"Ka-kamu, ngap-ngapain kesini malam-malam begi-ni?" Tanya Vania dengan nada terbata-bata.
Evans membalas keterkejutan Vania, dengan senyum termanisnya.
"Kenapa kamu kaget begitu! Kayak liat hantu saja!"
"Memang kau mirip hantu!" Sahut Vania ketus.
"Apa! Ganteng gini di bilang mirip hantu. Masa iya, kamu jatuh cinta sama hantu!" Evans mengerlingkan sebelah matanya.
"Dih! Siapa bilang aku jatuh cinta sama kamu."
"Tuh! Barusan kamu sendiri yang bilang!"
"Ih, aku bicara seperti itu kan karna ucapan kamu barusan."
Evans mulai membuat Vania sebal.
"Alah, nggak usah di tutupi. Jawab aja jujur!" Evans semakin suasana hati Vania panas.
"Pe-de banget sih! Siapa juga yang suka sama situ!" Vania bersungut-sungut.
"Situ!"
Vania mendesah.
"Terserah ape lo kate! Sejujurnya emang iya sih. Tapi nggak harus jujur juga untuk saat ini," batin Vania tentang perasaannya kini.
"Siapa tamu mu?"
"Hah!" sahut Vania masih bingung.
"Aku tanya, siapa tamu yang kamu maksut di telpon tadi?"
"Oh, itu! Kepo banget sih!"
"Bukan kepo! Aku hanya penasaran saja."
Evans mendongakkan kepalanya kedepan. Terlihat dari depan pintu, ruang tamu Vania terlihat sepi.
"Nyari apaan?"
"Tamu yang kau maksut tadi."
"Udah pulang!" Vania tambah ketus.
"Cepat sekali! Padahal aku tadi sudah ngebut kesini!"
"Ih! Siapa juga yang nyuruh kamu kesini! Lagian kepo banget jadi orang!" Timpal Vania dengan dahinya yang terlihat mengerut.
"Siapa yang kepo! Aku cuma penasaran. Lagi pula kamu juga yang buat aku penasaran!"
"Kok aku!" Sahut Vania heran. Ia merasa benar-benar nggak ngerti apa yang di maksut oleh Evans.
"Iyalah! Siapa suruh nggak jawab pertanyaanku tadi! Main putusin sambungan telpon segala," sambung Evans bersikeras mengungkapkan, kenapa tiba-tiba dia datang di rumah Vania malam-malam begini.
Vania menepuk jidat mendengar penjelasan Evans. Yang menyalahkan dirinya memutus sambungan telponnya.
"Ya Tuhan, kamu bener mau tau siapa yang datang tadi?" Vania menghela napas
"Tadi itu Esa yang datang kesini!" Jawabnya jujur agar Evans nggak penasaran dan terus menyalahkan dia.
Evans menyatukan kedua alisnya. Pikirannya mengingat di waktu Esa meminta ijin tadi siang.
"Jadi tadi siang Esa itu ke sini? Tapi, msa sih sampai pulang malam begini," batinnya masih nggak percaya.
Mereka berdua masih berdiri di depan pintu. Vania pun nggak berani mempersilahkan Evans masuk. Mengingat malam sudah semakin larut. Vania sendiri juga sudah menahan kantuk.
"Jadi, kamu bela-belain datang kesini, malam-malam begini! Hanya buat tanyain siapa yang bertamu di rumahku!"
Menurut Vania, Evans terlalu membesar-besarkan setiap hal. Apa pun itu!
"Nggak juga. Bukan itu tujuanku yang sebenarnya," jawab Evans dengan santainya.
"Lalu apa!" Vania mendesah lalu kemudian melipat tangannya di depan d**a.
"Rahasia! Kepo banget sih!"
Evans tersenyum tenang. Mengembalikan kata-kata kepo yang sempat Vania umpatkan kepadanya.
"Hah!"
Vania nggak habis pikir jika Evans akan mengatai dirinya seperti halnya dia mengumpat Evans.
"Aku nggak kepo, kamu yang kepo. Aku hanya bertanya apa tujuanmu datang kesini, aku rasa itu hal yang wajar. Bukan kepo!" Vania bersikeras membela diri.
Evans terkekeh melihat Vania, yang kini merasa sebal di tambah mengomel seperti itu. Menurutnya, Vania terlihat lucu.
"Malah ketawa. Nggak ada yang lucu! Ngapain ketawa!" Vania mengerucutkan bibirnya. Merasa sangat-sangat sebal.
"Jadi tujuanmu kesini, hanya untuk menertawaiku! Tau begini, tadi nggak aku bukain pintu. Buang-buang waktu bikin makan ati!" Imbuhnya meluapkan emosi.
Seketika Evans terdiam dengan masih menahan tertawa. Rasanya masih saja lucu. Tapi kali ini Evans tau Vania benar sedang tersulut Emosi kerena dirinya.
"Okke, okke, maaf. Jadi sebenarnya tujuanku kesini bukan karna dirumahmu ada tamu. Melainkan aku merindukanmu," jawab Evans jujur, kini ia membicarakan tentang kerinduan yang tengah melanda dirinya.
Vania memicingkan kedua matanya.
"Mau mempermainkanku lagi! Dengan alasan rindu. Udah nggak mempan! Lebih baik kau pulang saja!"
"Aku serius Vania, dan aku jujur sama kamu," ucap Evans berusah meyakinkan Vania.
Vania membuang muka, dengan masih melipat tangan. Tak sedikit pun bergeser dari tempatnya berdiri di depan Evans. Rindu! Evans pasti membual pikirnya kesal.
Evans memperhatikan Vania yang masih terlihat marah. Ia menghela menarik napas dalam lalu mengeluarkannya dengan cepat.
"Ya udah, kalau kamu masih nggak percaya, nggak papa. Yang penting aku udah berkata jujur. Kalau begitu, aku pulang ya."
Dengan cepat Evans mendaratkan bibirnya mencium pipi Vania sebelah kanan.
Vania yang tadinya masih saja membuang muka. Kini terkejut dengan kedua mata membulat.
"Good night, Vania. Semoga malam ini, aku ada dalam mimpimu," ucap Evans lalu kemudian meninggalkan Vania yang masih bengong.
Evans melangkah menuju mobil. Lalu kemudian masuk dan mengemudikan mobilnya kearah rumahnya. Ia tersenyum menoleh sebentar ke arah Vania yang masih terdiam di depan pintu. Meskipun Vania tak memandangnya sedikit pun, Evans berharap Vania tidak marah berkelanjutan.
"Kenapa dia selalu main cium seenak jidatnya. Aku tau dia menyukaiku. Tapi aku sudah bilang aku nggak suka dengannya. Ada saja alasannya untuk bertemu denganku," batin Vania, ia berusaha menarik napas walau dadanya sedikit merasa sesak, lalu mengeluarkannya dengan perlahan.
Jantungnya terasa dag dig dug nggak karuan setelah Evans mendaratkan ciuman di pipinya tadi.
"Susah sekali menghindar darinya. Aku nggak masuk kerja pun pasti di samperin ke rumah. Lalu aku harus bagaimana! Kalau sering ketemu seperti ini, takutnya aku semakin suka sama dia. Lalu gimana dengan Esa. Hih!"
Vania mengacak rambutnya dengan kasar. Tak tau lagi apa yang akan dia lakukan agar Evans menjauhi dirinya.
Sejurus kemudian ia membalikkan badan masuk kedalam rumah. Tak lupa ia memutar kunci untuk mengunci pintu itu. Dengan cepat ia melangkah masuk ke dalam kamarnya. Meletakkan benda pipihnya yang sedaribtadi ia genggam. Lalu merebahkan tubuhnya ke tempat tidur.
Tiba-tiba benda pipih miliknya tadi bergetar. Namun Vania enggan melihatnya. Dipikirannya menebak-nebak.
"Pasti itu pesan dari Evans lagi. Kalau nggak minta maaf, mungkin tanya udah tidur apa belom, atau nggak ngucapin have a nice dream," batin Vania.
Ia hafal ritual Evans sebelum tidur. Yang selalu saja mengirim pesan-pesan singkat kepadanya. Jatuhnya ke kata rindu. Rindu lagi, dan selalu rindu.
"Memangnya nggak ada kata lain lagi selain, rindu!" Ucap Vania seakan merasa bosan.
Tapi sebenarnya Vania juga merasa senang setiap kali Evans datang. Kini Vania malah senyam senyum sendiri mengingatnya tadi.
"Eh, kenapa aku terus kepikiran dia sih!"
Vania menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Benda pipihnya bergetar lagi untuk kedua kali.
"Ah, dia masih ngirim pesan lagi. Bodo amat nggak akan aku liat," timpalnya nggak peduli. Vania mulai memejamkan kedua matanya. Rasa kantuk benar-benar membuatnya susah untuk membuka mata dengan lebar.
Namun, lagi-lagi benda pipihnya bergetar untuk yang ke 3 kali. Membuat Vania penasaran saja, pesan apa yang sebenarnya Evans kirimkan.
Bersambung...