Part 7 : Kasih Sayang

2136 Kata
  Kesialan macam apa lagi ini?   Setelah hari ini terasa buruk karena Jaden dan cuaca yang terasa begitu panas. Kenapa mobil kuning kunyit itu kini menambah beban harinya? Kenapa kendaraan itu benar-benar membuatnya pusing dua hari ini? Kemarin kempes karena ada paku. Sekarang? Kempes lagi! Kayana mengurut keningnya, lalu mengedarkan pandangannya, menyisir setiap penjuru parkiran yang sudah lengang. Hanya ada lima kendaraan, termasuk kendaraan miliknya yang tidak bisa digunakan. Ya... hanya ada lima dan lebih buruknya lagi langit sudah menggelap. Waktu hampir menunjukan pukul tujuh malam, tapi saat itu Kayana baru keluar dari mathematic room—ruangan tempat anak-anak mendapatkan kelas tambahan Matematika. Ya... setiap satu kali dalam satu minggu ia memang mendapatkan tugas membimbing kelas tambahan tersebut, salah satu program unggulan yang ada di sekolah ini. Tidak hanya pelajaran matematika saja, pelajaran lain seperti kelas sains, kelas bahasa dan kelas mata pelajaran lain pun ada. Sehingga tidak heran ketika di jam ini ia baru saja hendak pulang. Namun begitu Kayana sampai di depan kendaraannya, ia harus menelan pil pahit tidak bisa langsung pulang karena ban si kuning kunyit kembali kempes seperti kemarin. Kayana segera meraih ponsel, ia kembali menghubungi bengkel langganannya.   “Hallo selamat malam ada yang bisa kami bantu?”   “Pak ini Kayana, bisa kirimkan satu pegawai Bapak datang ke sekolah tidak? Mobil saya tiba-tiba kempes lagi.”   “Aduh, bagaimana ya Miss. Bukan saya menolak tapi semua montir online kami sedang keluar, hanya tersisa beberapa montir yang sedang mengerjakan pekerjaan di sini.”   Kayana membasahi bibirnya, dengan tangan lain menyisir rambut terurainya ke belakang. Mulai gusar. “Oh begitu ya? Kira-kira berapa lama sampai montir-montir itu kembali Pak?”   “Saya tidak bisa memastikannya Bu.”   “Baik Pak, tidak apa-apa.”   “Sekali lagi maafkan saya Bu.”   “Tidak masalah Pak, terimakasih banyak.”   Kayana menyisir rambutnya lagi. Jujur saja ia sedikit takut saat satu persatu kendaraan yang tersisa mulai pergi. Sekalipun area sekolah terjamin segala keamanannya, tapi tetap saja bulu kuduknya selalu berdiri ketika membayangkan banyak hal.   “Miss Kay.”   Kayana mendongak ketika seorang siswa mendekat. “Oh Adrian. Masih di sekolah?”   Adrian mengangguk kecil. “Aku baru saja selesai kelas tambahan Fisika Miss.”   “Kebetulan bertemu Miss di sini, ada yang ingin saya berikan pada Miss Kayana.” Ujar Adrian seraya meraih sesuatu dari dalam tasnya. “Seharusnya saya memberikan ini tadi siang, tapi hari ini kelas saya full. Tidak bisa menemui Miss Kayana secara langsung.”   “Apa ini?”   “Ini surat dari Ibuku, permintaan secara resmi untuk menjadi tutor pribadi.” Ujar anak laki-laki itu seraya mengulurkan sebuah amplop berwarna coklat.   Kayana tersenyum simpul. “Adrian, kamu ini ada-ada saja sampai membawa surat resmi begini. Padahal kamu hanya cukup memberi jadwalmu saja, kapan ingin melakukan tutor? Lagipula ini bukan pertama kalinya bukan?”   “Kali ini berbeda Miss, Miss juga di minta Mama untuk membantu proses pengerjaan tugas akhir Kakakku. Ya... seperti membimbing katanya.”   Kening Kayana bertautan. “Loh Ibu Mentri mengatakan Kakakmu sangat pintar.”   “Justru itu, karena dia terlalu pintar dia sok-sokan double degree dan semester ini harus membuat tugas akhir di kedua jurusannya.” Ucap sarkas Adrian.   “Den Adrian, mari den.”   “Maaf Miss saya tidak bisa berlama-lama karena setelah ini masih harus les. Oh ya, di dalam surat itu sudah lengkap dengan rincian bayaran yang akan anda terima Miss. Mama bilang, jika menurut anda kurang, anda bisa bernegosiasi kembali dengan Mama di pertemuan pertama kita belajar. Sampai jumpa Miss Kayana yang selalu cantik. Sampai besok.”   Kayana mengangguk. “Sampai jumpa kembali Adrian.”   Kayana menggelengkan kepala pelan. Sudah tidak asing lagi Kayana mendapatkan perlakuan seperti itu dari siswanya, setiap tahun, setiap angkatan pasti saja minimal ada satu siswa yang seperti itu. Namun Adrian, muridnya yang satu itu, benar-benar mirip dengan Jaden saat masih SMA dulu. Bermulut manis dan terlalu sering menggodanya.   “Sampai besok Miss Kayana cantik, aku pulang dulu.” Jaden tersenyum jenaka.   “Jangan rindu ya.”   Kayana mengerjapkan mata lalu menggelengkan kepala. Setelah itu ia menghembuskan napas. Bisa-bisanya kamu kepikiran Jaden Kayana? Tidak tidak. Jangan samakan Adrian dengan Jaden. Karena mereka sangat berbeda dan sebenarnya Jaden adalah siswa terajaib yang pernah ia temukan.   Kayana kembali melihat mobilnya. Lalu meringis. Bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan? Pasalnya hari ini tidak ada ban serep. Ban yang terkena paku kemarin belum sempat di betulkan. Andai ada Jaden.   Mata Kayana mengerjap. Oh! Sial! Bagaimana bisa kamu berpikir tentang lelaki itu Kayana? Tidak, tidak. kamu pasti bisa mengatasinya sendiri.   Bertepatan dengan itu sorot terang dari sebuah lampu kendaraan yang memasuki parkiran menerangi Kayana, membuat Kayana memicingkan matanya berusaha menetralkan cahaya yang menusuk matanya.   “Kay.”   Mata Kayana membesar. JADEN?!   ***   “Setelah selesai mendapatkan perawatan saya akan antarakan segera ke alamat anda Bu, jadi anda tidak perlu repot-repot membawanya ke bengkel.”   “Baik Pak. Terimakasih.” Ujar Kayana.   “Kalau begitu mari Bu, Pak. Saya pamit.”   Kayana tersenyum pada montir itu. Setelah memastikan kendaraannya dibawa pergi dengan aman menggunakan derek, ia menoleh ke arah Jaden yang belum mengatakan apapun lagi kepadanya, lelaki itu hanya diam dengan wajah datar. Bahkan setelah melihat keadaan ban mobilnya yang bocor Jaden tidak mengatakan apapun, lelaki itu segera meraih ponsel lalu menghubungi bengkel yang tampaknya sudah menjadi langganan lelaki itu. Kayana pun tidak protes lagi, karena kali ini ia memang sedang membutuhkan bantuan seseorang.   “Ayo pulang. Biar aku antar.”   Kayana membasahi bibirnya sesaat. “Biar aku pesan taksi online saja.”   “Tidak bisakah kali ini kamu lebih nurut padaku Kay?”   Kening Kayana mengerut saat mendengar nada suara Jaden yang mulai meninggi. “Kenapa kamu marah?”   Jaden mendengus, lelaki itu menarik rambutnya ke belakang lalu berkacak pinggang tepat di hadapannya. “Tidak bisakah kamu menghubungiku jika memang sedang kesulitan seperti tadi? Sekalipun aku tidak bisa membantumu seperti lelaki itu. Tapi setidaknya aku memiliki akal untuk berpikir, aku memiliki cara lain untuk membantumu.”   Kening Kayana semakin tertaut. “Kamu ini ngomong apa Jaden?”   “Aku khawatir padamu Kayana. Tidak bisakah kamu mengerti?!”   Mata Kayana mengerjap mendengar bentakan Jaden, terkejut dengan nada bicara Jaden yang tiba-tiba meninggi, ditambah wajah Jaden yang memerah. Lelaki itu tampak marah. Tidak, bukan hanya marah. Tapi murka.   “Lalu sekarang kamu masih bisa menolak bantuanku untuk mengantarmu? Kay! Tidakkah kau berpikir, bagaimana jika ada yang berbuat jahat padamu? Ini sudah malam, dan kau seorang gadis.”   Mata Kayana kembali mengerjap, masih sangat terkejut mendengar rentetan kalimat yang keluar dari mulut Jaden. Selama beberapa tahun belakangan ini ia tidak pernah dimarahi seperti ini lagi. Terlebih ia pun hampir tidak pernah melakukannya.     “Jawab. Jangan hanya diam.”   Kayana menghembuskan napasnya perlahan. Tanpa sadar tangan kanannya terangkat, membelai kepala Jaden. Menepuk-nepuk kepala itu tiga kali sebelum membelainya perlahan.   Kali ini Jaden yang termenung. Matanya mengerjap perlahan, seiring dengan panas dalam dadanya yang mulai mereda. Napas Jaden yang memburu mulai teratur, emosinya yang hampir sepenuhnya meledak, kini menguap begitu saja. Jaden semakin termenung, ketika desiran halus nan hangat perlahan merangsek masuk, memenuhi seluruh ruang dalam hatinya. Perasaan nyaman, perasaan aman, dan hangat, rasa di pedulikan dan di sayang, perlahan benar-benar masuk memenuhi bagian kosong yang selama ini tidak pernah tersentuh. Semakin masuk ke dalam relung jiwa terdalamnya. Iris matanya terpaku, menatap wajah Kayana yang begitu dekat, dengan tangan kanan yang masih mengelus kepalanya. Sampai iris mata mereka kemudian bertemu, elusan Kayana di kepala Jaden terhenti menyisakan keheningan. Beberapa detik berlalu sampai kemudian Kayana yang memutus tatapan mereka seraya mundur, kemudian menatap Jaden lagi.   “Maaf aku tidak sengaja. Itu hanya refleks seperti saat aku melihat anak-anak tantrum di rumah.” ujar Kayana. "Kalau begitu, ayo pulang. Kali ini aku akan mengijinkanmu mengantarku.”   Jaden segera beranjak, membuka pintu mobilnya untuk Kayana. Setelah memastikan Kayana masuk ia kemudian memutari mobil, mengambil bagian di balik kemudi.   Saat kendaraan itu keluar dari area gerbang sekolah baik Jaden maupun Kayana belum ada yang membuka suara, membuat suasana dalam kendaraan itu berubah menjadi sedikit canggung, sampai setelah beberapa saat Jaden mulai membuka suara lagi.   “Kay.”   “Hm?”   “Lakukan lagi.”   Kening Kayana mengerut. “Apa?”   “Tap tap kepalaku.”   “Hah?” Kayana membulatkan mata.   Jaden menarik tangan kanan Kayana, meletakkan tangan itu pada puncak kepalanya. Menuntun Kayana menepuk-nepuk dan membelai kepalanya beberapa saat.   Kayana termenung. Masih terkejut dengan tindakan Jaden yang tiba-tiba. “Jaden.”   “Aku tidak pernah diperlakukan seperti itu Kay dan aku merasa nyaman saat kamu melakukan itu. Aku seperti merasa bahwa ini yang aku cari, ini adalah yang aku inginkan untuk mengisi kekosongan dalam hatiku.”   Jaden. Ujar Kayana dalam hati. Dadanya terenyuh melihat bagaimana binar mata Jaden saat mengatakan hal itu. Ada perasaan sedih, terasa begitu pedih di setiap kalimat yang lelaki itu katakan.   Jaden, apakah kamu kekurangan kasih sayang? Kenapa sampai memintaku melakukan ini padamu? Tanya Kayana dalam hati. Tapi yang keluar dari mulutnya berbeda,   “Kamu modus ya?”   Jaden terkekeh kecil. “Mungkin?”   “Tapi aku rasa tidak Kay, aku benar-benar ingin kamu membelai kepalaku terus menerus seperti itu. Andai kamu melakukannya saat aku akan tertidur. Aku pasti akan tidur nyanyak tanpa harus terbangun tengah malam atau mendapatkan mimpi buruk.”   “Kamu sering bermimpi buruk?”   “Tidak juga.” Jaden tersenyum. “Hanya saja ketika aku merasa lelah atau merasa kurang sehat.”   “Lalu sekarang kamu sedang merasa lelah?”   Jaden mengangguk kecil. “Sedikit.”   Kayana menghembuskan napas, ia menatap Jaden yang sedang fokus menyetir dari samping kemudian tersenyum tipis. Meskipun Jaden memang sering kali membuatnya kesal, tapi kali ini tidak ada kesal dalam hatinya. Ia justru merasa sedikit miris melihat bagaimana lelaki yang sebenarnya masih muda itu harus berjuang, bekerja dan mengesampingkan masa mudanya. Sampai merasa lelah hingga kurang kasih sayang.   “Hari ini kamu sudah hebat. Kamu sudah melakukan yang terbaik Jaden. Kalau kamu lelah jangan memaksakan diri, beristirahatlah. Kalau merasa terlalu sibuk, tenangkan pikiran, pilih pekerjaan yang paling penting terlebih dahulu, jangan ingin mengerjakannya secara bersamaan. Kamu hebat Jaden, kamu sudah melakukan yang terbaik.”   Kayana tersenyum ketika melihat senyuman Jaden mulai merekah sempurna. Tangan yang sebelumnya berada di kepala Jaden kini di genggam, lalu di tarik sebelum akhirnya lelaki itu mengecup punggung tangannya.   “Thank you so much Kayana. Kalimat itu, yang memang sedang sangat aku butuhkan saat ini.”   ***   “Terimakasih tumpangannya Jay, aku masuk dulu.”   “Tunggu Kay.”   “Hm?”   Jaden menarik tangan Kayana. Membuatnya duduk lagi. “Kenapa kamu selalu menolak pertolonganku?”   Kayana menghembuskan napas, lalu menatap Jaden. “Bukan begitu.”   “Aku tahu mungkin aku sangat menyebalkan ya untukmu? Tapi Kay, aku sungguh-sungguh tulus saat ingin menolongmu. Katakan padaku jika kamu membutuhkan bantuan, apapun. Aku hanya ingin kamu andalkan Kay.”   Kayana menarik tangannya dari genggaman Jaden. “Terimakasih sebelumnya Jay, tapi aku tidak bisa. Aku tidak enak harus meminta bantuan pada orang lain. Aku tidak suka berhutang budi. Seperti hari ini. Aku sebenarnya tidak enak Jay. Tapi aku merasa lebih tidak enak jika harus menolak ajakanmu yang sudah begitu baik, mau mengkhawatirkanku.”   “Kalau memang tidak suka berhutang budi ya tinggal kamu bayar saja.”   “Bayar? Kamu sudah memiliki segalanya Jay, ingin bayaran berapa dariku?”   “Tidak Kay, aku belum memiliki segalanya.” Jawab Jaden, lalu menoleh. “Kamu, aku belum memilikimu Kay. Aku belum sempurna jika belum bersamamu.”   Kayana menghembuskan napas, lalu menarik tangannya dari kepala Jaden. Tidak, ia tidak bisa membiarkan Jaden terus seperti ini padanya. Ia harus segera menyadarkan Jaden dan menyinggkirkan lelaki itu dari kehidupannya.   “Masih banyak gadis di luar sana Jay yang pantas, yang sepadan denganmu. Banyak yang sebaya denganmu atau yang lebih muda. Bukan aku... aku bahkan lima tahun lebih tua darimu. Apa yang kamu harapkan?”   “Cinta bukan perkara usia Kay. Tapi hati, dan hatiku memilihmu. Aku hanya berharap bisa hidup tenang bersamamu, menghabiskan setiap waktu bersamamu, menua bersama. Hanya itu.” Jaden menggenggam tangannya erat. “Aku merasa nyaman saat bersamamu Kay, aku juga bahagia. Apakah alasan itu tidak cukup Kay?”   “Aku tidak akan memaksa kalau kamu belum siap, aku akan menunggu sampai kapanpun Kay. Aku pun akan berusaha supaya kamu bisa membalas perasaanku. Tapi untuk langkah awal, tidak bisakah kamu membiarkanku masuk ke dalam hidupmu Kay?”   Kayana masih diam ketika iris matanya bertemu dengan iris mata Jaden yang memancarkan ketulusan. Lelaki itu tidak main-main dengan kalimatnya. Dia benar-benar tulus dan terlihat begitu bertekad. Di samping itu, ia pun mulai menyadari alasan terbesar Jaden memilih bersamanya, yang jauh lebih tua. Dari sikapnya, dari pancaran matanya. Jaden bukan semata-mata hanya menginginkan dirinya saja. Tapi...   Kasih sayang.   Jaden membutuhkan kasih sayang, sekaligus validasi untuk setiap tindakannya.   “Kay.”   Kayana membasahi bibirnya sesaat lalu menghela napas panjang sebelum menatap Jaden kembali.   “Lakukan semaumu Jay. Tapi aku... tidak bisa menjanjikan apapun.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN