bc

Istri Dadakan CEO Lumpuh

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
family
HE
love after marriage
arranged marriage
boss
heir/heiress
drama
sweet
bxg
wild
like
intro-logo
Uraian

Emelia Perez, 25 tahun, telah hidup seperti orang asing di rumahnya sendiri. Tak pernah mendapatkan kasih sayang orang tua, ia hanya diperlakukan seperti pelayan, sementara seluruh perhatian diberikan kepada adiknya, Bianca.

Ketika ayahnya terlilit utang besar, Emelia dijadikan jaminan untuk menikahi Samuel De Leon, seorang CEO lumpuh yang terkenal kejam dan dingin. Bagi Emelia, pernikahan itu adalah kesempatan untuk melarikan diri dari keluarganya.

Namun, setelah menikah, Emelia menemukan bahwa Samuel sama sekali tidak seperti rumor yang beredar. Di balik kursi roda dan sikap dinginnya, tersembunyi seorang pria dengan ketampanan mematikan dan rahasia yang tidak boleh diketahui siapa pun.

Alih-alih takut, Emelia justru ingin menaklukkan hati pria itu.

Sayangnya, semakin dekat dengan Samuel, semakin dalam Emelia terseret ke dalam rahasia keluarga De Leon. Hingga ia menyadari bahwa pernikahan mereka mungkin bukan sekadar kesepakatan biasa.

Akankah Emelia menemukan cinta dan kebebasan bersama Samuel, atau justru terjebak selamanya dalam dunia penuh rahasia dan pengkhianatan?

Jangan lewatkan bab berikutnya setiap hari!

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1
Pov Emelia “Menikahlah dengan Tuan Samuel, Emelia!” Aku terdiam mendengar Ayah memintaku menikah dengan pria yang sama sekali tidak kukenal. Kutatap wajahnya dengan tenang. Aku tahu pasti ada sesuatu yang tidak beres, mengingat selama ini Ayah selalu memanjakan Bianca, adikku, melebihi diriku. Harusnya Bianca yang diminta, bukan aku. “Kenapa harus aku? Kenapa tidak Bianca saja?” tanyaku dengan wajah datar. “Adikmu masih terlalu muda, Emelia!” sahut Ibu yang baru saja datang membawa secangkir teh hangat untuk Ayah. Mendengar itu, aku tersenyum sinis. Masih muda? Alasan yang sangat tidak masuk akal mengingat kita hanya selisih dua tahun saja. Tahun lalu saja, aku harus merelakan pria yang kusukai demi Bianca yang ternyata juga mencintainya. “Maaf, aku tidak bisa, Ayah. Aku tidak mau menikah,” tolakku langsung. “Berani membantah, Emelia? Kamu harus menikah dengan Tuan Samuel, mau atau tidak! Kamu harus menjadi jaminan karena Ayahmu punya utang besar pada perusahaannya!” ujar Ibu dengan nada tinggi. Aku tersenyum getir. Jadi, alasannya karena utang? Miris sekali. Aku sampai bertanya-tanya, apakah aku benar-benar anak mereka atau bukan. Selama ini hanya Bianca yang mendapatkan kasih sayang, sementara aku diperlakukan layaknya pelayan di rumah sendiri. “Menikahlah dengannya, Emelia. Apa yang Ibu katakan benar! Kamu bukan hanya menjadi jaminan, tapi hidupmu juga akan lebih baik setelah ini. Kamu akan menikah dengan orang terkaya di negara ini,” sahut Ayah sembari menatapku tajam. “Kalau begitu, kenapa tidak Bianca saja? Kenapa tidak anak kesayangan Ayah yang menikah dengannya agar hidupnya enak?” tantangku langsung. “Tidak mau! Aku tidak mau dijodohkan dengan Presdir lumpuh itu! Kakak saja yang menikah dengannya, sangat cocok dengan wajah Kakak yang buruk rupa!” sahut Bianca yang tiba-tiba muncul. Aku tersenyum sinis. Mungkin jika aku melakukan perawatan, wajahku akan secantik Bianca. Namun, aku tak pernah punya kesempatan itu, tak seujung kuku pun rangkaian skincare pernah menyentuh kulitku. Wajar jika aku terlihat kusam dan tak terawat. Ternyata ini alasannya. Karena pria itu lumpuh, mereka menumbalkanku. Aku mengangguk pelan, menyetujui perjodohan itu tanpa ragu lagi. Ini adalah tiket perjalananku untuk keluar dari rumah yang terasa seperti neraka ini. Aku tidak peduli meski pria itu lumpuh atau monster sekalipun. Aku menikah hanya agar bisa lepas dari sini. Setelah itu aku diceraikan atau dibuang, aku tidak peduli, selama aku bisa bebas dari keluarga yang menganggapku b***k selama dua puluh lima tahun ini. “Baik, aku bersedia menikah. Tapi, aku minta satu hal, setelah menikah, kalian bukan lagi keluargaku. Aku sudah lepas dari kalian!” ucapku dengan suara mantap. Semua setuju, terutama Bianca. Ia bahkan mendekat dan berbisik di telingaku bahwa calon suamiku adalah seorang monster. Aku hanya menatapnya datar. Aku tidak takut, karena aku sudah dua puluh lima tahun hidup bersama monster-monster di rumah ini. *** Siapa sangka, keesokan harinya aku sudah dijemput paksa oleh sekelompok pria berjas hitam. Aku dibawa menaiki mobil mewah tanpa tahu ke mana arah tujuannya. Semalam, aku sempat mencari tahu tentang calon suamiku melalui internet. Samuel De Leon, pria berusia tiga puluh lima tahun yang mengalami kecelakaan tragis tiga tahun silam. Rumor menyebutkan Samuel menderita kelumpuhan total, bahkan wajahnya dikabarkan hancur seperti monster akibat ledakan. Tak hanya fisiknya, kepribadiannya pun berubah mengerikan. Samuel menjadi pria temperamental yang meledak-ledak karena kondisinya. Kabarnya, jika ia tidak suka pada seseorang, ia tidak segan untuk menghabisinya saat itu juga. Sangat menyeramkan, bukan? Harusnya aku kabur malam itu. Tapi tidak, aku tidak peduli. Kalaupun aku harus mati di tangannya, aku menganggapnya sebagai takdir. Aku sudah terlalu lelah dengan hidup ini. Mobil berhenti di depan sebuah istana megah yang dijaga ketat oleh puluhan pengawal. Aku terpaku menatap kemewahan di depanku. “Mari turun, Nyonya. Tuan sudah menunggu Anda di dalam,” ujar seorang pelayan sembari membukakan pintu mobil. Aku mengangguk. Tiba-tiba dadaku berdebar kencang. Dengan langkah pelan, aku mengikuti pengawal masuk ke dalam rumah yang hampir seluruh interiornya dilapisi warna emas itu. Langkahku terhenti saat suara pecahan piring yang cukup keras menggema di ruangan luas itu. Aku tidak gemetar. Aku sudah terbiasa dengan perlakuan kasar di rumah lama, ibuku sering menarik piringku dan membuangnya begitu saja hanya karena aku berani makan tanpa izin. Pecahan piring bukanlah hal yang bisa menakutiku. “Pak, itu suara apa?” tanyaku pelan pada pengawal di sampingku. “Itu Tuan Samuel, suami Nyonya. Beliau mungkin sedang marah pada pelayan karena makanan pagi ini tidak sesuai seleranya,” jawabnya dengan wajah tenang, seolah hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari. “Suami?” ulangku, karena kupikir status kami masih calon. “Benar, Nyonya. Tuan sudah mendaftarkan pernikahan kalian secara hukum. Anda sudah resmi menjadi istri Tuan Samuel.” Aku mengangguk pelan. Ternyata semua sudah dirancang sedemikian rupa. “Apa dia selalu seperti itu?” “Tidak. Dulu Tuan sangat lembut. Segalanya berubah sejak kecelakaan itu.” Aku kembali melangkah, ingin melihat kekacauan macam apa yang sedang dilakukan suamiku. Namun, aku mematung saat melihat sosok pria di atas kursi roda itu. Mana wajah monster yang dibicarakan orang-orang? Yang kulihat justru pria yang sangat tampan. Kulit wajahnya mulus, bersih, dan berseri tanpa luka sedikit pun. Aku yakin jika Bianca melihat ini, dia akan menangis sujud memohon untuk menggantikan posisiku. Tidak ada wajah monster di sini. Yang ada hanyalah tatapan mata yang sangat menyeramkan, dingin dan tajam seperti elang yang siap mencengkeram mangsa. “Kenapa dibuang makanannya?” tanyaku langsung tanpa rasa takut. Toh, aku sudah sah menjadi istrinya, kan? Kulihat sisa-sisa makanan berserakan di lantai. “Kamu mau makan apa? Aku bisa buatkan untukmu. Jangan buang-buang makanan.” “Siapa yang menyuruhmu bicara?” desisnya tajam. Ia menatapku dengan sorot mata yang sanggup membekukan darah. Aku menghela napas pelan, menguatkan tekad untuk tidak goyah oleh intimidasi itu. Justru, aku ingin mengubah tatapan es itu menjadi lembut saat menatapku nanti. “Aku istrimu, jadi wajar jika aku bicara,” jawabku tenang. “Meskipun kamu istriku, kamu tidak punya hak untuk mengatur! Apalagi kamu hanyalah istri jaminan. Ayahmu tidak bisa membayar utang, jadi dia menjualmu padaku!” Aku mengangguk, sama sekali tidak tersinggung atau takut mendengar kata-katanya. “Benar, aku memang diberikan Ayah sebagai jaminan. Tapi karena sekarang aku sudah jadi istrimu, aku punya hak untuk bicara atau bahkan mengatur rumah ini.” “Jangan harap!” “Oke, kalau begitu ceraikan aku sekarang juga. Aku tidak masalah! Aku akan pergi dari sini detik ini juga,” tantangku. Samuel menyeringai sinis. “Tidak akan semudah itu. Kamu harus tetap di sini dan menjadi pelayan di rumah ini!” Aku tersenyum tipis, lalu melangkah mendekat dan membungkuk sedikit agar wajah kami sejajar. “Ah, maksudmu pelayan yang bertugas melayanimu di tempat tidur juga, Suamiku?” godaku dengan nada berani. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
4.2K
bc

Perfect Man and Stupid Women

read
157.5K
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
212.2K
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
167.8K
bc

Istri Kecil Om Arogan

read
14.7K
bc

Terjerat Hasrat Suami Pengganti

read
170.2K
bc

Ana, My Pearl

read
170.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook