Varizen masuk ke dalam ruangan latihan kembali sesuai instruksi dari Raykan. Gadis itu mendesah beberapa kali karena Alex, pria yang sempat meluluhkan hatinya. Kenapa juga dia harus datang di saat kebahagiaan melanda? Sungguh membuat sakit hatinya timbul. Gadis itu menggeleng perlahan mengingat hubungan mereka tak ada kejelasan sama sekali. Intinya dia tak berhak menyalahkan Alex atas tindakannya. Namun kembali lagi ke masa lalu, seperti habis manis sepah di buang. “Huh! Aku kesal. Kesal setengah mati.” Varizen mengambil panah dan anak panah yang tersedia tak jauh darinya untuk melampiaskan kemarahan saat ini. “Apakah semua pria sama saja.” Dia hendak melayangkan anak panahnya, tapi karena membutuhkan bahu yang tegak dan kokoh anak panah itu jatuh ke lantai ketika menarik benang. V

