Evans masih terdiam tanpa ada pergeseran sedikit pun pada posisi duduknya. Mobilnya masih dalam keadaan menyala, dengan posisi hand brake yang sudah di turunkan. Jantungnya tiba-tiba saja berdebar-debar. Kecupan lembut yang mendarat dengan kilat di pipinya, masih bisa Evans rasakan.
"Apa dia baru saja menciumku!" Batinnya masih tak percaya.
Esa menciumnya secara tiba-tiba dan berlalu meninggalkan dirinya tanpa kata.
"Benarkah dia tadi menciumku! Tapi kenapa?"
Logikanya masih tak percaya begitu saja. Batinnya bertanya-tanya, apa alasan Esa mendaratkan ciuman di pipinya. Bahasa tubuh Esa yang banyak tersenyum saat berbicara dengannya. Menurut Evans biasa saja! Tapi, ia melihat ada sedikit kegugupan pada Esa. Ia tadi juga tahu, Esa diam-diam memperhatikan dirinya di sepanjang perjalanan.
"Ah! Kenapa Esa bersikap seperti itu. Atau mungkin, itu cara dia mengungkapkan rasa terimakasih kepadaku. Dia tadi kan sempat memujiku!" Gumamnya kemudian menepis rasa heran yang kini berubah jadi penasaran.
Sejurus kemudian Evans memutuskan untuk melajukan mobilnya lalu pulang.
Di balik pintu. Sedang kan di balik pintu, Esa masih berdiri dengan kedua tangan menempel di dadanya. Merasakan jantungnya yang berdetak jedag jedug dengan cepatnya. Dengan perasaan senang, namun sedkkit gugup. Ia mengintip Evans dari kaca jendela. Terlihat jelas! Evans tengah mengemudi mobilnya berputar arah, lalu kemudian melaju semakin jauh dari rumahnya.
Esa refleks, melambaikan tangannya di balik jendela kaca. Gesturenya kini memberi kiss bye atau ciuman selamat tinggal untuk Evans.
Hari ini, merupakan hari yang sangat indah untuknya. Hatinya terasa berbunga-bunga, rasanya ia menjadi wanita yang paling bahagia di dunia.
"Esa! Kamu ngapain di situ!" Tanya Sinta setelah melihat putrinya senyam senyum nggak jelas, di dekat cendela.
"Dih, Mama kepoin aku ya!" Sahut Esa yang masih saja tersenyum merasa sangat bahagia.
"Yaelah! Ni bocah. Di tanya malah balik nanya!"
Sinta mengernyitkan dahinya. Kemudian ia melangkah mendekati putrinya.
"Liat siapa sih!" Tangannya membuka tirai jendela, netranya menerawang keluar rumah yang tampak gelap. Tak ada satu orang pun disana. Tapi, dia tadi melihat putrinya mengintip jendela, sebelum akhirnya dia menegurnya.
"Nggak ada siapa, siapa!" Imbuhnya.
"Emang nggak ada!" Jawab Esa yang masih tersenyum juga.
"Ya udah, Mah, aku masuk kekamar yah! Love you, Mama."
Esa mengecup pipi Sinta, yang masih berdiri menatapnya dengan heran. Lalu kemudian melenggang masuk ke dalam kamar.
Sinta geleng-geleng kepala, melihat tingkah putrinya.
"Anak jaman sekarang, sikapnya suka tiba-tiba berubah. Kemaren, pulang-pulang cemberut aja, muka di tekuk! Di tanya nggak di jawab. Main nutup pintu dengan kasar. Nah, sekarang! Senyam senyum di deket cendela!" Gumamnya sendirian setelah melihat Esa masuk ke dalam kamar.
Esa nggak lupa mengunci pintu, agar Mamanya nggak kepo. Ia segera meletakkan tasnya di atas meja. Lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya yang empuk.
Esa membayangkan saat dirinya bersama Evans. Akhirnya, dia memberanikan diri mencium Evans.
"Semoga kau mengerti, Vans. Aku mencintaimu! Sungguh mencintaimu! I love you, i love you!" Tangannya meraih panndut lalu memeluknya.
Esa berharap Evans tau, maksut dirinya mencium pipi Evans tadi. Esa mengutarakan perasaannya lewat ciuman itu.
Esa mengambil benda pipihnya di dalam tas. Lalu kemudian, mendial nomor pribadi Vania sahabatnya. Nggak sabar kalau nunggu besok, untuk memberi tahu Vania. Ia memutuskan untuk menelponnya saja.
Berdering! Tapi tidak di angkat.
"Apa mungkin, Vania udah tidur?" Gumamnya.
"Ah, coba telpon lagi!" Ia mencoba menghubungi Vania untuk kedua kalinya.
"Hallo!" Suara Vania menjawab telpon di sebrang sana.
"Hey, Van. Kamu belum tidur?"
"Belum, ada apa! Tumben malem-melem gini telpon. Nggak bisa tidur ya?"
"Hmmm, memang belum tidur. Ya Tuhan, aku lagi seneng banget, Van."
"Ada apa! Cerita dong!"
"Ya makanya aku nelpon kamu. Emang mau cerita!"
"Hmmm... apa jadi penasaran aku!"
"Aku tadi cium pipi Evans. Dengan maksut semoga Evans tau kalau aku suka sama dia. Aku tadi liat dia kayak malu-malu seneng gitu aku cium, Van." Esa sedikit menambah-nambahi.
"Seketika tiba-tiba sunyi di sebrang sana!"
"Van, halo! Vania kamu masih dengerin aku kan?"
"Eh, iya sorry. Trus gimana?"
"Iya, Evans tadi mau pegang tanganku. Tapi aku seger turun dari mobil karena saking gugupnya." Esa semakin mengada-ada.
"Lagi-lagi hanya sunyi, tak lama kemudian sambungan terputus."
"Hallo Van! Kamu masih denger aku kan! Yah, terputus. Ah, nggak papa besok aku samoerin ke rumah Vania. Aku bakal ceritain panjang kali lebar," ujarnya lalu kemudian meletakkan benda pipihnya di atas nakas samping tempat tidurnya.
***
Sementara itu, Vania terlihat berbaring dengan mendekap benda pipihnya. Dia jadi nggak bisa tidur setelah menerima telpon dari sahabatnya.
"Esa mencium Evans, itu mungkin terjadi. Tapi, apa benar dia membalas respon dari Esa? Harusnya aku senang, akhirnya mereka akan bersama. Toh! Aku juga yang membujuk Esa untuk segera mengungkapkan perasaannya. Tapi kenapa? Hati ini terasa sakit mendengar curhatan dari Esa. Bodohnya aku!" Batin Vania sedih.
Tangannya menyeka bulir bening yang memaksa keluar di pelupuk mata.
Ia mengulum dan menekan bibirnya menahan kesedihan yang tengah melanda dirinya.
Vania melihat Mamanya yang sedang tidur di sofa, tak jauh dari bed pasien tempatnya berbaring.
"Untungnya, Mama udah tidur," batinnya.
Kalau saja Mamanya masih terjaga. Bakalan lihat wajah dirinya yang tampak sedih saat ini. Tentunya, Mamanya bakalan ikut sedih.
Terdengar suara getaran. Vania merasakan getaran di tangannya yang berasal dari benda pipih miliknya. Dilihatnya sebuah chat, masuk, di aplikasi wattsaap nya.
"Good night Vania Olivia. Have a nice dream. Sampai ketemu besok, pagi." chat Evans untuk Vania.
Setelah membaca chat itu. Vania nggak tau harus merasa senang atau sedih. Evans selalu perhatian kepada dirinya. Disisi lain sahabatnya kekeh mengejar cinta Evans. Di tambah curhatan dari sahabatnya yang mengatakan, kedekatan mereka saat ini. Kenapa dia harus terperangkap dalam cinta segitiga? Sungguh rumit!
Meski pun, Vania memutuskan untuk menghindar dan menjauh dari Evans. Tetap saja akhirnya mereka bertemu juga.
"Harus bagaimana aku?"
Vania kini merasa dilema.
Wulandari terjaga dari tidurnya. Sejak Vania jatuh sakit, ia sering terjaga dari tidurnya. Untuk memastikan keadaan putrinya.
Dengan segera Vania mengusap air mata yang berhasil membasahi pipinya, meski pun sudah ia tahan.
"Sayang! Kamu nggak tidur?" Tanya Wulandari, setelah tau putrinya masih terjaga, dengan memegang benda pipih di tangannya.
"Vania baru aja terbangun, Ma." Jawabnya beralasan.
"Tiba-tiba aja Vania pengen buang air kecil. Mau bangunin Mama, nggak tega. Kayaknya Mama capek banget ya, merawat Vania seharian," sambungnya kemudian ia tersenyum.
"Ya ampun, sayang. Kenapa nggak bangunin Mama! Trus, udah ke toilet belum?"
Vania hanya menggeleng.
"Kalau gitu, ayo! Jangan di tahan, tahan gitu! Nanti malah sakit gimana?" Omelnya demi kebaikan putri kesayangannya itu.
Vania nurut! Ia turun dari bed pasiennya, dengan hati-hati dibantu oleh Wulandari yang memegangi selang infus. Lalu kemudian menuju ke toilet, yang berada dalam ruangan itu.
Lalu kembali lagi, dengan perlahan Vania membaringkan tubuhnya.
"Cepat istirahat, sayang. Ini udah malem lo, besok pagi biar kesehatan kamu semakin membaik. Kan katanya pengen cepet pulang," tutur Wulandari demi kesehatan putrinya.
Vania mengangguk lalu tersenyum.
Wulandari menyelimuti putrinya supaya terasa nyaman, dari dinginnya udara malam.
***
Di pagi hari. Sesuai janjinya. Evans harus menjemput Vania di rumah sakit. Ia baru selesai membersihkan diri, lalu kemudian ganti baju dan bersiap untuk keluar dari kamarnya.
Perlahan ia menuruni anak tangga yang menghubungkan lantai atas dengan lantai dasar di rumahnya.
"Mau ke mana kamu pagi-pagi begini?" Tanya Jaya Haidar begitu melihat Evans sampai di lantai dasar.
Mengingat ini masih terlalu pagi, untuk berangkat ke restoran.
"Aku ada janji jemput teman di rumah sakit," jawabnya jujur.
Jaya Haidar mengeryitkan dahinya. "Harus sepagi ini! Ini masih jam 5 pagi. Seenggaknya kamu berangkat jam 7, nanti juga masih ngurusin ini, itu. Masih nunggu lama lagi!"
"Nggak masalah, Pa. Aku seneng nunggu lama,"
Gimana nggak seneng kan yang di tungguin Vania, pujaan hatinya. Ya, walau pun belum resmi pacaran. Evans udah menganggap Vania sebagai kekasihnya.
"Sejak kapan kamu seneng di suruh menunggu. Apalagi di rumah sakit! Nanti saja dulu, tunggu sebentar lagi. Setelah sarapan baru kamu berangkat ke sana!" Ujar Jaya Haidar menahan putranya pergi.
Evans berdecak dan bersikukuh.
"Sarapan nantilah, Pa. Nanti aku sarapan di luar saja, kalau perlu nanti kalau sudah sampai di restoran."
"Memangnya siapa yang sakit?"
"Vania"
"Vania siapa? Papa baru dengar namanya."
"Dia waiters baru di restoran. Papa belum pernah ketemu, jadinya nggak tau."
Jaya Haidar terdiam.
Ia melipat koran yang baru di bacanya. Lalu meletakkan koran itu pada tumpukan koran yang lain, di atas meja. Ia menelaah semua apa yang di katakan Evans. Dari ngeyelnya Evans, berangkat pagi-pagi buta, senang menunggu, hingga menunda waktunya untuk sarapan. Demi menjemput seorang pelayan yang bekerja di restorannya. Putranya terkesan lebih mengutamakan kepentingan waiters itu, dari pada dirinya sendiri.
Jika di pikir secara logika, bukan kewajiban Evans untuk menjemput pekerjanya di rumah sakit.
"Apa mungkin Evans sudah mulai membuka hatinya, untuk menjalin hubungan dengan seorang wanita lagi? Siapa tadi? Va, Va, aduh! Aku lupa. Vania! Ya, apa mungkin gadis itu, yang mampu membuatnya melupakan Monika. Mengingat Evans sangat sulit melupakan kisah masa lalunya, yang sangat kelam itu," batin Jaya Haidar menerka-nerka.
"Yaudah, Pa. Aku berangkat ke rumah sakit sekarang." Putusnya kemudian berlalu meninggalakan papanya.
Evans melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah, keluar dari bagasi. Satpam yang berjaga siap siaga, membukakan pintu gerbang untuk tuannya. Terlihat satpam itu menguap, masih mengantuk. Evans tersenyum menggeleng kepala melihatnya.
Kemudian ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menuju rumah sakit. Ia mengarahkan pandangannya jauh ke depan. Tampak jalanan masih sangat lenggang, mengingat ini masih terlalu pagi. Masih begitu jarang pengendara jalan yang berlalu lalang. Beda dengan suasana di siang hari. Yang ada pengguna jalan semakin padat merayap. Dan tentunya sering terjadi kemacetan setiap harinya.
Tak terasa mobil Evans sampai di pelataran rumah sakit yang terlihat sepi. Hanya beberapa mobil dan motor yang terparkir di parkiran. Ia pun kemudian memarkirkan mobilnya. Berjejer dengan mobil yang sudah terparkir dengan rapi itu.
Evans segera turun, lalu berjalan menuju kamar inap Vania. Terlihat tempat resepsionis di jaga dengan perawat yang berbeda. Nampaknya terjadi pergantian shift kerja berlaku di rumah sakit ini. Mengingat rumah sakit ini, terbilang cukup besar dan siap siaga 24 jam.
Begitu sampai di depan kamar inap Vania.
Evans menghela napas sebelum mengetuk pintu, lalu kemudian masuk. Di lihatnya, Vania duduk di tepi bed pasien, sedangkan Wulandari mengemas beberapa baju lalu di masukkannya ke dalam tas berukuran sedang.
"Selamat pagi, Tante. Vania," sapa Evans kemudian berjalan mendekekati mereka.
"Pagi, nak Evans"
Vania melihat jam yang menempel di dinding kamar inapnya. Lalu kemudian berkata,
"Kau sudah sampai sepagi ini? Apa semalaman nggak tidur!" Tanyanya di balut dengan sindiran yang halus.
"Vania, kok gitu," sahut Wulandari menegur putrinya.
"Nggak apa-apa Tante. Vania memang suka bercanda seperti itu," ucapnya dengan mengerlingkan sebelah matanya ke arah Vania.
"Hah! Apa maksutnya mengerlingkan mata," batin Vania heran.
"Maaf ya nak Evans. Terimakasih sudah datang, tapi pulangnya juga masih lama. Masih nunggu beberapa jam lagi. Nunggu dokter Haris dulu."
"Nggak masalah tante. Lagi pula, saya juga bosan di rumah. Makanya saya datang lebih awal, ke sini," ucapnya beralasan.
Vania sedikit menyebikkan bibirnya. Ia nggak yakin Evans berkata jujur.
"Oh, gitu. Kalau begitu, silahkan nak Evans duduk dulu. Tante tinggal keluar sebentar ya, tolong temenin Vania," tutur Wulandari yang terlihat sedah selesai mengemasnya.
"Baik, Tante."
"Mau kemana sih, Ma?" Tanya Vania, nggak ikhlas Mama nya mau keluar.
"Bentar aja sayang! Mama mau beli teh anget di depan rumah sakit," sahut Wulandari.
"Tapi jangan lama-lama. Nanti keburu dokter Haris datang," pinta Vania.
"Iya, Mama nggak lama kok."
Vania mengangguk.
"Tante tinggal dulu ya, nak Evans!"
"Iya, Tante."
Kemudian Wulandari melangkah keluar meninggalkan putrinya dengan Evans.
Vania menatap Mamanya yang menghilang di balik pintu. Lalu kemudian, ia pun hanya diam tanpa kata.
Evans mengamati wajah Vania yang terlihat kesal. Mungkin saja, Vania kesal sebab di tanggal Mamanya keluar. Pikirnya!
"Kamu udah lebih baikan kan, Van?" Tanya Evans memastikan.
Vania hanya mengangguk.
"Syukurlah!"
"Kenapa kamu nggak ngajak Esa, kesini?"
Evans mengernyitkan dahinya.
"Untuk apa aku ngajak Esa. Lagi pula, dia nggak meminta untuk ikut menjemputmu."
"Biar kalian semakin dekat," ucap Vania. Namun, ada nada ketidakrelaan dalam ucapannya itu.
"Maksutnya!"
"Hih! Ini orang pura-pura nggak ngerti, apa emang nggak peka. Masa iya! Dia udah lupa apa yang udah terjadi bersama Esa," batin Vania.
"Kok diem?" Evans penasaran.
"Sudah! Lupakan saja."
Vania membuat Evans terheran-heran. Dengan sikapnya saat ini, tadi Vania membicarakan tentang Esa. Trus sekarang suruh mengabaikan begitu saja. Aneh! Pikirnya.
Vania memilih diam saja. Tanpa menghiraukan Evans yang tengah memperhatikannya.
"Kok diem! Apa kamu marah karna aku nggak ngajak Esa! Apa perlu, sekarang aku jemput Esa lalu mengajaknya kesini?"
Evans mengira Vania marah, karena dia nggak datang bersama Esa. Ia pasti akan melakukan apa yang baru di katakannya, jika Vania menjawab 'ya' pada saat itu juga.
Bersambung...