Bab 16

1418 Kata
Selamat membaca! Pikiran Evans selalu terbayang akan wajah Vania. Entah sejak kapan Vania berhasil menarik perhatiannya. Ingin rasanya setiap saat bersamanya. Vania sukses membuat Evans perlahan melupakan masalalunya. Dan kini hanya Vania yang berhasil bertahta di dalam hatinya. "Ada apa denganku. Kenapa perasaan ku seperti ini. Rasa yang sudah lama tak kurasakan. Membuat ku bingung. Apa aku jatuh cinta lagi? Atau hanya sekedar ketertarikan semata! Ah, membuat kepalaku pusing," gerutunya sendirian. Tangannya memijit pelipisnya yang mendadak pusing. Tiba-tiba tubuhnya terasa sedikit lemas. Tangannya menekan meja untuk menahan tubuhnya. "Kamu nggak apa-apa?" Tanya Vania dengan nada khawatir. Kebetulan ia melihat gerak-gerik Evans seperti orang mabok. Padahal enggak! Evans menatap ke arah Vania. "Bisakah kau membantu ku naik keruangan ku" pinta Evans. Vania mengangguk paham. "Tentu!" Sahutnya. Kemudian membantu Evans berjalan menaiki anak tangga dengan hati-hati. Vania sedikit keberatan menahan tubuh Evans yang lebih besar di banding dirinya. Melangkah menuju ruangan kerja. Sejurus kemudian mendudukkan Evans di sofa. "Hmm.. bagaimana kalau aku buatkan kopi? Kelihatannya kamu, pusing. Siapa tau karna belum sempat minum kopi. Atau aku ambilkan makanan mungkin?" Ucapnya. "Bawakan saja secangkir kopi" "Baik!" Vania segera melangkah keluar ruangan menuruti permintaan atasannya. Tak lama kemudian ia kembali membawa nampan yang berisi secangkir kopi hitam, lengkap dengan beberapa potong roti. Bekal miliknya. "Ini kopinya dan ini ada beberapa potong roti. Barangkali kamu mau," ucap Vania. Dengan perlahan meletakkan nampan berisi makanan dan minuman di atas meja. Tepat di depan Evans duduk. "Ya, terima kasih," sahut Evans yang masih sibuk memijit pelipisnya. "Kalau tak keberatan boleh aku bantu pijit," tawar Vania. Tanpa sadar ia berkata begitu saja melihat Evans yang tampak sibuk memijit sendiri. "Kasihan" batinnya. Belum juga Evans menjawab. Vania mendudukkan diri di sampingnya. Perlahan tangannya memijit bahu Evans. Evans menikmati sensasi pijitan tangan Vania. "Lumayan juga pijatanmu. Besok-besok aku mau dipijiti lagi dong!. Setiap hari juga gak papa," candanya. Tapi sebenarnya Evans berkata jujur. Ia ingin dekat sama Vania terus. Bahkan setiap waktu. Andai ia bisa menghentikan waktu. Ia tak akan membiarkan waktu cepat berlalu. Agar kebersamaannya dengan Vania saat ini jangan lalu cepat berlalu. Mendengar Evans bercanda. Vania sengaja mengeraskan pijitannya. Membuat Evans meringis menahan sakit. "Pelan-pelan dong mbak tukang pijit" godanya lagi. Vania menganga. Evans membuat Vania semakin menjadi untuk mengerjainya lagi. Di pijitnya lagi bahu Evans dengan lebih keras. Vania tersenyum lepas. Tak tahan dengan tekanan dari tangan Vania. Tangan Evans dengan reflek memegang tangan Vania. Hingga akhirnya Vania berhenti dan menatap kedua manik mata Evans yang mampu membuatnya terpesona. "Tuhan, sungguh indah ciptaanmu. Hingga membuatku tak mampu berpaling dari nya." Evans menatap dengan tatapan galau. Ia mendekatkan bibirnya ke bibir Vania. Jantung Vania berdebar. Ia memejamkan kedua matanya. Merasakan sentuhan bibir Evans yang mendarat di bibirnya. Mengulum bibir Vania dengan lembut. Ciuman ini terjadi begitu lama. Hingga akhirnya mereka saling berpandangan. "Kau curang Vans. Untuk kedua kali kau mencuri ciuman dariku," ucap Vania datar. Dan Evans mengulum kembali bibir Vania dengan penuh kelembutan. "Aku mencintai, Mu," ungkap Evans lirih. Kedua mata Vania terbelalak. Ia segera menghentikan acara ciuman mereka dan duduk menjauh dari Evans. "Apa yang aku lakukan? Apa yang terjadi dengan perasaanku. Apa aku juga mencintainya? Lantas bagaimana dengan Esa. Nggak perasaan ini salah!" Kebimbangan menyelimuti perasaannya. Evans heran melihat Vania yang tiba-tiba menjauh darinya. "Ada apa?" Tanya nya penasaran. Namun, Vania tak menjawab. Ia berdiri hendak melangkah pergi. Dengan cepat tangan Evans menarik tangan Vania. Hingga Vania jatuh menindih dirinya. Wajah Vania tampak galau. "Demi apa aku nggak bisa berpaling dari senyuman Evans. Membuat hatiku luluh terbuai akan pesonanya." "Aku mencintaimu Van," ucap Evans mengungkapkan kembali perasaannya kepada Vania. "Tapi aku enggak!" Sahut Vania. Ia segera berdiri dan berlari keluar ruangan Evans. Meninggalkan Evans yang tak percaya dengan apa yang di dengarnya. "Apa benar! Tapi dari tatapannya dia juga mencintaiku." Dengan keras ia meremas rambut hitam di kepalanya. *** Bahagia dan nyaman menjadi dua hal yang perlu di ciptakan dalam menjalani kehidupan. Bahagia itu belum tentu nyaman, tetapi nyaman itu sudah pasti bahagia. Love you Vania Olivia. Vania mendapati Esa yang tengah duduk menunggunya di pantry. Vania menarik napas dalam mencoba menenang kan hatinya yang masih galau. "Eh Van. Gimana keadaan Evans? Apa dia baik-baik saja!" Tutur Esa, raut wajahnya menunjukkan bahwa ia begitu sangat khawatir. "Apa yang aku lakukan? Sahabat macam apa aku ini! Esa begitu cemas mengkhawatirkan Evans. Sedangkan aku malah terlena dengan perasaan yang tak jelas." Batin Vania menyalahkan dirinya sendiri. Vania mengangguk, membenarkan Esa. "Ya! Dia baik-baik saja," jawab Vania dengan tersenyum. "Kau tak perlu khawatir," sambungnya. Esa tersenyum merasa lega mendengar jawaban Vania. "Sa!" Raut wajah Vania mulai tampak bingung. "Sebaiknya kamu segera mengungkapkan perasaan kamu ke Evans," tuturnya memberi saran. Ia menatap Esa dengan penuh harapan. Esa tersenyum lepas. Ia berdiri dari tempat duduknya. Memandang Vania yang duduk dihadapannya. "Nggak mudah bagi ku Van. Entah kenapa bibirku terasa kaku saat di dekatnya. Sulit untukku berbicara dengannya. Aku terlalu grogi dan malu." Vania menghela napas berat. "Kalau kamu nggak berani mengungkapkan perasaanmu yang sebenarnya. Biarkan aku mengungkap kan perasaanku kepadanya." Esa kaget mendengar ucapan Vania. Jantung serasa berhenti berdetak. "Maksut kamu?" Tanyanya meminta penjelasan. Vania tertawa melihat ekspresi Esa. Dan Esa masih terdiam heran melihat sikap Vania. "Aku bercanda keles. Serius amat tuh muka," ucap Vania lalu terkekeh. Esa menghela napas panjang. "Kau ini! Aku serius malah bercanda," protes Esa, lalu kemudian menyubit pinggang Vania. Vania tertawa geli di buatnya. "Ampun Sa, stop! Ampun." Rengeknya. "Salah sendiri bercanda mulu," ucap Esa sebal. "Lagi pula nggak baik memendam perasaan terlalu lama. Buruan deh deketin dia. Ungkapkan perasaan suka kamu ke Evans," usul Vania lalu tersenyum. Ia menyarankan Esa untuk segera mengakui rasa sukanya kepada Evans. Tanpa memperdulikan perasaannya sendiri. "Memiliki perasaan yang sama, itu bukan kemauanku. Entah sejak kapan perasaan itu mulai muncul. Rasanya sakit untuk mengakuinya. Salah! Ya perasaan ini salah!" Vania memejamkan kedua matanya memendam dalam perasaan yang tak seharusnya ada. Vania tak ingin menodai persahabatan mereka. Terbesit jalan keluar yang menurutnya bisa menjadi solusi. Ia berniat untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. Menurut Vania, dengan begitu pasti Evans akan melupakannya. Dan menerima Esa dengan mudahnya. Vania melakukan ini dengan sebuah harapan. Ia ingin melihat Esa bahagia dengan pilihannya. Ia tak ingin melihat kesedihan di raut sahabatnya. "Hey Van! Mikirin apa kamu?" tanya Esa mengagetkan lamunan sahabatnya. Vania tersenyum simpul menanggapi Esa. Mencoba menepis segala kegundahan yang tengah menggerogoti batinnya. "Di tanya malah diem aja. Apa kamu sakit?" Esa meletakkan telapak tangannya ke dahi Vania. Membedakan suhu tubuh Vania dengan suhu tubuhnya. "Sama. Kamu nggak sakit. Tapi kenapa sikapmu sedikit berbeda dari sebelumnya? Aneh!" Esa mulai merasa heran melihat Vania. Tak seceria seperti biasanya. Vania menatap datar, "Masa iya. Aku ngerasa biasa-biasa saja. Nggak ada yang beda." Esa mengernyitkan dahinya bingung. "Aku nggak mungkin salah. Vania memang lebih banyak diam dari sebelumnya. Ada apa dengannya?"Batin Esa dengan segala kekepoan-nya. Menebak-nebak apa yang tengah terjadi dengan sahabatnya. Memandang lekat kearah Vania yang masih duduk belum bergeser sedikitpun. "Sa, sepertinya aku mau resign dari sini!" Dengan berat Vania mengungkapkan perasaannya. Membuat kedua mata Esa terbelalak kaget. "Hah!" Sahutnya kaget. "Tapi kenapa? Apa aku menyakitimu? Apa aku tak menjadi sahabat yang baik selama ini?" Sambungnya melontarkan banyak pertanyaan. Esa sangat kaget dan nggak percaya dengan apa yang dia dengar. "Nggak ada angin nggak ada hujan. Tiba-tiba kamu ingin resign." Kedua mata Esa mulai berkaca-kaca. Ia tampak sedih. Vania merasa bersalah membuat sahabatnya meneteskan bulir bening. Dobel salah! Serba salah kini melanda Vania. "Eh, bukan gitu Sa! Maksut ku. Jika kamu nggak segera mengungkapkan perasaan kamu ke Evans. Lebih baik aku resign aja. Buat apa aku kerja di sini kalau kamu nggak mau nurut sama saranku," tuturnya dengan alasan yang berlawanan. Ia tak tega melihat sahabatnya semakin sedih. Gara-gara ucapannya. Namun ia juga nggak mau sahabatnya semakin sedih. Jika suatu saat nanti tau bila Evans menyukai dirinya. Salah! Jadi serba salah jadinya. Vania menghela napas berat. "Lalu apa yang harus aku lakukan. Jika aku tetap disini Evans pasti akan semakin mendekatiku. Terlebih setelah kejadian tadi. Dan itu tak seharusnya terjadi!'" Perasaan cemas kembali menggerogoti batin dan pikiran Vania. Ingin rasanya Vania berlari bila itu bisa menjadi solusi. Ingin rasanya ia membunuh perasaan itu. Perasaan yang entah dari mana datangnya. Datang tanpa permisi begitu saja. Pusing! Kepala Vania mulai terasa pusing memikirkannya. Ingin rasanya berteriak sekencang-kencangnya. Untuk melampiaskan segala kegundahan yang menerpanya. Esa menekuk wajah manisnya. Ia sebal dengan sikap Vania yang begitu aneh. Semenjak keluar dari ruangan Evans. "Setelah Vania keluar dari ruangan Evans. Dia jadi aneh gini. Apa yang terjadi dengan mereka di dalam ruangan itu." Batin Esa mulai curiga. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN