Bab 43

1314 Kata
Di dalam kamar Vania. Esa masih dengan ke kepoannya. Kini, ia duduk di tepi tempat tidur Vania. Tangan kirinya masih memangku buket bunga, sedangkan tangan kanannya memegang kartu ucapan yang baru di bacanya. "Sepertinya, Vania punya pengagum rahasia deh! Pengen juga dikirimi buket bunga seperti ini. Jadi baper kan, aku!" Batinnya dalam hati. Vania keluar dari kamar mandi, menggunakan handuk kimono berwarna biru muda, yanv melekat di tubuhnya. "Esa! Kamu di sini. Udah lama?" Tanya Vania begitu melihat sahabatnya berada di dalam kamarnya. Ekspresi Vania biasa saja. Esa sudah terbiasa masuk kedalam kamar Vania. Bukan pertama kalinya. "Baru, belum ada 10 menit. Eh, Van. Ini dari siapa?" Esa mengangkat buket bunga itu sejajar dengan dadanya. Vania melirik sekilas seraya berganti baju. Sama-sama perempuan kan, ya, jadi Vania nggak malu. "Oh, itu. Aku nggak tau. Orang nggak ada nama pengirimnya. Mas kurirnya aja di tanya juga nggak tau." Esa mengangguk beberapa kali. "Berarti, dari pengagum rahasiamu. Cie-cie.. siapa hayo?" Selorohnya menyudutkan Vania. "Apaan sih! Aku aja nggak tau. Udah ya, nggak usah di bahas lagi itu," protes Vania yang kini sedang menyisir rambut panjangnya. "Ya harus dibahas lah, Van. Ini dari pengagum rahasaimu loh! Cie, bikin baper aja ini buket bunga. Cantik pisan ini bunga." Esa terlihat begitu menyukai buket bunga itu. Vania menggeleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu, dan tersenyum. "Kalau kamu mau, ambil aja, Sa," ucap Vania bersungguh-sungguh. Seketika Esa terlihat senang dengan senyum mengembang. "Serius kamu, Van. Buket ini buat aku!" Esa masih tak percaya, jika Vania memberikan buket itu padanya. "Iya, ambil aja," jawab Vania serius. "Baik banget sih, kamu. Tapi nggak deh, itu kan dari pengagum rahasia kamu. Buket bunga ini, di kirimkan special buat kamu." Esa menolak meskipun sebenarnya, ia suka dan mau saja menerima buket bunga itu. Dalam pikiran Esa. Ia pengen menerima buket bunga dari pengagum rahasiannya. Seperti halnya Vania, sahabatnya. "Ya nggak papa, ambil aja," ucap Vania bersikeras memberi buket bunga itu, untuk Esa. Akan tetapi Esa nggak mau menerimanya. "Nggak lah, Van. Kamu simpan aja ni buket. Oh, iya. Kita jalan-jalan yuk! Mumpung kita nggak kerja nih!" Ajak Esa bersemangat. Sambil meletakkan buket bunga yang ia pegang ke atas nakas. Vania menatap Esa dengan wajah datar. "Kemana?" "Kemana aja lah, yang penting jalan-jalan. Tapi kamu udah beneran sehat kan, Van?" Esa memastikan kesehatan Vania sudah kembali pulih. Vania mengangguk merasa baik. "Udah kok. Tapi, aku udah janji sama Mamaku, Sa. Mau bantuin bikin kue. Pesanan kuenya banyak banget. Kalau Mamaku bikin sendirian, pasti keteteran. Kan kasihan Mamaku," tolak Vania dengan halus. Ia berharap sahabatnya itu, akan memahaminya. Esa mengangguk lalu tersenyum. "Kalau begitu, aku bantu bikin kuenya. Itung-itung, belajar kue gratis. Nggak papa kan?" Esa terkekeh, memang semua enakan gratis. Vania pun ikut terkekeh. "Boleh, boleh, boleh banget. Pasti Mamaku malah senang kamu mau bantu. Tapi rencana kamu tadi, nggak apa-apa di tunda dulu?" Kali ini Vania terlihat serius. "Nggak apa, besok aja kita jalan-jalannya. Lagi pula, aku juga pengen bisa bikin kue sendiri. Biar nggak beli mulu, kan bisa lebih hemat duit." Esa kembali terkekeh. Lalu kemudian mereka keluar kamar. Berjalan berdampingan menuju dapur. Terlihat, Wulandari tengah sibuk menakar bahan-bahan untuk membuat kue. Terlihat banyak sekali bahan-bahan yang sudah di takar berjejer di atas meja. "Tante, Esa boleh bantuin nggak. Biar nantinya, Esa juga pinter bikin kue seperti, Tante," tutur Esa dengan kedua netranya melihat satu persatu, bahan yang sudah di takar tadi. "Boleh banget, Esa. Nanti, Tante kasih kamu resepnya. Biar kamu nggak lupa kalau mau bikin kue sendiri," jawab Wulandari sambil memecahkan telur ke dalam wadah yang ukurannya lumayan besar. Esa dan Vania pun, mulai membantu Wulandari membuat kue. Sambil bercanda tawa, tak terasa satu persatu kue itu pun jadi. Lalu kemudian, Vania mulai menghias dengan lihainya. "Permisi! Vania! Tante!" Teriak seseorang di balik pintu sambil mengetuk pintu dengan kerasnya. Suara ketukannya terdengar sampai ruang dapur. Membuat Wulandari, Vania dan Esa seketika menoleh ke arah pusat suara. "Kayak ada yang ketuk pintu," ucap Vania tidak terlalu yakin. "Biar aku aja yang liat," sahut Esa lalu berjalan menuju pintu depan rumah Vania. Esa segera membuka lebar pintu itu. Dilihatnya seorang cowok ganteng berperawakan tinggi kurang lebih 180 centimeter. Berdiri di depan pintu dengan tersenyum penuh arti. "Selamat siang," sapa cowok yang baru Esa lihat. Pastinya Esa juga nggak kenal. Esa menelisik cowok dihadapannya itu dari atas sampai bawah, lalu ke atas lagi. Cowok itu berpenampilan menarik, tetapi asing di mata Esa. "Cari siapa ya?" Tanya Esa penasaran. "Vania ada?" Esa mengangguk "Ada, kamu siapa?" Esa masih penasaran. Vania berniat menghampiri Esa ke depan. Sebab, sahabatnya tak kunjung kembali ke dapur. Ia juga penasaran, siapa yang tadi mengetuk pintu. "Siapa yang datang, Sa," tanya Vania setelah berada di belakang Esa. Namun belum melihat siapa yang berdiri di depan Esa. Esa menggeleng tidak tau. "Hah! Aditya!" Teriak Vania riang, setelah melihat siapa yang berdiri di depan Esa. Vania langsung memeluk erat cowok yang bernama Aditya itu. Esa melongo, melihat sahabatnya memeluk cowok yang belum di kenalnya sama sekali. Cowok itu pun, membalas pelukan Vania dengan tersenyum lepas. "Apa kabar kamu? Pasti kangen kan, sama aku," tanya Aditya kepada Vania. Vania pun mengurai pelukannya, kini dia memukul-mukul d**a bidang Aditya. "Ih! kamu jahat, kamu jahat! Mentang-mentang kuliah di luar negri, nggak pernah ngabarin aku sama sekali. Jahat, pokoknya kamu jahat!" Rengek manja Vania kepada Aditya. Aditya adalah sahabat Vania sejak kecil sampai mereka beranjak dewasa. Wajar saja jika Vania protes dan merengek kepada Aditya. Setelah memutuskan kuliah keluar negri. Dan Aditya pun berangkat kesana. Tak pernah sekalipun, ia menghubungi Vania. Walau hanya sekedar memberi kabar. "Hey, tenang" ucap Aditya. Tangan Aditya menggenggam kedua tangan Vania yang tengah berontak "Jangan marah gitu dong, kan jadi ilang cantiknya," sambungnya menggoda Vania. "Ih, bisa-bisanya kamu mengalihkan perhatian! Kamu jahat! Kenapa nggak pernah kasih kabar sama sekali. Mentang-mentang udah punya banyak teman disana. Jadi lupa sama aku!" Vania membuang muka. Ia melipat tangannya di depan d**a. Sementara Esa terlihat bingung melihat apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa sahabatnya tiba-tiba memeluk dan marah-marah nggak jelas, kepada cowok yang belum pernah ia temui sebelumnya. Siapa dia? Batin Esa bertanya-tanya. Tapi Vania, masih meneruskan acara ngambeknya. "Dengarkan dulu penjelasanku. Okke, okke maafkan aku. Aku salah selama ini tak memberimu kabar. Tapi, bagaimana bisa menghubungimu? Jika nomor kamu nggak bisa di hubungi," ungkap Aditya sungguh-sungguh. "Ya Tuhan!" Vania menepuk jidatnya seketika setelah mendengar penjelasan Aditya. Ia baru ingat jika dirinya pernah beberapa kali, ganti nomor. Jadi, bukan salah Aditya jika ia tak memberinya kabar sama sekali. Kini Vania memasang wajah menyesal. Bukannya menyambut kedatangan Aditya dengan baik. Malah marah-marah, karena sebuah ke salah pahaman yang di buatnya sendiri. "Maafkan aku, udah marah sama kamu tadi. Nomorku memang ganti. Jadi wajar jika kamu nggak bisa menghungi di nomorku yang dulu. Sekali lagi, maafkan aku," sahut Vania merengek minta maaf, tangannya bergelayut manja di lengan Aditya. Aditya pun tertawa melihat ekspresi Vania. Tadinya marah-marah, sekarang merengek minta maaf kepada dirinya. Sedangkan Esa hanya terdiam heran melihat mereka. Mungkin di pikirannya saat ini, seperti nonton drama. Bedanya ia menontonnya secara langsung. "Sudahlah, lupakan saja. Yang penting sekarang aku udah pulang. Jadi bisa menemui mu setiap saat," jawab Aditya menenangkan Vania yang terlihat sedih. Vania pun akhirnya tersenyum simpul, memandang Aditya. "Apa kabarmu? Kau terlihat lebih dewasa sekarang. Dulu, kalau aku salah. Kau langsung menjitakku," seloroh Vania mengingat masa lalu, sebelum Aditya berangkat keluar negri. "Benarkah?" Aditya tertawa lagi. "Aku merindukanmu, Vania. Setiap kali hari libur, ingin rasanya aku kembali ke Indonesia. Hanya untuk mengajakmu kesana bersamaku. Hari-hariku terasa sepi tanpa kehadiranmu." Aditya mengungkapkan isi hatinya. "Jadi, setelah kuliah di luar negri. Kamu jadi pinter ngegombal seperti ini," sahut Vania lalu kemudian tertawa. Aditya pun ikut tertawa lagi. Terlihat beberapa kali menggeleng kepala. Vania tengah merasa bahagia atas kedatangan Aditya, saat ini. Mengingat mereka terpisah setelah 1 tahun lamanya, baru bertemu. Hingga ia lupa dengan sahabatnya Esa. Sejak tadi, Esa hanya terdiam disertai perasaan bingung melihat mereka berdua. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN