Akhirnya Evans beranjak dari tempat duduknya. Melangkahkan kakinya dengan santai, meski pun hati dan pikiran tengah dilema. Ia menuruni anak tangga dengan memasukkan kedua tangan ke saku celananya. Melangkah keluar restoran menuju parkiran mobilnya.
Udara malam yang dingin menyapa Evans, begitu ia keluar dari restoran. Langit sudah tampak gelap, berhiaskan banyaknya bintang-bintang yang menghiasi semesta malam. Sungguh indah maha karya Tuhan!
Evans pun masuk ke dalam mobilnya. Terdiam sejenak, sebelum akhirnya melajukan mobilnya. Entah kemana ia akan mengarahkan mobilnya.
"Mau kerumah Vania, sudah malam begini. Tapi, aku merindukannya!!"
Satu jam saja Evans tak melihat Vania, sudah seperti orang kebakaran jenggot.
Evans kebingungan ingin bertemu Vania. Apalagi 3 hari Nggak ketemu. Rindu pakek banget! Jangan rindu, rindu itu berat! Hanya Dilan yang mampu. Betul nggak sih?
Evans melajukan mobilnya ke jalanan yang masih ramai. Netranya menerawang jauh kedepan, menembus kaca mobil depan. Malam ini, malam minggu. Banyak sekali pemuda dan pemudi bergandengan dengan sepeda motor. Dengan berbagai banyak tingkah dan ekspresi. Ada yang memeluk erat pacarnya dari belakang, ada yang bercengkrama dengan pasangannya dengan wajah ceria. Ada pasangan yang di boceng pacarnya, tapi dia terlihat seperti ngambek. Tangan bersedekap dan meletakkan tasnya di tengah-tengahnya, sebagai pembatas. Ah! Ada-ada saja tingkah anak muda yang lagi kasmaran.
Evans pun tersenyum melihat pemandangan itu. Sejurus kemudian ia memilih untuk melajukan mobilnya menuju rumah.
Sesampainya di rumah.
Evans turun dari mobilnya, ia tak melihat mobil pribadi papanya di bagasi. Evans pun heran, biasanya papanya pasti pulang lebih awal darinya. Tapi kali ini, malah Evans yang pulang lebih awal. Mungkin ada masih ada perkerjaan, pikirnya.
Sejurus kemudian, Evans melangkah masuk kedalam rumah. Dengan santai menaiki tangga penghubung lantai dasar menuju lantai 2. Sejenak ia berdiri mematung di depan pintu kamarnya. Ia melihat pintu kamar ayahnya yang masih tertutup rapat. Benar apa kata papanya, rumahnya terasa sepi meski pun banyak ART di rumahnya sekalipun. Maklum saja jika Jaya Haidar memaksanya agar cepat menikah. Papanya merindukan suasana ramai menghiasi rumah ini, di tambah kehadiran seorang cucu di pangkuan Jaya Haidar nanti. Ah! tapi semua itu butuh proses, tampiknya.
Lalu kemudian ia masuk kedalam kamar. Evans melepas jas hitam yang masih melekat di tubuhnya. Melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk bersih-bersih diri sebelum tidur melepaskan penat.
Evans berendam dengan tenang di bathtub dengan air hangat yang merendam tubuhnya. Setelah beberapa menit, ia membilas tubuhnya lalu kemudian meraih handuk yang sudah tergantung di jemuran handuk yang tak jauh dari bathtub.
Sejurus kemudian, ia keluar dan segera berganti baju. Terlihat simple tapi tetap ganteng. Evans memadukan kemeja slim fit berwarna putih polos dan celana pendek berbahan chino.
Dengan kasar, ia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang terasa nyaman. Dengan segera ia meraih benda pipihnya yang terletak di atas nakas, samping tempat tidurnya.
Ibu jari beserta telunjuknya seakan menari dengan luesnya di atas layar benda pipihnya. Evans membuka aplikasi Whattsap, lalu kemudian menulis sebuah pesan kepada Vania.
" Hay, Vania. Lagi apa? Sudah tidur ya?" tulis Evans, lalu kemudian ibu jarinya menyentuh tombol kirim.
Ia membaca pesan yang sudah di kirim kan itu. Akan tetapi, Evans merasa pesannya tadi kurang tepat. Dengan cepat ia menarik pesan itu lalu menghapusnya. Sebelum Vania membuka pesan darinya tadi. Lalu kemudian, Evans mulai mengerakkan ibu jari lagi.
"Good nigth, Vania."
Evans mengirimkan pesan yang lebih singkat dengan harapan, Vania mau membuka dan membalas pesan darinya.
Namun sayang, tanda centang di layar benda pipih itu tak kunjung berubah menjadi warna biru. Itu artinya, Vania belum membuka pesan wattsaap dari Evans.
Setelah menunggu beberapa menit, tanda centang itu belum juga berubah warna biru. Evans menarik napas panjang, untuk mencoba sabar dan menunggunya lagi. 1 menit belum berubah. 2 menit belum juga berubah. Ah! 3 menit sudah Evans menunggu namun tak kunjung juga ada sinyal dari Vania.
Lalu kemudian, Evans memutuskan untuk langsung menelpon Vania saja.
Tulisan di layar berdering lalu kemudian,
"Hallo.." akhirnya Vania menjawab telpon dari Evans.
"Kemana saja kamu! Di chat nggak di buka-buka. Membuat ku cemas saja!" Evans berbicara seolah pesan darinya itu wajib di buka dan di balas oleh Vania.
"Kamu marah?" Tanya Vania di sebrang sana.
"Apa menurutmu aku marah? Aku terlalu menghawatirkanmu Vania. Apa kamu nggak ingat kalau kamu baru saja keluar dari rumah sakit!"
Sejenak Vania terdiam, pastinya Vania ingat betul itu. Tapi apa perlu dia menjawab pertanyaan Evans yang terkesan berlebihan.
"Hallo! Van! Kamu masih dengar aku kan?"
"Ya"
"Ini sudah malam, kenapa kamu belum juga tidur!"
"Belum, aku masih ada tamu. Kalau begitu sudah dulu ya, aku masih sibuk."
Sambungan terputus.
"Hallo! Van! Hallo! Sial! Malah di matikan. Padahal aku masih ingin ngobrol dengannya. Ah! Sudahlah. Tapi, Vania tadi bilang masih ada tamu. Siapa tamunya? Inikan sudah malam!"
Kini Evans bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Tentang siapa tamu yang berkunjung di rumah Vania, malam-malam begini.
***
Vania masih menggenggam benda pipihnya.
"Telpon dari siapa, Van?" Tanya Esa begitu melihat sahabatnya itu terdiam setelah menerima telpon.
"Emh, itu. Telpon dari mang Ujang! Ya, dia tanya bagaimana keadaanku. Tadi sekalian aku bilangin, kalau aku nggak masuk 3 hari kedepan. Biar mang Ujang nggak jemput aku besok," jawab Vania beralasan.
Ia tidak mungkin akan menjawab jujur, jika Evans yang baru menelpon dirinya. Vania takut Esa nanti akan merasa cemburu.
"Oh, mang Ujang." Esa ngangguk percaya, tanpa rasa curiga.
Vania tersenyum dengan sedikit di buat-buat. Lalu kemudian, ia meletakkan benda pipih miliknya di atas meja berjejer dengan remot tv.
Esa melihat jam dinding yang menempel di ruang keluarga di rumah itu. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, sudah tepat pukul 9 malam, ia memutuskan untuk segera pulang.
"Tante, Vania, aku pamit pulang ya! Soalnya udah malem banget ini. Besok pasti aku kesini lagi."
Esa segera menyandang ransel miliknya itu di punggungnya.
"Esa, kenapa nggak nginep sini aja. Biar Vania nanti ada temennya. Nanti biar tante yang minta ijin ke mama kamu. Pasti di bolehin," saran Wulandari keoada Esa.
"Iya, betul Sa! Nginep di sini aja ya, please!" Sambung Vania meminta sahabatnya untuk menginap di rumahnya.
Esa terlihat bingung. Sebenernya dia mau saja menginap di rumah Vania. Tapi, Esa ragu jika mamanya akan mengijinkannya. Walau pun mama Vania akan memintakan ijon kepada mamanya, Esa tetap saja ragu. Mengingat, sejak dulu Esa memang tidak di perbolehkan untuk menginap di rumah temannya.
"Aku pulang aja, Tante. Kapan-kapan aja nginepnya. Maaf ya, Van. Aku janji kapan-kapan bakal nginep sini, oke!"
"Okelah, tapi janji ya!" sahut Vania.
Vania menjulurkan jari kelingking tangan kanannya, begitu pun dangan Esa. Ia menjulurkan jari kelingkingnya, sehingga kedua jari kelingking itu saling terkait, satu sama lain.
Wulandari tersenyum melihat persahabatan mereka yang sangat baik. Ia pun menganggap Esa seperti anak kandungnya sendiri. Meski pun Wulandari belum pernah bertemu dengan kedua orang tua Esa. Tak masalah baginya.
"Apa perlu tante anter, Sa. Ini kan udah malem!" Wulandari berinisiatif mengantar Esa pulang.
"Nggak Tante, nggak usah. Esa sudah terbiasa kok pulang jam segini," jawab Eaa menolak.
"Kamu yakin, Sa. Tante serkus lho!"
"Iya Tante, Esa juga serius," ucap Esa meyakinkan.
"Yaudah kalau gitu, hati-hati di jalan ya. Nggak usah ngebut bawa motornya," tutur Wulandari kemudian tersenyum.
"Baik, Tante. Yaudah Van. Aku pulang ya."
Vania mengangguk, lalu kemhdian ia berjalan membelakangi Esa. Mengantarnya sampai ke depan teras.
"Hati-hati ya, Sa!"
Esa tersenyum mengangguk sambil menggunakan helmnya. Sejurus kemudian, ia naik di atas motornya lalu menyalakan motorkannya. Lalu Esa melambaikan tangan ke arah Vania sebelum, ia memutar gas meninggalkan Vania.
Vania pun juga melambaikan tangan ke arah sahabatnya itu, sampai Esa tak terlihat jauh.
Vania menghela napas panjang. Ada rasa khawatir dengan sahabatnya tadi. Mengingat hari sudah gelap. Mana anak perempuan pisan! Walau pun Esa sudah terbiasa pulang kerja di malam hari. Tetep saja Vania merasa cemas dengan sahabatnya.
Sejurus kemudian, Vania masuk kedalam rumah dan menutup pintu. Lalu Vania melangkah menuju ruang keluarga. Di ambilnya benda pipih miliknya, yang ia letakkan di atas meja tadi.
Vania tak mendapati Mamanya di ruang keluarga, nampaknya Mamanya sedang memberekan belanjaannya di dapur.
"Mama! Vania mau tidur duluan ya!" Teriak Vania supaya Wulandari yang tengah berada di dapur mendwngar suaranya.
"Iya, sayang! Kamu tidur duluan. Mama masih membereskan belanjaan Mama tadi!" Jawab Wulandari.
Sejurus kemudian, Vania melangkahkan kakinya menuju pintu kamarnya. Akan tetapi, tiba-tiba saja ada suara mengetu pintu depan rumahnya.
"Siapa lagi? Apa jangan-jangan Esa! Ada barangnya yang ketinggalan, mungkin!" Gumamnya lirih, menebak siapa yang datang.
Terdengar lagi suara pintu rumahnya di ketok dengan begitu kerasnya lagi.
Lalu kemudian, Vania berjalan dan membukakan pintu. Seketika kedua mata Vania membulat kaget, menyambut siapa yang datang.
Bersambung...