Bab 46

1023 Kata
Vania menarik napas dalam lalu mengeluarkan dengan perlahan. Kemudian dengan berat, ia menjawab pertanyaan Aditya. "Tidak," jawabnya datar. Aditya mengerutkan alisnya. Seakan menemukan kejanggalan dalam ekspresi wajah Vania, setelah pertanyaannya tadi. "Apa kau yakin?" Kali ini Aditya, terlihat lebih serius memandang Vania. Entah kenapa, pertanyaan Aditya semakin membuat Vania sakit hati. Hingga sangat sulit, untuk Vania menjawabnya. Vania hanya mengangguk saja. Merespon pertanyaan Aditya. Dan berharap, semoga Aditya tak menanyainya lebih dalam lagi. Semua tentang Evans, yang tak ingin ia bahas saat ini. Aditya menghela nafas lega. Setelah memastikan Vania tak tertarik atau pun sekedar, menyukai atasannya. "Hey, kenapa kau terlihat tegang begitu. Apa pertanyaanku tadi membuatmu bingung? Aku hanya ingin memastikan, bahwa kamu masih single. Aku kan mau melamar kamu, Vania," tutur Aditya dengan nada bercanda tapi, asli! Dia serius. "Huh, kau ini. Selalu saja begitu. Dari dulu bilangnya mau melamarku. Tapi sampai saat ini mana buktinya!" Vania terlihat lebih tenang dari sebelumnya, terlihat tegang. Aditya terkekeh sebentar. Lalu kedua tangannya menggenggam tangan Vania dengan tatapan sendu. Vania yang tadinya ikut tertawa kecil, kini terdiam. Dan terpaku, menatap Aditya yang jarak wajahnya begitu dekat dengannya. Di pikiran Vania. Ia heran dengan sikap Aditya. Kadang terlihat bercanda, kadang juga ia terlalu serius. Hingga membuatnya bingung sendiri. "Lalu kali ini, dia mau apa? Apa dia mau menciumku? Ah! Kenapa aku berpikir seperti itu," batin Vania menerka, apa yang akan Aditya lakukan. Hanya diam dan saling menatap. Vania sesekali mengedip-ngedipkan kedua netranya, merasa pedas akibat memandang terlalu lama tanpa berkedip. "Van," panggil Aditya mulai berbicara. "Ya" "Aku.." Vania serius mendengarkan, apa yang akan Aditya katakan. "Aku serius akan melamarmu. Hanya saja aku belum punya uang untuk menghidupi anak-anak kita nanti. Tunggu, aku kerja dulu. Nanti aku akan membuktikannya kepadamu." Kedua pipi Vania mengembung, tawa Vania pecah seketika. Bagaimana tidak! Nggak hanya sekali Aditya terlihat serius seperti ini. Dulu juga pernah. Lalu ujung-ujungnya dia hanya bercanda. Saking canggungnya Aditya, didepan Vania. Aslinya sih serius. Kalau bisa dua rius. Tapi kali ini, Aditya benar-benar serius. Hanya saja, Vania menganggapnya bercanda seperti sebelumnya. Kasian Aditya! Kini Aditya terlihat bengong sakaligus heran, melihat Vania. "Udah, Dit. Stop bercandanya. Aku udah hafal dengan tingkah kamu," ucap Vania terpingkal-pingkal. "Jadi, kamu menganggap aku hanya bercanda. Padahal aku serius, Van. Liat saja nanti, aku akan buktikan ke kamu," sahut Aditya bersikeras meyakinkan Vania, bahwa dia serius. Namun, masih saja Vania menganggap Aditya hanya bercanda. Wulandari menghampiri Vania dan Aditya, yang tengah duduk berjejer di ruang tamu. "Lagi ngobrolin apa sih, kayaknya seru banget. Vania, ketawanya sampai kedenger Mama, di dapur loh," tanya Wulandari penasaran. "Itu loh, Ma. Aditya bercanda mulu, dari tadi. Ya jelas Vania ngakak lah! Kan lucu," jawab Vania sambil memegang perutnya, terasa nyeri akibat tertawa terlalu ngakak. Aditya hanya tersenyum kearah Wulandari. "Oalah gitu. Lah, Esa nya kemana? Kok nggak ada," tanya Wulandari baru menyadari, jika Esa nggak ada bersama mereka. "Esa baru aja pulang. Besok kesini lagi, soalnya kita mau jalan-jalan. Ya, kan Dit!" Vania menyenggol lengan Aditya. Aditya paham lalu langsung menjawab. "Eh, iya betul, Tante. Kalau Tante mau ikut, boleh kok. Cari hiburan Tante, biar nggak spaneng." "Nggak, ah. Tante dirumah saja. Kalian yang masih muda saja yang jalan-jalan. Hiburan Tante, bikin kue aja di rumah. Lagian besok juga masih ada 2 pesanan kue yang harus Tante bikin," tutur Wulandari menolak secara halus. Hobbynya membuat kue, merupakan hiburan juga untuknya. Wulandari tersenyum melihat Vania dan Aditya yang duduk berdampingan pada satu baris. Menurutnya, baru saja Wulandari bersama Sarah mama Aditya, mengasuh mereka. Mereka bermain bersama waktu masih kecil. Dan kini, tak terasa mereka tumbuh bersama dalam sebuah persahabatan. Sungguh! membuat hati Wulandari terharu bercampur bahagia. Kedua netra Wulandari mulai berkaca-kaca. Tak terasa, bulir bening jatuh menetes membasahi kedua pipinya. Seketika Vania terhenyak. Ia segera berpindah duduknya, di sebelah sang mama. Begitu pun dengan Aditya. Ia kaget melihat Wulandari, tanpa sebab berlinang air mata. "Mama! Mama kenapa?" tanya Vania terlihat panik. Wulandari tersenyum. Namun, bulir bening masih saja menetes dari kedua netranya. Kedua ibu jari Vania, tengah sibuk menghapus bulir bening yang membasahi pipi sang mama. "Mama jangan nangis. Vania jadi takut." Kedua netra Vania pun ikut berkaca-kaca. "Mama, jangan sedih," sambung Vania, yang akhirnya meneteskan bulir bening juga di kedua pipinya. "Sayang, Mama nggak sedih. Mama hanya terharu, melihat kalian yang kini sudah dewasa. Perasaan, baru kemaren Mama mengasuh kalian, bersama Mama Aditya. Nggak terasa kalian sudah tumbuh dewasa. Mama merasa bahagia, Nak," tutur Wulandari seraya mengusap bulir bening di kedua pipi putrinya. Vania langsung memeluk Mamanya. Tangis kedua ibu dan anak itu pecah seketika. Aditya yang masih duduk rapi di tempatnya. Pun ikut terharu. Dengan senyum menghiasi wajahnya. Sesekali, ia menyeka bulir bening di kedua sudut netranya. "Terima kasih. Mama udah sabar mendidik dan menyayangi Vania, sampai saat ini. Dan maaf, Ma. Vania belum bisa membalas semua kebaikan dan ketulusan Mama. Yang mungkin, nggak akan pernah bisa Vania mengimbanginya. Terima kasih, Mama. Aku sayang Mama," ucap Vania dengan memeluk Mamanya penuh kasih sayang. "Jangan bicara seperti itu. Mama nggak mengharap imbalan apapun dari Vania. Mama tulus iklas, membesarkan Vania. Mama hanya ingin melihat Vania bahagia. Jangan sedih ya, sayang. Mama juga sayang sama Vania," ungkap Wulandari saraya mengelus perlahan bahu putrinya. Lalu kemudian, tangan Vania merenggang. Ia melihat mamanya yang tengah tersenyum. Dengan bulir bening yang tak lagi menetes. Vania pun ikut tersenyum, bahagia. "Aku tadi takut banget, liat Mama nangis. Aku nggak mau liat Mama sedih. Apalagi karena Vania." "Nggak sayang. Mama nggak sedih. Mama hanya terharu melihat kalian, sudah beranjak dewasa. Dan tumbuh menjadi gadis cantik, serta Aditya tumbuh menjadi cowok tampan. Asal jangan playboy loh, Dit. Awas kalau kamu nakal!" tutur Wulandari memperingatkan Aditya. Aditya mengangguk. "Nggak akan, Tante. Adit anak baik kok, seperti yang pernah Tante tuturkan kepada Adit, waktu itu," ucap Aditya tersenyum, mengingat wejangan yang pernah di tuturkan oleh Wulandari. "Syukurlah, kalau kamu ingat semua dengan apa yang sudah Tante sampaikan." "Jadi, itu artinya, Tante mau menerima Asitya sebagai mantu kan?" Goda Aditya. Ia tak ingin berlama berada dalam suasana haru seperti ini. Membuat mewek saja! "Hih! Adit! Kan, Ma. Aditya mulai lagi." Rengek manja Vania menambah suasana semakin lucu. Vania mulai ngambek lagi, sementara Aditya terkekeh lagi. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN