Part 8 : Kelembutan Hati Jaden

1913 Kata
Kayana tidak tahu hal gila apa yang sudah ia perbuat. Ia benar-benar di luar kendali. Padahal rasanya ia sudah dengan tegas pada dirinya sendiri tidak ingin berdekatan lagi dengan Jaden. Oa sudah bertekad akan membuat Jaden menjauh. Tapi mengapa ia justru membiarkan Jaden masuk ke dalam hidupnya? Mengapa ia bisa dengan mudah membiarkan lelaki itu mendekat?   “Lakukan semaumu Jay. Tapi aku... tidak bisa menjanjikan apapun.”   Ini gila! Tidak seharusnya ia mengatakan itu semalam. Kayana mendesah pelan seraya memandang wajahnya sendiri yang sedang ia olesi make up.   “Kayana, bodoh! Bisa-bisanya argh!” Kayana mengerang kecil. “Bisa tidak sih kamu tuh membuang rasa tidak enakkanmu itu? Tolak kalau gak mau! Tolak dengan tegas! Tapi kenapa kamu malah membiarkannya begitu?”   Kayana menarik napas panjang kemudian menghembuskan napasnya kembali, berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Inhale... exhale. Kayana melakukannya berulang kali sampai gemuruh dalam hatinya berkurang.   Kayana sadar, tidak seharusnya pagi-pagi begini ia menggerutu sebal. Tapi ingatan tentang jawabannya pada Jaden semalam pagi ini terasa sangat mengganggunya. Mendadak ia menyesal telah mengatakan itu semua dan ia semakin menyesal setelah pagi ini dibangunkan oleh panggilan dari Jaden.   Bulu kuduknya berdiri, tubuhnya benar-benar meremang saat mendengar suara dalam bangun tidur Jaden yang begitu deep dan sangat dalam, seperti laki-laki yang sudah dewasa—ya walau kenyataannya Jaden sebenarnya memang sudah dewasa.   “Morning Sunshine, bangun. Sudah masuk waktu subuh.”   Kayana kembali bergidik ketika suara itu kembali terngiang di telinganya. Tubuhnya seketika serasa di siram air dingin setelah mendengar suara itu, kantuknya bahkan hilang seketika. Sama seperti saat ini, tubuhnya tidak bisa berhenti bergidik jika mendengar suara itu.   Jaden benar-benar lain dari beberapa mantan kekasihnya dulu. Tidak hanya sekedar usia, tapi cara lelaki itu memberi perhatian dan mengejarnya pun benar-benar berbeda. Jika biasanya ia bersama dengan laki-laki yang lebih tua, yang mendekatinya dengan berbasa-basi terlebih dahulu sebelum pada akhirnya menginjak ke hubungan yang lebih serius. Tapi Jaden, lelaki yang lebih muda darinya itu mendekatinya dengan berani. Bahkan saking beraninya, dia sampai melamarnya di hari pertama mereka bertemu lagi. Gila? Memang. Ia pun berpikir kalau Jaden memang gila.   Setelah memastikan penampilannya rapih, Kayana pun bangkit dari tempat duduknya. Mengambil sebuah tas, blazer dan ponsel yang sudah tergeletak di atas ranjang sebelum keluar dari kamar itu. Namun alangkah terkejutnya Kayana saat mendapati Bunda Ani yang sedang berdiri tepat di depan pintu kamarnya. Tampak gusar dan menatapnya penuh rasa bersalah.   “Nak... maafkan Bunda ya.”   “Ada apa Bunda?”   “Itu... Den Jaden datang lagi. Bunda tidak bisa mengusirnya, di tambah anak-anak menyambutnya dengan sangat baik begitu mobilnya terlihat memasuki halaman.”   Kayana menghembuskan napas perlahan kemudian tersenyum seraya mengelus lengan Bunda Ani. “Tidak apa-apa Bunda. Biarkan saja.”   “Kamu sudah berbaikan dengan Den Jaden, Kay?”   Kayana mengangguk kecil. “Sebenarnya kami tidak terlibat suatu masalah Bunda, hanya ada sesuatu saja. Tapi sekarang tidak apa-apa. Kami sudah menyelesaikannya dengan baik.”   Senyuman Bunda Ani pun merekah, lalu mengelus lengan kaannya dengan mata berbinar bahagia. “Bunda senang mendengarnya kalau kalian sudah berbaikan Nak. Den Jaden laki-laki baik, Bunda jadi tidak tega mengusirnya jika datang.”   “Yasudah, ayo kita sarapan bersama Bunda.”   Begitu memasuki ruang makan, Jaden sudah menyambutnya dengan senyuman lebar hingga dimples di kedua pipi lelaki itu muncul begitu dalam. Kayana tersenyum tipis. Andai kondisi mereka bukan di awali dari Guru dan Siswa, ia mungkin akan lebih mudah terpesona pada Jaden. Terlebih senyuman Jaden ia akui begitu tampan dan menawan. Tapi ketika mengingat status mereka dulu, ada jarak yang membuat Kayana ragu. Ada sekat yang sulit untuk Kayana langkahi. Sehingga daripada pasrah dan menyerah, Kayana tetap lebih ingin berusaha menjauh.   Pagi itu di meja makan terasa lebih tenang daripada sebelumnya. Mereka masing-masing menghabiskan makanan dalam diam, lalu setelah selesai Kayana membersihkan piring bekas makan seperti biasanya. Setelah itu Kayana pamit pada Bunda Ani yang sedang merapihkan meja makan lalu keluar, ke arah Jaden yang sedang bersama Kania.   Langkah Kayana terhenti ketika anak perempuan dengan seragam biru putih itu mengulurkan sebuah kotak pada Jaden, sementara anak-anak lain sudah berada di dalam mobil.   “Kenapa kamu mengembalikannya Kania? Bukankah Bunda bilang kamu sangat ingin berlatih balet di sekolah?”   Kayana mengamati Karin yang tampak mengepalkan tangan dengan kepala tertunduk, terlihat sedang menahan diri. Sampai beberapa saat kemudian Kania mendongak menatap Jaden. “Terimakasih hadiahnya Kak. Tapi maaf, Kania tidak bisa menerimanya. Kania tidak bisa menerima hadiah dari siapapun kecuali Kak Kay. Sekali lagi maafkan Kania Kak.”   “Kania, tapi Kak Kay tidak marah Kania menerima hadiah ini. Ambil ya?” bujuk Jaden pada anak remaja itu.   “Kak Kay memang tidak marah Kak, Kak Kay tidak akan pernah marah pada kita semua. Tapi Kania bisa melihat kekecewaan, kemarahan dan kesedihan Kak Kay saat kita semua menerima hadiah dari Kak Jay.”   “Kak Kay marahnya pada Kakak, bukan pada kalian.”   “Maafkan Kania Kak. Jangan memaksa. Kania tidak mau. Kalau Kak Jay memaksa, aku tidak akan mau Kak Jay antarkan ke sekolah.”   Jaden menghembuskan napas pelan lalu tersenyum, dengan tangan kanan mengelus kepala Kania. “Baiklah, Kakak mengerti. Kakak tidak akan memaksa. Tapi kalau ada yang kamu butuhkan tolong beritahu Kakak ya? Jangan sungkan.”   “Tidak, lebih baik Kania tidak mendapatkan apapun. Sekali lagi terimakasih atas kebaikannya Kak.” Ujar Kania sebelum memasuki mobil milik Jaden.   Kayana terdiam beberapa saat, memperhatikan ekspresi wajah Jaden yang kini berubah, menjadi muram. Tidak ada senyuman lebar yang begitu cerah seperti sebelumnya, senyuman yang lelaki itu berikan kali ini tampak teduh, menyimpan kekecewaan.   Kayana berjalan ke arah Jaden, memberikan senyuman tipis kemudian membelai samping kepala Jaden sesaat sebelum mengintruksikan Jaden untuk membuka pintu. Kayana tahu, ia bisa merasakan kekecewaan Jaden. Ia yakin Jaden pasti kecewa Kania mengembalikan hadiah pemberiannya, tapi biarkan ia tidak akan membela siapapun. Entah itu Jaden atau pun Kania. Sebab itu sudah keputusan Jaden memberikan hadiah untuk Kania dan sudah keputusan Kania mengembalikan hadiahnya. Akan tetapi ada satu hal yang membuat Kayana terenyuh dan merasa tersentuh. Ketulusan hati Jaden yang terpancar dari sorot mata penuh kekecewaan itu. Pikirannya tentang Jaden mendekati anak-anak hanya untuk mendekatinya seketika menghilang setelah melihat ketulusan itu. Jaden benar-benar tulus melakukannya, Jaden tidak hanya sedang mencari simpati seperti yang selalu orang-orang lakukan terhadapnya dulu.     Pagi itu Kayana terpaksa menyentujui ajakan Jaden berangkat ke sekolah bersama, sebab kendaraanya masih berada di bengkel. Orang-orang bengkel semalam mengatakan, sebaiknya si kuning kunyit mendapatkan perawatan lain sebelum terjadi masalah pada mesinnya. Ia pun setuju, daripada ia harus kehilangan mobil kesayangannya itu bukan?   “Semangat ya sekolahnya.” Ujar Jaden yang membuat Kayana terkekeh kecil. Tapi kekehan kecilnya hilang ketika Jaden berhadapan dengan Kania yang hanya mencium tangan dengan canggung sebelum kemudian beranjak memasuki gerbang yang sama, sebab memang Kayana sengaja memasukkan mereka di lingkup sekolah yang mencakup 2 jenjang. SD dan SMP.   “Harus sabar kalau menghadapi ABG begitu. Mereka memang lebih perasa, dan lagi sejak dulu Kania memang sangat peka.” Ujar Kayana lalu menghembuskan napas. “Aku mungkin terlalu keras mendidik mereka sampai mereka takut padaku begitu.”   “No, bukan begitu Kay.” Bantah Jaden. “Mereka bukan takut, mereka hanya berusaha menghargaimu.”   “Begitukah?”   Jaden mengangguk kecil. “Mereka sangat menyayangimu, tentu saja mereka akan sangat menghargaimu juga Kay.”   “Sudah. Yuk, masuk. kita berangkat.” Ucap Jaden seraya membukakan pintu untuk Kayana.   Kayana tersenyum simpul, setidaknya dengan ia mengatakan hal itu Jaden tidak terlihat semurung sebelumnya. Itu cukup baik.   “Tapi Kay, jujur saja. Aku ingin memberikan hadiah ini. Aku dengar Kania memang sangat ingin berlatih balet. Aku hanya tidak ingin keinginannya tidak terpenuhi hanya karena tidak bisa membeli peralatannya. Seperti sepatu. Keinginan anak-anak seusia mereka harus dipenuhi, agar di masa depan mereka tahu dan bisa memutuskan, apa yang harus mereka lakukan dan apa yang ingin mereka lakukan.”   “Biar aku pikirkan caranya untuk memberikan hadiah darimu ini. Kalau aku hanya memberikannya saja, Kania akan merasa buruk. Aku mengerti Kania, dia sedikit mirip denganku yang memiliki rasa tidak enakkan. Jadi mungkin nanti aku akan membelikan Kania peralatan balet lainnya untuk melengkapi hadiah darimu.” Kayana menarik ujung bibir saat melihat mata Jaden berbinar.   Jaden... dibalik semua tingkah menjengkelkan yang lelaki itu miliki. Dia benar-benar pemulik hati yang lembut, juga penuh ketulusan. Sangat beruntung, siapapun perempuan yang nanti akan menjadi pendamping hidup Jaden. Sebab Jaden pasti akan menjadi pasangan dan ayah yang sempurna.   ***   “Kabari aku kalau jam kerjamu sudah selesai ya?”   “Tidak, aku akan menggunakan taksi online.”   Mendadak semua pintu mobil itu terkunci kembali. Kayana menoleh ke arah Jaden yang menatapnya dengan mata memicing, “Hubungi aku atau aku akan membawamu kabur.” Ancam lelaki itu.   Kayana menghembuskan napas. “Tapi setelah pulang sekolah aku ada jadwal lain Jaden, aku harus memberikan les private.”   “Aku antar dan jemput lagi.”   “Ta—.”   “Ya atau ya?”   Kayana menatap Jaden datar, tapi lelaki itu tak gentar. Dia justru menatapnya semakin dalam. “Terserahmulah, cepat buka lagi kuncinya. Aku akan terlambat kalau terus ngobrol.”   “Semangat kerjanya Kay.” Ujar Jaden begitu ia keluar dari kendaraan itu.   Kayana pun tidak langsung beranjak, ia menunduk, menatap Jaden dari jendela yang terbuka. “Kamu juga. Bekerjalah yang banyak supaya kamu lupa harus menjemputku ya? Bye.” Ujar Kayana.   Jaden terkekeh kecil mendengarnya lalu melambaikan tangan, setelah itu mulai pergi meninggalkan pelataran parkir sekolah.   “Wow, tumben Miss Kayana tidak berangkat dengan si kuning.”   Kayana berbalik kemudian tersenyum tipis begitu melihat Maya di belakangnya. “Oh Miss Maya. Tidak Miss. Si Kuning sedang ada masalah.”   “Lalu siapa itu? Apa dia pacarmu?”   “Hah? Pacar? Yang tadi?”   Maya mengangguk kecil. “Iya yang tadi itu. Pacarmu ya? Kalian sangat cocok.”   Kayana semakin terkekeh kecil. “Kami cocok? Ada-ada saja Miss Maya ini, yang cocok itu Miss Maya dengan Mr. Farrel. Baru cocok. Kalau aku dan dia? Aduh. Tidak. Terimakasih. Kami ribut setiap hari.”   Senyuman Maya mengembang mendengar kalimat itu, perempuan itu bahkan merangkul lengannya. Kayana sangat tahu, Maya pasti senang saat ia bilang serasi dengan Farrel. Sebenarnya ia sudah tahu cukup lama kalau Maya menaruh rasa pada Farrel, tapi dulu ia enggan berkomentar karena ia pikir itu bukan urusannya. Namun sekarang, sepertinya ia harus mulai terbuka. Ia tidak mau hubungannya dengan sesama Guru memburuk hanya karena urusan laki-laki. Jika bisa ia ingin menjodohkan keduanya saja. agar ia bisa hidup dengan nyaman di sini, dan tidak ada kecanggungan lagi seperti kemarin.   “Tapi biasanya yang sering ribut itu cintanya dimulai dari sana loh Miss. Nanti tanpa sadar sayang dan cinta. Tanpa sadar juga takut kehilangan. Percaya deh.”   Kayana terkekeh kecil seraya menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin Miss. Aku dan dia tidak mungkin bersama.”   Maya tiba-tiba menghentikan langkah tepat di depannya dengan kedua tangan berkacak pinggang. “Jangan pesimis dulu Miss. Pasti bisa, kalian pasti bisa bersama. Tapi ya... kalau Miss Kayana tetap mau denial sih ya terserah. Aku tinggal menunggu Miss mengakui jatuh cinta padanya, dan takut kehilangannya.”   Kayana tersenyum simpul. Mencintai Jaden dan takut kehilangan lelaki itu? Apakah mungkin akan terjadi padanya? Rasanya begitu jauh, ia belum terpikir akan berhubungan dengan Jaden hingga sejauh itu.   “Miss Kayana. Janji padaku kalau itu terjadi beritahu aku ya?”   Sebelah alis Kayana naik. “Untuk?”   “Menyadarkanmu dan memberimu semangat untuk memperjuangkan cinta kalian.”   Kayana kembali terkekeh kecil. “Tidak mungkin sih, tapi terimakasih Miss Maya.”   Ya... memang tidak mungkinkan? Tidak mungkin ia akan mencintai dan takut kehilangan lelaki itu. Tidak akan pernah.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN