Evans membalas senyum Esa. Setelah Eaa mengungkapkan rasa terimakasih kepada dirinya.
"Sama-sama. Aku khawatir kau akan bingung mencarinya, tadi. Makanya aku cepat-cepat turun, sebelum kamu pulang."
Esa mengangguk senang. Kedua tangannya berusaha memasang kalung itu, di lehernya.
Dengan cepat, Evans membantu memakaikan kalung Esa. Dengan cepat Esa mwnyibakkan rambutnya ke samping depan. Hingga sedikit memperlihatkan punggung lehernya yang terlihat putih bersih.
"Sini, aku bantu," ucap Evans sambil membantu menyematkan kunci kalung itu, hingga saling bertaut.
"Sudah, terpasang," imbuhnya kemudian menatap wajah Esa yang terlihat malu-malu.
Esa tersenyum dengan sedikit menunduk. Malu disertai gugup yang tengah melandanya. Tangannya menyibakkan kembali rambut panjangnya ke belakang dan merapikannya.
"Terimakasih, Evans," ucap Esa berterimakasih untuk yang kedua kalinya. Esa menatap Evans penuh arti.
Sejenak kedua mata mereka saling menatap. Namun, Evans segera mengalihkan pandangannya dari Esa. Evans pun jadi salah tingkah sendiri.
"Emh.. sudah malam. Sebaiknya kamu cepat pulang, Sa," saran Evans mencoba mengalihkan perhatian Esa yang masih menatapnya lekat.
"Oh, iya. Kalau gitu, aku pamit duluan, ya. Kamu juga cepet pulang. Da.."
Esa melambai ke arah Evans. Lalu kemudian, menaiki kembali sepeda motornya.
Evans pun membalas lambaian Esa.
"Hati-hati, Sa. Nggak usah ngebut. Jangan banyak melamun juga," tutur Evans mengingatkan Esa. Seperti tadi pagi, Esa melamun sendiri. Evans pun khawatir jika Esa melamun juga saat di jalan.
Esa mengangguk,
"Nggak lah! Masa aku nglamun di jalan. Tapi kalau nglamunin kamu, nggak papa deh kayaknya," sahut Esa, terkekeh menggoda Evans.
"Kamu ini. Namanya ngelamun saat mengendara, ya tetep aja nggak boleh," jawab Evans ikut tertawa. Menurutnya Esa sedang bercanda. Padahal, Esa kan serius!
Esa masih tertawa.
"Ya udah, hati-hati. Ingat nggak boleh ngelamun," ucap Evans mengingatkan lagi.
"Iya-iya. Kamu juga, hati-hati ngemudi mobilnya. Oh, iya! Untuk 2 hari kedepan aku kan cuti. Kalau kangen, langsung datang aja kerumah," ucap Esa sambil sedikit memutar gas motornya.
Lalu kemudian, perlahan motornya melaju. Meninggalkan Evans yang masih berdiri, tersenyum menatapnya semakin terlihat jauh jarak di antara mereka. Hingga Evans, tak lagi terlihat di spion kaca motor Esa.
"Esa, Esa. Bisa aja nglucu!" Evans masih tertawa.
Kenapa Evans nggak peka sih! Padahal Esa kan tidak sedang membuat lelucon. Esa berkata menurut apa kata hatinya. Sadar dong Vans, Esa itu suka sama kamu.
Sedetik kemudian, Evans naik ke dalam mobilnya. Ia pun pulang. Mengingat malam sudah semakin larut. Dan rasa kantuk tengah menghampiri dirinya juga.
***
Keesokan harinya. Esa baru membuka kedua matanya, setelah semalaman begadang melihat drama korea kesukaannya. Tangannya mengucek kedua matanya dengan perlahan. Lalu kemudian, melihat jam dinding yang menempel lekat di tembok kamarnya. Jarum jam menunjukkan tepat pukul 8 pagi. Artinya, hari ini Esa bangun kesiangan. Di banding hari sebelumnya.
Namun, Esa terlihat tenang saja. Mengingat dirinya bebas tidak bekerja selama 2 hari ke depan. Esa menguap dan merenggangkan tubuh secara bersamaan.
"Hmm.. rasanya masih ngantuk. Ponselku mana ya?"
Tangan Esa meraba di bawah bantal, mencari benda pipihnya yang semalam ia simpan di bawah bantal itu.
"Nah! Ini dia. Aku mau ngajak Vania jalan, ah! Mumpung sama-sama free," ucapnya seraya mengetik pesan lalu di kirimkan kepada Vania.
Setelah itu, ia pun meletakkan benda pipihnya di atas nakas. Dengan perlahan dan masih malas. Esa masuk ke dalam kamar madi untuk sikat gigi dan cuci muka saja. Karna untuk mandi, Esa ogah-ogahan mentang-mentang tidak bekerja. Mandinya di tunda nanti, kalau dia mau keluar rumah.
"Airnya dingin banget sih! Kayak di puncak gunung aja," selorohnya saat membasuh air ke wajahnya.
Kelihatan sekali, Esa takut sama air.
Sejurus kemudian, Esa keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuju dapur yqng terlihat sangat sepi. Suasana rumahnya pun juga sepi.
"Kemana, Mama? Kok nggak kelihatan. Ada makanan apa, ya. Laper!"
Perut Esa mulai keroncongan.
Tangan kanannya mengelus perutnya yang sudah lapar.
Lalu membuka tudung saji di atas meja makan. Di lihatnya ada nasi, tempe goreng dan sambal. Di bawah tudung saji itu.
"Tempe lagi, tempe lagi," ucap Esa yang sudah merasa bosan. Dengan menu tempe, yang hampir setiap hari hadir di meja makan itu.
"Emangnya nggak ada yang lain apa! Kok tempe terus. Bosan, ah! Aku mau buat mie rebus aja," gumamnya kemudian, bediri mencari mie instan di laci dapur.
Di dapatinya mie goreng instan, lalu kemudian Esa mengupas bawang merah, bawang putih serta cabe rawit. Sebagai penambah bumbu mie, yang akan dia masak.
Setelah mie instan goreng sudah masak. Esa pun menuangnya kedalam mangkuk. Lalu kemudian, membawa nya ke meja makan dekat dengan dapur bersih, yang baru ia gunakan untuk memasak tadi.
Tak menunggu lama, lalu Esa menyantap mie instan buatannya dengan rasa pedas yang tidak terlalu pedas. Bisa dikatakan pedasnya sedang-sedang saja.
Sesekali Esa berdesis saat menikmati mie yang saat ini, sudah hampir habis. Tangannya meraih gelas yang sudah terisi air di depannya. Lalu meneguknya sampai habis. Selanjutnya, ia menghabiskan mienya terlihat tandas sampai dasar mangkuk.
"Alhamdulillah," ucapnya setelah mie nya habis dan merasa kenyang.
"Mama, kemana sih! Dari tadi nggak kelihatan. Semalam juga nggak bilang apa-apa, kalau hari ini mau keluar."
Ia celingukan mencari Mamanya, yang belum juga kelihatan sedari tadi.
"Enaknya kerumah Vania sekarang kali, ya. Di sana pasti seru!" Ucap Esa setelah mencuci mangkok dan peralatan masak, yang baru ia pakai tadi.
Menurut Esa di rumah Vania, akan terasa ramai di tambah kedatangannya di sana. Daripada ia di rumah sendirian dan merasa kesepian.
Lagi pula kan memang rencananya, Esa mau ngajak Vania jalan. Dengan cepat, Esa masuk kedalam kamarnya. Lalu kemudian, membersihkan diri dan berganti baju.
Setelah siap. Ia keluar rumah menuju bagasi, lalu memanasi mesin motornya terlebih dulu. Tak lama kemudian, Esa pun mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, menuju rumah Vania.
Suasana jalan sudah terlihat ramai, di padati oleh sesama pengendara jalan. Tak terasa Esa sudah sampai, di rumah minimalis milik Vania.
Ia pun segera turun, lalu menyapa Wulandari yang terlihat sedang menyirami tanaman hias. Berjejer rapi di samping teras.
"Pagi, Tante. Vanianya ada nggak, Tan?" Sapa Esa.
Wulandari menoleh ke arah Esa. Ia juga baru menyadari kehadiran Esa.
"Eh, Esa. Vania ada di dalam. Memangnya hari ini, kamu nggak, kerja?" Tanya Wulandati antusias.
"Aku ngajauin cuti, Tan. Nggak enak kerja kalau nggak ada Vania," jawab Esa jujur, dengan sudut bibir melengkung ke atas.
Wulandari tersenyum, seperti mampu memahami apa yang tengah Esa katakan kepadanya.
"Kalau begitu, langsung masuk saja, Sa," perintah Wulandari.
"Baik, Tante," jawab Esa menoleh kearah pintu yang sudah terbuka.
Lalu kemudian, Esa pun masuk serta celingukan. Mencari ke beradaan Vania, di dalam rumah itu.
Dengan santai, Esa berjalan menuju ruang keluarga. Namun, tak di dapatinya Vania di situ. Lalu dia nyari Vania di dapur, akan tetapi Vania juga tak ada di sana.
Esa pun menarik napas dalam, lalu mengeluarkan secara perlahan.
"Apa Vania masih mandi, ya," ujarnya kemudian mengetuk pintu kamar, Vania.
Namun, tak juga ada jawaban dari Vania. Baru Esa menyadari, ternyata pintu kamar Vania tidak terkunci. Tanpa berpikir panjang. Esa pun langsung masuk kedalam kamar Vania.
Kamar Vania terlihat sepi juga. Akan tetapi, Esa mendengar air gemericik berasal dari kamar mandi dalam kamar itu.
Esa menghela napas lega.
Rupanya Vania masih mandi. Dan Esa memutuskan menunggu di sana.
Di lihatnya buket bunga, di atas nakas samping tempat tidur Vania. Esa pun membaca kartu ucapan, yang terselip dan sudah sempat di baca oleh Vania.
Dahi Esa terlihat mengkerut. Ia juga penasaran dengan sang pengirim buket bunga misterius itu.
"Nggak ada nama pengirimnya. Tapi so sweet banget sih! Ada puisinya segala. Hmm... andai saja, Evans ngirimin buket bunga seperti ini. Bahagainya diriku, pasti akan ku rawat buket bunga itu, nantinya."
Esa terlalu berharap. Sangat berharap.
Dipikirannya masih dengan rasa penasaran. Siapa pengirim buket bunga itu?
Bersambung...