Tangan Vania memegang pegangan pintu, lalu kemudian membukanya. Terlihat seorang kurir tengah berdiri membawa buket bunga di depan rumahnya.
"Cari siapa, Mas?" Tanya Vania setelah keluar dan menghampiri Mas kurir.
"Ini mbak, mau antar buket bunga. Apa benar, ini rumahnya mbak Vania Olivia," tanya Mas kurir, memastikan nama penerima buket bunga itu.
"Iya benar, saya sendiri. Buket bunga dari mana ya, Mas?"
"Maaf, Mbak. Di sini tidak ada nama pengirimnya. Hanya ada nama, penerimanya, saja. Mohon di terima, ya, Mbak," jawab Mas kurir itu seraya menyerahkan buket bunga yang terlihat indah itu kepada, Vania.
Dengan penasaran, Vania pun menerima buket bunga itu. Ada kartu ucapan kecil yang terselip di sana.
Teruntuk Vania Olivia
Padamu ku ingin bertemu..
Setiap saat, setiap waktu..
Bayang wajah indahmu selalu menari dalam pikiranku..
Hati ini terpikat dalam pesonamu yang memikat..
Ada rindu yang ku jaga untukmu..
Selalu.. Dan selalu untukmu...
"Soo sweet banget, tapi dari siapa? Apa mungkin dari Evans. Baru tau aku, kalau dia bisa seromantis ini," batin Vania, ia pikir buket bunga itu dari Evans. Padahal belum tentu itu darinya.
"Terimakasih, Mas," ucap Vania
"Sama-sama, Mbak. Kalau begitu saya pamit, permisi, Mbak!"
Vania tersenyum lalu mengangguk.
Mas kurir itu pun, langsung pergi dengan naik sepeda motor lengkap dengan tas obrok de belakangnya.
Sedetik kemudian, Vania masuk kedalam rumah sambil membawa buket bunga di tangannya. Vania melenggang menuju dapur, lalu meletakkan buket bunga itu di atas meja makan. Seketika perhatian Wulandari, tertuju pada buket bunga yang baru Vania taruh.
"Wah! Cantik sekali buket bunganya. Dari siapa, sayang?"
Vania mengangkat bahunya,
"Nggak tau Ma. Di kartu ucapannya, juga nggak di kasih nama pengirimnya."
Wulandari masih kurang percaya dengan apa yang di katakan, putrinya. Ia pun memungut kartu ucapan yang terselip di buket bunga itu, lalu membacanya.
"Iya, bener. Bunga ini buat kamu, tanpa ada nama pengirimnya. Tapi, isi puisinya, seperti seseorang yang rindu karna lama nggak saling bertemu," baca Wulandari. Ia pun ikut baper dengan isi puisi itu.
Sejenak kenangan masa mudanya menyelinap dalam ingatan. Wulandari senyam senyum sendiri, mengingat kenangan itu. Sepenggal kisah cinta masalalu saat ia masih sekolah.
Vania pun heran, sekaligus ikut tersenyum. Melihat senyuman yang terlukis di wajah, Mamanya. Ia pun merasa penasaran. Apa yang sudah membuat Mamanya, terlihat bahagia.
"Mama, lagi mikirin apa sih. Kelihatannya seneng banget, Vania kan jadi penasaran. Kasih tau dong, please!" Rengek Vania mendesak Sang Mama.
"Ada deh pokoknya, Mama malu cerita ke Vania. Pokoknya, ya , gitu deh!" sahut Wulandari lalu terkekeh.
"Ayo dong, Ma, cerita. Vania penasaran loh! Sungguh!"
"Udah pernah Mama ceritain kok, dulu. Mama inget, masa-masa pacaran sama papa kamu, dulu. Kamu masih ingatkan!"
Seketika pipi Wulandari berubah merah muda dan pipinya terasa panas. Ia masih saja merasa malu, jika harus menceritakan kembali kepada Vania. Walau pun Vania adalah putrinya, tetap saja Wulandari merasa malu.
Namun sayang, semua itu hanya tinggal kenangan. Terlebih suaminya pergi meninggalkan dirinya, demi perempuan lain. Sangat menyakitkan dan menyayat hati. Meski pun telah tersakiti, terkadang perasaan rindu menyapa dirinya.
"Ehem! Indahnya saat indah bersamamu. Andai kau tau, aku sangat mencintaimu dan aku merindukanmu,"
Niat hati Vania menyindir Mamanya menggunakan puisi ala kadarnya.
Apa yang ada di pikirannya, itu yang dia ucapkan. Sindiran itu tak mengena kepada Mamanya. Seolah malah terkesan mewakili perasaannya sendiri.
Wulandari terkekeh melihat tingkah putrinya. Yang berinisiatif melantunkan puisi untuknya. Membuatnya merasa gemas. Sejurus kemudian, ia memeluk Vania dengan penuh kasih sayang.
"Ternyata selain cantik, anak Mama ini pandai membuat puisi ya," tutur Wulandari memuji putri semata wayangnya itu.
"Iya dong, di balik semua ini, kan ada Mama yang cantik dan hebat! Yang selalu mendukung, dan menyayangiku,"
Vania tersenyum memeluk Mamanya. Ia merasa tenang dan nyaman setiap kali di peluk Sang Mama.
"Mama bangga sama Vania!" ungkap Wulandari merasa sangat bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan.
Terutama memiliki putri seperti Vania, saat ini.Wulandari meng-iklaskan, apa yang telah terjadi di masa lalunya. Dan selalu bersyukur dengan apa saja yang di dapatnya kini.
***
Esa masih berada di restoran. Ia tengah terduduk diam. Tepat di depannya ada botol air mineral dengan ukuran sedang, berdiri tegak di atas meja. Di samping botol, ada benda pipih miliknya.
Esa masih merasa kesal dengan sikap Meisha. Rencananya, ingin berbincang lebih lama dengan Evans. Menjadi hancur berantakan. Setelah Meisha masuk dan akhirnya mereka saling berdebat.
"Tapi, tak apalah. Yang terpenting, besok aku mulai cuti. Sepertinya, Vania harus tau. Aku akan mengabarinya," putusnya lalu kemudian, ia meraih benda pipihnya untuk menghubungi Vania.
Setelah berkali-kali Esa menelpon Vania. Namun, tak ada jawaban dari sahabatnya itu.
"Vania, kemana sih. Kok nggak di angkat-angkat," ucapnya lalu mencoba menghubungi sahabatnya kembali
"Ayo dong, Van. Angkat!"
Namun, Vania tak kunjung mengangkat telpon darinya.
Esa menghela napas berat. Wajahnya tampak berputus asa. Berkali-kali ia menghubungi sahabatnya, tak ada jawaban juga. Setelah itu, ia memutuskan untuk berdiri dari tempat duduknya. Lalu kemudian, mengambil ranselnya dari dalam loker yang terbuat dari kayu.
Ia memasukkan benda pipih miliknya ke dalamnya. Lalu mengaitkan kedua tali ransel ke pundaknya. Setelah itu, ia berjalan santai menuju pintu keluar restoran.
Esa telah sampai di sepeda motor miliknya, yang ia parkir di parkiran depan restoran. Ia pun, memutuskan untuk segera pulang.
"Sa! Tunggu!" Teriak Evans menghentikan laju motor Esa, hendak meninggalkan parkiran.
Esa menoleh ke arah Evans, setelah menghentikan motornya.
"Ada apa!" Sahut Esa merasa heran.
Dengan cepat Evans menghampiri Esa.
"I-ni, punya kamu bu-kan?" Ucap Evans dengan mengatur nafasnya yang tersengal. Ia mengulurkan genggaman tangan kepada Esa, lalu kemudian perlahan membukanya.
Esa yang tadinya heran melihat gengaman tangan Evans, akhirnya terkaget setelah melihat kalung emas miliknya. Kini berada di telapak tangan Evans.
"Loh! Kalungku! Kok bisa ada di kamu."
Esa meraba lehernya yang terasa kosong tanpa kalung berliotin love yang biasa melingkar menghiasi lehernya. Lalu kemudian, ia mengambil kalung itu dari telapak Evans.
"Aku menemukannya di bangku yang kau duduki, pagi tadi. Aku kalung itu milikmu. Makanya aku menghentikanmu saat ini."
Evans juga sempat melihat kalung itu. Melingkar cantik di leher Esa.
Esa terlihat senang. Ia pun tak manyangka jika kalungnya itu terjatuh di ruangan Evans.
"Terima kasih! Jika kau tak menyimpannya tadi, mungkin kalung ini bisa hilang."
Wajah Esa terlihat berbinar, senyum manis nya masih bertahan menghiasi wajahnya.
Bersambung...