Part 11 : Perasaan Kayana

1785 Kata
  “Maaf Kak. Kania tidak bisa menerimanya.”   Sudah Jaden duga. Remaja perempuan itu tidak akan pernah memberinya kesempatan begitu saja. Apalagi ia sangat merasakan kepekaan yang ada pada diri Kania, juga sikap dewasa Kania yang tampak lebih dewasa dari usianya. Kania pasti akan lebih selektif daripada anak-anak lain.   “Tapi akhir semester ini akan ada pentas seni di sekolahku dan aku akan ada audisi untuk tampil solo stage Sabtu ini.”   Jaden tersenyum lebar. “Kalau begitu bagus, kamu bisa menggunakannya untuk audisi Kania. Nanti Kakak akan membelikan lagi kostum yang lebih indah dari ini untuk penampilan solo stage-nya.”   Kania tetap menggelengkan kepala. “Sebenarnya sekolah memiliki peralatan yang lengkap untuk semua siswanya kenakan Kak. Itulah kenapa aku mengembalikan hadiah dari Kak Jay. Akan bagus punya sendiri, tapi aku tidak masalah memakai fasilitas sekolah.”   Senyuman Jaden sirna, lelaki itu menghembuskan napas. “Apakah pemberian Kakak kurang bagus? Lebih bagus daripada yang ada di sekolah?”   “Bukan begitu.”   “Lalu?”   Kania menghembuskan napas, terlihat jengkel. “Baiklah begini saja. Lihat nanti. Kalau Kania mengenakan pakaian dari Kak Jay berarti Kania menerimanya, kalau tidak Kak Jay harus membawa pulang kembali pakaian itu.”   Jaden menyeringai dengan mata mengerling menggoda. “Bilang saja kalau Kak Jay harus datang untuk menyemangatimu.”   Kania mendesis. “Siapa bilang? Yasudah kalau tidak mau. Sana ambil saja lagi.”   Jaden terkekeh pelan. “Baik, baik. Jika itu memang maumu tidak masalah, Kania. Sekarang terima ya?”   Begitulah pertemuan Jaden dan Kania beberapa jam lalu. Kayana tidak menginterupsi apapun perdebatan antara Jaden dan Kania. Ia hanya menatap keduanya secara bergantian lalu menggelengkan kepalanya. Jaden dan Kania memang sama-sama keras kepala, sehingga perdebatan akan alot ketika salah satu di antara keduanya tidak ada yang mengalah.   “Kamu dan Kania benar-benar mirip, sama-sama keras kepala.”   Kayana melirik Jaden yang ada di layar ponselnya, lalu terkekeh kecil. Setelah itu kembali sibuk dengan pensil dan kertas di hadapannya. “Itu sih kamu saja yang tidak ahli membujuknya.”   Wajah Jaden merengut. “Begitu ya?”   Kayana mengedikkan bahu. “Tapi kalian juga sama-sama keras kepala. Lain kali coba pikirkan cara yang lebih kreatif.”   Jaden mengangguk. Setelah itu hening di antara keduanya. Jaden tampak sibuk membaca sesuatu, Kayana pun sibuk dengan bahan ajarnya.   “Hm. Kira-kira Kania akan memakainya tidak ya?”   “Pasti memakainya.”   “Seyakin itu?”   Kayana mengangguk. “Tadi aku melihat Kania sedang mencobanya Jay di kamar. Dia bahkan menari-nari sambil tersenyum lebar.”   Jaden tersenyum lebar. “Benarkah?”   Kayana mengangguk lagi. “Kamu benar-benar niat ya pengen night ride? Bahagia sekali kayaknya.”   “Tidak bukan itu.”   “Kalau begitu tidak usah night ride?” goda Kayana.   “Mana bisa begitu?! Kita night ride tapi tidak Sabtu malam. Sabtu malam nanti kita makan malam bersama dulu dengan anak-anak setelah audisi Kania. Jadi atau tidak jadinya solo stage Kania kita harus tetap mengapresiasi kerja keras Kania. Night ride kita pikirkan lagi lain kali.”   “Yakin? Nanti-nanti kita sibuk loh banyak pekerjaan.”   “Hm, yakin. Aku rasa akan lebih penting menjadi support system Kania daripada jalan-jalan berdua. Benarkan?”   Kayana tidak bisa lagi untuk menahan senyuman penuh kebahagiaannya. Ia benar-benar senang visi misinya untuk tetap mementingkan anak-anak tidak bertentangan dengan Jaden. Lelaki itu benar-benar idamannya, lelaki yang sebenarnya selama ini ia cari. Lelaki yang tidak hanya akan menerimanya, tapi seluruh keluarganya tanpa terkecuali.   Tapi tidak, ia tidak bisa menyerahkan perasaannya begitu saja pada Jaden. Ia tidak bisa begitu saja menerima Jaden. Pertama ia harus yakin, setidaknya ia pun harus mencintai Jaden. Terlebih keraguannya tentang rentang usia Jaden yang jauh lebih muda darinya. Apakah hubungan mereka akan berhasil? Sebab Kayana sadar ia sudah terlalu tua untuk Jaden. Akan ada kesenjangan dan ketimpangan dalam berbagai hal yang tentu saja harus mereka sejajarkan dan sepadankan terlebih dahulu.   “Kay, kok melamun?”   “Hm?” Kayana menatap Jaden lagi. “Tidak. Aku hanya sedang berpikir.”   “Berpikir? Apa yang kamu pikirkan? Aku?”   Kayana mendesis kecil. “Yang jelas bukan memikirkanmu Jay. Jangan terlalu percaya diri.”   Jaden tergelak puas mendengarnya.   “Hm Jay, desain rumahmu terlihat berbeda dari terakhir kali kita video call.” Ujar Kayana mengalihkan pembicaraan.   “Wow ternyata kamu perhatian juga.”   Kayana memutar bola mata. “Oh sepertinya aku salah bertanya begitu. Lupakan. Aku tidak perhatian.”   Jaden terkekeh kecil. “Aku sebenarnya tinggal di apartemen. Kemarin kebetulan saja aku sedang ada di rumah.”   “Aku tidak tanya.”   “Ya siapa tahu kamu ingin tahu?”   “Untuk apa aku ingin tahu?”   “Berkunjung? Melihat tempat tinggal masa depan kita misalnya.”   “Ugh sayang sekali, aku tidak pernah tertarik tinggal di apartemen. Aku ingin tetap tinggal di sebuah rumah.”   “Rumah seperti apa?”   Kayana menyeringai, “Jangan bilang kamu sedang cari tahu Jay? Tidak mempan. Aku tidak akan terjebak dan memberitahumu.”   “Yah... Ketahuan ya?”   Kayana tergelak, keduanya kini tertawa penuh kehangatan selayaknya pasangan yang sedang berbahagia, percakapan itu pun terus berlanjut sampai menjelang tengah malam. Saling menemani menyelesaikan pekerjaan.   ***   Sebelum fajar menyingsing, Kayana sudah terjaga seperti biasanya. Perempuan itu bergegas bangun, lalu ke kamar mandi sesaat, melakukan rutinitasnya sebelum keluar menuju dapur. Membantu Bunda Ani dan Gendis, memasak makanan untuk sarapan mereka bersama dan sedikit berbenah.   “Selamat pagi.” Kayana tersenyum lebar pada Bunda Ani dan Gendis yang sedang memotong sayuran.   “Pagi Kak.” Ujar Gendis. “Wah. Sepertinya hari ini akan mendung.”   “Hm?” kening Kayana mengerut. “Daripada kamu tahu hari ini akan mendung?”   “Mataharinya minder melihat senyuman lebar Kakak.” Goda Gendis kemudian tergelak.   Kayana mengulum senyumannya, malu. “Hiperbola.”   “Kenyataan, sana Kak Kay bercermin. Wajah Kak Kay terlihat sangat bahagia, pipinya di sini merona.” Gendis menunjuk pipinya sendiri.   “Sudah sudah, jangan saling menggoda begitu. Sana cuci berasnya Dis.” Lerai Bunda.   “Iya Bun.” Gendis pun beranjak dengan satu wadah beras di dalamnya.   “Hari ini memasak apa Bunda?” Tanya Kayana lalu mengambil tauge yang kemudian ia cuci.   “Tumis sawi tauge dan orak-arik telur. Kamu menginginkan sesuatu?”   “Ah tidak Bunda, yang ada saja.”   Bunda Ani yang sedang memotong sayuran menoleh menatap Kayana sesaat sebelum kembali memotong sawi. “Hm... Den Jaden, dia akan sarapan bersama lagi tidak?”   “Jaden?” kening Kayana mengerut.   Bunda Ani mengangguk kecil.   “Pagi ini Jaden ada meeting penting Bun, jadi dia tidak akan datang.” Kayana tersenyum seraya meniriskan tauge di tangannya. “Bunda... Bunda tidak perlu sungkan pada Jaden. Lagipula dia datang atas keinginannya sendiri, rasanya kita tidak perlu terlalu mengistimewakannya.”   “Apakah agar dia terbiasa dengan kesederhanaan?”   Kayana terkekeh kecil. “Tidak juga Bunda. Sebenarnya Jaden tidak terlalu mewah untuk ukuran konglomerat.”   “Atau... karena kalian memiliki sesuatu yang istimewa Nak?”   “Hah? Tidak Bun, tidak. Tidak ada yang istimewa di antara kami. Lagipula Jaden itu muridku dulu, rasanya tidak pantas kalau kami berhubungan seperti itu.”   “Siapa bilang tidak pantas Nak?”   Kayana tidak langsung menjawab. Ia justru menyibukkan diri mengiris bawang merah dan beberapa bumbu dasar lainnya. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu, sebab secara sadar asumsi itu hanyalah asumsinya yang tidak mendasar darinya sendiri.   “Nak, memang tidak ada yang namanya mantan Guru untuk muridnya. Namun kalian berhubungan selayaknya Guru dan murid itu dulu kan? Kondisi sekarang sangatlah berbeda. Kamu memang masih Guru, tapi Den Jaden bukan lagi anak SMA.”   Bunda Ani mengelus lengan Kayana sesaat. “Selain itu Bunda melihat bagaimana ketulusan Den Jaden terhadap hubungan kalian. Tidak hanya itu, Den Jaden bahkan sangat perhatian pada anak-anak. Termasuk pada Bunda.”   “Jika memang kalian ada hubungan dan berniat menjalin hubungan serius tidak apa-apa Nak, Bunda akan sangat mendukung kalian. Terlepas dari usia kalian, kalian terlihat sangat serasi satu sama lain.”   Kayana menghembuskan napas, lalu tersenyum pada Bunda Ani yang kembali fokus pada makanannya. “Jaden memang sering kali mengungkapkan maksudnya untuk menikah denganku Bunda, Jaden bahkan langsung melamarku di pertemuan pertama kami setelah sekian lama berpisah.”   “Tapi aku tidak bisa menyerahkan diriku begitu saja Bunda.” Kayana menghembuskan napas, lalu menatap Bunda Ani. “Jaden memang termasuk dalam daftar kriteria lelaki idaman yang Kayana harapkan. Namun sayangnya Kayana belum memiliki keyakinan untuk berhubungan hingga sejauh itu, Kayana pun belum ada perasaan apapun pada Jaden.”   “Untuk sampai ditahap yang lebih jauh, Kayana berpikir setidaknya Kayana harus mencintai Jaden Bunda.” Kayana menjeda ucapannya sesaat. “Benar kata Bunda, Jaden benar-benar lelaki yang tulus, Kayana pun mengaguminya. Tapi Kayana tidak ingin menerimanya tanpa perasaan apapun Bunda, Kayana tidak mau hanya memberinya harapan palsu atau hubungan yang kosong.”   “Tapi, kamu sudah memberikan peluang pada Den Jaden, Nak?”   Kayana mengangguk. “Tentu, Kayana sudah memberikan peluang yang lebar Bunda. Sekarang hanya perlu menunggu waktu sampai Kayana bisa mencintai Jaden.”   Bunda Ani tersenyum tipis ke arahnya, “Bunda turut bahagia untukmu Nak. Bunda hanya bisa mendo’akan yang terbaik untukmu.”   “Semoga kamu bahagia dengan pilihan apapun yang akan kamu putuskan, dan jika pada akhirnya kalian bahagia, Bunda berharap kalian bahagia bersama selamanya.”   “Terimakasih Bunda. Apapun itu, Kayana yakin itu yang terbaik untuk Kayana.”   ***   “Untuk sampai ditahap yang lebih jauh, Kayana berpikir setidaknya Kayana harus mencintai Jaden Bunda. Benar kata Bunda, Jaden benar-benar lelaki yang tulus, Kayana pun mengaguminya. Tapi Kayana tidak ingin menerimanya tanpa perasaan apapun Bunda, Kayana tidak mau hanya memberinya harapan palsu atau hubungan yang kosong.”   Jaden tidak kuasa untuk menahan senyumannya setelah mendengarkan rekaman suara yang dikirim oleh Gendis. Pagi-pagi sekali, ia mendapatkan beberapa pesan masuk dari Gendis, beberapa rekaman suara yang ternyata merupakan rekaman percakapan Kayana dengan Bunda Ani.   Jantung Jaden bergetar, dadanya berdesir halus disertai dengan perasaan hangat yang mulai menyelimuti hatinya.   Sungguh Jaden tidak menduga Kayana berpikir hingga sejauh itu, ia tidak menduga Kayana berpikir untuk mencintainya dan tidak ingin mengecewakannya. Ini sungguh, benar-benar sesuatu yang tidak terduga sama sekali.   Ting!   Jaden menoleh ke arah ponselnya lagi, menatap sebuah pesan dari Gendis.   Bagaimana Kak sudah didengarkan kan? Jadi apapun yang terjadi jangan menyerah ya Kak. Semangat! Oh ya! Jangan bertingkah aneh ya kak! Jangan sampai Kak Kay tahu aku diam-diam rekam itu.   Jaden terkekeh kecil kemudian mengetikkan pada papan ketik benda pipih itu.   Tenang saja. rahasia aman di tanganku. Terima kasih Gendis kamu sudah berani memberitahuku tentang ini, sekarang aku tahu apa yang harus kulakukan. –terkirim.   Jaden kemudian tersenyum kembali, diiringi dengan tekad dalam hati yang tertanam semakin dalam.   Kay, sampai kapanpun aku akan berjuang. Aku akan bersabar dan menunggu sampai hari itu. pikir Jaden tanpa perasaan khawatir.   Tanpa menyadari resiko dan rintangan yang akan mereka hadapi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN