“Oke pertemuan hari ini selesai. Terima kasih untuk hari ini, semoga ilmu yang kita dapat bermanfaat. Sampai jumpa besok.”
Kayana mengakhiri kelasnya seraya tersenyum kepada seluruh siswanya. Setelah mengambil modul dan buku administrasi di atas meja, ia kemudian beranjak pergi meninggalkan ruang kelas itu, diiringi oleh siswanya yang juga satu persatu mulai meninggalkan kelas.
“Miss Kayana.”
Kayana menoleh ke kanan, lalu tersenyum saat melihat Farrel yang menghampirinya. “Mr. Farrel, tumben ya hari ini kita baru bertemu.”
Farrel terkekeh kecil. “Kebetulan hari ini aku padat, jadi tidak sempat stay di kantor.”
“Ohh begitu. Pantas saja.”
“Oh ya, Miss ada yang ingin saya berikan.” Ujar Farrel kemudian mengeluarkan sebuah pamflet. “Ini, ditempatku mengajar les private ada lowongan pekerjaan. Kebetulan di sana akan mulai membuka les matematika jadi masih membutuhkan banyak tenaga pengajar. Barangkali Miss Kayana tertarik.”
Kayana mengambil kertas itu, memindainya beberapa saat. Jika saja ia belum memiliki jadwal private-nya sendiri, ia mungkin akan mengambilnya. Tapi ia sudah ada jadwal les private dengan Adrian dan kakaknya, dari surat yang dikirim Ibu Adrian kemarin ada kemungkinan ia mengajar tiga sampai empat kali perminggu. Jika berbicara gajipun, gaji yang ia terima sangat menjanjikan. Hampir 10 juta satu bulan, termasuk akomodasi dan jatah makan. Selain itu Ibu Adrian pun meminta ia harus mengajar secara eksklusif sampai Adrian selesai Ujian dan sampai Kakak Adrian selesai mengerjakan tugas akhir.
Tentu saja bayaran mahal sejalan dengan pekerjaannya bukan? Ia harus selalu on call, siap menerima panggilan dari Ibu Mentri itu jika sewaktu-waktu mereka membutuhkannya. Alias, waktunya di luar jam sekolah sudah mereka bayar penuh.
“Terima kasih sebelumnya Mr. Farrel tapi saya sudah lebih dulu menyanggupi menjadi tutor Adrian sampai Adrian lulus.”
“Adrian?”
Kayana mengangguk. “Adrian Bintang Farasi. Anak 12 MIPA 1. Ingat?”
“Oh! Anaknya pengusaha itu ya? Yang ibunya mentri?”
Kayana mengangguk lagi. “Jadi maaf ya, aku tidak bisa bergabung. Mungkin tahun depan? Setelah Adrian keluar. Akan aku pertimbangkan.”
Farrel terkekeh kecil. “Tidak perlu dipikirkan. Fokus saja pada anak itu. Kali aja nanti kamu tiba-tiba terjun jadi Mentri Pendidikan kan setelah dikenal lebih jauh?”
Kayana pun terkekeh kecil. “Tidak mungkin Mr. Farrel.”
“Yasudah kalau begitu aku tinggal ya Miss? Aku masih ada kelas tambahan. Hati-hati pulangnya.”
Kayana tersenyum tipis kemudian mengangguk kecil. Setelah itu kembali melangkah menuju kantor Guru. Saat ia sampai di kantor, tanpa diduga ada Maya yang duduk di meja kerjanya.
“Miss Maya, belum pulang?” Tanya Kayana basa-basi, seraya meraih tasnya, lalu merapihkan beberapa barang di atas meja tanpa menyingkirkan Maya.
“Aku menyukai Mr. Farrel.”
Kayana menghentikan gerakannya sesaat sebelum menatap Maya. “Wah! Benarkah? Aku berharap Mr. Farrel membalas perasaanmu Miss.”
“Karena itulah tolong Miss Kayana menjauh dari Mr. Farrel. Bagaimana saya akan mendekati Mr. Farrel kalau kalian tetap saja dekat?”
Kayana tersenyum dengan tenang. “Tenang saja, kami hanya teman Miss.”
“Tetap saja. Bagaimana kalau Mr. Farrel berpikir Miss Kayana menyukainya? Jadi tolong jauhi Mr. Farrel ya Miss? Cuma itu yang ingin saya sampaikan dan saya harap anda tidak hanya mempertimbangkannya, tapi memutuskannya dengan baik seperti keinginan saya.”
Sebelah alis Kayana naik, kemudian menatap punggung Maya yang mulai menjauh dari meja kerjanya. Sudah ia duga, Maya menyukai Farrel. Tapi ia tidak menduga perempuan yang lebih muda dua tahun darinya itu akan seberani ini padanya, terlebih entah mengapa ia merasa ada ancaman di ujung kalimat itu. Ia merasa, secara tersirat, perempuan itu seolah berkata. Jauhi Farrel jika tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi.
Kayana menghembuskan napas perlahan. Tidak, tidak mungkin Miss Maya seperti itu. Ini pasti cuma perasaanku saja.
Ting!
Kayana menunduk, membaca sebuah pesan masuk dari Jaden.
Sopirku sudah sampai di parkiran, dia yang akan mengantarmu pulang dan juga yang akan mengantarmu ke rumah muridmu. Maaf aku tidak bisa mengantarmu sendiri karena aku harus meeting mendadak. Nanti sepulang kantor, aku yang akan menjemputmu.
Semangat mengajarnya Kay. Jangan lupa makan dulu sebelum berangkat ya.
See you very soon
Kayana menghembuskan napas. “Sayang sekali, padahal aku berencana memasak untuk makan malam.” Ujarnya lalu mengedikkan bahu. Setelah itu menyeringai tipis. Sepertinya sesekali menggoda Jaden tidak masalah bukan?
Sayang sekali Jay, padahal tadinya aku akan memasak spesial untukmu. –terkirim
Tapi yasudah kalau memang kamu ada meeting mendadak. Kesempatan mencicipi masakanku hangus. –terkirim
Kay, jangan bercanada. Aku bisa saja kabur sebelum masuk ruang meeting nih.
Aku kabur ya?
Kayana terkekeh kecil membaca balasan Jaden.
Bercanda Jay. Sana meeting. –terkirim
Beri aku semangat dong.
Semangat Jaden. –terkirim
Sayangnya mana?
Kayana menggelengkan kepalanya perlahan. Ingin heran, tapi ini Jaden. Jaden, dengan semua godaannya tidak pernah berubah sama sekali.
Sayang anak, sayang anak. –terkirim.
Iya nanti kita buat, tapi sebelum sayang anak. Sayangi aku dulu ya?
Sudah. Aku sudah di ruang meeting.
See you soon my future.
I’ll miss you.
“Dasar lebay.” Ujar Kayana seraya terkekeh dengan kepala yang masih menggeleng kecil. Jaden memang tidak pernah gagal aalam menghiburnya.
Setelah itu ia memutuskan untuk tidak membalas pesan itu kembali, sebab mode di kantor milik Jaden hidup kembali. Ia pun kemudian beranjak meninggalkan kantor menuju parkiran.
Benar saja. Di sana ada mobil milik Jaden dengan seorang lelaki paruh baya asing berdiri di sampingnya.
“Ibu Kayana?”
Kayana tersenyum tipis. “Benar Pak saya sendiri.”
“Perkenalkan Saya Heri Bu, sopir dari kantor Pak Jaden.”
“Salam kenal Pak Heri.”
Lelaki paruh baya itu tersenyum. “Mari Bu masuk.” ujar sopir itu seraya membukakan bangku penumpang belakang.
Jaden sungguh tidak main-main saat berkata akan menjadikan pasangan masa depannya sebagai Ratu saat sekolah dulu. Buktinya sekarang, pada dirinya pun Jaden memperlakukannya hampir seperti Ratu.
***
“Aku tidak menduga penasihat perusahaan kita tidak setuju Papa pensiun muda.” ujar Jaden setelah mereka selesai meeting. Sepasang ayah dan anak itu kini sedang bersama di ruang kerja sang ayah—Jatmiko, yang berada di kantor pusat perusahaan utama keluarga mereka.
“Direksi mengatakan banyak kekhawatiran yang terjadi jika sampai Papa benar-benar pensiun muda, dan pertimbangan tentang karir Papa masih bisa gemilang juga jadi salah satu faktor yang Papa pertimbangkan. Selain itu Papa juga tidak akan sesibuk biasanya, masih tetap bisa menghabiskan banyak waktu dengan Mamamu.”
Jaden menghembuskan napas. “Baguslah Pa kalau begitu. Jaden cuma bisa ikuti saja apa yang Papa inginkan.”
Jatmiko terkekeh kecil. “Jangan begitu Jay, kamu pun harus memenuhi keinginanmu sendiri. Lakukanlah apapun yang kamu inginkan sesekali. Jangan hanya memikirkan Papa dan Mama saja. Kamu terlalu muda untuk memikirkan hal serumit ini.”
“Lagipula apa sih yang kamu kejar Jay? Keras kepala sekali ingin kuliah sambil bekerja, lalu sekarang mengambil tanggung jawab sebagai CEO dengan berani. Padahal Kakak kamu saja ambil jeda satu tahun sebelum terjun di perusahaan.” ujar Jatmiko.
“Senang-senang saja dulu. kamu masih muda.” Tambah Jatmiko.
Jaden terkekeh kecil, lalu mencondongkan tubuh, lebih mendekat pada ayahnya. “Pa, sebenarnya ada satu keinginan Jaden dan itu alasan mengapa Jaden sangat bekerja keras.” Ujar Jaden pelan, agar sang ibu yang sedang berbicara dengan sekretarisnya di luar ruangan tidak mendengar.
“Apa?”
“Jaden ingin nikah muda.”
Mata sang ayah berbinar. “Wah! Kamu serius Jay?”
Jaden menganggukkan kepala “Maksimal dua puluh lima tahun, Jaden ingin sudah memiliki istri.”
“Papa senang mendengarnya Jay. Pantas saja Mama kamu selalu bilang kamu dan Kakakmu sangat berbeda. Ternyata kamu bisa lebih berpikir dewasa daripada James.” Jatmiko tersenyum tipis seraya menepuk pundak sang putra. “Lakukan apapun yang kamu inginkan Jaden. Papa pasti akan mendukungmu.”
Jaden tersenyum lebar. “Terimakasih Pa, kalau begitu Jaden pulang duluan ya Pa?”
“Pulang ke rumahlah Jay, jangan ke apartemen terus.”
Jaden mengangguk kecil. “Nanti Pa, kalau senggang. Kalau begitu Jaden pamit Pa. Bye Ma.” Pamit Jaden seraya mengecup pipi sang ibu yang baru saja memasuki ruang kerja itu.
“Loh Jay, mau kemana? Bukannya kita mau makan malam bersama? Ada hal penting yang harus kita bicarakan loh Pa. Kenapa anaknya gak di cegah?”
Jatmiko terkekeh kecil lalu merangkul sang istri. “Biarkan saja Ma, lagipula pembicaraan kita tentang James kan?”
“Memang.”
“Jadi bagaimana? Sudah mendapatkan calon untuk James?”
“Mama ingin sekali menantu seperti sekretaris baru Papa itu.”
“Nadia?”
Tyas mengangguk. “Dia pasti bisa mengubah James jadi lebih baik. Sayang sekali Mama tidak suka latar belakangnya. Jadi aku sudah pilih calon lain.”
“Siapa?”
“Almira Intan Farasi.”
***
“Almira Intan Farasi.”
Kayana menjabat tangan perempuan muda dihadapannya itu seraya tersenyum. “Kayana Maharani Humaid. Cukup panggil saja Kayana atau Kay, Miss Almira.”
Perempuan cantik itu—Almira terkekeh kecil. Dia adalah Kakaknya Adrian yang selama ini hanya tinggal di apartemen, jadi sekalipun ini bukan kali pertamanya Kayana menjadi guru les Adrian, tapi ini memang pertemuan pertama mereka. “Panggil saja Almira, Miss. Senang bisa berkenalan dengan anda. Adik saya, Adrian sudah banyak berbicara dengan seberapa hebat anda saat mengajarnya.”
“Terimakasih Miss Almira, tapi saya tidak sehebat itu. kebetulan saja saya cocok saat mengajar Adrian.”
“Miss Kayana, sudah ku katakan panggil Almira saja. Anda terlalu merendah Miss, setelah saya melihatmu, saya yakin kamu benar-benar sehebat itu.”
“Baik, kalau begitu. Almira. Jangan seperti itu Almira, saya bisa besar kepala nanti.” Ujar Kayana di akhiri dengan senyuman. Setelah itu keduanya kembali duduk bersama dengan seorang perempuan paruh baya yang menunggunya bercengkrama.
Dia Ibu Hamidah, Ibu dari Almira dan Adrian. Salah satu mentri terbaik yang pernah Kayana kenal.
Setelah pulang ke rumah, Kayana tidak menghabiskan banyak waktu, ia hanya mandi, berganti pakaian, lalu makan setelah itu berangkat kembali dengan di antar Pak Heri menuju kediaman Ibu Hamidah. Begitu masuk ia sudah di sambut oleh Ibu Hamidah secara langsung, bersama dengan Adrian dan Almira, kedua anaknya. Setelah itu mereka kemudian membicarakan beberapa kontrak kerja yang harus mereka sepakati.
“Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kontrak sebelumnya Miss Kayana, hanya saja kali ini sedikit lebih beban karena Almira akan ikut bergabung. Cukup bantu Almira melihat dan mengolah hasil penelitiannya saja saja. Namun seperti yang kamu tahu, waktu Almira tidak akan seperti Adrian yang sudah tetap akan belajar setiap hari Selasa dan Kamis. Sewaktu-waktu mungkin Almira akan meminta bantuanmu. Bagaimana Miss Kayana? Apakah anda sudah mengerti?”
Kayana tersenyum, sebenarnya semua yang Ibu Hamidah katakan sudah tertera pada surat yang beliau kirim kemarin. Sehingga ia sudah memikirkannya dengan sangat matang. Setelah itu Kayana meninjau ulang isi kontrak tersebut sebelum kemudian membubuhkan tanda tangan di atas namanya.
Setelah itu mereka kembali bercengkrama, lebih banyak Kayana yang berbicara karena Kayana harus menjelaskan tentang beberapa silabus materi pelajaran yang akan ia sampaikan pada Adrian, beserta rekomendasi buku-buku terbaik untuk menunjang proses belajar siswanya itu. Almira pun berbicara tentang banyak hal dari mulai jenis penelitian yang akan dia laksanakan sampai alamat apartemen yang mungkin akan Kayana singgahi untuk membimbingnya.
Sampai tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam dan tepat di jam itu Jaden sudah mengirimnya pesan, memberi kabar bahwa lelaki itu sudah ada di gerbang, untuk menjemputnya.
“Bu ini sudah jam 8 malam. Saya mohon undur diri. Pertemuan pertama les untuk Adrian akan di mulai minggu depan.”
“Baik Miss.” Seru Adrian.
“Ibu lihat kamu tidak bawa mobil Miss, bagaimana kamu pulang?”
Kayana tersenyum simpul. “Oh itu, teman saya sudah menjemput di depan Miss.”
“Wah sekarang udah ada temannya toh.” Goda Ibu Hamidah seraya terkekeh kecil.
Kayana hanya tersenyum malu. “Bu, itu benar-benar teman saya kok. Kalau begitu saya pamit Bu. Sampai jumpa kembali.” Kayana membungkuk sesaat sebelum meninggalkan kediaman itu, lalu berjalan menuju gerbang. Menghampiri kendaraan Jaden.
Tok tok!
Pintu itu pun terbuka.
“Dih, masih pake pakaian tadi pagi. Belum sempat pulang?” Tanya Kayana saat melihat penampilan Jaden yang masih mengenakan kemeja berwarna hitam dengan sebuah jas tergeletak di bangku belakang.
Jaden terkekeh kecil, “Ciee perhatian. Tapi masih keliatan gantengkan?”
Kayana memutar bola mata, malas.
“Narsis.”
“Bukan narsis, tapi fakta.”
“Ya ya ya... terserah saja Jaden yang super tampan.”
Jaden kembali tergelak. “Setelah ini kamu masih sibuk?”
“Enggak juga, kenapa?”
“Quality time. Night car with me.”
Kayana Melirik Jaden yang menatapnya penuh antisipasi. Lalu menghembuskan napas pelan.
“Go.”
Sesekali menyanggupi kemauan lelaki itu tidak masalah bukan? Toh, ia pun memang sedang butuh ketenangan. Ya... benar. Sesekali.
Tanpa menyadari sesekali itu menjadi awal mula bagi sesekali selanjutnya yang akan menjadi suatu kebiasaan.