Kerinduan tengah melanda Evans.
"Kemana, dia. Kenapa nggak di angkat juga. Sial!" Gerutu Evans seraya memegangi benda pipih miliknya.
Biasanya, Evans akan menghampiri Vania di rumahnya. Namun kali ini tidak. Sebab Evans harus pergi keluar kota. Ia harus menghadiri pembukaan, cabang restoran barunya di Bandung. Tentunya tak bisa di tunda lagi barang sebentar saja. Mengingat perjalanannya pun cukup jauh.
Dengan langkah cepat Evans keluar dari restorannya. Dengan menenteng laptop di salah satu tangan kanannya. Lalu kemudian buru-buru masuk kedalam mobilnya yang ia parkir, di parkiran sejak pagi. Untuk masalah restorannya yang dia tinggal, saat ini. Ia selalu mempercayakan kepada salah satu stafnya di restoran itu.
Tanpa berpikir panjang. Evans segera menginjak pedal gas, melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata menuju Bandung.
Di sepanjang perjalanan. Bayangan Vania tengah menari-nari, dipikirannya. Berulang kali Evans menghubunginya, sampai mengirimkan pesan untuknya. Tak di gubris oleh Vania, sedikit pun. Membuat Evans kesal saja! Evans kan hanya ingin, memberi tahu bahwa ia akan pergi ke luar kota. Masa iya , Vania nggak mau mengangkat telpon darinya, barang sebentar saja.
Menurut Evans, Vania harus tau. Akan tetapi, menurut Vania itu tidaklah penting.
Beberapa jam kemudian, Evans sampai di restoran barunya di Bandung. Hari sudah semakin sore. Ia memarkirkan mobilnya tak jauh dari area restoran barunya. Tangannya segera mengambil benda pipih miliknya yang berada di saku kemeja, yang melekat di tubuhnya.
Dilihatnya di gambar layar. Tak ada satu pun, pesan masuk dari Vania. Pesan yang ia kirimkan untuk Vania, belum juga di buka olehnya.
"Kemana saja dia? Selalu saja tak pernah melihat ponselnya barang sebentar saja. Sudah berkali-kali di ingatkan, masih saja behini!" Gerutu Evans.
Seolah-olah Vania sudah menjadi pacarnya. Dan wajib untuk membalas apapun pesan darinya, serta selalu mengangkat telpon darinya. Harus banget ya?
***
Sedangkan Vania. Masih asik bercanda tawa dengan kedua sahabatnya. Vania terlihat lebih ceria. Jangankan sekedar melihat benda pipihnya. Saking bahagianya saling berbagi cerita, Vania sampai lupa. Jika dia memiliki sebuah ponsel. Ah, itu nggak penting! Yang terpenting, saat ini ia bahagia menyambut kedatangan Aditya.
"Hah! Kamu serius!" Ekspresi kaget di tunjukkan oleh Vania.
"Iya, seriuslah. Masa aku bo'ong sama kamu. Aku kan selalu jujur, Van. Mana pernah aku bo'ong sama kamu," sahut Aditya dengan serius.
Esa terkekeh melihat mereka berdebat.
"Ah! Nggak selalu. Banyak bo'ongnya kamu mah!" Ucap Vania ketus.
"Yaelah, nggak percaya banget. Beneran, aku nggak akan bo'ong semenjak sampai di sana, aku nggak pernah pergi kemana-mana selain ke kampus."
Tangan Aditya mencubit manja pipi bersih Vania.
Ah! Masa iya. Nggak masuk akal banget kan ya? Secara, 1 tahun itu lama. Masak iya, Aditya betah di dalam kamar kosnya saja. Keluar-keluar hanya mau ke kampusnya, saja! Mana Vania bisa percaya. Nggak!
"Kali ini, aku nggak bisa percaya gitu aja sama kamu! Sejak datang pun, kamu banyak membual. Mungkin juga, kamu emang sering, menggoda cewek bule di sana! Ya kan! Jujur saja lah!" Vania menyudutkan Aditya agar tak berbohong kepadanya.
Aditya menggeleng tak mau jawab.
"Iya, lo. Masak selama setahun, kamu betah hanya tinggal di dalam kos saja. Aku pun sama seperti Vania, nggak percaya!" Sambung Esa yang juga merasa Aditya sedang membuat sebuah lelucon.
Tiba-tiba Aditya terkekeh begitu saja. Vania dan Esa pun bengong, sekaligus terheran-heran. Dengan sikap Aditya yang tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
"Kamu, kenapa?" Tanya Vania heran. Ia menempelkan punggung tangannya ke dahi Aditya. Normal, tidak panas.
"Aku nggak papa. Memang seharusnya kalian nggak percaya. Mana mungkin aku betah di dalam kos saja, dalam setahun. Bisa tumbuh uban rambutku! Ya sekali dua kali, keluar jalan-jalan lah. Cari hiburan. Kebetulan, temen aku satu kos, juga orang Indonesia. Dia lumayan tau, seluk beluk tempat hiburan disana. Kan jadi enak, aku nggak tersesat," tutur Aditya, kali ini dia berkata jujur.
"Kenapa nggak bilang dari tadi? Kenapa harus muter-muter dulu! Baru kamu jawab yang sebenaranya. Kan kita penasaran ya, Sa." Protes Vania merasa di kerjain.
Esa hanya mengangguk membenarkan.
"Ya emang aku sengaja! Biar kalian penasaran."
Aditya terkekeh lagi.
Vania mencubit lengan Aditya, semakin gemas.
"Aduh! Van! Sakit lo, beneran." Ujar Aditya sambil mengusap lengannya yang terasa panas.
"Biar! Rasain! Lagian kamunya gitu," keluh Vania ngambek.
Ah, semakin Vania ngambek. Semakin gemas lah Aditya kepada Vania.
"Dih, ngambek ni. Tapi nggak papa, semakin ngambek, kamu semakin cantik," goda Aditya.
Sedang Esa tersenyum lepas melihat mereka.
"Kamu sih, Dit. Seneng banget, bikin Vania ngambek. Van, kita besok jadi jalan-jalan kan, ya. Sekalian aja, kita ajak Aditya," usul Esa mulai mengutarakan pendapatnya.
Esa berhasil mengalihkan perhatian Vania, yang tadinya ngambek.
"Jadi, jadi! Woah, pasti seru! Gimana Dit? Kamu mau ikut jalan sama kita, besok," tanya Vania, ia lupa jika dirinya tadi ngambek sama Aditya.
"Boleh. Aku juga butuh hiburan. Dari pada di rumah nggak ada kerjaan," jawab Aditya setuju.
Esa pun merasa senang. Terpikirkan di pikran Esa, untuk mengajak Evans juga besok. Pasti tambah seru.
"Van, gimana kalau besok. Kita ajak Evans juga. Pasti lebih asik!" Usul Esa dengan semangatnya.
"Hah! Untuk apa ngajak dia. Asik sih, asik. Tapi nggak enak juga kalau dia ikut. Nanti malah di bayarin segala macem," batin Vania berupaya menolak usul dari sahabatnya.
"Tapi Sa, Evans mana mau. Bukannya, beberapa hari ini, dia ngurusin restorannya yang ada di Bandung. Pastinya, dia sibuk," jawab Vania, menolak usul Esa secara halus.
Esa pun juga tau. Tentang cabang restoran milik Evans, di Bandung. Yang kabarnya resmi di buka pada hari ini. Tapi, Esa masih berharap Evans akan rela meluangkan waktu, untuk sekedar jalan bersamanya.
Setiap Evans menghampiri mereka di restoran. Esa pikir, Evans mulai membuka kesempatan untuknya. Padahal kenyataannya, Evans tengah mendekati Vania. Bukan seperti yang di pikirkan Esa. Kasian Esa terlalu baper.
"Iya juga sih. Padahal pasti lebih seru, kalau kita jalan berempat.
Yaudahlah, aku nggak jadi ngajak Evans. Lain kali aja, kita ajak dia," ucap Esa dengan nada memelas. Ia terlihat sedih.
Vania tersenyum, memang itu yang ingin Vania dengar dari Esa. Menunda mengajak Evans jalan bersama mereka.
"Iya, lain kali ajalah. Dia kan masih sibuk. Jangan sedih ya, semangat dong, Sa," ucap Vania memberi semangat. Ia menepuk-nepuk pelan bahu sahabatnya itu.
"Okke, i'm fine. Kalau gitu aku pamit pulang ya, Van. Nggak terasa, udah sore aja nih," ucap Esa seraya melihat jam tangan pemberian Evans, yang melingkar cantik di pergelangan tangannya.
"Sampai jumpa besok, Vania, Adit!"
Esa berdiri sambil melambaikan tangan kepada mereka. Sejurus kemudian, melangkah pergi meninggalkan rumah Vania.
Aditya mengangguk serta tersenyum. Sedangkan Vania, berdiri lalu berjalan mengikuti Esa.
"Hati-hati dijalan, Sa," ucap Vania saat melihat sahabatnya menggunakan helm.
Esa tersenyum lalu menjawab,
"Tentu! Dan sampai besok Vania. Da..."
Esa melambaikan tangannya kembali, lalu kemudian mengendarai motornya ke jalanan.
Vania pun melambaikan tangannya dan tersenyum. Melihat sahabatnya, yang mulai pergi meinggalkan rumahnya dan menghilang di jalanan. Vania kemudian berbalik, lalu melangkah ke dalam rumah. Mengingat masih ada Aditya di dalam.
"Esa itu, teman kerja kamu, Van?" Tanya Aditya, setelah Vania duduk di tempatnya kembali.
"Iya, betul," jawab Vania mengangguk.
Lalu mengambil segelas es teh yang ia buat tadi, kemudian meneguknya sampai habis.
"Aku sahabatan sama Esa, sejak di terima kerja di restoran Evans," sambungnya.
"Evans! Siapa dia? Bukannya tadi Esa juga menyebutkan nama itu?" Tanya Aditya, rasa ingin taunya begitu besar.
"Betul. Evans itu, pemilik restoran tempat aku bekerja. Esa menyukainya, makanya tadi dia berniat ngajak Evans, besok," sahut Vania menjelaskan.
"Apa dia tampan?" tanya Aditya tambah penasaran.
Vania terdiam. Netranya bergerak ke kiri dan ke kanan menelusuri wajah Aditya, tengah terlihat serius menatap ke arahnya.
Vania mengangguk lalu menjawab,
"Lumayan."
Ia menghela napas lalu tersenyum.
"Apa kau juga tertarik dengannya?" Pertanyaan Aditya semakin menyudutkan Vania.
Seketika d**a Vania terasa sesak. Mengingat perasaannya yang harus ia pendam, demi menjaga perasaan Esa.
Vania nggak salah, Esa juga nggak salah. Apalagi Evans. Hanya saja mereka terjebak dalam sebuah cinta segitiga yang begitu rumit. Hingga Vania, menyalah kan dirinya sendiri atas perasaannya itu. Tapi, akankah Vania akan terus memendam dan mengabaikan perasaannya? Sulit! Dan pasti sakit!
Bersambung....