Dion masih terkekeh-kekeh. Ditambah lagi kata 'tompel' keluar dari mulut Meisha. Semakin membuat Dion terpingkal-pingkal. Ya Lord, nggak jadi bersambung malah nyambung jadinya.
Evans tersenyum, dia membayangkan kalau Dion nggak berhenti ketawa. Bisa sampai ngakak terjungkir-jungkir. Tapi asal nggak kebablasan aja.
"Udah, udah! Woy Dion! Udah ketawanya. Nggak enak, diliatin banyak orang tuh!" Tutur Evans mengingatkan bahwa mereka benar-benar jadi perhatian banyak orang.
Meisha menekuk wajahnya kesal. Tangannya geram langsung nyubit lengan Dion dengan keras, sampai akhirnya Dion mengeluh kesakitan.
"Aduh!" Teriaknya sambil mengusap bekas cubitan Meisha, dilengannya yang lumayan sakit.
"Sakit tau! Sakitnya sampai ada panas-panasnya segala. Dih, pantes aja! Kukunya kaya mak lampir gitu." Sambungnya, setelah melihat kuku Meisha yang panjang.
"Apa katamu! Ooh, masih kurang ya? Sini aku tambahin."
Meisha berusaha nyubit lengan Dion lagi, tapi berhasil di halang Dion.
"Ampun, ampun! Udah! Kapok aku!" ucap Dion meringis sedikit menggeser kursinya agar tak di jangkau tangan Meisha. Sial!
"Ini namanya kekerasan dalam pertemanan, Mei," protes Dion melihat Meisha yang masih terlihat bersungut-sungut.
"Bodo amat! Salah sendiri ngetawain aku. Mana bilang aku mak lampir," sahut Meisha dengan menatap tajam ke arah Dion.
Evans menggeleng kepala melihat temannya berdebat.
"Maaf, maaf! Udah jangan marah lagi. Cantik kamu ilang kalau marah gitu," goda Dion agar Meisha nggak menerkamnya lagi. Bagaikan kucing ketemu tikus mereka ini!
Meisha mendengus sebal. Sampai dia lupa tadi mau bertanya apa kepada Evans. Huh!
"Kamu tadi dari mana, Vans?" tanya Meisha mengabaikan Dion yang masih mengusap lengannya.
"Dari rumah sakit," jawab Evans datar.
"Siapa yang sakit?" Sahut Meisha dengan nada terkejut.
"Vania"
Glek! Seketika mood Meisha memburuk mendengar nama Vania. Meisha menghela napas.
"Bisa sakit dia. Ngapain juga kamu repot-repot kesana? Kan ada orang tuanya yang mengurus, dia. Tanya keadaannya lewat chat atau telpon, ku rasa cukup!"
Meisha menunjukkan rasa nggak sukanya, Evans mengunjungi Vania di rumah sakit. Mengingat chat dan panggilan darinya di abaikan begitu saja oleh Evans.
"Saran kamu nggak asyik. Lebih sopan dan enak langsung ketemu orangnya, jadi tau bagaimana kondisinya secara langsung. Bisa bicara panjang lebar..."
"Dan bermesraan!" Sahut Meisha cemburu buta.
Nggak masalah sih, jika Meisha cemburu. Kan, mereka nggak ada hubungan apa-apa. Hanya sebatas teman. Nggak lebih!
Evans memilih diam nggak melanjutkan ucapannya tadi.
Bukannya takut sama Meisha, ya. Hanya saja dia nggak mau berdebat dengan Meisha, saat ini.
Dion melihat kearah Evans dan Meisha, secara bergantian. Seperti yang pernah dikatakan Evans, kepadanya. Belum apa-apa, Meisha sudah berani ngatur kahidupan Evans. Untung saja Evans menolak Meisha. Kalau nggak! Ah, sudah lupakan saja!
Dion berdeham, lalu bertanya,
"Trus sekarang gimana keadaan, Vania?"
"Sekarang Vania sudah lebih baik."
Dion mengangguk "Syukurlah! Kalau kau kesana lagi, kabari aku. Aku juga ingin menjenguknya. Nanti aku akan ajak ketty juga, kalau kamu nggak keberatan."
Dengan malas Meisha mendengar pembicaraan mereka, tentang Vania.
"Vania, Vania, Vania! Panas kupingku dengernya! Emangnya nggak ada topik lain apa, selain membicarakan pelayan itu!" Batin Meisha merasa risih.
"Nanti aku kabari. Oh, ya aku tinggal dulu. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Kalian lanjutkan acara kalian." Evans berlalu meninggalkan Meisha dan Dion.
Sejenak mereka terdiam selepas Evans berlalu.
"Oh, ya Sha, aku cabut duluan ya! Aku lupa, ada janji anterin Ketty ke salon. Takutnya Ketty ngambek, kalau aku terlambat."
Dion pun berdiri meninggalkan Meisha. Padahal Meisha belum sempat menjawabnya.
"Hah! Kok pada maen pergi ninggalin aku sendirian sih. Kan nggak asyikk kalo nggak ada temennya," gumamnya sendirian, hanya berteman dua gelas bekas milk shake di atas meja.
"Kalau aku samperin Evans di ruangannya. Palingan aku bakal di cuekin," ucapnya.
Sebelum akhirnya dia sendiri pun, memutuskan untuk pergi dari restoran Evans.
Esa melihat Meisha melenggang keluar restoran. Lalu kemudian, ia melangkah ke tempat dimana Meisha duduk. Membereskan gelas dan mengelap meja agar kembali bersih.
***
Di rumah sakit. Vania tengah di periksa oleh Dokter Haris Alatas. Dia merupakan Dokter yang terbilang masih muda nan tampan. Siapa pun pasiennya, pasti akan betah berlama-lama menginap di rumah sakit. Garis bawah, siapa pun pasien wanita, ya!
"Dokter, aku boleh pulang sekarang," tanya Vania setelah selesai di periksa.
Orang pasien lain betah di rumah sakit sebab Dokter Haris tampan nya nggak ketulungan. Ini! Vania malah pengen cepet-cepet pulang! Dokter Haris memang tampan. Tapi, Vania kan tiap hari juga di kelilingi cowok tampan. Evans dan Dion misalnya. Jadi bagi Vania ketemu Dokter Haris itu, biasa saja.
Terlebih bau obat-obatan yang cenderung menyengat hidung. Nggak terlalu banget sih, tapi tetep aja bau obat tercium di hidung mancung, Vania.
Itulah alasannya, kenapa Vania nggak betah berlama-lama berada di rumah sakit.
Dokter Haris tersenyum.
"Belum ya, paling nggak besok pagi kamu baru boleh pulang. Malam ini, kamu masih menginap di sini. Besok pagi, saya akan periksa kamu lagi. Baru nanti, kamu, boleh pulang," tutur Dokter Haris Alatas.
Bibir Vania terlihat sedikit mengerucut, tapi terkesan lucu.
"Kok ya masih besok, sih, Dok! Sekarang sajalah! Boleh ya," rengek Vania dengan menunjukkan senyum termanisnya. Agar Dokter Haris mengijinkan dia pulang.
Dokter Haris tersenyum melihat dan mendengar rengekkan manja Vania.
"Tetap saja, kamu baru boleh pulang besok." Tangan Dokter Haris memencet lembut hidung, Vania, gemas. Dokter Haris terlihat sangat sabar.
"Aku udah merasa baikkan kok, Dok. Boleh ya!"
Vania tetap bersikukuh ingin pulang. Tuturnya sudah baikkan, tapi sebenarnya dia menahan tubuhnya yang masih sedikit lemas.
Dokter Haris hanya tersenyum membalas, Vania yang ngeyel.
"Udah sayang, nurut aja apa kata Dokter. Lagi pula, besok pagi udah boleh pulang, kan," tutur Wulandari.
"Tapi, Ma,"
"Udah, nurut aja."
Terpaksa Vania harus menginap semalam lagi. Ia terlihat sedih, harus menahan bau obat-obatan yang mengganggu indra ciumnya. Bukan maksut Vania mengabaikan nasehat Dokter Haris. Sungguh!
Senyum Vania mengembang, saat melihat Esa sahabatnya masuk ke dalam kamar inapnya. Di ikuti Evans, Dion berserta istrinya Ketty. Sesuai permintaan Dion. Evans memberinya kabar dan mengajaknya untuk bersama menjenguk, Vania.
"Selamat sore!" Sapa Esa begitu berada di sisi Vania dan Wulandari.
Ia meletakkan buah-buahan dan beberapa makanan yang dia bawa untuk Vania, di atas nakas.
"Sore, Esa," sahut Vania dan wulandari bersamaan.
Dokter Haris tersenyum.
"Kalau begitu, saya permisi," pamitnya singkat.
"Oh, iya Dok. Terimakasih!" Ucap Wulandari.
Dokter Haris mengangguk, kemudian ia berlalu keluar.
"Vania! Dokter kamu boleh juga ya, ganteng. Betah dong kamu disini," timbrung Ketty setelah memastikan dokter Haris menghilang di balik pintu.
Seketika Dion berdeham, dengan kedua mata melirik ke arah istrinya yang tepat berdiri di sisi kirinya itu.
"Masih gantengan akulah!" Ucapnya ketus.
"Apasih sayang! Kamu cemburu, ya!" Tangan Ketty mengelus manja dagu suaminya, yang tengah merajuk itu.
"Tenang aja! Masih gantengan kamu kemana-mana, kok!" Sanjungnya kepada suami sekonyong-konyongnya.
Dion masih saja diam tak menjawab istrinya. Sejak kapan dia cemburuan seperti ini! Biasanya Ketty lah yang lebih cemburuan. Nah, sekarang malah kebalik!
Vania dan semua yang melihat kedua pasangan suami istri itu pun, ikut tersenyum geli. Dengan tingkah pasutri itu, yang menurut mereka terkesan lucu. Cemburu! Memang hal biasa, bagi pasangan yang baru saja menikah. Seperti halnya Dion dan Ketty, saat ini.
"Biasa aja, Kett! Aku udah kangen rumah. Tapi belum boleh pulang sama, Dokter," jawab Vania, melanjutkan pertanyaan yang di lontarkan Ketty tadi.
"Kalau aku jadi kamu, ya jelas betah! Orang dokternya ganteng gitu. Mirip oppa-oppa Korea!"
Ketty mengerlingkan sebelah matanya ke arah Dion. Lalu kemudian, ia terkekeh melihat wajah suaminya yang menurutnya lucu, saat sedang cemburu.
"Gimana keadaan kamu sekarang, Van?" Tangan Esa mengelus bahu Vania.
"Sudah lebih baik, Sa. Tapi tetep aja nggak di bolehin pulang sekarang. Dahal aku pengen pulang sekarang, Sa. Nggak betah lama-lama di sini!" Vania bersikeras ingin secepatnya keluar dari rumah sakit.
"Sabar, Van. Nurut aja apa kata Dokter. Pastinya juga demi kebaikkan kamu kok. Emangnya, kapan Vania boleh pulang, Tante?" Esa berganti bertanya kepada Wulandari, yang tepat berdiri di sisi sebelah Kanan Vania.
Sedangkan Esa sendiri, berada di sisi sebelah kiri bed pasien. Tempat Vania, yang tengah duduk bersila di atasnya.
"Besok pagi, setelah dokter Haris memastikan Vania memungkinkan untuk di rawat di rumah. Baru, boleh pulang," tutur Wulandari sembari melihat putrinya.
"Kalau begitu, besok pagi biar saya jemput, Tante. Jadi besok, Tante nggak perlu repot menganggil taxi."
Evans yang sedari tadi hanya memperhatikan Vania. Akhirnya mulai bicara.
"Sebelumnya terimakasih, nak Evans. Tapi, lebih baik nggak usah. Tante nggak enak merepotkan nak Evans. Nak Evans, mau jenguk Vania seperti ini saja. Tante udah seneng dan terimakasih. Oh iya, terimakasih juga kepada Esa, nak Dion dan juga nak Ketty. Udah mau jenguk putri Tante," tutur Wulandari panjang lebar.
Siapa sih, yang nggak seneng di tolong. Begitu pun dengan Wulandari. Dia senang saja menerima dengan tangan terbuka. Tapi ia merasa nggak enak, selalu merasa merepotkan Evans.
"Nggak Tante. Saya justru senang bisa membantu Tante dan Vania. Besok pagi-pagi pasti saya akan datang ke sini. Saya mohon, Tante jangan nolak niat baik saya," ucap Evans bersungguh, meyakinkan niat tulusnya.
Ia ingin selalu membantu Vania dalam situasi apapun. Terlebih dia mencintai putri Wulandari. Apapun pasti akan ia lakukan demi kebaikannya.
"Iya Tante, biar Evans saja yang jemput" usul Esa mendukung niat baik Evans.
Evans baik bener orangnya, peduli dengan orang lain. Selain tampan, baik, pengertian, kaya, dia juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Membuat Esa semakin jatuh hati kepadanya. Esa bangga kepada Evans punjaan hatinya. Yah! Walau pun dia belum sempat mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya kepada Evans.
Bersambung...