Sesekali Esa ikut tersenyum melihat Vania tersenyum kepada Aditya.
Esa berdeham "Van. Kenapa nggak di suruh masuk aja ke dalam?" Ucapnya mengingatkan Vania.
Vania menoleh ke arah Esa.
"Oh, iya. Aku sampai lupa. Sa, kenalin ini Aditya temanku yang paling sok cool seantero nusantara. Canda!" Vania memang suka bercanda.
"Hai, aku Aditya," ucap Aditya tersenyum mengulurkan tangannya kepada Esa.
Esa pun menerima uluran tangan Aditya.
"Esa"
"Yuk masuk! Kita lanjut kenalannya di dalam," ucapan Vania kepada kedua sahabatnya.
Lalu kemudian mereka masuk, mendudukkan diri bersama di ruang tamu.
Vania duduk berdampingan dengan Esa. Sedang kan Aditya, duduk di sofa yang terpisah.
"Bagaimana, kamu suka buket bunga yang kemarin?" Tanya Aditya mengingatkan Vania.
Vania terkejut dengan pertanyaan, Aditya. Ternyata buket bunga yang sempat ia berikan kepada Esa, tadi. Adalah kiriman dari Aditya untuknya. Untung saja, Esa tak menerima buket itu, walaupun dia suka.
Vania memaksakan senyumnya,
"Oh! Iya. Tentu aku suka. Buket yang cantik nan indah. Thanks ya, Dit," jawab Vania jujur.
Ia memang menyukai buket bunga itu. Hanya saja, ia tak begitu menghiraukan, tadinya. Andai saja dia tau dari awal, siapa pengirim buket bunga itu. Pastinya Vania tak ada niat sedikit pun, untuk memberikan buket itu kepada Esa.
"Jadi, buket bunga itu, dari kamu?" Tanya Esa kepada Aditya. Akhirnya, rasa penasaran tentang siapa, pengagum rahasia Vania terungkap.
Aditya mengangguk membenarkan.
"Betul. Rupanya, kau tau juga, Sa," jawab Aditya dengan bangga.
"Iya, kebetulan tadi, aku melihatnya."
Esa tersenyum dengan pandangan yang tak beralih dari Aditya sedikit pun.
Tak heran, jika Esa tak juga berpaling memperhatikan Aditya. Aditya memang cakep, dengan gaya style simple tapi selalu terlihat keren. Siapa pun pasti akan terpaku ketika melihatnya. Iya, Aditya memang super keren. 11, 12 lah jika di bandingkan dengan Evans. Bedanya, Evans tajir melintir. Sedangkan Aditya, cowok biasa namun pekerja keras.
Sementara, Vania dan Aditya saling berpandangan. Seakan tersirat rindu yang lama terpendam, di antara mereka. Jelas saja. Setelah lama terpisah oleh jarak dan waktu. Wajar, bila kerinduan menghampiri setiap benak Vania dan Aditya.
Pandangan itu, lama tak berkedip. Membuat Esa heran dengan melirik wajah Vania, lalu melihat ke arah Aditya. Esa tak memahami apa yang tengah terjadi. Ia pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Vania, kamu yang bikin minuman. Kasihan, sepertinya Aditya kehausan."
Esa menyiku lengan Vania, hingga membuatnya terhenyak.
"Oh! iya. Sorry, aku lupa. Bentar ya, aku bikin minuman dulu," ucap Vania seraya berdiri meninggalkan Aditya dan Esa di ruang tamu.
Aditya tersenyum melihat Esa. Yang berganti menatapnya dengan serius.
Esa masih penasaran dengan, Aditya. Ia tak percaya jika hubungannya dengan Vania, hanya sebatas sahabat saja. Dari cara mereka yang saling berpandangan, dengan tatapan dalam. Esa curiga. Jika Vania dan Aditya memiliki perasaan saling suka.
Esa pun ingin mengorek sedikit informasi, tentang kedekatan mereka, Kepada Aditya.
"Dit,"
"Ya!" Jawab Aditya dengan ramah.
"Beneran? Kamu sahabatan sama Vania. Emh, sorry! maksut aku, sejak kapan kamu kenal Vania? Dan seberapa dekat, kamu dengannya?" Tanya Esa di landasi dengan ke-kepoannya, memastikan hubungan Aditya dan sahabatnya, Vania.
"Sudah lama, lama sekali."
Aditya tersenyum sebelum akhirnya melanjutkan lagi.
"Kita sahabatan, sedari kita masih kecil. Sampai kita beranjak dewasa dan sampai saat ini pun, Kita masih bersahabat dengan baik."
Esa mendengarkan dengan antusias. Sesekali ia juga mengangguk paham.
"Lalu, kalian berpisah. Karna kamu harus sekolah di luar negri? Begitu?"
"Iya betul."
Esa mengangguk lagi.
Tak lama kemudian, Vania datang dengan membawa nampan berisi 3 gelas es teh manis, lengkap dengan roti bolu bikinan Mamanya yang sudah di potong.
"Silahkan di minum dan di makan, Dit, Sa," perintah Vania sambil meletakkan makanan dan minuman di atas meja.
"Woah! Kue bolu bikinan Tante, ini. Hmm... bikin laper."
Esa tanpa rasa sungkan mengambil sepotong roti itu lalu kemudian, melahapnya.
"Silahkan, Dit! Kue bikinan Tante Wulan, enak loh!" Ujarnya sambil mengunyah.
Aditya mengangguk.
"Oh, ya Van. Tante mana? Kok nggak kelihatan."
Aditya juga merasa kangen dengan mama Vania. Aditya juga menganggap Wulandari, seperti mamqnya sendiri.
"Ada di dapur. Mama masih sibuk bikin kue. Tadi, aku juga udah bilang sama Mama. Kalau kamu kesini. Katanya, Mama kangen tuh sama kamu."
"Yaudah, aku samperin Tante aja sekarang," sahut Aditya.
Lalu kemudian berdiri melangkahkan kakinya menuju dapur. Di ikuti oleh Vania, berjalan di belakangnya. Jarak dapur dan ruang tamu di rumah Vania, tidak begitu jauh.
"Apa kabar, Tante," sapa Aditya setelah berada di dapur dan melihat Wulandari disana.
"Adit... kabar baik. Kamu nggak pernah kasih kabar, tau-tau udah pulang aja. Gimana sekolahmu di luar negri? Lancar?"
Wulandari tampak bahagia dengan kedatangan Aditya, di rumahnya. Dengan cepat Aditya menjabat tangan Wulandati. Lalu kemudian, sedikit mnundukkan tubuhnya untuk mencium punggung tangan Wulandari yang masih belepotan tepung berwarna putih. Aditya sangat sopan dengan orang yang lebih tua.
Wulandari tersanjung dengan sikap Aditya. Aditya selalu menjaga sopan santunnya, sejak dulu. Sampai sekarang pun, tak berubah. Wulandari mengusap bahu Aditya saat masih menunduk.
"Alhamdulillah, lancar Tante. Adit juga lulus dengan nilai yang baik. Maka dari itu, Adit udah nggak sabar untuk melamar Vania." Tenang, Aditya hanya bercanda namun ada nada keseriusan saat dia berbicara.
"Apa!" Sahut Vania kaget setelah mendengarnya.
Aditya terkekeh melihat ekspresi Vania yang terkesan lucu.
Wulandari yang paham dengan maksut Aditya, hanya menggeleng dan tersenyum simpul. Tangan kanannya langsung memencet hidung Aditya, menggerakkan ke kanan dan ke kiri sampai Aditya mengaduh.
"Aduh! Tante, ampun! Ampun, Tante!" Teriak Aditya memohon seraya mengangkat kedua tangannya ke atas, menyerah.
"Kamu, ini ya. Masih saja, sama kaya dulu, nggak berubah. Suka banget menggoda anak, Tante. Awas! Jangan bikin baper anak orang. Kalau kamu nggak bener-bener serius," tutur Wulandari yang gemas dengan tingkah Aditya, lalu ia melepas tangannya.
Terlihat, hidung Aditya sampai memerah akibat di pencetnya terlalu lama.
"Aku maunya serius, Tante. Tapi, Vanianya mau apa enggak!"
Aditya terkekeh netranya melirik Vania, yang terlihat sedang menatapnya tajam dengan melipat kedua tangannya di depan d**a. Memang Aditya ini, suka bercanda. Akan tetapi, ada keseriusan dalam ucapannya tadi. Hanya saja, ia mengucapkannya sambil bersenda gurau. Jadi lebih terkesan, hanya bercanda. Aditya menyukai Vania sejak dulu. Namun, sampai saat ini. Belum juga dia berani mengungkapkannya secara langsung. Bukan nggak punya nyali, hanya saja, ia menunggu waktu yang tepat.
Untuk mengungkapkan rasa cintanya yang lama terpendam. Lantas, bagaimana dengan Vania? Apa dia juga mempunyai perasaan yang sama!
Esa masih duduk sendirian di ruang tamu. Ia meneguk es teh manis buatan, Vania.
"Vania sama Adit, mana sih! Kok nggak cepet balik kesini," gumam Esa sambil meletakkan gelas bekas minumnya, di atas meja.
Tanpa berpikir panjang, ia memutuskan menyusul Vania dan Aditya di dapur.
"Aku kok di tinggal sendirian sih! Nggak asik tau!" Protesnya setelah sampai di dapur.
Melihat Vania, Aditya, dan Wulandari malah asik mengobrol.
"Iya, lebih baik, kalian ngobrol di depan aja sana. Tante masih mau bikin bolu, kurang satu lagi. Nanti kalau udah selesai, Tante nyusul ke depan," tutur Wulandari menyarankan kepada mereka.
Aditya tersenyum menanggapi.
"Iya, Ma. Kalau gitu kita kedepan, ya. Nggak apa-apa kan, Mama selesein sendiri," sahut Vania.
Wulandari mengangguk.
"Nggak papa sayang. Cuma kurang satu aja kok. Sana gih, ngobrol di depan. Kalau udah selesai, nanti Mama nyusul."
Lalu kemudian, mereka kembali menuju ke ruang tamu, dan bercengkrama bersama.
***
Di restoran Evans. Evans, terlihat duduk sendiri di dalam ruangannya. Suasana hatinya terasa sepi tanpa kehadiran, Vania, di tambah lagi Esa. Ia, memutuskan untuk menghubungi Vania. Namun sayang, tak kunjung ada jawaban.
Hingga berkali-kali ia mencoba menelpon. Tetap saja jawaban yang sama, dia dapatkan.
Evans pun mulai bersungut, kesal.
Bersambung...