Bab 38

1249 Kata
Vania duduk bersila di atas tempat tidurnya. Tangannya meraih benda pipih miliknya yang ia letakkan di atas nakas. Dengan rasa penasaran, ia membuka pesan yang masuk di aplikasi whattsapnya. Sebuah pesan dari nomor yang tak di kenal. Tebakan Vania salah, 3 pesan tadi ternyata bukan dari Evans. Melainkan nomor baru yang belum pernah Vania lihat sebelumnya. "Nomor siapa ini," ucap Vania lalu kemudian membuka pesan itu, barang kali ada yang penting. "Hay, Vania. Apa kabar?" "Sudah lama kita nggak ketemu. Bagaimana dengan keadaanmu sekarang? Semoga Tuhan selalu melindungimu di mana pun dan kapan pun." "Aku merindukanmu, Vania Olivia. Bagaimana dengan mu? Apa kau juga merindukanku? Pastinya kau merindukanku, aku tau itu. Sabarlah sebentar, aku pasti datang untukmu." tulis seseorang yang masih misterius, sebab ia juga tak menyebutkan namanya sama sekali. "Ini juga siapa lagi. Pakek rindu-rindu segala. Sok kenal banget," ucap Vania tambah kesal. Vania memang sering mendapat pesan dari pengagum rahasianya. Vania sudah mengganti nomor pribadinya, hanya Wulandari mamanya, sahabat dan kerabat dekatnya saja yang tau. Di tambah Evans, yang baru-baru ini juga mendapatkan nomor pribadinya. Itu pun Evans sendiri yang meminta kepadanya. Kalau bukan atasannya, mungkin Vania nggak akan memberi nomornya kepada Evans. Lantas, nomor yang baru mengirim pesan untuknya tadi siapa? Entahlah yang pasti Vania nggak tau. Lalu kemudian, ia meletakkan kembali benda pipihnya di atas nakas. Kedua matanya sudah tidak kuat menahan kantuk sedari tadi. *** Pagi ini, lagi-lagi Esa bekerja tanpa kehadiran Vania. Memang tanpa kehadiran sahabat, pastinya akan terasa sepi. Berbeda dari biasanya, saat mereka selalu bercanda tawa bersama. Suasana restoran pagi ini masih sepi pengunjung. Esa tengah duduk di meja pengunjung dengan sedikit melamun. Di atas meja itu, ada 3 lembar daftar menu makanan serta minuman lengkap dengan harganya masing-masing. Ada serbet makan yang terlipat rapi, ada tusuk gigi dan juga tisu. Esa menatap ke depan jauh dengan pandangan kosong. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Tak lama kemudian, Evans datang dan masuk kedalam restorannya. Ia melihat Esa yang tengah duduk sendiri. Tanpa berpikir panjang, Evans pun menghampirinya. "Esa, kamu nglamunin apa, pagi-pagi begini?" Tanya Evans dengan melambaikan tangannya tepat di depan wajah Esa yang terlihat manis itu. Esa pun terperanjat kaget. Setelah menyadari Evans sudah duduk di dekatnya. Sejak kapan dia duduk di situ, pikirnya. "Eh! Itu. Aku ke inget Vania. Biasanya kalau pagi kita duduk bersama seperti ini. Sambil menunggu datangnya pengunjung," jelasnya kemudian tersenyum. "Apa kamu, merasa kesepian?" Hal yang tengah Evans rasakan, dia tanyakan juga kepada Esa. Esa mengangguk, "Tadinya begitu, tapi, setelah kamu datang aku nggak merasa kesepian lagi," jawabnya jujur serta memberi kode untuk Evans. Bahwa kehadirannya begitu berarti. "Benarkah. Aku juga merasa, seperti ada yang kurang beberapa hari ini. Aku harap ini semua tidak berlangsung lama." Evans mengutarakan perasaannya sendiri. Di pikiran Evans hanya ada Vania. Sampai Esa memberi kode untuknya saja, dia nggak peka. Esa hanya tersenyum dengan memandangi ketampanan wajah Evans, yang menurutnya mirip bias Kpopnya yang tengah ia gandrungi. Seperti mimpi, tapi ini bukan mimpi. "Aku ingin kau cepat mengatakan cinta kepadaku, Evans. Harusnya kau tau, dari caraku melihatmu, meresponmu, perhatianku kepadamu. Aku cinta kamu. Sungguh!" Batin Esa dengan penuh harapan. Evans menjadi salah tingkah di perhatikan Esa seperti itu. "Emh, Sa" "Yah," "Kamu sudah sarapan?" Tanya Evans basa basi mencoba menutupi rasa canggungnya. "Kamu perhatian banget sih. Aku udah sarapan tadi, sebelum berangkat," jawab Esa dengan perasaan senang. Evans perhatian kepada dirinya. Evans tersenyum, mencoba untuk tetap tenang. "Sial! Kenapa aku salting begini di perhatikan Esa. Tiba-tiba dadaku terasa berdegup kencang. Huh! kenapa aku," batin Evans, ia mulai merasa ada yang aneh terjadi kepada dirinya. "Oh, iya Sa. Aku naik dulu ya, selamat bekerja." Evans segera beranjak meninggalkan Esa yang belum sempat menjawabnya. "Baiklah, kamu juga semangat ya!" Jawab Esa dengan kedua matanya mengikuti keman Evans bergerak. Suara Esa masih terdengar oleh Evans. Evans pun menoleh kearah Esa, ia tersenyum lalu mengangguk. Sejurus kemudian, ia melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju ruangannya. *** Di rumah Vania. Wulandari terlihat sibuk menyiapkan sarapan. Di bantu dengan Vania, ia tengah mengupas bawang putih dan bumbu lainnya. Ia duduk di meja makan, sembari membantu mamanya. "Aku pasti datang untukmu" Tiba-tiba saja, Vania teringat pesan terakhir yang dikirim oleh nomor yang tak di kenalnya, semalam. Profilnya pun, hanya foto kucing yang terlihat menggemaskan. Bukan foto asli pemilik nomor itu sendiri. "Kenapa, tiba-tiba aku kepikiran pesan nggak jelas itu. Dari siapa juga nggak tau. Profilnya aja, gambar kucing. Apa iya kucing ngirim pesan ke aku," batin Vania. Ia tiba-tiba terkekeh, bagaimana jika benar seekor kucing yang mengirimkan pesan untuknya. Membuatnya semakin terkekeh. "Ada apa sayang," tanya Wulandari yang terlihat heran, melihat putrinya tiba-tiba terkekeh sendiri. "Eh, itu Ma. Vania tiba-tiba inget chat temen Vania, semalem. Menurut Vania lucu. Jadinya sampai sekarang, kalau inget itu, Bawaannya pengen ketawa," jawab Vania beralasan. Ia masih saja ingin terkekeh, namun ia berusaha menahan. Wulandari pun ikut tersenyum, lalu beberapa kali menggeleng-gelengkan kepala. "Esa sama nak Evans nanti kesini nggak ya?" "Emang kenapa, Ma?" "Ya, biar bisa sarapan bareng-bareng kan seru." "Ya enggaklah, Ma. Ini udah jam kerja, pasti mereka berkerja. Dan pastinya mereka udah sarapan dong!" "Coba kamu telpon, barang kali mereka belum sarapan," perintah Wulandari seakan memaksa Esa dan Evans untuk datang ke rumahnya. "Mama, ini udah jam kerja loh! Nanti malah ngganggu mereka kerja, Ma," tutur Vania. Wulandari menghela napas. "Padahal, Mama pengen kita sarapan bareng-bareng biar rame." "Ya, lain kali aja, Ma. Kita undang mereka makan kerumah kita," sahut Vania memberi usulnya kepada Mamanya. "Waah! Ide bagus, sayang. Gimana kalau nanti malem aja kita undang mereka." Wulandari mencubit lembut kedua pipi putrinya, gemas. Ia lupa jika tangannya sebelah kanan, baru saja mengaduk tepung bumbu untuk membumbui tempe, yang baru saja ia masukkan ke penggorengan. "Dih, Mama. Pipi Vania nggak usah di tepungin juga dong!" Rengek Vania mengingatkan Wulandari, jika tangannya masih banyak tepung yang lengket menempel. "Oh, iya. Maaf, sayang Mama lupa!" Wulandari terkekeh melihat wajah putrinya yang terlihat lucu. "Ya jangan nanti malem dong, Ma. Kapan-kapan sajalah. Kemaren, Evans juga udah makan di sini. Masak tiap hari mau makan di sini lagi! Lagi pula, Evans itu pemilik restoran loh, tiap hari pasti menu makannya ganti. Nggak kaya kita, Ma," sambung Vania lalu kemudian ia berjalan menuju wastafel, mencuci semua bumbu yang sudah di kupasnya. "Ya nggak apa-apa, mereka makan tiap hari di sini. Mama seneng-seneng aja. Ya udah, kapan-kapan aja. Lagi pula Mama juga belum belanja," sahut Wulandari, akhirnya memilih untuk menunda acara makan malam bersama Evans dan Vania. Vania menghela napas lega. Bukannya Vania pelit, melainkan dia ingin sebisa mungkin menghindari Evans. Jika ia sering bertemu takutnya jatuh cinta beneran kepada Evans. Meski pun, sebenarnya Vania sudah ada rasa suka. Tapi kan ya, Vania nggak mau mengecewakan dan menghianati persahabatannya dengan Esa. *** Restoran sudah waktunya tutup. Mengingat Esa merupakan waiters yang paling jarang bolos, di antara waiters.yang lain. Ia berinisiatif untuk meminta cuti . Esa ingin mengajak Vania jalan-jalan. Perlahan ia melangkah menuju ruangan Evans. Esa mengetuk pintu lalu membuka pintu itu. Seketika kulit Esa merasakan sejuknya udara AC di ruangan Evans. Bukan pertama kalinya, Esa masuk di ruangan kerja Evans. Esa berjalan mendekati Evans, yang masih duduk di kursi kebesarannya. "Ada apa, Sa?" Tanya Evans setelah melihat Esa berada di depan meja kerjanya. "Emh, gini, aku mau ijin ambil cutiku. Dan kalau boleh, aku mau ambil cuti 2 hari saja." Esa sedikit nggak yakin, jika Evans akan memberi nya. Mengingat beberapa hari ini, banyak rekan kerjanya yang nggak masuk kerja. Sementara restoran, semakin banyak pengunjung. Membuat Evans terdiam sejenak sebelum mengijinkannya. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN