bab 17

1039 Kata
Evans berhasil mengungkapkan perasaannya kepada Vania. Akan tetapi itu tidak cukup membuatnya bahagia. Terlebih respon Vania yang berterus terang tidak mencintainya. "Apa benar Vania tidak mencintaiku? Itu mustahil! Dari caranya menatapku aku tau dia juga mencintaiku. Jika benar Vania tak memilliki perasaan yang sama. Mengapa dia mau berciuman denganku. Terlebih dia juga membalas memagut bibirku dengan begitu mesra," pikirnya memikirkan Vania. "Atau mungkin dia malu untuk mengakui perasaannya. Aku yakin Vania juga mencintaiku. Bodoh! Bodohnya aku. Kenapa tadi tidak langsung mengejarnya saja!" Gumamnya menyalahkan diri sendiri. Evans tetap berharap, meskipun harapan itu nampak kosong. Ia yakin di balik ada hujan ada pelangi, begitu juga dengan harapan yang akan hadir di saat yang indah. Evans beranjak berdiri dari sofa yang ia duduki. Berjalan menuju pintu lalu keluar dari ruangannya. Dengan cepat ia menuruni anak tangga. Evans terlihat sedikit resah ketika sampai di lantai utama. Kedua matanya terbelalak melihat restoran yang tampak sepi. Ia segera berlari kecil menuju ke dalam ruang pantry. Namun, tak ada seorang pun yang ia temui. Evans melihat jam yang melingkar sempurna di tangannya. Sial! Jarum jam menunjukkan tepat pukul 9 malam. Saatnya restoran tutup dan semua karyawannya sudah kembali pulang. Evans menarik napas panjang lalu kemudian mengeluarkannya dengan perlahan. Terlihat sesekali ia mengusap keringat yang membasahi dahinya. Terlambat sudah dia mengejar Vania. Tapi apa boleh buat. Vania sudah pulang! Mau menyusul ke rumahnya juga sudah terlalu malam. Evans memutuskan untuk pulang saja. "Besok akan ku temui Vania," tuturnya lirih. Evans melangkah keluar restoran. Menuju mobil sport miliknya yang terparkir sejak pagi di depan restoran. Kemudian ia melajukan mobil itu, dengan kecepatan diatas rata-rata menuju ke rumahnya. Dalam perjalanan pulang pun, tak henti-hentinya Evans memikirkan Vania. "Aku yakin kau memiliki perasaan yang sama sepertiku. Tapi kenapa kau bersikeras menghindariku! Apa yang sebenarnya ada dalam pikiranmu, Vania." Berkali-kali Evans menggeleng-gelengkan kepalanya. Pikirannya terus tertuju kepada Vania yang sekarang bertahta dalam hati dan pikirannya. Evans memegang erat kemudi mobil. Sesekali tangannya menyugar rambutnya dengan kasar. Di saat Evans kembali membuka hatinya dan jatuh cinta kembali setelah sekian lamanya. Mengapa semua tidak berjalan dengan seharusnya? Semestinya ia merasa bahagia karna jatuh cinta. Akan tetapi kenapa harus serumit ini! *** Esa duduk termenung di atas tempat tidurnya yang berukuran sedang. Kedua tangannya mendekap boneka panda kesayangannya yang berukuran besar, hampir sebesar Esa. Boneka itu, hadiah ulang tahun dari kedua orang tuanya. Esa belum juga bisa tidur. Ia masih memikirkan saran dari sahabatnya, yaitu Vania. "Benar apa kata Vania. Aku harus berani mendekati Evans dan mengungkapkan perasaanku. Mau sampai kapan aku akan memendam perasaanku! Sedangkan begitu banyak wanita di luaran sana, memper rebutkan Evans. Seperti halnya Meisha! Sudah jelas di tolak tapi masih ngejar juga. Ngarep!" Gumamnya panjang lebar. Ia menghadapkan wajah boneka pandanya berhadapan dengannya. "Panndut!" panggil Esa mengajak boneka itu berbicara. Panndut adalah panggilan kesayangan Esa kepada boneka pandanya. Panndut artinya panda gendut, karna besar pandanya hampir sebesar dirinya. Hanya saja Esa tidak segendut Panndut. "Kamu dengar ya, aku janji mulai besok akan lebih berani berhadapan dengan Evans. Aku akan segera mengungkapkan perasaanku padanya. Aku capek memendam perasaan ini. Kamu setuju nggak?" Esa sering berbicara dengan Panndut seolah-olah boneka itu, bisa mendengar semua keluh kesahnya. Tangan Esa menggerakkan kepala Panndut. Hingga boneka itu tampak manggut-manggut, seakan setuju dengan rencananya. "Okkey! Baiklah kalau kamu juga setuju. Aku akan segera mengungkapkan rasa sukaku kepadanya," tuturnya kepada Panndut. Ia memeluk Panndut dengan riang gembira. Esa kerap menyampaikan segala keluh kesahnya kepada Panndut. Panndut sahabat kedua Esa setelah Vania. Ia selalu tidur dengan memeluk boneka kesayangannya itu. Yakin! Membuat segalanya menjadi mungkin. Dan harapan membuat segalanya menjadi indah. Perjuangkan cintamu, Esa Yuanita! *** Pagi ini langit tampak cerah. Sinar hangatnya menembus kaca jendela kamar Vania, yang tirainya sudah terlihat terbuka. Vania sudah terjaga sejak terdengar adzan subuh. Akan tetapi selepas melaksanakan subuh. Bukannya bersiap untuk berkerja. Ia malah kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang tidurnya. Hingga jam dinding berkarakter Doraemon yang tertempel di dinding kamarnya, menunjukkan tepat pukul 7 pagi. Harusnya Vania sudah berada di tempat kerja. Namun, ia malas dan berniat bolos untuk hari ini. Bukannya Vania seorang pemalas. Hanya saja ia takut bila berhadapan dengan Evans lagi. Takut bahwasannya, ia tak bisa menutupi perasaannya yang sebenarnya. Jika hari ini ia tidak masuk kerja. Setidaknya ia berhasil menghindari untuk berjumpa dengan Evans. Dan berharap Esa berhasil mencuri perhatian Evans. Agar Evans segera berpaling dari dirinya. Sungguh cinta yang rumit! Vania juga sudah mengirimkan pesan via sms kepada Esa. Ia beralasan akan pergi keluar kota untuk menemui neneknya. Pikir Vania alasannya sudah sangat tepat. Dengan begitu Evans tidak akan mencarinya ke rumah. Dan tidak mungkin juga Evans menyusulnya ke rumah neneknya. Kerena Evans juga tidak tau keberadaan rumah neneknya itu. Meski kenyataannya, ia hanya berdiam diri di rumah saja. Vania menghela napas lega. "Memang sebaiknya aku jaga jarak dengan Evans. Untuk saat ini menyendiri buat ku jauh lebih baik. Aku merasa lebih tenang," gumamnya sendirian di dalam kamar. Vania berharap bisa melupakan semuanya. Termasuk perasaannya yang menurutnya salah, dan tak harus terjadi. Esa lebih berhak memiliki perasaan seperti itu bukan dirinya. Begitu sangat ia mengabaikan perasaannya, demi sahabatnya. Kalau tidak ingat dan tidak peduli dengan janjinya kepada Esa. Mungkin ia tak perlu repot-repot menjauh dan pasti akan menerima perasaan Evans saat itu juga. Vania merasa benar-benar salah. "Sebenarnya perasaan apa ini? Betulkah aku benar mencintainya, atau hanya sebatas mengaguminya! Ah, aku bingung," Vania meneguk segelas air mineral miliknya sampai air dalam gelas itu habis. Ia menghela napas berat. Ia bingung sendiri dengan perasaan nya kini. "Ah, entahlah! Lebih baik aku menikmati me time. Mumpung ada di rumah," gumamnya kembali. Ia beranjak dari tempatnya duduk. Melangkah menuju kamarnya lagi. Merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Menikmati detik demi detik sambil menghibur diri mendengarkan musik. Musik memberikan ketenangan dalam jiwa, memberikan ketenangan dalam hati. Vania begitu menikmati lantunan lagu yang ia dengar. Sesekali ia ikut juga bernyanyi. Ketenangan kini menghampiri dirinya, terlukis senyum pada wajah Vania yang sebelumnya tampak rapuh memikirkan sekelumit cinta. Ternuai akan lagu yang ia dengar. Vania memejamkan kedua matanya. Hingga akhirnya ia tertidur pulas. Cinta yang rumit bisa membuat sakit. Terkadang Vania, berpikir bertahan membuatnya kuat, tapi terkadang melepaskanlah yang membuatnya kuat. Membuat Vania sempat bingung. Padahal, kunci kedamaian hidup sebenarnya, sederhana. Dengan menjalaninya, menikmatinya, dan mensyukuri setiap perihal yang ada. *** Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN