Part 10 : Night Car

1817 Kata
  Lagu romantis mengiringi perjalanan Jaden dan Kayana membelah hiruk-pikuk ibu kota yang masih tampak begitu sibuk. Jaden bahkan sesekali bersenandung, jemari tangannya pun terkadang bergerak mengikuti irama lagu, mengetuk kecil stir atau hanya menggerakan kepalanya ringan.   Awalnya Kayana pikir mereka mungkin akan terjebak di tengah kemacetan ibu kota dan menghabiskan waktu mereka di tengah kemacetan itu. Tapi ternyata jalanan yang Jaden lalui cukup lengang, mereka hanya sesakali berhenti di lampu merah setelah itu jalan kembali.   “Sepertinya kamu sangat berpengalaman night car begini.”   Jaden tergelak mendengar ujaran Kayana. Ia kemudian menoleh sesaat sebelum kembali fokus ke arah jalanan. “Tidak perlu pengalaman untuk night car begini Kay. Cukup ikuti saja sampai mana kamu ingin berkendara. Sebab menurutku pada dasarnya night car hanya berkendara sampai bosan tanpa tujuan yang jelas.”   “Tapi kamu hebat bisa memilih jalanan yang cukup kosong begini. Padahal bisa saja kita terkena resiko macet.”   Jaden terkekeh kecil. “Kita hanya beruntung Kay, mungkin karena aku membawa dewi keberuntungan di sampingku?”   “Ew! Cheessy.” Sindir Kayana.   Jaden terkekeh perlan, tampak begitu bahagia padahal jelas sekali guratan rasa lelah di wajahnya. “Aku serius. Biasanya terkadang ada macet yang membuatku putar balik lalu pulang.”   “Oke, aku anggap itu pujian.” Ucap Kayana. “Aku simpulkan, kamu cukup sering night car?”   “Sesekali saat suntuk.” Jaden lalu meliriknya. “Tidak ingin tahu aku pergi dengan siapa?”   Kayana menatap Jaden, “Memang siapa? Pacarmu?”   Jaden menghembuskan napas. “Harus berapa kali aku bilang, aku tidak memiliki pacar Kay. Aku serius ingin menjalin hubungan denganmu.”   “Oh! Kalau begitu mantan? Yang waktu itu saat SMA.” Ujar Kayana berusaha mengalihkan pembicaraan mereka dari deep talk tentang menjalin hubungan.   “Masih saja membahasnya. Dia cuma masa lalu Kay. Lagipula dia sekarang sudah menikah. Tidak akan pernah ada hubungan lagi denganku.”   “Ya... itu berarti kalau dia belum menikah kamu akan berhubungan dengannya?”   “Bukan begitu Kay. Kamu tuh. Ah. Kamu tidak mengerti maksudku bagaimana?”   Kayana terkekeh, lucu dengan kejengkelan Jaden terhadap ucapannya. Tapi ia belum puas, masih ingin menggoda lelaki itu. “Memang kalau ada hubungan lagi kenapa Jay? Aku pun tidak akan mempermasalahkannya.”   Jaden mendengus. “Sudahlah.” Jaden mengalihkan pandangan dengan wajah muram.   “Ciee ngambek.”   “Aku tidak suka kalau kamu terus membahas itu. Aku tahu kamu dulu pasti kecewa kan aku terus menggodamu tapi ternyata aku memiliki pacar. Tapi sudahlah jangan membahasnya lagi.”   Kayana terkekeh mendengar rajukan itu. “Sensitif sekali kalau membahas mantan. Tapi kalau boleh jujur, saat itu aku tidak terlalu terkejut saat tahu kamu punya pacar Jay. Kamu itu populer, pastilah punya pacar. Tidak mungkin tidak punya.”   “Iya iya, aku tahu aku populer. Tapi sudah. Jangan membahasnya lagi. Kamu tidak akan tahu rasa tidak nyamannya membahas mantan dengan seseorang yang ingin kamu ajak serius. Lagipula itu hanya cinta monyet. Jadi sudahlah, itu hanya masa lalu.”   Kayana menggeleng kecil, gemas sendiri dengan tingkah Jaden. Menggoda lelaki itu memang cukup menghiburnya, daripada ia yang berada di bawah intimidasi dan merasa kesal.   Beberapa saat keheningan menyelimuti keduanya. Rasa ingin menggoda Jaden lagi begitu tinggi, namun ia sadar Jaden ingin jalan-jalan bersamanya untuk mencari hiburan. Bukan menambah kesal.   “Kay kalau kamu tahu, saat itu aku menyesal kenapa aku memiliki kekasih jika akan bertemu denganmu?”   Kayana menoleh, mengamati wajah Jaden yang kini berubah serius. “Memang kenapa?”   “Setelah bertemu denganmu aku sadar, kalau cinta pertamaku itu kamu. Rasanya beda Kay. Biasanya jika hanya suka biasa aku akan lupa begitu saja, aku bahkan sempat berpikir mungkin saat jauh aku bisa melupakanmu dan menemukan yang lain. Tapi nyatanya tidak Kay. Setiap ada yang mendekatiku secara tidak sadar selalu aku bandingkan denganmu dan pada akhirnya aku sadar kalau yang aku inginkan cuma kamu.”   Kayana terdiam dengan iris mata yang menatap lurus ke arah Jaden yang bercerita sambil mengemudi. Ia tertegun, cukup terkejut dengan pengakuan itu. Selama tujuh tahun mereka tidak bertemu ia bahkan hampir tidak pernah memikirkan Jaden—ah tidak, tidak benar-benar tidak memikirkan Jaden dua tahun belakangan ini, setelah bertemu Adrian yang memiliki peringai cukup mirip dengan Jaden dulu.   “Aku bahkan terkadang sengaja lewat di depan rumahmu Kay saat pulang berlibur, tapi belum berani bertemu karena aku pikir belum saatnya. Namun aku berharap setidaknya bisa melihatmu, tapi tidak sekalipun aku melihatmu Kay.”   “Aku jarang berada di luar rumah saat tidak ada kegiatan.”   “Oh....” Jaden mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan. “Pantas saja. Aku pikir kamu sering pergi.”   “Pergi?”   Jaden mengangguk. “Jalan-jalan bersama Guru Bahasa Inggris itu misalnya.” ujar Jaden lalu mendesis pelan. “Mengingat tingkahnya saja membuatku kesal.”   Kali ini Kayana yang terkekeh. “Tidak perlu diingat-ingat. Lagipula untuk apa kamu mengingat-ingatnya?”   “Dia menyebalkan Kay. Sok tahu, sok pahlawan. Menyebalkan sekali. Aku yakin dia seperti itu karena menyukaimu. Benarkan?”   Kayana tersenyum tipis. “Hmm kamu benar. Mr. Farrel memang menyukaiku.”   “Jangan menyebut namanya.” Sergah Jaden.   Kayana tergelak. Tertawa cukup lebar mendengar seruan tidak terima Jaden. “Jaden... Jaden, begitu saja percaya. Tidaklah Jay, kami hanya berteman.”   “Kamu yang menganggapnya teman, tapi dia pasti sedang berusaha mendekatimu Kay. Aku tahu sekali tingkah laki-laki yang sedang ingin pendekatan.”   Kayana tersenyum simpul, tangan kanannya terulur membelai kepala belakang Jaden. “Uhh... ada yang cemburu ya? Cup cup cup, jangan sedih. Untuk menghiburmu aku akan berkata jujur.” Ucap Kayana seraya menarik tangannya kembali.   “Hm?” Jaden menoleh ketika kendaraan mereka terjebak macet. “Apa itu?”   “Aku tidak sedang tertarik pada siapapun dan tidak sedang dekat dengan siapapun.”   “Oh... aku pikir kamu ternyata menyukaiku.”   Kayana tersenyum simpul. “Tidak semudah itu Jaden. Apalagi kamu muridku dan aku adalah gurumu. Tidak akan mudah bagiku menerimamu begitu saja. Ada kesenjangan yang harus kamu coba kikis sampai aku yakin.” Ucap Kayana.   “Kamu begitu baik, hatimu begitu tulus Jaden. Tidak akan ada perempuan yang tidak perpesona terhadapmu. Tapi seperti yang kukatakan, aku tidak bisa menjanjikanmu apa-apa, sekalipun aku sedang tidak bersama siapapun.”   Jaden mendesah, “Kenapa Kay?”   “Karena kondisi kita berbeda dengan kondisi orang lain Jay. Seperti kataku tadi, ada kesenjangan yang harus kamu kikis sampai aku benar-benar yakin.”   “Setidaknya beri aku peluang lebih lebar.” Pinta Jaden dengan mata yang menatapnya penuh permohonan.   “Aku memberikan kesempatan pada siapapun, sama besarnya Jaden. Termasuk padamu. Tapi aku sudah bilang. Kesenjangan kita terlalu lebar dan... banyak. Itu saja.”   Hening. Jaden tidak membalas ucapan Kayana lagi, ia mulai fokus menyetir kembali.   “Oh ya. Makasih sudah membelikan semua keperluan Gendis Jay. Aku lupa mengatakannya tadi pagi.”   Jaden mengangukkan kepala. “Tapi sebenarnya aku memiliki rencana lain yang lebih besar daripada hanya memberikan itu untuk Gendis.”   “Apa itu?”   “Aku melihat beberapa desain yang Gendis buat, aku rasa itu sudah sangat bagus. Saat kemarin dia mengatakan belum memiliki ide untuk tugas akhir. Semalam aku tiba-tiba berpikir untuk meminta Gendis membuat desain resort yang akan kubuat di Lembang. Bagaimana menurutmu?”   Kayana dan Jaden berpandangan sesaat. Kening Kayana bahkan bertautan, menatap Jaden heran.   “Bagaimana pun aku harus meminta ijinmu terlebih dulu kan? Aku tidak ingin bersikap sok tahu seperti kemarin dan membuatmu marah.”   Kayana terkekeh, “Kamu benar-benar pintar Jay, sangat cepat belajar.”   Jaden mendesis kecil. “Jadi bagaimana?”   “Sebaiknya tanyakan saja pada Gendis, tapi akan kamu apakan desain-nya nanti?”   “Akan kupertimbangkan dan aku berencana akan membuat rekomendasi untuk Gendis agar bisa masuk ke perusahaan arsitektur, jika memang hasilnya bisa sesuai ekspektasiku.”   Kayana kembali tersenyum tipis. “Yasudah.”   “Boleh?”   Kayana mengangguk.   “Aku akan aturkan jadwal. Nanti kita bersama ke Lembang ya untuk melihat lokasinya.”   “Kita?”   Jaden mengangguk. “Sekalian ajak anak-anak main. Di sana banyak tempat main kok. Ya? Mau ya?”   Kayana menggeleng-gelengkan kepalanya sesaat. “Terserah. Tapi pertama, jangan lupakan Kania dulu.”   “Bagaimana kalau kita cari perlengkapan balet Kania saja sekarang? Daripada berkendara tidak jelas begini.”   “Tidak perlu Kay.” Ujar Jaden. “Aku sudah membelikan peralatan balet lengkap untuk Kania tadi saat melakukan kunjungan ke perumahan di atas mall. Nanti ambil di belakang, lalu berikan pada Kania.”   “Jay, tapi aku sudah bilang aku yang akan membelikannya.”   Jaden menggeleng kecil. “Tidak masalah Kay, aku justru merasa bersalah jika tidak membelikannya untuk Kania, sementara anak-anak lain mendapatkan hadiah dariku.”   “Kalau begitu, berikan sendiri.”   “Tapi bagaimana jika Kania menolak?”   Kayana menarik ujung bibirnya. “Belajar membujuknya dong. Jangan pasrah begitu. Ayo kita pulang saja. Kania biasanya belum tidur.”   “Tapi Kay.”   “Kamu pasti bisa Jaden.”   Jaden menghembuskan napasnya.   “Kalau berhasil, Sabtu malam nanti kita jalan-jalan ya?” tanya Jaden. “Night ride?”   Kayana berpikir beberapa saat. “Ok. Night ride.”   Senyuman Jaden mengembang, padahal sebenarnya tanpa itu pun ia akan berusaha mendapatkan kesempatan untuk menghabiskan malam dengan berkendara menggunakan motor kesayangannya. Hanya saja tidak ada salahnya bukan mengambil kesempatan dalam kesempitan?   Meskipun sedikit ragu, tapi ia yakin ia bisa mendekati Kania.   ***   Begitu sampai di rumah, benar saja Kania masih berada di ruang tengah, sedang mengerjakan sesuatu dengan duduk di atas karpet. Jaden mulai berdegup kencang, ia begitu gugup saat melihat remaja perempuan itu. Ingatannya tentang Kania yang begitu keras pagi tadi membuat ia harus berpikir dua kali, memutar otak untuk mencari cara terbaik.   “Kak Kay!” seru Kania seraya tersenyum lebar.   “Kak! Hari ini aku ulangan dan... lihat. Nilai Matematikaku seratus!” seru Kania lagi seraya tersenyum dengan begitu lebar. “Padahal tadi aku kira tidak akan bisa mengerjakannya.”   “Wah, benarkah?” Kayana tersenyum lebar, lalu memeluk erat Kania. Mengelus kepala anak perempuan itu lalu mengecup puncak kepalanya. “Kamu memang pintar Kania, kamu sudah sangat hebat.”   Jaden tersenyum tipis, hatinya mendadak terasa hangat, melihat bagaimana lembutnya Kayana mengelus surai Kania, jantungnya benar-benar bergetar, sekujur tubuhnya meremang bahagia, mendadak terbayang beberapa tahun yang akan datang seandainya mereka memiliki anak yang akan begitu Kayana sayangi.   “Hei, Jay. Kenapa malah melamun? Mana katanya kamu punya hadiah.”   Mata Jaden mengerjap perlahan. “Ah itu.” Ia kemudian mendekat ke arah dua perempuan beda usia itu kemudian berjongkok.   “Ini. Ini hadiah untukmu.” Jaden mengulurkan paper bag di tangannya. “Tenang saja, Kak Kayana sudah memberi ijin pada Kakak untuk memberikan hadiah ini untukmu. Benarkan Kak Kay?”   Kayana mengangguk diiringi senyuman lembut. Jaden kembali menatap Kania yang masih saja hanya menatapnya dengan tatapan datar, lalu beralih menatap paper bag di tangannya dengan pandangan ragu. Remaja perempuan itu terlihat sangat menginginkan hadiah darinya tapi keraguan terlihat begitu berkuasa.   “Kania....”   Jaden menatap gugup pada Kania yang belum memberikan reaksi apapun. Apakah Kania akan menerima hadiah darinya? Atau ia harus berusaha lebih keras lagi agar anak itu menerimanya?    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN