🏵️Sakya Sutta🏵️(®3 Mahagovinda)

2043 Kata
‘O pemandangan megah, agung dan suci, Siapakah engkau, Yang Mulia? Aku ingin mengetahui namamu.’ ‘Dalam surga tertinggi aku dikenal oleh semua: Brahmā Sanankumāra—aku dikenal demikian.’ ‘Tempat duduk, dan air untuk kakimu, dan makanan Yang layak untuk Brahmā. Silahkan Yang Mulia Memutuskan keramahan apa yang ia inginkan.’ ‘Kami menerima pemberian yang dipersembahkan: sekarang katakan Apa yang engkau inginkan dari kami—suatu anugerah Atau keuntungan dalam kehidupan ini, atau dalam kehidupan berikutnya. Katakan, Yang Mulia Pejabat, apa yang engkau inginkan.’‘”Kemudian Sang Pejabat Agung berpikir: ‘Brahmā Sanankumāra menawarkan aku anugerah. Apakah yang akan kupilih—manfaat dalam kehidupan ini, atau yang berikutnya?’ Kemudian ia berpikir: ‘Aku adalah ahli dalam hal manfaat dalam kehidupan ini, dan orang lain berkonsultasi denganku mengenai hal ini. Bagaimana jika aku meminta dari Brahmā Sanankumāra sesuatu manfaat dalam kehidupan mendatang?’ Dan ia berkata kepada Brahmā dalam syair berikut:‘Aku meminta dari Brahmā Sanankumāra hal ini, Karena ragu, kepadanya yang tidak memiliki keraguan aku meminta (Untuk yang lainnya juga aku meminta:) Dengan melakukan apakah Makhluk-makhluk dapat mencapai alam Brahmā yang tanpa-kematian?’ ‘Orang itu yang menolak semua pikiran kepemilikan, Menyendiri, tekun, dipenuhi belas-kasihan, Jauh dari kebusukan, bebas dari nafsu – Menegakkan demikian, dan berlatih demikian, Makhluk-makhluk dapat mencapai alam Brahmā yang tanpa-kematian.’‘“‘Aku mengerti “Menolak pikiran kepemilikan”. Ini berarti bahwa seseorang meninggalkan miliknya, kecil atau besar, meninggalkan sanak saudara, sedikit atau banyak, dan, mencukur rambut dan janggut, meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah. Demikianlah aku memahami “menolak pikiran kepemilikan”. Aku mengerti “Menyendiri, tekun”. Ini berarti bahwa seseorang meninggalkan miliknya dan memilih bertempat tinggal di hutan, di bawah pohon, di lembah sebuah gunung, di dalam gua batu, di tanah pemakaman, di hutan atau di atas tumpukan rumput di ruang terbuka … Aku mengerti “Dipenuhi belas-kasihan”. Ini artinya bahwa seseorang berdiam memancarkan ke satu arah dengan pikiran yang dipenuhi dengan belas-kasihan, kemudian ke arah ke dua, ke tiga dan ke empat. Demikianlah seseorang berdiam memancarkan ke seluruh dunia, ke atas, ke bawah dan ke sekeliling, ke mana-mana, ke segala penjuru, dengan pikiran dipenuhi dengan belas-kasihan, meluas, tidak terukur, bebas dari kebencian dan permusuhan. Demikianlah aku memahami “Dipenuhi belas-kasihan”. Tetapi kata-kata Yang Mulia tentang “Jauh dari kebusukan” aku tidak mengerti:Apakah yang engkau maksudkan, Brahmā, dengan “kebusukan” di antara manusia? Mohon terangilah kebodohanku, O Yang bijaksana, tentang hal ini. Rintangan apakah yang menyebabkan seseorang menjadi bau dan busuk, Mengarah menuju neraka, terputus dari alam-Brahmā?’ ‘Kemarahan, kebohongan, kecurangan dan penipuan, Kekikiran, keangkuhan dan kecemburuan, Iri-hati, keraguan dan mencelakai makhluk lain, Keserakahan dan kebencian, ketumpulan dan delusi: Kebusukan menjijikkan ini yang memancar Mengarah menuju neraka, terputus dari alam-Brahmā.’‘Seperti yang kumengerti dari kata-kata Yang Mulia tentang kebusukan ini, hal-hal ini tidak mudah diatasi jika seseorang menjalani kehidupan rumah tangga. Oleh karena itu aku akan meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah.’ ‘Yang Mulia Pejabat, lakukanlah apa yang engkau anggap baik.’ ‘”Maka Sang Pejabat Agung menghadap Raja Reṇu dan berkata: ‘Baginda, mohon angkat menteri lain untuk mengurus urusanmu. Aku ingin pergi meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah. Setelah apa yang dikatakan Brahmā kepadaku tentang kebusukan dunia ini, yang tidak mudah diatasi dengan menjalani kehidupan rumah tangga, aku akan meninggalkan keduniawian dan menjalani kehidupan tanpa rumah:Raja Reṇu, penguasa wilayah ini, aku menyatakan, Engkau harus memerintah sendiri, aku tidak akan menasihati engkau lagi!’ ‘Jika engkau kekurangan sesuatu, aku akan mencukupi, Jika ada yang melukaimu, kerajaanku akan melindungimu. Engkau ayahku, aku putramu, Pejabat, menetaplah!’ ‘Aku tidak kekurangan apapun, tidak ada seorangpun yang melukaiku; Bukan suara manusia yang kudengar—aku tidak dapat menetap di rumah.’ “Bukan-manusia”—Seperti apakah ia yang berbicara, sehingga engkau Seketika meninggalkan rumah dan kami sekaligus?’ ‘Sebelum aku pergi mengasingkan diri, aku memikirkan pengorbanan, Menyalakan api suci, menaburkan rumput kusa. Tetapi sekarang—Brahmā abadi dari alam Brahmā muncul Aku bertanya, ia menjawab: sekarang aku tidak bisa menetap lagi.’ ‘Yang Mulia Pejabat, aku mempercayai kata-katamu. Kata-kata demikian Sekali terdengar, engkau tidak memiliki pilihan lain. Kami akan mengikuti: Pejabat, jadilah Guru kami. Bagaikan permata-beryl, bersih, bagaikan air terjernih, Begitu murni, kami akan mengikuti di belakangmu.Jika Yang Mulia Pejabat pergi meninggalkan kehidupan rumah tangga dan meninggalkan kehidupan tanpa rumah, aku akan melakukan hal yang sama. Kemanapun engkau pergi, kami akan mengikuti. ‘“Kemudian Sang Pejabat Agung mendatangi kelompok enam mulia dan berkata kepada mereka: ‘Tuan-tuan, mohon angkat menteri lain untuk mengurus urusanmu. Aku ingin pergi meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah …’ Dan kelompok enam mulia itu menyingkir ke sudut dan berdiskusi: ‘Para Brahmana ini serakah akan uang. Mungkin kita bisa membujuk Pejabat Agung dengan uang.’ Maka mereka kembali kepadanya dan berkata: ‘Tuan, ada banyak harta kekayaan di tujuh kerajaan ini. Ambillah sebanyak yang engkau inginkan.’ ‘Cukup, tuan-tuan, aku telah menerima sangat banyak harta kekayaan dari tuan-tuan. Karena itulah aku ingin meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah, seperti yang telah kujelaskan.’ ‘“Kemudian kelompok enam mulia menyingkir ke sudut lagi dan berdiskusi: ‘Para Brahmana ini serakah akan perempuan. Mungkin kita bisa membujuk Pejabat Agung dengan perempuan.’ Maka mereka kembali kepadanya dan berkata: ‘Tuan, ada banyak perempuan di tujuh kerajaan ini. Ambillah yang engkau pilih.’ ‘Cukup, tuan-tuan, aku telah memiliki empat puluh istri yang setara, dan aku akan meninggalkan mereka untuk pergi meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah, seperti yang telah kujelaskan.’ ‘“‘Jika Yang Mulia Pejabat pergi meninggalkan kehidupan rumah tangga dan meninggalkan kehidupan tanpa rumah, kami akan melakukan hal yang sama. Kemanapun engkau pergi, kami akan mengikuti:“Jika kalian meninggalkan nafsu-nafsu yang mengikat kebanyakan orang, Kerahkanlah dirimu, kuatlah dan bertahanlah dengan sabar! Ini adalah jalan yang lurus, jalan yang tanpa tandingan, Jalan kebenaran, yang dijaga oleh kebajikan, menuju alam Brahmā.”‘“‘Kalau begitu, Tuan Pejabat, tunggulah selama tujuh tahun, dan kemudian kami juga akan menjalani kehidupan tanpa rumah. Kemanapun engkau pergi, kami akan mengikuti.’ ‘“‘Tuan-tuan, tujuh tahun sangat lama sekali, aku tidak dapat menunggu selama tujuh tahun! Siapa yang dapat menentukan berapa lama manusia hidup? Kita harus pergi ke alam berikutnya, kita harus belajar dengan kebijaksanaan, kita harus melakukan apa yang benar dan menjalani hidup suci, karena tidak ada yang dilahirkan abadi. Sekarang aku akan meninggalkan keduniawian seperti yang telah kujelaskan.’ ‘“‘Baiklah, Yang Mulia Pejabat, tunggulah selama enam tahun, … lima tahun, … empat tahun, … tiga tahun, … dua tahun, … satu tahun, dan kemudian kami juga akan menjalani kehidupan tanpa rumah. Kemanapun engkau pergi, kami akan mengikuti.’ ‘“‘Tuan-tuan, satu tahun sangat lama sekali …’ ‘Kalau begitu tunggulah selama tujuh bulan …’ ‘“‘Tuan-tuan, tujuh bulan sangat lama sekali …’ ‘Kalau begitu tunggulah selama enam bulan ,… lima bulan, … empat bulan, … tiga bulan, … dua bulan, … satu bulan, … setengah bulan …’ ‘“‘Tuan-tuan, setengah bulan sangat lama sekali …’ ‘Kalau begitu, Yang Mulia Pejabat, tunggulah selama tujuh hari sementara kami menyerahkan kerajaan kami kepada putra dan saudara kami. Di akhir dari tujuh hari kami akan meninggalkan keduniawian dan menjalani kehidupan tanpa rumah. Ke mana pun engkau pergi, kami akan mengikuti.’ ‘Tujuh hari tidak lama, tuan-tuan. Aku setuju, tuan-tuan, menunggu tujuh hari.’ ‘“Kemudian Sang Pejabat Agung mendatangi tujuh Brahmana dan tujuh ratus murid mereka, dan berkata kepada mereka: ‘Sekarang, Tuan-tuan, kalian harus mencari guru lain untuk mengajari kalian mantra. Aku bermaksud untuk meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah. Setelah apa yang dikatakan Brahmā kepadaku tentang kebusukan dunia ini, yang tidak mudah diatasi dengan menjalani kehidupan rumah tangga, aku akan meninggalkan keduniawian dan menjalani kehidupan tanpa rumah.’ ‘Yang Mulia Pejabat, jangan berkata begitu! Ada sedikit kekuasaan dan keuntungan dalam kehidupan tanpa rumah, dan kekuasaan dan keuntungan yang lebih besar dalam kehidupan sebagai Brahmana!’ ‘Jangan berkata demikian, tuan-tuan! Disamping itu, siapakah yang memiliki kekuasaan dan keuntungan yang lebih besar daripada aku? Aku telah menjadi raja bagi para raja, bagaikan Brahmā bagi para Brahmana, bagaikan dewa bagi para perumah tangga, dan aku akan meninggalkan semua ini untuk meninggalkan keduniawian dan menjalani kehidupan tanpa rumah, seperti yang telah kujelaskan.’ ‘Jika Yang Mulia Pejabat pergi meninggalkan kehidupan rumah tangga dan meninggalkan kehidupan tanpa rumah, kami akan melakukan hal yang sama. Kemanapun engkau pergi, kami akan mengikuti.’ ‘“Kemudian Sang Pejabat Agung mendatangi empat puluh istrinya yang setara dan berkata: ‘Jika kalian menginginkan, kalian boleh pulang ke rumah keluarga kalian atau mencari suami lain. Aku bermaksud untuk meninggalkan keduniawian dan menjalani kehidupan tanpa rumah …’ ‘Hanya engkaulah keluarga yang kami inginkan, suami satu-satunya yang kami inginkan. Jika Yang Mulia Pejabat meninggalkan keduniawian dan menjalani kehidupan tanpa rumah, kami akan melakukan hal yang sama. Kemanapun engkau pergi, kami akan mengikuti.’ ‘“Dan demikianlah Sang Pejabat Agung, di akhir dari tujuh hari, mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning dan pergi meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah. Dan bersamanya turut serta tujuh raja Khattiya, tujuh Brahmana kaya dan terkenal bersama tujuh ratus murid mereka, empat puluh istrinya yang setara, beberapa ribu Khattiya, beberapa ribu Brahmana, beberapa ribu perumah tangga, bahkan beberapa perempuan-selir. ‘“Dan demikianlah, diikuti oleh kelompok ini, Sang Pejabat Agung mengembara melalui desa-desa, kota dan ibukota. Dan setiap saat ia datang ke suatu desa atau kota, ia bagaikan raja bagi para raja, bagaikan Brahmā bagi para Brahmana, bagaikan dewa bagi para perumah tangga. Dan pada masa itu, ketika seseorang bersin atau tersandung, mereka mengucapkan: ‘Terpujilah Sang Pejabat Agung! Terpujilah Menteri dari Tujuh!’ ‘“Dan Sang Pejabat Agung berdiam memancarkan ke satu arah dengan pikiran dipenuhi cinta-kasih, kemudian ke arah kedua, kemudian ketiga dan ke arah keempat. Ia berdiam memancarkan ke seluruh dunia, ke atas, ke bawah dan ke sekeliling, ke mana-mana, ke segala penjuru, dengan pikiran dipenuhi dengan belas-kasihan, … dengan pikiran dipenuhi kegembiraan simpatik, … dengan pikiran dipenuhi dengan keseimbangan, … bebas dari kebencian dan permusuhan. Dan demikianlah ia mengajarkan para siswanya jalan untuk bergabung dengan alam Brahmā. ‘”Dan mereka yang pada masa itu telah menjadi siswa Sang Pejabat Agung dan telah menguasai ajarannya, setelah kematian, saat hancurnya jasmani, terlahir kembali di alam bahagia, di alam Brahmā. Dan mereka yang belum menguasainya sepenuhnya ajarnnya terlahir kembali di antara para dewa Parinimmita-Vasavatti, di antara para dewa Nimmānarati, di antara para dewa Tusita, di antara para dewa Yāma, di antara para Dewa Tiga-Puluh-Tiga, atau di antara Empat Raja Dewa. Dan alam yang paling rendah yang dicapai beberapa dari mereka adalah gandhabba. Dengan demikian pelepasan keduniawian dari semua orang itu bukanlah tidak berbuah atau mandul, namun menghasilkan buah dan manfaat.” ‘Apakah engkau mengingat hal ini, Bhagavā?’ ‘Aku ingat, Pañcasikha. Pada saat itu Aku adalah Sang Brahmana, Sang Pejabat Agung, dan aku mengajarkan kepada para siswa jalan untuk bergabung dengan alam Brahmā. ‘Namun demikian, Pañcasikha, kehidupan suci yang itutidak mengarah menuju kekecewaan, kebosanan, pelenyapan, kedamaian, pengetahuan-super, pencerahan, Nibbāna, namun hanya kelahiran di alam-Brahmā, sedangkan kehidupan suciKu pasti mengarah menuju kekecewaan, kebosanan, pelenyapan, kedamaian, pengetahuan-super, pencerahan, Nibbāna. Yaitu Jalan Mulia Berunsur Delapan, yaitu Pandangan Benar, Pemikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Penghidupan Benar, Usaha Benar, Perhatian Benar, Konsentrasi Benar. ‘Dan, Pañcasikha di antara para siswaKu yang telah menguasai ajaranKu telah dengan pengetahuan-super mereka sendiri mencapai, dengan hancurnya kekotoran-kekotoran dalam kehidupan ini, kebebasan hati dan pikiran yang tanpa kekotoran. Dan di antara mereka yang belum menguasai sepenuhnya, beberapa dengan hancurnya lima belenggu yang lebih rendah akan terlahir kembali secara spontan, dari sana mencapai Nibbāna tanpa kembali lagi ke dunia ini; beberapa dengan hancurnya tiga belenggu dan melemahnya keserakahan, kebencian dan delusi akan menjadi Yang-Kembali-Sekali, yang akan kembali ke dunia ini sekali lagi sebelum mengakhiri penderitaan; dan beberapa dengan hancurnya tiga belenggu akan menjadi Pemenang-Arus, tidak mungkin lagi terjatuh ke alam sengsara, dan pasti mencapai pencerahan. Dengan demikian pelepasan keduniawian dari semua orang itu bukanlah tidak berbuah atau mandul, namun menghasilkan buah dan manfaat.’ Demikianlah Sang Bhagavā berkata, dan Gandhabba Pañcasikha senang dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā. Dan, setelah memberi hormat kepada Beliau, ia berjalan dengan sisi kanan menghadap Beliau dan lenyap dari tempat itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN