”
Jatmiko terkekeh kecil. “Mungkin belum siap bercerita pada kita Ma.”
“Benarkan Pa? Dia pasti sedang jatuh cinta, atau ternyata dia sudah memiliki kekasih?”
Jatmiko menghembuskan napas. “Sudah Ma, jangan terlalu banyak memikirkan Jaden. Biarkan saja. Toh dia sudah dewasa, Jaden berhak memilih jalannya sendiri.”
“Jangan bilang Papa tahu sesuatu tentang Jaden?” tanya Tyas dengan tatapan menelisik. “Ayo bilang! Katakan pada Mama Pa. apa yang di sembunyikan Jaden? Siapa kekasih Jaden?”
Jatmiko menatap istrinya lamat. “Mama... berhenti ikut campur. Jaden pun memiliki privasi. Kita tidak harus selalu tahu.”
“Tuh kan! Papa pasti tahu sesuatu.” Tuding Tyas. “Kalau Papa tidak mau cerita, Mama akan mencaritahu semuanya sendiri.”
“Mama, kalau Mama terlalu ikut campur. Anak-anak tidak akan ada satu pun yang mau jujur pada Mama. Beri meraka privasi Ma. Jika sudah siap mereka pasti bicara. Terutama Jaden.” Jatmiko mengelus lengannya. “Ingat, Jaden sudah mengorbankan masa mudanya untuk kita. Biarkan dia bahagia dengan pilihannya.
“Tapi Pa.”
“Ma.”
Tyas menghembuskan napas. “Baiklah.”
Tapi aku harus tetap mencaritahu siapa orang yang Jaden cintai. Aku harus memastikan Jaden bersanding dengan perempuan yang pantas dengannya. Aku tidak mau mempermalukan keluargaku sendiri. batin Tyas.
“Ma, ayo. Jangan malah melamun.”
Tyas mengangguk kemudian beranjak mengikuti langkah suaminya.
***
Kayana baru saja keluar dari mathematic room tepat pukul enam sore. Hari ini memang jadwalnya mengisi kelas tambahan lagi sehingga ia pulang sedikit lebih terlambat daripada biasanya.
Maaf Jay, aku baru saja keluar dari kelas. Aku akan segera pulang. –terkirim
Kayana mengirimkan pesan balasan pada beberapa pesan yang ia terima dari Jaden hampir satu jam lalu. Lelaki itu mengatakan dia sudah pulang dan mengatakan sudah ada di rumahnya untuk makan malam bersama anak-anak.
Kayana tersenyum tipis saat melihat potret Jaden dengan anak-anak yang baru saja ia terima. Lagi dan lagi hatinya tanpa sadar bergetar, diiringi desiran halus penuh kehangatan. Kayana menghembuskan napas seraya menggeleng kecil. Seharusnya ia tidak begini, seharusnya ia bisa tetap tegas menolak lelaki itu. Tapi sayang, pesona ketulusan Jaden tidak bisa terbantahkan olehnya.
Di tengah lamunannya, ponsel Kayana berdering. Pertanda sebuah panggilan masuk dari Jaden.
“Hallo Jay.”
“Hai Kay. Aku temani ya selama di perjalanan pulang?”
Kayana tersenyum tipis. “Boleh, tapi tunggu ya aku harus membereskan barang-barangku dulu.” ujar Kayana begitu memasuki kantor.
“Miss Kayana.”
Kayana menghentikan langkah, ketika melihat Farrel masih duduk di meja kerjanya, Ia menghembuskan napas perlahan. Ia pikir setelah menghindari lelaki itu seharian penuh, dia tidak akan menunggunya begini. Tapi ternyata dugaannya salah.
“Saya pikir Mr. Farrel sudah pulang.”
“Saya sudah mengatakan ingin berbicara denganmu kan Miss?”
Tepat seperti dugaannya. Dia pasti akan membahas itu. “Oh. Itu. Ada apa ya? Saya tidak bisa lama-lama Mr. Farrel. Saya harus segera pulang.”
Bukannya menjawab, lelaki itu justru tampak kebingungan. Membuat Kayana menghembuskan napas lalu mengabaikan lelaki itu, kemudian segera merapihkan meja kerjanya juga isi tasnya.
“Miss Kayana bisa duduk dulu sebentar?”
“Tidak. Saya harus segera pulang.”
“Miss tunggu.” Farrel meraih pergelangan tangannya. “Kenapa kamu sekarang berubah? Tidak seakrab dulu.”
Kayana melepaskan genggaman tangan itu. “Tidak ada yang berubah Mr. Farrel. Mungkin itu hanya perasaanmu saja.”
“Tidak. kamu benar-benar berubah Miss. Kenapa?”
Kayana menatap Farrel. “Tidak ada yang berubah Mr. Farrel. Saya sudah jujur. Saya pun tidak pernah merasa dekat denganmu.”
“Kita dekat Miss, kita bahkan sering makan siang bersama. Tapi sekarang kamu berubah.”
“Karena aku sudah memiliki makan siangku sendiri di kantor. Kenapa aku harus makan siang di luar bersamamu?” Tanya Kayana, mulai jengkel. Ia memang menghindari Farrel, ia tidak memungkirinya. Tapi ia pun melakukan itu bukan tanpa alasan. Namun karena ia mulai tidak nyaman berdekatan dengan lelaki itu.
“Miss Kayana, aku menyukaimu.”
Kayana menatap Farrel dengan cepat. Membuat keduanya bertatapan lamat hingga beberapa detik.
“Terima kasih.” Ujar Kayana, tanpa menyadari seseorang di luar sana mengamati mereka, menatap tajam dengan tatapan menyalang marah, sebelum kemudian berlalu seraya mendesis penuh kekesalan, tanpa berniat mendengar penyelesaian percakapan itu.
“Kayana. Awas saja! Lihat saja nanti pembalasanku!”
Kayana menghembuskan napas perlahan.
“Tapi saya tidak menyukaimu sebagai laki-laki Mr. Farrel. Saya hanya menganggapmu sebagai rekan kerja.” Lanjut Kayana. “Saya harap anda mengerti dan tidak menuntut apapun dari saya lagi. Permisi.” Pamit Kayana sebelum benar-benar pergi dari ruangan tersebut.
“Kay! Kayana.”
Kayana terkesiap mendengar sebuah suara yang terdengar dari ponsel yang ia genggam. Ia lupa! Panggilannya dengan Jaden masih tersambung.
Oh! Kacau. Batin Kayana.