Bab 40

1021 Kata
Seketika Evans berdiri dari kursi kebesarannya. "Hentikan! Lebih baik kau juga keluar dari ruanganku!" gertak Evans, Tangan menunjuk ke arah pintu. Menunjukkan jalan keluar untuk Meisha. Meisha pun segera keluar dengan langkah cepat tanpa menoleh ke arah Evans. Meninggalkan dan menjauh dari Evans yang tengah emosi, itu lebih baik saat ini. Meisha menutup pintu ruangan Evans dengan keras, meluapkan amarah dan kekecewaan. Dengan mata berkaca-kaca Meisha menuruni tangga. Lalu kemudian, dengan segera keluar restoran dan masuk kedalam mobilnya. Di dalam mobil itulah, air mata Meisha tumpah. Terlihat dari luar Meisha memang seperti perempuan yang kuat. Tapi sebenarnya dia juga sangat rapuh. "Kenapa sih, kamu nggak mau ngertiin aku sedikit saja, Vans. Kenapa sekarang kamu berubah. Dulu, kamu selalu ada waktu buat aku. Dulu pun kamu juga yang selalu bela aku. Tapi sekarang, kamu berubah." Meisha terisak mengingat masa kecilnya bersama Evans. Evans yang selalu memperhatikannya, selalu menjaganya, selalu membelanya. Tapi itu dulu, waktu mereka masih kecil. Dan dulu, Meisha juga nggak semenyebalkan sekarang. Nggak secerewet saat ini. Dulu, Meisha juga nggak sombong. Pokoknya Meisha yang dulu beda banget sama Meisha yang sekarang. Meisha menarik napas panjang lalu mengeluarkan dengan perlahan, mencoba menenangkan diri. Sebisa mungkin dan sekuat mungkin ia menepis kesedihannya. Setelah merasa tenang, ia menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya ke jalanan dengan kecepatan sedang. Di pikiran Meisha, Mamanya lah yang selalu mengerti dan bisa memahaminya. *** Vania tengah menyibukkan diri di dalam kamarnya. Ia sedang merapikan bajunya, yang terlihat sedikit berantakan di lemari. Sebagian di gantung, sebagian lagi di lipat. Sambil mendengarkan lagu Ruang Rindu yang di populerkan oleh grup band Letto. Aktifitasnya terasa menyenangkan, tanpa terasa capek sedikit pun. Vania melihat paperbag, yang berisi beberapa baju yang di belikan oleh Evans kemarin. Ia mengeluarkan baju itu, lalu kemudian menggantung baju itu, di antara baju-bajunya. Kedua pupil mata Vania semakin membesar dan berbinar, melihat baju pemberian Evans. Terlihat ia sangat menyukainya. "Masih nggak nyangka, aku bisa memiliki baju yang harganya terbilang fantastis ini. Gajiku 2 bulan, hanya cukup untuk beli satu baju seperti ini. Tapi Evans malah beliin sebanyak ini. Huft, jadi nggak enak aku," gumamnya sendirian, sambil menggantung baju yang lain. "Mana setiap kali ketemu aku cuekin. Tapi masih saja kesini ujung-ujungnya. Bikin aku galau. Hih! Jangan sering ke sini dong, please!" Vania berharap, Evans yang akan menjauh darinya. Jika mungkin Evans menjauhi Vania nantinya. Apa iya, Vania nggak rindu? Benda pipih milik Vania tiba-tiba saja bergetar dalam waktu yang cukup lama. Akan tetapi perhatian Vania masih fokus ke baju-bajunya. Setelah benda pipihnya, bergetar lagi. Barulah Vania, menyadari jika benda pipihnya itu bergetar. Di lihatnya ada 2 panggilan tak terjawab dari nomor yang tak di kenal. Nomor yang sama, yang sudah mengirimkan dirinya pesan kemarin. Beberapa detik kemudian sebuah pesan masuk. "Vania, masihkah kau menungguku? Aku sudah nggak sabar bertemu denganmu. I Miss U," pesan dari nomor yang kini di simpan Vania dengan nama, Misterius. Nama itu sudah tersimpan di dalam daftar kontak milik Vania. Entah kenapa, Vania merasa tertarik untuk menyimpannya. Biasanya, Vania akan langsung menghapus semua pesan masuk dan panggilan dari nomor yang tak di kenalnya. "Dari si Misterius lagi. Katanya mau datang, tapi sampai sekarang juga belum datang. Siapa sih, berhasil banget bikin aku penasaran," ucap Vania, lalu meletakkan kembali benda pipihnya di atas tempat tidur yang sudah tertata rapi dan bersih. Vania kembali merapikan bajunya yang belum terselesaikan tadi. Tak sengaja ia menjatuhkan sebuah foto, yang terselip di antara lipatan baju. Kini kedua mata Vania tertuju ke arah foto yang masih terbalik itu. Sejurus kemudian, Vania memungut foto itu, dan membaliknya. Seketika Vania tersenyum melihat foto sepasang sahabat yang terlihat bahagia, dengan gaya jari tangan membentuk huruf V. "Aditya apa kabarmu?" Tutur Vania tanpa ia sadari. Rupanya foto itu adalah foto kenangan Vania semasa masih sekolah SMA. Aditya adalah sahabat Vania sejak masih kecil. "Sayang, tolong bantuin Mama sebentar dong." Suara Wulandari melengking dari dapur terdengar sampai ke dalam kamar Vania. Membuyarkan ingatan Vania, tentang sahabat masa kecilnya dulu, sampai mereka beranjak dewasa. "Iya, Ma. Vania segera kesitu," jawab Vania lalu kemudian, ia segera menyimpan foto kembali di bawah tumpukan bajunya. Dengan segera Vania menghampiri Mamanya, yang tengah sibuk membuat kue. "Gimana, Ma? Apa yang harus Vania bantu?" "Tolong bantu Mama menghias kuenya ya, sayang. Mama juga menghias kue yang satunya lagi. Biar cepat selesai. 1 jam lagi, kue ini mau di ambil sama yang pesan," tutur Wulandari sambil mulai menghias kue yang ada di depannya. Vania pun, mulai menghias kue itu dengan lihainya. Memang Vania juga sangat mahir membuat dan menghias kue. Ia mewarisi bakat Wulandari yang pandai memasak dan membuat aneka jajanan dan kue. Dari bakatnya itu, Wulandari mencoba membuka usaha jajanan dan kue. Yang masih laku keras sampai saat ini. "Alhamdulillah, usaha Mama semakin lancar ya, Ma." "Iya, sayang. Alhamdulillah, Mama sangat bersyukur. Ada kalanya pesanan sepi, tapi kita nggak boleh ngeluh. Pasti nantinya juga akan ramai kembali." Vania mengangguk. "Oh, iya, Ma. Tante Sarah kok lama nggak batuin Mama, kenapa?" Tanya Vania sembari menghias dengan hati-hati. Memang biasanya, Mama Vania selalu di bantu Sarah. Tetangga dekatnya, pada saat pesanan ramai. "Ya kalau pesanan, semakin banyak dan Mama nggak mengatasi. Mama pasti panggil Tante Sarah, untuk bantuin. Tapi, untuk saat ini, Mama masih bisa ngatasi sendiri. Jadinya, Mama nggak manggil Tante Sarah," tutur Wulandari menjelaskan kepada Vania. "Vania juga masih libur. Biar Vania aja, yang bantuin Mama," ujar Vania tersenyum senang. Ia juga senang, jika di suruh menghias kue seperti saat ini. Dengan tak sadar, itu pun melatih kesabaran Vania. Seperti halnya, Wulandari yang sangat sabar menghadapi kenyataan. Dulu dan saat ini. Sambil memghias, mereka asik bercengkrama. Hingga tek terasa, kue yang mereka hias kini sudah jadi. Vania pun menghela nafas lega. Ia senang hasil hias kuenya terlihat sangat cantik dan rapi. "Permisi! Pak, Buk! Ada orang nggak, ya!" Suara teriakan terdengar nyaring dari arah pintu utama rumah Vania. Vania dan Wulandari pun, secara bersamaan menoleh ke arah pusat suara. Suara itu terdengar asing di telinga mereka. "Siapa, Ma?" Tanya Vania penasaran. "Mama juga nggak tau," "Biar Vania aja yang lihat," sahut Vania. Ia meletakkan spuit yang hendak ia bersihkan di atas meja. Lalu kemudian, ia melangkah menuju pintu depan. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN