Bab 31

1548 Kata
Esa selalu mengagumi seorang Evans Haidar. Evans adalah lelaki yang selalu ia idam-idamkan. Hanya saja, Esa tak percaya diri untuk mendekatinya. Baginya, Evans seorang pengusaha kaya tampan dan mapan, yang mustahil untuk dia dapatkan. Sedangkan dirinya, hanya seorang gadis yang menggantungkan hidupnya bekerja sebagai pelayan, di restoran milik Evans. Bayangan Esa melayang-layang. Evans bak seorang pangeran, sedangkan Esa upik abunya. Mengingat status sosial mereka yang sangat jauh jauh berbeda. Membuat nyali Esa menciut. Namun, dengan sifat kedermawanan yang Evans miliki, serta tidak membeda-beda kan dalam berteman. Membuatnya yakin dan berani untuk memperjuangkan cintanya. Terlebih sahabatnya, Vania, juga mendukungnya untuk segera mengutarakan perasaannya itu kepada Evans. Dobel yakin! Evans masih dengan keinginannya menjeput Vania besok pagi. Meski pun Wulandari menolak karna sungman kepada dirinya. Tetap saja, besok dia akan menjemput mereka di rumah sakit. Dion menjadi badmood. Semenjak istrinya memuji ketampanan, dokter Haris. Ia lebih banyak diam dan merasa nggak nyaman. Kenapa nggak nyaman! Ia khawatir jika ketemu dokter Haris lagi, istrinya nanti jlalatan seperti halnya dia dulu. Jika bertemu dengan wanita cantik. Dion cemburu! "Kalau gitu, kita pamit dulan ya Van, Tante. Semoga Vania juga lekas pulih. Maaf kita buru-buru. Soalnya, ada acara keluarga malam ini. Takutnya, nanti kita terlambat!" Dion buru-buru pamitan, setelah ia hanya terdiam saja tadi. "Oh, iya terimakasih, nak Dion. Sudah repot-repot menjenguk Vania." "Sama-sama, Tante." Vania hanya merespon dengan senyuman. "Hati-hati di jalan. Nggak usah ngebul." Sindir Evans, yang paham kenapa Dion buru-buru berpamitan. Dion tersenyum masam menanggapi Evans. Sementara Ketty, masih terlihat bingung menelaah. Apa yang baru di katakan suaminya itu. Seingatnya! Nggak ada acara apa pun dirumah orang tuanya. Di rumah mertuanya pun juga nggak ada. Apa lagi di rumahnya sendiri! Jelas nggak ada! "Sayang" "Mari Tante, Vania, Sa." Dion tersenyum melihat Esa yang terlihat lebih cantik dari yang dia kenal sebelum dia menikah. "Vans! Gue cabut duluan. Mari semuanya!" Sambungnya kemudian menggandeng Ketty keluar ruangan, dengan ekspresi terheran-heran dengan sikap Dion. "Sayang, kenapa terburu-buru sih! Kan kita masih asik ngobrol." Protes Ketty sambil melangkah bergandengan. Tapi, Dion hanya diam saja menuju dimana mobilnya tadi di parkirkan. Dion membukakan pintu mobil untuk istrinya itu. "Masuk" ucapnya datar. Tak perlu berpikir panjang, Ketty nurut perintah suaminya. Ia masuk kedalam mobil dengan masih terheran-heran. Ada apa dengan suaminya kini. Heran! Dalam benak Ketty pun kini bertanya-tanya. Berawal dari masuk ke kamar inap, Vania. Dari tadi Dion cuma diam saja. Tiba-tiba, dia buru-buru pamitan dengan alasan acara keluarga yang nggak masuk akal. Karena memang nggak ada acara apa pun yang di adakan pihak keluarga mereka. Ketty tanya juga nggak dijawab. Kan jadi sebal! Sekarang, Dion juga cuma diem aja sambil mengemudi mobil. 'Salahku dimana' batin Ketty mengembalikan sebab akibat yang tengah terjadi di antara mereka. "Sayang" Dion tetap diam. "Sayaaang..." panggil Ketty lagi. Dion tetep aja nggak mau ngomong. Ketty mendengus kesal. Suaminya tiba-tiba hilang pendengaran. "SAYANG!!!" Ulangnya lagi dengan keras. "Hhmmm" "Kok cuma, hhmmm! Kamu kenapa sih! Dari tadi diem aja! Di panggil nggak nyaut! Kan sebal aku jadinya!" Emosi Ketty meluap-luap. "Nggak papa" Glek! Jawaban suaminya datar tapi baginya menyakitkan. Berasa sia-sia, dia marah, ngomel, emosi tapi jawabannya cuma gitu. Nggak ada penjelasan. Buang tenaga saja! Bikin makan ati! Ketty membuang muka ke arah luar. Netra nya menerawang lampu- lampu yang menghiasi sepanjang jalan. Dengan tangan bersedekap dan bibir mengkerut sebal. "Serba salah!" Gumamnya sebelum akhirnya, ia memilih diam. Dion menoleh kearah Ketty sebentar. Lalu kemudian, ia mengalihkan pandangannya jauh kedepan. Ia juga mendengar istrinya itu bergumam. Ah, Ketty merajuk! Pikirnya. "Dokter Vania tadi, ganteng ya! Mirip oppa-oppa Korea pula!" Dion mulai menyindir Ketty. "Hah!" Ketty baru sadar ternyata itu alasan suami tercintanya itu merajuk. Dih, gitu aja di ambil hati. Dion memuji temennya cantik aja. Ketty biasa aja! Ya cemburu tapi nggak separah ini. Ketty terkekeh-kekeh. "Malah ketawa! Nggak lucu!" Ucap Dion. "Jadi, kamu cemburu sama Dokter tadi. Nggak terima! sama ucapanku di rumah sakit, tadi." Ketty geleng-geleng nggak habis pikir. Ternyata itu yang membuat Dion bersikap dingin kepada dirinya. "Uluh.. Suamiku cemburu ternyata." Ketty masih juga terkekeh melihat Suaminya ngambek. "Sayang... plis deh, aku tu cuma bercanda. Jangan di ambil hati dong. Ak-Aku tu cuma godain Vania aja! Nggak ada maksut lain." Ketty berusaha menenang kan Dion. Dia nggak tau harus gimana lagi meyakinkan, bahwa dirinya, hanya bercanda! "Okkey, okke aku minta maaf. Aku salah! udah ngomong kayak gitu, tadi. Tanpa mikir dulu. Tapi serius! Aku nggak ada maksut buat nyinggung kamu, sayang!" Setelah mendengar kata maaf keluar dari mulut istrinya. Dion menurunkan laju mobilnya. Kemudian, ia menyalakan lampu hazard, lalu menepikan mobilnya. Setelah memastikan situasi jalan aman dan mobilnya berhenti. Dion mengubah posisi duduknya, menghadap Ketty. "Maaf" ucap Ketty lagi setelah kedua iris mereka saling beradu. "Aku nggak suka kamu memuji cowok lain seperti tadi. Sekali pun, itu bercanda!" Tegasnya, ia berterus terang atas ketidak sukaannya itu. Ketty mengangguk paham, lalu menunduk. Tangan Dion terulur mengangkat dagu istrinya, yang tengah menyesali kesalahannya. "I love you" Seketika di wajah Ketty, tampak sepasang lipatan yang berjalan dari luar sudut bibir ke arah hidung. Kedua pipinya terangkat dan mengembung. Sebuah senyum yang lebar, akhirnya menghiasi wajah bidadari milik Dion. Dion pun ikut tersenyum, melupakan semua yang sudah terjadi di antara mereka. Jika kata maaf bisa menyelesaikan masalah, maka katakanlah! Jangan menunda lag. Contohnya! ya, mereka berdua! Dengan lembut Dion mengecup kening bidadarinya, lalu kemudian memeluknya dengan penuh kehangatan. Soo sweet! Ketty merasa tenang, suaminya memaafkan dirinya. Pastinya dia akan lebih berhati-hati saat berbicara. Dari sudut pandangnya, dia hanya bercanda. Akan tetapi, di sudut pandang Dion suaminya, itu udah kelewatan! Dan nggak seharusnya seorang istri memuji lelaki lain, apalagi di hadapan dirinya. Menyakitkan! Sungguh! Bagus dong kalau Dion cemburu. Kan, artinya dia benar-benar sayang! *** Malam sudah mulai larut. Jam besuk pasien juga sudah habis. Evans dan Esa terlihat berjalan bersisian keluar dari rumah sakit, menuju parkiran mobil yang tak jauh dari gedung rumah sakit itu. Setelah sampai di mobilnya, yang terparkir rapi tanpa bergeser sedikit pun. Mereka pun memasuki mobil dan segera kembali pulang. Evans melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia mengemudi dengan santay dan berhati-hati, menuju rumah Esa. Tadi Evans yang menjemput Esa, jadi dia pula yang harus mengantarnya pulang. "Evans, makasih ya! Kamu udah baik sama, aku, selama ini. Udah peduli juga sama aku. Aku mau minta maaf, jika pernah ada salah selama aku bekerja." Ucap Esa dengan senyum menghiasi wajahnya. Esa ingin memuji kebaikan Evans tapi kok ya cuma setengah-setengah. Padahal ini kesempatan baik untuknya. "Sama-sama, Sha. Aku juga berterimakasih, kamu udah setia berkerja denganku. Aku harap kamu betah terus, kerja di tempatku." Evans tersenyum, ia melihat jam yang melingkar cantik di tangan Esa. Ia ingat betul, jam itu pemberian darinya. Itu artinya Esa suka dengan pemberiannya. Esa mulai sadar, ini adalah kesempatan untuknya. Mengungkapkan perasaannya kepada Evans. "Hmm.. Vans, menurut kamu aku gimana?" "Maksutnya!" Evans nggak paham! "Emh! Maksut aku, aku menarik nggak sih! Kok nggak ada cowok yang mau deketin aku. Apa aku jelek! Atau karena aku hanya seorang pelayan restoran." Esa memberi sinyal bahwa dirinya masih sendiri, belum punya pacar. Untuk menarik perhatian Evans. Senyum Evans tak pernah pudar di sepanjang perjalanannya itu. Ia sedikit melirik Esa lalu mengalihkan pandangannya jauh kedepan. "Siapa bilang kamu jelek. Kamu itu manis, imut, lucu. Nggak semua cowok, memandang cewek dari fisik dan pekerjaannya. Kamu ingat itu! Jangan berpikiran buruk. Yakinlah, jodoh nggak akan kemana." Tutur Evans agar Esa merubah mindset nya. Esa merasa tenang mendengar tutur kata dari Evans. Ia semakin yakin, Evans pilihan yang tepat untuknya. Tapi, apa Evans juga mempunyai perasaan yang sama untuknya. Esa berusaha menepis keraguannya itu. Esa melihat gantungan kecil tergantung di spion dalam tengah mobil. Seperti yang pernah Vania ceritakan beberapa minggu yang lalu. Gantungan itu kenangan dari Monika, Esa yakin itu. Esa merasa kasihan dengan masalalu yang menimpa Evans. Ia menatap Evans yang tengah mengemudi begitu dalam. Dalam benaknya, 'Esa ingin mengobati luka lama dan kepedihan Evans. Kepedihan telah membuatnya sendiri tanpa kekasih, sampai saat ini. Gantungan itu adalah jawaban. Atas kesendiriannya selama ini. Pasti! Pasti Evans sangat merindukan kehadiran seorang kekasih.' "Aku rela mengobati lukamu," Evans menoleh kearah Esa. "Kamu bicara apa , Sa?" Rupanya Evans nggak begitu mendengar apa yang di ucapkan Esa. Esa terkejut dari lamunannya. Ia pikir, tadi dia hanya membatin. Tapi ternyata dia benar-benar mangatakannya. 'Ah, untung saja Evans nggak begitu dengar.' Batinnya. "Eh, enggak. Itu, kamu ganteng! Lhoh kok!" Esa menutup mulutnya dengan kedua tangannya. 'Duh! Salah ngomong lagi. Kan jadi malu.' Batinnya kemudian tersenyum manis. "Salah! Maksudnya aku sangat setuju sama mindset kamu." Sambungnya membenarkan kata-katanyabyanh sedari tadi menurut Evans. Nggak nyambung! Meski nggak nyambung, tapi malah terkesan lucu. "Kamu lucu, ya, Sa." Evans terkekeh. Esa jadi salah tingkah. Nggak lama kemudian mereka sampai di depan rumah Esa. "Aku nggak turun, ya, Sa. Udah malem, lebih baik kamu cepat istirahat. Nggak usah begadang. Aku nggak mau kamu nanti juga sakit seperti Vania." Ucap Evans, ia meminta Esa untuk menjaga kesehatannya. Esa jadi tersanjung Evans peduli kepada dirinya. Ditambah senyum indah tergambar di wajah tampannya saat ini. Membuat Esa luluh. "Pasti! Selepas ini aku akan beristirahat. Seperti apa yang kau minta." Ucapnya kemudian mengecup pipi Evans sebelah kiri. Evans terdiam, nggak percaya Esa baru menciumnya. Ia melihat pipi Esa berubah semu merah muda dengan kedua mata menyipit, Esa tersenyum dengan bibir di kulum. Dengan segera Esa turun dari mobil, lalu berlari masuk ke dalam rumahnya. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN